“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Pintu rumah terbuka menjelang siang.
Haikal masuk lebih dahulu, disusul Rumi yang membawa beberapa kantong belanja. Wajah keduanya tampak santai setelah makan bersama dan mengantar Intan pulang ke rumah orangtuanya.
“Mas.” Panggil Tiara.
Haikal menoleh. “Apa?”
Tiara berjalan mendekat lalu menyodorkan amplop tersebut.
“Ini ada kiriman paket untukmu.”
Haikal mengambilnya. Matanya langsung tertuju pada logo sebuah bank swasta yang tercetak di bagian depan.
Tiara mengamati wajah suaminya.
“Surat apa itu, Mas?”
Haikal diam.
Tiara melanjutkan dengan nada datar. “Apa kau mengambil hutang di bank?”
Rumi yang baru saja hendak membawa belanjaan ke kamar langsung berhenti.
Haikal membuka amplop tersebut. Di dalamnya terdapat surat pemberitahuan persetujuan pinjaman. Uang satu miliar akan segera ia dapat hanya dengan menjaminkan sebuah mobil dan rumah yang kini ditempati Tiara. Bagi Haikal, itu sebuah keberuntungan.
"Jawab aku, Mas. Kau pinjam uang ke bank?" Desak Tiara.
“Iya,” jawab Haikal akhirnya.
Tiara menghela napas.
“Aku ambil pinjaman untuk tambahan modal, agar garmen milikku makin berkembang.”
Tiara menatapnya tidak percaya.
“Laba bersih dari bisnis itu sudah sangat besar, Mas. Kenapa kau harus berutang juga?”
“Itu urusanku.”
“Aku hanya khawatir.”
Tiara menunjuk surat tersebut.
“Jumlahnya tidak sedikit. Apalagi ada bunga yang harus dibayar setiap bulan.”
Haikal mulai merasa terganggu.
“Aku tahu cara mengelola bisnisku sendiri.”
Tiara tetap berusaha berbicara tenang.
“Aku curiga, kau berutang untuk membelikan Intan barang-barang mahal dan mewah.”
Mata Haikal langsung menajam.
“Jangan menuduh sembarangan.”
“Aku tidak menuduh. Aku hanya bertanya.”
Tiara menarik napas.
“Bagaimana kalau nanti kau tidak bisa melunasinya? Bagaimana kalau bisnismu mengalami masalah? Kau bisa bangkrut seketika, Mas.”
Rumi yang sejak tadi diam akhirnya mendekat.
Bukannya mendukung Tiara, wanita itu justru mendengus kesal.
“Sudah cukup!”
Tiara menoleh.
Rumi berjalan mendekat dengan wajah penuh kemarahan.
“Jangan halangi anakku untuk lebih sukses.”
“Aku tidak menghalangi, Bu.”
“Kau pikir nasihatmu berguna?”
Rumi tertawa sinis.
“Wanita bodoh dan miskin seperti kamu tidak punya wewenang memberi nasihat kepada Haikal. Terlebih, kau mandul!"
Tiara terdiam.
Dadanya terasa sesak.
Bukan karena ucapan Haikal.
Melainkan karena Rumi semakin sering merendahkannya.
“Aku hanya ingin—”
Belum selesai Tiara berbicara, Rumi tiba-tiba mendorong bahunya.
Tubuh Tiara terdorong beberapa langkah.
“Bu!”
Haikal segera memegang tangan ibunya sebelum wanita itu kembali mendekati Tiara.
“Sudah.”
Rumi masih terlihat marah.
“Dia harus tahu diri!”
Tiara mengepalkan tangannya.
Untuk sesaat, emosinya hampir meledak.
Ia ingin membalas.
Ingin mengatakan bahwa selama ini justru dirinya yang membantu Haikal membangun bisnis itu.
Ingin mengingatkan bahwa ketika Haikal belum memiliki apa-apa, dirinya pernah ikut bekerja keras dan memberikan banyak hal untuk keluarga ini.
Namun Tiara mengurungkan niatnya.
Ia menatap Rumi.
Kemudian menatap Haikal.
