Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6
Gadis Geng Motor Adalah IstriKu
Bab 6 — Balapan Lagi
Suara mesin berkapasitas besar itu meraung di dalam garasi, memecah keheningan pagi yang cerah. Clara duduk di atas sadel motor barunya dengan mata berbinar-binar. Sentuhan tangan kanannya pada *grip* gas terasa sangat pas, seolah kendaraan bertenaga gahar itu memang diciptakan khusus untuknya. Di sampingnya, Fedro berdiri mengenakan jaket kulit hitam, memperhatikan istrinya dengan senyuman tipis yang menyiratkan rasa geli sekaligus kagum.
"Bagaimana?" tanya Fedro, suaranya sedikit tertutup oleh deru mesin yang stabil.
Clara menoleh, melepas helm *full-face* yang baru saja ia kenakan untuk memperlihatkan senyum lebarnya yang paling tulus. "Ini luar biasa, Fedro! Tarikannya halus tapi bertenaga. Aku belum pernah mencoba motor dengan spesifikasi seperti ini sebelumnya."
"Aku sengaja memesannya khusus dari luar negeri sebelum pernikahan kita," jawab Fedro santai, menyandarkan sebelah bahunya ke dinding garasi. "Kudengar kamu butuh pelarian yang tepat kalau sedang stres memikirkan urusan kantor keluarga."
Mendengar itu, senyum di wajah Clara sedikit meredup, berganti dengan tatapan menyelidik. "Kamu tahu soal kebiasaanku balapan liar dari Inara dan Icha, ya?"
"Aku suami yang memerhatikan detail kecil, Clara," balas Fedro tenang. "Terutama detail tentang wanita yang sekarang sah menjadi istriku."
Wajah Clara merona merah. Ia buru-buru kembali mengenakan helmnya untuk menyembunyikan rona di pipinya. "Bisa tidak, kalau bicara jangan suka membuat orang salah tingkah?"
Fedro tertawa kecil—suara berat yang selalu berhasil membuat Clara merasa aneh di dadanya. "Sudah siap mencoba jalanan?"
"Tentu saja!" seru Clara bersemangat. "Tapi kita tidak boleh ngebut sembarangan. Sesuai kesepakatan semalam, aku harus tetap tahu batasan."
"Bagus kalau kamu masih ingat," sahut Fedror sambil mengenakan helmnya sendiri lalu menaiki motor sport miliknya yang terparkir tepat di sebelah motor Clara. "Ikuti aku. Ada jalur khusus di pinggir kota yang sepi dan aspalnya mulus. Cocok untuk pemanasan."
---
Kedua motor berbadan besar itu melesat membelah jalanan kota yang mulai ramai. Kecepatan mereka terjaga di angka yang stabil, namun kelincahan Clara dalam menyelip di antara kendaraan membuat Fedro harus sedikit menambah gas untuk tetap berada di sampingnya. Di balik kaca helmnya, Clara merasakan kebebasan yang sudah lama tidak ia nikmati. Sejak masalah saham perusahaan keluarganya mencuat, pikirannya seolah terpenjara oleh rasa cemas. Namun hari ini, angin pagi yang menerpa tubuhnya dan deru knalpot di bawah kendalinya berhasil merontokkan separuh beban di pundaknya.
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah kawasan perbukitan pinggiran kota yang dikelilingi pepohonan rindang. Jalur aspal di sana melebar dengan tikungan-tikungan tajam yang menantang, sangat jarang dilalui oleh kendaraan umum.
Fedro menepikan motornya di tepi jalan yang agak luas, disusul oleh Clara yang mematikan mesin lalu membuka helmnya. Udara segar langsung menyergap wajah mereka.
"Tempat apa ini?" tanya Clara sambil mengedarkan pandangan, menikmati pemandangan kota dari ketinggian.
"Dulu, ini jalur favorit anak-anak komunitas motor untuk melatih teknik menikung," jawab Fedro sambil melepas jaketnya karena cuaca mulai menghangat. Ia melangkah mendekati pembatas jalan. "Tapi sekarang jarang dipakai karena pengawasannya ketat. Tenang saja, kita aman di sini."
Clara ikut mendekat, menyandarkan tubuhnya pada pembatas besi. Ia melirik suaminya dari samping. "Kamu kelihatannya sangat menguasai tempat-tempat seperti ini. Jangan bilang waktu muda dulu kamu juga anak geng motor?"
