NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Leviathan

Menikahi Sang Leviathan

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Karina Garcia

Pada usia delapan belas tahun, Neylane Green sudah tahu rasanya dikhianati—oleh sahabat dan kekasih yang paling ia percaya. Tapi ia tak pernah menyangka pengkhianatan itu hanya permulaan.

Ketika sebuah rahasia kelam masa lalu mengancam menghancurkan seluruh keluarganya, hanya ada satu cara untuk menyelamatkan mereka: menikahi pria paling ditakuti di dunia. Dikenal para musuhnya sebagai sang Leviathan—monster yang menghancurkan segala yang dilaluinya—Jean Yankelevich adalah pembunuh, penguasa bayangan, dan lelaki yang tak pernah mengizinkan siapa pun mendekati hatinya.

Neylane memilih mengorbankan dirinya. Ia mengira akan menghadapi seorang monster tanpa hati. Yang tak ia duga, di balik tatapan dingin dan tangan berlumur dosa itu, tersembunyi sesuatu yang bahkan sang Leviathan sendiri kira sudah lama mati.

Sebuah pernikahan yang lahir dari paksaan. Sebuah pulau tempat tak ada yang bisa lari. Dan dua orang keras kepala yang bersumpah takkan pernah jatuh cinta—sampai takdir, gairah, dan bahaya memaksa mereka memilih: bertahan bersama, atau hancur sendiri-sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karina Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Neylane memotong ucapan sang dokter sebelum ia melanjutkan. Ia tak mau tahu apa-apa, hanya ingin keluar dari sana. "Aku baik-baik saja, aku akan pergi. Sekarang, biarkan aku pergi."

"Ke mana harus kuantar kau?" tanya Adonis.

"Bukan kau. Menjauh dari dia dan semua orang di sekitarnya, itulah yang kuinginkan."

"Aku yang akan mengantarmu ke mana pun kaumau," kata Estela. "Tapi kau tak boleh pergi sendirian."

"Baik, ayo kita pergi dari sini."

Adonis mengantar mereka sampai ke mobil, lalu kembali menemui Jean. Ia mendapati Jean sedang duduk sambil minum. "Jelaskan padaku, apa yang terjadi?" kata Adonis. "Neylane keadaannya sangat buruk, sampai pingsan di resepsionis, dan kau di sini malah minum-minum. Ini membuatku gila."

Jean bangkit, hendak keluar dan menemuinya, ingin memastikan gadis itu baik-baik saja. "Katakan, di mana dia?"

Adonis menahannya. "Tenang, dia sudah baik-baik saja, hanya tekanan darahnya yang turun. Kurasa itu karena apa yang kaukatakan padanya. Jelaskan padaku, apa yang terjadi? Dan lagi, apa yang dilakukan wanita itu di sini bersamamu?"

"Siapkan semuanya untuk kembali ke pulau," kata Jean.

"Baik, tak usah kaukatakan apa-apa. Semuanya siap untuk pulang kapan pun kau meminta."

"Suruh pengacara mengurus perceraiannya. Bagi sepertiga hartaku untuknya. Buat satu rekening atas namanya, tempat disetorkan sepertiga dari setiap uang yang masuk ke rekeningku. Dan pastikan semua orang tahu keluarganya adalah yang utama menerima perkenanku, perlindunganku. Juga, jangan sampai ada yang tahu tentang perceraian kita."

"Akan kulakukan sesuai kehendakmu, tapi izinkan aku mengatakan sesuatu. Mengambil keputusan ini adalah kesalahan besar. Seharusnya kau menceritakannya padaku, dan bersama-sama kita cari jalan terbaik. Sudah kukatakan, ini sebuah kesalahan. Ayo pergi sebelum Maestro terlambat."

Keduanya keluar dari hotel dan menuju pesawat untuk kembali ke pulau. Sementara itu, Estela membawa adiknya ke apartemennya, sebab Neylane tak mau pulang ke rumah. Begitu masuk, Neylane memintanya membiarkannya sendiri di kamar. Estela menelepon ibu mereka dan mengatakan bahwa mereka tak akan pulang sampai keesokan harinya, bahwa sesampainya di rumah mereka akan menjelaskan semuanya, tapi mereka baik-baik saja. Sepanjang hari itu, Estela mendengar adiknya menangis, terisak, dan sesekali terdengar suara benda-benda yang ia lemparkan. Neylane tak mau makan. Sore harinya, Estela tak tahan lagi dan masuk ke kamar. Ia melihat Neylane berdiri, seolah hendak runtuh dan ambruk ke lantai. Estela mendekat dan memeluknya erat-erat. Meski Neylane berusaha menolak, Estela justru mendekapnya makin kuat.

"Adikku, menangislah. Ayo, biarkan aku menemanimu. Bersandarlah padaku," kata Estela.

