NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:689
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Makan Malam dari Rumah Pertama

Kebun teh itu menyambut mereka dengan bau daun basah dan tanah yang menghangat setelah seharian disinari matahari. Di bawah langit yang berubah dari ungu ke biru tua, barisan perdu hijau memanjang di lereng seperti gelombang laut yang membeku. Sarah memimpin di depan dengan ransel di punggung dan lampu senter kecil yang hanya dia nyalakan sepersekian detik setiap kali jalan setapak berbelok, seolah dia sudah menghafal setiap batu di tempat itu dengan telapak kakinya. Di belakangnya, perawat muda bernama Lestari menggandeng tangan Rani, disusul Alya, lalu Raze, dan di paling belakang, Damar bersama dua pengawalnya menyapu jejak dengan mata yang tidak pernah berhenti bergerak.

"Jangan injak pangkal pohonnya," Sarah berbisik tanpa menoleh. "Akarnya licin kalau lembap. Pijak di tengah barisan, di tanah yang sudah keras."

"Dok, aku pakai sandal," Rani membalas, juga berbisik, dengan nada jengkel yang tidak berhasil menutupi napasnya yang mulai memburu. "Siapa suruh naik gunung tanpa kasih tahu bakal ngejar-ngejaran sama orang jahat."

"Aku sudah bilang pakai sepatu," Raze menyahut dari belakang, datar.

"Itu sepatu kamu yang kegedean di kakiku, Dok. Aku nggak jalan, aku berenang."

Alya menahan tawa di tengah ketegangan itu, tapi tawanya patah begitu dia menoleh dan melihat wajah Raze di kegelapan, rahangnya mengeras, matanya terus memindai lereng di bawah mereka. Dia melepas satu tangannya dari tangan Lestari dan mengulurkannya ke belakang tanpa kata-kata, dan Raze menyambutnya dengan genggaman yang begitu erat hingga jemarinya hampir kebas.

Dari punggung bukit kecil di atas klinik, mereka berhenti sebentar untuk mengatur napas. Lampu-lampu dusun sudah padam satu per satu, persis seperti yang dijanjikan Sarah, dan di bawah sana, tiga mobil hitam tanpa plat dinas berhenti berjajar di halaman klinik dengan lampu depan dibiarkan menyala. Suara-suara terbawa angin lembah dengan jernih, dan Damar, yang berlutut di antara perdu dengan teropong kecil, memberi isyarat agar semua diam.

Seorang pria berjas abu-abu rapi turun dari mobil tengah. Dia tidak membawa senjata yang terlihat, hanya map hitam di bawah lengan dan senyum yang dapat terlihat bahkan dari kejauhan. Beberapa tetua dusun sudah berdiri di depan klinik membentuk barisan, ada yang memegang parang, ada yang hanya membawa obor, tapi tidak satu pun mundur.

"Selamat malam, Bapak-bapak," pria itu berkata dengan suara yang halus dan jelas, seperti pembawa acara pernikahan. "Saya Surya, dari dinas. Kami hanya ingin bertemu dengan dokter yang bertugas di klinik ini. Ada urusan administrasi yang perlu diselesaikan."

"Dokternya lagi nolong orang melahirkan," salah satu tetua menjawab, tenang. "Belum pulang."

"Sampai tengah malam?"

"Kalau bayinya belum lahir, ya sampai bayinya lahir."

Pria bernama Surya itu tertawa pelan, dan dari tempatnya berlutut, Alya merasakan bulu kuduknya berdiri. Itu bukan tawa orang yang tersinggung. Itu tawa orang yang sangat sabar. "Baik, kami tunggu," katanya. "Tapi kalau berkenan, tolong sampaikan satu pesan kepada beliau, juga kepada tamu-tamunya yang mungkin sedang berkunjung." Dia mengangkat map hitamnya sedikit. "Rumah Pertama mengundang makan malam. Hari Sabtu depan. Alamatnya akan dikirim."

Sarah, di sebelah Alya, menahan napas sampai terdengar. Raze tidak bergerak sama sekali.