Fedro menoleh, menatap Clara dengan sebelah alis terangkat. "Masa laluku tidak seburuk itu, Nyonya Alexsander. Tapi aku punya beberapa teman yang suka mencari adrenalin."
"Panggil aku Clara saja kalau tidak sedang di depan orang tua," protes Clara, meski bibirnya membentuk lengkungan kecil.
"Baiklah, Clara," ralat Fedro dengan nada menurut yang sengaja dilebih-lebihkan. "Jadi, bagaimana? Mau langsung mencoba tikungan di depan, atau mau duduk dulu?"
Semangat kompetitif Clara langsung bangkit mendengar tantangan tersembunyi di balik kalimat itu. Ia menyeringai tajam, sifat aslinya sebagai mantan ratu jalanan mulai mengambil alih. "Tantangan diterima. Kita adu kecepatan sampai ujung tikungan besar di sana. Siapa yang sampai duluan, dia traktir makan siang."
Fedro menatap sorot mata istrinya yang kini menyala penuh antusias. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis pemurung yang kemarin malam menangisi masalah perusahaan. Yang ada di hadapannya sekarang adalah wanita tangguh dengan pesona yang sanggup membuat siapa saja bertekuk lutut.
"Deal," jawab Fedro mantap. "Tapi kalau aku yang menang, kamu harus menuruti satu permintaanku."
"Permintaan apa?"
"Nanti kita bahas setelah kamu kalah," balas Fedro penuh percaya diri, lalu melangkah kembali ke motornya.
Clara mendengus kesal namun tertantang. "Jangan sombong dulu, Tuan Alexsander!"
Keduanya kembali mengenakan helm. Mesin motor kembali meraung, menderu di atas aspal sepi. Fedro menghitung mundur dalam hatinya, dan begitu tangan kanannya memberi gestur, kedua motor itu melesat bagaikan anak panah lepas dari busurnya.
*Wussshhh!*
Ban motor mencengkeram aspal dengan sempurna. Clara langsung mengambil posisi memimpin di tikungan pertama. Ia merebahkan tubuhnya ke sisi kiri dengan presisi tinggi, memanfaatkan kemiringan motor untuk melibas tikungan tajam tanpa menurunkan kecepatan secara drastis. Darahnya berdesir hebat, memompa adrenalin ke seluruh tubuh. Inilah hidup yang ia kenal—cepat, liar, dan penuh kendali.
Namun, Fedro bukanlah lawan sembarangan. Pria itu menempel ketat di belakangnya, membaca setiap gerakan Clara dengan cermat. Menjelang jalur lurus menjelang garis akhir, Fedro memanfaatkan tenaga mesinnya yang sedikit lebih besar untuk menyusul dari sisi luar.
*Brummmm!*
Motor hitam milik Fedro melesat melewati garis batas tepat setengah detik lebih cepat daripada Clara.
Keduanya menghentikan kendaraan di ujung jalan, membuka helm secara bersamaan. Wajah Clara tampak merona kemerahan karena kelelahan sekaligus keseruan balapan tadi, sementara napasnya memburu. Namun alih-alih marah karena kalah, ia justru tertawa lepas.
"Curang! Motor kamu cc-nya lebih besar!" protes Clara setengah bercanda, meski matanya berbinar puas.
Fedro mematikan mesin, lalu melepas sarung tangannya. Ia berjalan mendekati Clara dengan senyuman penuh kemenangan di wajah tampannya. "Itu bukan curang, itu strategi. Mesin besar tidak ada artinya kalau tidak tahu cara mengambil sudut tikungan."
Clara memutar bola matanya, namun ia tidak bisa menyangkal kebenaran ucapan suaminya. "Baiklah, aku akui kamu jago. Jadi... apa permintaanmu untuk traktiran makan siang ini?"
Fedro berhenti tepat di hadapan Clara. Jarak di antara mereka sangat dekat, hingga aroma maskulin bercampur udara segar pegunungan menguar di indra penciuman wanita itu. Tatapan Fedro berubah menjadi lebih lembut, jauh lebih serius daripada nada bercanda mereka tadi.
"Permintaanku sederhana," bisik Fedro pelan, namun terdengar jelas di telinga Clara.
"Apa?"
