Shevi (20 tahun) adalah pemuda miskin di Jakarta yang menyambung hidup sebagai buruh cuci motor panggilan. Sudahlah dihina dan dicampakkan oleh pacarnya karena dianggap tidak punya masa depan, emaknya pun terancam diusir dari kontrakan petak karena menunggak tiga bulan.
Di titik terendah hidupnya, sebuah mukjizat datang lewat "Sistem Poin Keberkahan".
Setiap kali Shevi bersabar dari hinaan, bekerja jujur, dan ikhlas menolong sesama di kerasnya ibu kota, dia akan mendapatkan Poin Keberkahan yang bisa ditukar dengan uang tunai atau kemampuan ajaib. Berbekal jalur langit ini, Shevi merangkak naik membalikkan takdir dari buruh jalanan menjadi miliarder nomor satu di Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak di Undang dari Masa Lalu
Keesokan paginya, suasana di dalam bengkel terasa lebih tenang. Sinar matahari fajar menerobos masuk melalui pintu kaca ruko, memantulkan pendar cahaya pada lantai keramik yang bersih.
Shevi berdiri di depan etalase kaca kosong yang rencananya akan digunakan untuk memajang ban dan botol oli. Sambil menatap hiruk-pikuk Jalan Raya Daan Mogot, dia menghitung strategi keuangan. Dengan sisa uang tunai di saku pasca-belanja onderdil kemarin, dia harus menunggu proses klaim tagihan dari Mbak Gita cair dari kantor pusat logistik. Selama modal besar itu belum di tangan, Shevi harus terus memutar otak menjaga napas operasional bengkel bersama Dika.
Di sebelahnya, Dika sedang sibuk mengayunkan sapu, membersihkan sisa debu halus di dekat unit hidrolik.
"Shev, gua benar-benar kagum sama ketenangan lu," ucap Dika seraya menyeka keringat di pelipisnya. "Lima motor kurir dari perusahaan Mbak Gita kemarin untungnya bisa kita bereskan tepat waktu. Gua yakin komentar dari para kurir itu bakal jadi promosi efektif buat bengkel ini. Di Jakarta, tidak ada yang menyebar lebih cepat daripada cerita dari mulut ke mulut antar-pekerja jalanan."
Shevi menepuk bahu sahabatnya. "Lu tenang aja, Dik. Fokus pada kualitas pengerjaan mesin di bawah. Urusan manajemen operasional biar gua yang kendalikan."
Shevi juga bersyukur kondisi Emak Aminah di rumah kontrakan Tambora sudah jauh membaik. Berkat resep obat rutin dan perbaikan gizi dari hasil kerja kerasnya, kesehatan sang emak pulih dengan pesat. Bahkan pagi ini, Emak Aminah sudah bangun subuh dengan tubuh yang segar, mulai membuka meja lapak kecil di depan kontrakan untuk berjualan kopi seduh dan gorengan hangat demi mengisi waktu luang.
Efek informasi dari mulut ke mulut di kalangan pekerja jalanan bergerak cepat. Menjelang jam makan siang, beberapa pengemudi ojek online yang kemarin sempat melihat keahlian Shevi membocorkan lokasi ruko barunya kepada rekan-rekan sejawat mereka.
Tepat pukul satu siang, sebuah motor matic lawas dengan bodi penuh goresan dan logo ojek online yang pudar berhenti di halaman ruko. Pengemudinya adalah seorang pria paruh baya bernama Pak Owi. Wajah bapak itu tampak cemas dan ragu saat melongok ke dalam ruangan ruko.
"Permisi... apa benar ini tempatnya Mas Shevi yang kemarin sempat memperbaiki motor operasional?" tanya Pak Owi dengan nada pelan. "Motor saya ini mendadak suaranya kasar di bagian bak CVT belakang, Mas. Terus kalau digas di tanjakan seperti ngempos tidak ada tenaga. Saya sudah bawa ke dua bengkel besar di depan sana, mereka bilang harus ganti satu set rumah roller dan van belt baru, harganya enam ratus ribu rupiah. Uang hasil narik ojek saya seharian tidak sampai seratus ribu, Mas... Kalau motor ini tidak benar hari ini, besok saya tidak bisa mencari nafkah untuk bayar uang sekolah anak saya yang menunggak."
Mendengar penuturan dari Pak Owi, Shevi merespons dengan empati. Dia paham betul rasanya diapit oleh keadaan dan kekhawatiran orang kecil.
"Pak Owi tenang dulu," tutur Shevi. "Biar motornya kita naikkan ke atas hidrolik dulu oleh Dika. Kita cek bersama kerusakannya secara terbuka. Di bengkel kami, kami tidak akan menyuruh ganti komponen kalau memang kondisinya masih bagus dan bisa diperbaiki."
Dika membantu mendorong motor matic tua Pak Owi ke atas unit hidrolik, lalu mengangkatnya setinggi dada. Shevi segera mengambil kunci T ukuran delapan dan mulai membuka baut-baut blok penutup CVT motor tersebut dengan gerakan presisi.
Begitu penutup besi mesin terbuka, hembusan debu hitam pekat langsung keluar. Dika yang memperhatikan komponen bagian dalam langsung menunjuk ke arah barisan roller menggunakan obengnya.