Ada sesuatu yang berubah dalam sorot matanya.
Tidak ada lagi permohonan.
Tidak ada lagi ketakutan.
Haikal akhirnya berkata,
“Bu, sebaiknya ibu pergi ke kamar dan berkemas.”
Rumi terkejut.
“Berkemas?”
“Iya.”
Haikal menarik napas.
“Besok ibu pindah tinggal dengan Intan.”
Wajah Rumi langsung berubah menjadi cerah.
“Benarkah?”
“Iya.”
Rumi tersenyum puas.
“Tentu saja. Ibu memang lebih cocok tinggal bersama Intan.”
Tiara hanya diam.
Haikal kemudian menoleh kepadanya.
“Dan kamu, Tiara.”
Tiara mengangkat wajah.
“Jaga sikapmu pada orang yang lebih tua.”
Tiara hampir tertawa. Orang yang lebih tua Apakah menjadi lebih tua berarti boleh menghina dan mendorong orang lain sesuka hati? Namun ia tidak mengatakan apa-apa.
Haikal melanjutkan, “Persiapkan dirimu.”
“Untuk apa?”
“Aku akan menikah dengan Intan tiga hari lagi.”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Rumi tersenyum puas.
Haikal menatap Tiara seolah menunggu reaksi perempuan itu.
“Kamu harus hadir sebagai saksi agar pernikahan keduaku berjalan lancar.”
Tiara terdiam beberapa detik.
Pernikahan kedua.
Kalimat itu seharusnya menghancurkan hatinya.
Kemarin, membayangkan suaminya menikah dengan wanita lain saja sudah membuat Tiara merasa dunia runtuh. Tetapi hari ini? Entah kenapa, tidak ada lagi rasa sakit seperti sebelumnya. Yang tersisa hanyalah rasa lelah. Lelah mempertahankan sesuatu yang sudah tidak ingin dipertahankan oleh orang lain.
Tiara akhirnya tersenyum kecil.
“Oke.”
Haikal sedikit terkejut.
“Hanya itu?”
Tiara mengangguk.
“Aku tidak akan mempersulit pernikahan keduamu.”
Ia menatap suaminya dengan tenang.
“Lakukan apa pun yang kau mau.”
Haikal mengira Tiara sedang menyembunyikan kesedihannya. Ia tidak tahu bahwa kalimat berikutnya justru jauh lebih menyakitkan.
“Aku sudah tidak peduli.”
Senyum Haikal menghilang.
Tiara mengambil kembali napasnya.
“Menikahlah dengan Intan. Tinggallah dengannya. Belikan dia rumah, mobil, tas, perhiasan, atau apa pun yang kau inginkan.”
Ia menunjuk amplop pinjaman yang masih berada di tangan Haikal.
“Kalau kau ingin berutang demi dia, itu juga bukan urusanku lagi.”
Rumi hendak menyela, tetapi Tiara mengangkat tangan.
“Tenang, Bu. Aku tidak akan menghalangi anak kesayanganmu untuk hidup berbahagia.”
Untuk pertama kalinya, suara Tiara terdengar begitu dingin.
“Mulai sekarang, kalian bebas melakukan apa saja.”
Haikal menatap istrinya.
Ada sesuatu yang aneh.
Ia justru merasa tidak nyaman mendengar Tiara berkata demikian.
Bukankah seharusnya Tiara menangis?
Memohon?
Marah?
Bukankah selama ini Tiara selalu takut kehilangan dirinya?
Namun wanita di hadapannya justru terlihat seperti seseorang yang telah melepaskan sesuatu dari dalam hatinya.
Tiara kemudian berbalik.
“Aku mau ke kamar.”
Ia melangkah pergi.
“Tiara.”
Langkah Tiara berhenti.
Haikal bertanya,
“Kamu benar-benar tidak keberatan?”
Tiara tidak langsung menjawab.
Ia hanya menoleh sedikit.
“Tidak.”
Lalu tersenyum tipis.
“Karena mulai sekarang, aku memutuskan untuk berhenti peduli padamu."
bersambung....