Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13— Asap dan Langkah yang Sama
Sore menjelang malam, langit berwarna ungu kelabu. Vano berjalan keluar dari lobi gedung, tangan meraba saku jasnya yang kosong. Dadanya masih sesak, amarah yang tertahan belum sepenuhnya luruh — kedatangan kakeknya tadi, bentakan, tuntutan yang tak masuk akal, semua masih terasa membekap. Reino sudah pulang, hari ini akhir pekan, tak ada yang bisa diperintah. Ia menghela napas panjang, melangkah sendirian menuju minimarket tak jauh dari sana, berharap udara sore bisa sedikit menenangkan kepalanya yang pening.
Di bangku panjang pinggir jalan yang agak tersembunyi, langkahnya terhenti.
Meloudy.
Ia baru saja keluar dari toko, menata belanjaannya di tas dengan gerakan cepat, lalu mengambil sebungkus rokok dari saku luar tasnya. Dengan gerakan luwes, terbiasa, ia menyalakannya, mendekatkan ke bibir, lalu menarik napas panjang — mengembuskan asap perlahan ke udara yang mulai dingin. Kacamata bingkai tebal menutupi matanya, pakaian serba panjang menutupi tubuhnya, kerah tinggi hingga menutupi sebagian leher — seakan tak ingin dikenal siapa pun.
Vano tertegun. Matanya membelalak tak percaya. Wanita yang selalu menunduk hormat, yang tampak begitu lembut dan murni… ia tak pernah membayangkannya melakukan hal seperti ini. Namun keterkejutan itu perlahan mereda, berganti rasa paham yang tak perlu diucapkan. Ternyata, bukan hanya dirinya yang mencari pelarian di tempat sepi.
Meloudy menoleh, dan wajahnya seketika pucat. Rokok itu terselip di bibirnya, buru-buru disembunyikan di belakang punggung.
"Tuan Vano…" suaranya nyaris tak terdengar.
Vano tak pergi. Ia justru masuk ke minimarket, lalu kembali dengan sebungkus rokok di tangan. Tanpa banyak bicara, ia duduk di ujung bangku itu — memberi jarak sopan, namun tetap dekat, cukup untuk menunjukkan ia tak marah.
"Tak perlu sembunyikan," ucapnya pelan sambil menyalakan rokoknya sendiri. Asap tipis mengambai di udara.
"Aku di sini bukan untuk menegur."
Meloudy menunduk, jemarinya gemetar.
"Saya… tidak bermaksud…"
Vano menggeleng pelan, menyodorkan satu batang.
"Sini."
Meloudy mendongak, bingung, namun menerimanya perlahan.
Mereka duduk berdampingan dalam hening. Tak ada yang bertanya, tak ada yang bercerita — hingga pandangan Vano jatuh pada tas belanjaan yang tersimpan rapi di pangkuannya, dan ingatannya kembali pada pertemuan mereka pagi tadi.
"Ibumu… dirawat di rumah sakit, kan?" tanyanya pelan, memecah keheningan.
Meloudy terkejut sesaat, lalu mengangguk lembut.
"Iya, Tuan."
"Itu semua untuk di bawa ke sana?" Vano menunjuk ke arah tas yang penuh berisi makanan, buah-buahan, dan perlengkapan yang ia susun rapi.
"Benar, Tuan," jawabnya pelan.
"Saya ingin membawakan beberapa cemilan untuk Ibu, dan saya masakin menu kesukaan nya… semoga ibu makan sedikit lebih banyak hari ini."
Vano menatapnya sejenak, lalu mengembuskan asap perlahan. Tanpa ia rencanakan, kata-kata itu keluar begitu saja:
"Kalau begitu… izinkan aku ikut."
Meloudy tertegun hebat, matanya membelalak lebar di balik kacamata tebalnya. Jantungnya berdegup tak terduga. Selama bekerja, ia selalu melihat Tuan Vano sebagai sosok yang dingin, tertutup, tak pernah bersikap lembut kepada siapa pun — sekalipun kepada rekan kerja yang sudah lama bersamanya. Beliau menjaga jarak, berbicara seperlunya, wajahnya selalu datar tanpa senyum yang tulus. Kini, mendengar tawaran itu, melihat tatapan yang begitu tulus dan lembut… rasanya sungguh tak nyata.