Neylane mulai menangis sekuat yang ia mampu, sampai air matanya tak lagi keluar dan ia tertidur. Sang kakak membelai kepalanya, mendekapnya, dan tidur di sampingnya. Keesokan paginya, ketika Neylane terbangun, ia sendirian di kamar. Ia bangkit dan merasakan kepalanya berputar hingga terpaksa duduk kembali. Setelah agak pulih, ia keluar kamar. Kakaknya ada di ruang makan, sedang menyeruput kopi. Melihat Neylane keluar dari kamar, Estela berkata, "Mau kopi?"

"Iya, tolong, Kak."

Estela membuatkan kopi dan menyodorkannya. Namun begitu Neylane meneguk seruputan pertama, perutnya bergolak hingga ia harus berlari ke kamar mandi. Estela mengejar di belakangnya, meski Neylane tak membiarkannya masuk ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian Neylane keluar, berjalan menuju ranjang tempat Estela duduk menunggunya. Kepalanya kembali berputar hingga ia harus berpegangan pada kakaknya, dan Estela membantunya duduk.

"Adikku, ini tidak wajar. Kemarin dokter juga bilang kau perlu pemeriksaan. Jadi ayo kita ke rumah sakit," kata Estela.

"Tak perlu, aku baik-baik saja. Ini akan berlalu."

"Setidaknya biar kupanggil seorang teman. Aku ingin ia memeriksamu, ya?"

"Kalau itu membuatmu tenang, lakukanlah."

Estela mengambil ponselnya dan menelepon seorang teman, memintanya datang ke apartemen untuk memeriksa adiknya. Temannya mengiyakan. Beberapa jam kemudian ia tiba, masuk ke kamar, dan mulai memeriksa Neylane.

"Aku belum yakin, tapi kurasa dia hamil," kata sang dokter. "Sebaiknya dia menjalani tes kehamilan."

"Tidak mungkin, kau pasti keliru," sahut Neylane. "Ini bohong, ini sebuah kesalahan."

"Aku membawa alat tes kehamilan sederhana di tasku. Kenapa tidak kaucoba saja, biar kita lihat hasilnya."

Neylane berusaha keluar dari sana dengan kalut. Ia tak mau mendengar lebih jauh; semuanya pasti bohong. Estela meraih tangannya dengan lembut agar ia tak pergi. "Adikku, kau tak rugi apa-apa. Ayo, pergilah ke kamar mandi."

Neylane mengambil alat tes kehamilan itu dan masuk ke kamar mandi. Sudah lewat empat puluh menit dan ia belum juga keluar. Estela mulai cemas. Ia mengetuk pintu, tapi Neylane tak menjawab. "Sebaiknya kau menjawab, atau kudobrak pintunya untuk memastikan kau baik-baik saja."

"Tenang, Estela, dia akan segera keluar," kata sang dokter.

Neylane membuka pintu dengan alat tes di tangan. Ia terguncang, tak mampu bicara, tak mau bergerak, tanpa ekspresi, dan pandangannya menerawang kosong. Melihat adiknya seperti itu, Estela dilanda panik. Ada apa dengannya? Ia tak pernah melihatnya seperti ini. Sang dokter mendekat, mengangkatnya dalam gendongannya, dan membawanya ke ranjang. Ia membaringkannya, mengukur denyut nadi dan tekanan darahnya, lalu meminta Estela membuatkan teh.

Estela membawa teh dan melihat alat tes kehamilan itu. Ia tak percaya melihatnya: positif. "Katakan, apa yang kulihat ini benar? Adikku hamil?"

"Ya, itu benar sekali. Kau tahu aku dokter yang andal, aku tak pernah keliru dengan diagnosisku. Biarkan adikmu beristirahat dan pulih dari kabar ini."

Keduanya keluar ke ruang tamu dan berbincang cukup lama. Estela mengajaknya sarapan dan memintanya tinggal sampai Neylane pulih. Ia menyetujui. Tengah hari, Neylane keluar kamar, sudah lebih tenang dan tenteram.

"Aku ingin meminta satu hal pada kalian. Jangan beri tahu siapa pun soal kehamilan ini," kata Neylane.

"Adikku, kehamilan tak bisa disembunyikan. Sebentar lagi perutmu membesar dan semua orang akan tahu," kata Estela.

"Beri aku waktu untuk berpikir, ya. Beri aku beberapa hari."

"Kau harus menjalani pemeriksaan, untuk mengetahui usia kehamilanmu dan bagaimana perkembangannya," kata sang dokter.

"Katakan, jangan-jangan kau ingin menggugurkannya?" tukas Estela. "Karena kalau begitu, sudah kubilang aku takkan mendukungmu. Akan kuberi tahu semua orang. Aku takkan membiarkanmu melakukan kegilaan seperti itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!