Mereka melanjutkan perjalanan sebelum pria itu sempat memutuskan menyisir kebun. Di tengah turunan yang curam, kaki Damar tergelincir pada batu basah, dan dia jatuh miring ke pagar kawat tua yang sudah berkarat di tepi petak teh, menggores lengan kirinya dari siku hingga pergelangan. Dia tidak bersuara sedikit pun, hanya menggertakkan gigi dan menekan lukanya dengan telapak tangan, tapi darah merembes cepat di antara jarinya.

"Berhenti," Alya berkata, dan kata itu keluar dengan nada yang bahkan membuat Raze menoleh. "Semua berhenti. Lestari, ada gubuk terdekat?"

"Gubuk pengering teh, Bu, seratus meter lagi," jawab Lestari. "Milik Pak Karto. Biasanya kosong kalau sore."

Gubuk itu berdinding anyaman bambu dan beratap rumbia, di dalamnya hanya ada rak-rak kayu bertingkat dan karung-karung teh kering yang masih menguarkan aroma melati. Alya menyalakan senter kecil, menyuruh Damar duduk di atas karung, menyingkap lengan bajunya yang sobek, dan memeriksa luka itu dengan dua jari yang sudah terlatih menekan, mengangkat, dan menilai kedalaman dalam satu gerakan.

"Dalam tapi bersih," katanya. "Tidak kena tendon. Dok Sarah, kamu bawa jarum dan benang?"

"Di ransel. Kantong depan." Sarah sudah berjongkok di sampingnya, tersenyum samar. "Kamu yang menjahit. Aku mau lihat kerjamu."

"Dok, saya bisa sendiri—" Damar mulai protes.

"Kamu diam atau aku tambahin satu jahitan di mulutmu," Rani menyela, duduk bersila di sebelahnya dan memegangi lengannya yang lain. "Aku tukang jahit profesional, tahu. Aku bisa kasih tips."

"Jangan beri tips," Alya dan Sarah berkata bersamaan, lalu saling menatap dan tertawa pendek, dua perempuan yang baru saling mengenal satu sore dan sudah menemukan ritme kerja yang sama.

Sepuluh menit kemudian, luka itu terjahit rapi dengan enam simpul, dan Damar menatap lengannya dengan ekspresi campuran antara malu dan takjub. "Terima kasih, Suster," katanya pelan. "Saya tidak terbiasa dirawat. Biasanya saya yang menjaga."

"Kamu juga boleh dijaga," Alya membalas, mengikat perban terakhir, dan Damar menunduk, telinganya memerah.

Hujan turun tepat ketika mereka memutuskan bermalam di sana, rintiknya bertalu-talu di atap rumbia dan menciptakan tirai putih di pintu gubuk. Sarah dan Lestari tidur bergantian di dekat pintu, Damar dan dua pengawalnya menjaga dari luar secara bergilir di bawah jas hujan, dan Rani, yang kelelahan, sudah meringkuk di atas tumpukan karung dengan kepala di paha Sarah yang dengan canggung membelai rambutnya, kebiasaan yang jelas dia pelajari dari merawat ratusan pasien kecil.

Alya duduk di sudut gubuk dengan punggung bersandar ke rak kayu, kedua lengan memeluk lutut, dan Raze duduk di sampingnya tanpa bertanya, melepas jaketnya, menyampirkan ke bahunya, lalu menarik Alya ke dalam lengannya, memosisikan kepalanya di bawah dagunya.

"Kamu dingin," katanya, rendah.

"Kamu juga basah."

"Tidak ada yang bertanya tentang aku." Dia menyibak rambut basah dari dahi Alya, jarinya menelusuri pelipisnya, pipinya, rahangnya, lambat, seperti memeriksa pasien yang baru keluar dari ruang operasi. "Dengarkan aku. Mulai sekarang, kau tidak keluar dari jarak pandangku. Tidak ke toilet, tidak ke dapur, tidak ke mana pun. Aku tahu itu tidak masuk akal. Aku tidak peduli."

"Raze—"

"Jangan bantah aku." Suaranya serak. "Tidak malam ini. Aku melihat pria itu tertawa di bawah sana, dan aku membayangkan dia menyebut namamu di meja makan itu. Aku tidak sanggup, Alya."