Tuan Vano… ingin ikut? batinnya bergumam tak percaya.
Beliau yang tak pernah menampakkan kehangatan pada siapa pun… kini bersedia berjalan bersama ku?
"Tuan…?" suaranya terdengar ragu.
"Saya… maksud saya… Tuan yakin?"
"Aku tak akan menyusahkan," ucapnya cepat, sebelum ia sempat menolak.
"Hanya sekadar menjenguk. Aku ingin melihatnya juga, bagaimana pun dia ibu mu, ibu dari salah satu karyawan ku." Ia menatapnya tulus.
"Boleh?"
Meloudy menelan ludah. Ia tak menemukan jejak kebohongan di wajah itu. Tuan Vano sungguh berubah — atau mungkin, selama ini, hanya menyembunyikan sisi ini dari dunia.
"Tentu… boleh, Tuan," jawabnya pelan, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang tulus.
"Ibu pasti senang."
Mereka berdiri bersamaan. Vano mengambil alih tas yang terlihat cukup berat dari tangan wanita itu, tanpa menunggu izin.
"Mari," ucapnya lembut.
"Kita berjalan bersama."
Langkah kaki mereka menyatu di trotoar yang mulai sepi — Meloudy sesekali melirik ke samping, masih tak percaya bahwa pria yang dikenal dingin itu kini berjalan di sebelahnya, membawa tas belanjaannya, dan melangkah menuju tempat yang paling berharga baginya.
...****************...
Langkah kaki mereka akhirnya terhenti di depan pintu kamar yang bernomor sederhana. Meloudy menarik napas dalam-dalam, menoleh ke arah pria yang berdiri di sampingnya — tangan besar itu masih memegang tas belanjaannya, dan untuk pertama kalinya, Vano tampak sedikit gugup. Tatapannya yang biasanya tajam kini meredup, seakan tak yakin apakah kehadirannya akan diterima.
"Saya… boleh masuk?" tanyanya pelan, seakan meminta izin terakhir.
Meloudy tersenyum lembut.
"Tentu saja, Tuan."
Ia mendorong pintu perlahan. Udara di dalam ruangan itu terasa hangat, berbau obat-obatan dan bunga yang layu perlahan. Di atas tempat tidur, ibunya berbaring dengan bantal yang disusun tinggi, wajahnya pucat namun seketika menyala saat melihat putrinya kembali. Namun senyum itu tertahan sejenak saat menyadari ada sosok lain yang ikut melangkah masuk. Mata wanita itu menyapu sosok Vano dari kepala hingga kaki, lekat-lekat, seakan tak percaya melihat pria sedemikian rupawan berdiri di ruangan sederhana ini.
"Ibu…" panggil Meloudy pelan, mendekat ke sisi tempat tidur.
"Saya membawa tamu."
Vano melangkah maju perlahan, menaruh tas belanjaan di meja kecil di samping tempat tidur dengan hati-hati. Ia menatap wanita yang terbaring lemah itu, lalu menunduk sopan — sikap yang tak pernah ditunjukkannya kepada siapa pun di lingkungan kerjanya.
"Selamat sore, Ibu," ucapnya lembut, suaranya terdengar tulus.
"Saya Vano."
Ibu Meloudy mengerjap pelan, matanya tak lepas dari wajah pria itu. Bibirnya menyunggingkan senyum yang penuh tanya namun ramah.
"Vano…" suaranya lemah namun lembut.
"Wahai… pria yang berdiri di samping putriku ini… begitu tampan, sungguh." Ia menatap Meloudy lekat, lalu kembali ke arah Vano.
"Siapa dia, Nak? Apakah… dia pacarmu?"
Meloudy tertegun hebat. Wajahnya seketika memerah padam, matanya membelalak tak percaya.
"Ibu?!" serunya nyaris tercekat, menoleh cepat ke arah ibunya, lalu sekilas ke arah Vano yang berdiri tak jauh di sampingnya.
"Bukan… Ibu, bukan begitu! Ini… ini Tuan Vano, pemilik perusahaan tempat saya bekerja!"
^^^Bersambung...^^^