"Shev, lihat deh. Rumah roller-nya masih utuh, sasisnya tidak peang. Van belt-nya juga belum retak," analisis Dika.
Shevi mengangguk setuju. Pengalaman mekaniknya mendeteksi bahwa suara kasar dan hilangnya tenaga itu bukan karena komponen yang hancur, melainkan karena pelumas di dalam pin guide roller sudah mengering total akibat usia pemakaian, ditambah tumpukan debu halus hasil gesekan kampas ganda yang menyumbat jalur pergerakan roller.
"Pak Owi, coba lihat ke sini sebentar," panggil Shevi ramah, menunjukkan komponen dalam mesin kepada pemiliknya langsung. "Rumah roller sama van belt Bapak ini sebenarnya masih orisinil pabrikan dan kondisinya masih sangat layak pakai sekitar enam bulan ke depan. Jadi Bapak tidak perlu keluar uang enam ratus ribu untuk ganti baru."
Pak Owi tertegun di tempatnya berdiri, sepasang matanya berkedip tidak percaya. "Kenapa suaranya bisa kasar dan tidak bisa jalan kencang, Mas?"
"Ini cuma karena tumpukan kotoran dan pelumasnya sudah habis, Pak. Cukup kita bongkar semua komponennya, kita bersihkan seluruh debu hitam ini pakai bensin, lalu kita beri pelumas baru yang tahan panas tinggi. Biaya jasanya cuma tiga puluh ribu rupiah saja, Pak. Tidak ada komponen yang harus diganti baru," jelas Shevi.
Mendengar penjelasan dari Shevi dan nominal biaya yang sangat murah, air mata Pak Owi menggenang di sudut matanya. "Beneran, Mas? Cuma tiga puluh ribu rupiah?"
"Kami mencari nafkah yang halal di sini, Pak. Bukan mencari uang dari memanfaatkan kesusahan orang lain," jawab Shevi tulus, sementara kedua tangannya mulai cekatan menggosok komponen roller yang menghitam menggunakan kuas kecil dan bensin.
Dika membantu menyemprotkan angin bertekanan tinggi dari selang kompresor untuk merontokkan sisa-sisa debu pekat di dalam mangkok kampas ganda. Hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit, seluruh komponen CVT motor Pak Owi sudah kembali bersih. Shevi mengoleskan sedikit pelumas khusus pada pin penggerak, lalu merakit kembali seluruh blok mesin dengan tingkat kekencangan baut yang presisi menggunakan kunci torsi.
"Silakan dicoba starter dan dirasakan gasnya, Pak Owi," panggil Shevi setelah Dika menurunkan unit hidrolik ke lantai.
Pak Owi menyalakan kunci kontak dan menekan tombol starter.
BRRUM...
Mesin motor matic tua itu berbunyi dengan suara halus, dan getaran kasar di bagian bawah sasisnya hilang total. Saat Pak Owi memutar tuas gas sedikit, putaran roda belakangnya berputar responsif.
"Mas Shevi... Mas Dika... terima kasih banyak," tutur Pak Owi, menjabat erat tangan Shevi. Dia mengeluarkan dompet kulitnya yang lusuh, mengambil selembar uang lima puluh ribu rupiah dari dalamnya. "Ini, Mas... ambil saja kembaliannya."
Shevi menerima uang tersebut, namun kemudian merogoh saku celananya dan mengembalikan uang dua puluh ribu rupiah tunai kepada Pak Owi.
"Sesuai tarif bengkel kami, Pak. Cuma tiga puluh ribu rupiah. Uang kembalian dua puluh ribu ini Bapak simpan untuk modal bensin narik ojek sore ini," ucap Shevi dengan suara teratur.
Pak Owi menerima uang kembalian itu dengan rasa syukur yang mendalam sebelum akhirnya menaiki motor matic-nya dan melaju pergi membelah jalanan.
Begitu siluet motor Pak Owi hilang di balik kepadatan lalu lintas Daan Mogot, kepuasan batin menyelimuti Shevi dan Dika. Kejujuran kecil hari ini adalah batu bata pertama bagi reputasi bengkel mereka.
Namun, kedamaian siang itu mendadak terpotong. Sebuah suara deru mesin mobil berbunyi tersendat-sendat, sebelum akhirnya berhenti tepat di halaman parkir ruko mereka. Suara mesin mobil itu terdengar pincang, berdecit kasar pada bagian van belt depan, dan diikuti oleh bunyi ledakan kecil dari pipa knalpot belakang.
Shevi dan Dika menolehkan pandangan ke arah pintu kaca depan ruko. Dari balik kaca transparan, sebuah sedan mewah berwarna putih berhenti dengan kondisi bodi yang bergoyang akibat getaran mesin yang tidak sinkron.
Pintu kemudi terbuka dengan sentakan kasar. Seorang pria muda dengan setelan kemeja flanel mahal keluar dengan raut amarah, lalu menggebrak atap mobil putihnya sendiri. Tak berselang lama, dari pintu sebelah kiri, seorang wanita muda dengan gaun mahal keluar sambil mengipas-ngipas wajahnya menggunakan brosur dengan raut masam.
Mata Shevi memicing tajam. Mereka adalah Karel dan Sarah—dua orang dari masa lalu yang beberapa hari lalu mencemooh dan menginjak-injak harga dirinya di bawah derasnya hujan Senopati.