Alya mengangkat wajahnya, menangkup pipinya dengan kedua tangan, ibu jarinya menyapu air hujan dan sesuatu yang lain dari sudut matanya. "Aku nggak akan ke mana-mana," bisiknya. "Tapi kamu juga nggak boleh ngilang. Kamu bisa sebut itu perintah balasan."

Raze menatapnya lama, lalu menunduk dan menciumnya, pelan, lama, dengan bibir dingin yang perlahan menghangat, satu tangan mengunci tengkuknya, tangan yang lain melingkar di pinggangnya menariknya begitu dekat hingga Alya bisa merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan di bawah kemeja yang basah. Mereka berpisah hanya ketika Rani, dari balik tumpukan karung, berdeham sangat keras tanpa membuka mata.

"Aku nggak tidur, lho."

"Tidurlah," Raze menjawab datar.

"Gimana bisa tidur kalau yang di sebelah ciuman terus."

Sarah menunduk menahan tawa, dan bahkan Raze, untuk sekejap, tersenyum di pelipis Alya.

Setelah tawa itu reda dan gubuk kembali sunyi oleh bunyi hujan, Alya mendengar suara berbisik dari tumpukan karung. Rani belum tidur. Dia berbaring miring, menatap langit-langit rumbia, dan Sarah, yang duduk di sampingnya dengan punggung bersandar ke tiang, masih membelai rambutnya seperti ritme yang tidak bisa dia hentikan.

"Dok," Rani berbisik. "Kamu liat aku malam itu?"

"Aku nggak ada di sana malam itu," Sarah menjawab lirih. "Aku baru melihat namamu, namamu yang dicoret, dua puluh tahun kemudian, di dokumen audit." Dia menarik napas. "Tapi di salinan aslinya, di pinggir kertas, ada catatan kecil dari perawat jaga: bayi (2) menangis keras sepanjang pemindahan, tidak mau diam. Sudah ratusan kali aku membaca kalimat itu. Aku selalu bertanya-tanya bayi siapa. Sekarang aku tahu."

Rani terdiam lama. "Berarti aku nangis keras," katanya akhirnya. "Berarti aku nggak diem aja."

"Kamu sangat tidak diam," Sarah membenarkan, dan suaranya pecah sedikit, tapi dia tersenyum. "Itu kesimpulan medis saya yang paling bahagia dalam sepuluh tahun."

Rani tertawa kecil, menutupi matanya dengan lengan, bahunya bergetar. Dari sudut gubuk, Alya merangkak pelan ke arah mereka, menyelinap ke ruang sempit di sisi lain Rani, dan berbaring miring menghadapnya, dahi mereka hampir bersentuhan. Rani menurunkan lengannya, menatap wajah yang sama persis dengan wajahnya sendiri dari jarak dua jengkal, dan tanpa kata-kata, dia meraih tangan Alya dan menautkan jemarinya erat-erat di antara dada mereka.

"Dulu waktu kecil," Rani berbisik, "aku suka ngomong sendiri di cermin. Aku bayangin ada orang di sebelah yang jawab. Konyol, ya?"

"Aku juga," Alya berbisik. "Aku selalu nyisain satu sisi kasur. Aku nggak tau kenapa."

Mereka berbaring begitu lama, dua kembar yang menyisakan satu sisi kasur selama dua puluh tahun untuk satu sama lain, dan Sarah menarik selimut tipis dari ranselnya, menyelimuti keduanya sekaligus, lalu berkata pelan, kepada gelap dan kepada Raze yang masih terjaga di sudut: "Aku ikut kalian ke kota. Lestari bisa mengurus klinik. Aku satu-satunya saksi hidup yang masih punya salinan asli. Kalau aku di sini, mereka akan kembali. Kalau aku bersama kalian, setidaknya mereka harus berhadapan dengan kita semua."

"Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu lagi," Raze menjawab dari kegelapan, suaranya rendah dan tidak bisa dibantah.

"Itu janji yang sama yang kamu kasih ke semua orang, Raze," Sarah membalas, setengah menggoda. "Kita lihat siapa yang lebih keras kepala."

Menjelang subuh, Lestari kembali dari dusun dengan sepatu penuh lumpur dan wajah pucat. Mobil-mobil itu sudah pergi, katanya, setelah menunggu sampai lewat tengah malam dan menyisir klinik dengan sopan seolah-olah mereka tamu. Tetua dusun sudah menutup pintu dan tidak mengatakan apa pun. Tetapi sebelum pergi, pria bernama Surya meninggalkan dua benda di meja klinik, dan Lestari membawa keduanya.

Yang pertama, sebuah kartu tebal berwarna gading dengan huruf timbul: Keluarga Nireva dan Keluarga Aldevar diundang untuk makan malam bersama Rumah Pertama. Sabtu, pukul tujuh malam. Tempat akan dikabarkan.

Yang kedua, sebuah kantong kain kecil bersulam benang emas yang sudah memudar. Lestari menyerahkannya langsung ke tangan Rani, seolah dia sendiri tahu isinya akan menjadi milik siapa.

Rani membuka tali kantong itu dengan jari yang gemetar. Dari dalamnya meluncur ke telapak tangannya sebuah gelang perak sangat kecil, begitu mungil hingga hanya muat di pergelangan seorang bayi, dan pada plat tipis di tengahnya, terukir dua huruf yang nyaris hilang dimakan waktu: A. N.

"Ini gelang bayi," Rani berbisik, suaranya hilang. "Yang dipakai aku waktu... Alya, kamu pernah liat foto kamu pake yang ini."

Alya meraih tangan kakaknya dan menggenggam gelang itu bersama-sama, dan untuk beberapa detik, tidak ada suara di gubuk itu kecuali hujan yang mereda di atap rumbia. Gelang itu hilang dua puluh tahun lalu. Dan seseorang di Rumah Pertama menyimpannya selama itu, rapi, terawat, hanya untuk menyerahkannya hari ini.

Alya melepas kalung tipis dari lehernya, kalung perak sederhana pemberian ibunya sewaktu dia lulus perawat, menyelipkan gelang mungil itu ke rantainya, lalu mengaitkannya di leher Rani dari belakang dengan jari yang tidak lagi gemetar. Gelang itu jatuh tepat di atas tulang selangka Rani, kecil dan berkilau samar di bawah cahaya senter.

"Ini punyamu," bisik Alya, mencium belakang kepalanya. "Dari dulu."

Rani memegang gelang itu dengan kedua tangan, menunduk, dan Alya merasakan punggungnya berguncang pelan di bawah telapak tangannya. "Aku nggak mau lepasin," bisik Rani. "Sampai kapan pun."

Di pojok gubuk, ketika semua orang akhirnya menemukan tidur yang ringan, Raze duduk bersandar ke dinding bambu dengan buku saku kecil di pangkuannya dan menulis dengan huruf yang rapat dan miring:

Rumah Pertama tidak datang untuk membunuh. Mereka datang untuk mengundang. Itu lebih menakutkan. Orang yang ingin membunuh tidak repot menyimpan gelang bayi selama dua puluh tahun.

Mereka tahu nama-nama kami. Mereka tahu siapa yang kami cari, dan di mana. Mereka menunggu kami sampai di sini, lalu mengirim pesan melalui tetua dusun seolah-olah kami hanya tamu yang terlambat tiba.

Aku tidak pernah memenuhi undangan yang tidak kuatur sendiri. Hari Sabtu nanti, aku akan melakukannya, bersama tiga perempuan yang tidak bisa kutinggalkan dan satu pria yang baru tahu rasanya dijahit. Aku tidak tahu apakah itu keberanian atau kebodohan. Mungkin hanya cinta yang tidak lagi tahu cara berhitung.

Ada undangan yang tidak bisa ditolak bukan karena mengancam, melainkan karena membawa serta sesuatu yang paling kita rindukan dan yang paling menakutkan dari sebuah jebakan adalah ketika umpannya terbuat dari apa yang selama ini kita cari dengan seluruh hidup.

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!