"Mulai hari ini, berhenti memikul semua masalah perusahaan keluargamu sendirian." Fedro mengangkat tangannya, jemarinya dengan lembut menyelipkan beberapa helai rambut Clara yang keluar dari ikatan helm ke belakang telinga wanita itu. "Kamu punya aku sekarang. Apapun yang terjadi pada keluarga Evellyn, kita hadapi bersama-sama."
Sentuhan ringan itu membuat jantung Clara berdegup kencang—jauh lebih cepat daripada detak jantungnya saat melibas tikungan tajam tadi. Sentuhan yang awalnya terasa asing, kini perlahan-lahan memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Clara menatap mata hitam Fedro yang memantulkan bayangannya sendiri. Tidak ada keraguan di sana. Yang ada hanya ketulusan seorang suami yang siap melindungi istrinya dari badai apapun.
"Fedro..." panggil Clara pelan, suaranya hampir tak terdengar dihembus angin.
"Hm?"
"Kamu benar-benar membuatku terbiasa dengan keberadaanmu," ucap Clara jujur, tanpa sengaja membiarkan isi hatinya keluar.
Fedro tersenyum hangat, senyuman langka yang membuat wajah dinginnya berubah drastis menjadi sangat mempesona. "Baguslah. Karena aku tidak punya rencana untuk pergi ke mana-mana."
---
Sementara pasangan pengantin baru itu menikmati momen kedekatan mereka di atas bukit, situasi di pusat kota jauh dari kata damai.
Di sebuah kafe mewah berlantai dua yang menghadap langsung ke gedung perkantoran utama keluarga Evellyn, seorang pria berjas rapi sedang menyesap kopi hitamnya. Di hadapannya, duduk seorang wanita paruh baya dengan ekspresi gelisah—Rina, salah satu kerabat jauh keluarga Evellyn yang selama ini menyimpan dendam kesumat karena merasa disingkirkan dari jajaran direksi utama.
"Bagaimana?" tanya Rina berbisik, memastikan tidak ada orang lain di meja sekitar yang mendengarkan. "Apakah rencananya berjalan lancar? Kenapa saham itu belum sepenuhnya jatuh ke tangan kita?"
Pria berjas itu meletakkan cangkirnya dengan gerakan perlahan. Senyum sinis terukir di bibirnya. "Tenang, Rina. Saham mayoritas itu sudah berada di genggaman perusahaan cangkang kita. Keluarga Evellyn bahkan belum sadar bahwa benteng pertahanan mereka sudah rapuh dari dalam."
"Tapi menantu baru mereka... pemuda bernama Fedro itu, dia bukan orang sembarangan," bantah Rina dengan nada cemas. "Aku dengar latar belakang keluarganya cukup kuat di dunia bisnis bawah tanah. Bisa-bisa dia mencium rencana kita."
"Biar saja," jawab pria itu dingin. "Justru semakin kuat perlawanan mereka, semakin menarik kehancurannya nanti. Pikirkan ini: apa yang lebih menyakitkan daripada melihat sebuah dinasti keluarga runtuh tepat di hari-hari kebahagiaan putri tunggal mereka?"
Rina menelan ludah, merasa ngeri melihat tatapan penuh kebencian di mata pria di hadapannya. Namun keserakahan telah menutup matanya. Ia mengangguk pelan. "Lalu, apa langkah selanjutnya?"
Pria itu mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jasnya, menampilkan foto Clara dan Fedro yang sedang tertawa bersama di garasi rumah mereka pagi tadi—foto yang diambil oleh anak buahnya dari kejauhan.
"Kita tunggu waktu yang tepat," bisik pria itu tajam. "Biarkan mereka merasa menang untuk beberapa hari ke depan. Setelah itu... kita hancurkan semuanya sekaligus."
---
Kembali ke kediaman Alexsander, sore hari menjelang magrib. Clara dan Fedro baru saja tiba di rumah setelah menghabiskan siang dengan makan bersama di sebuah restoran tradisional kesukaan Clara. Hubungan di antara mereka telah bergeser sejauh ribuan mil dari malam pertama yang kaku dan penuh kecanggungan.
Kini, duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi sambil memperebutkan toples camilan sudah menjadi pemandangan yang biasa.
"Hei, itu bagianku!" seru Clara ketika Fedro dengan lihai mengambil keripik terakhir dari toples yang dipegangnya.
"Siapa cepat dia dapat, Nyonya Alexsander," balas Fedro dengan seringai jahil, langsung memasukkan keripik itu ke dalam mulutnya.
Clara mendengus kesal, lalu dengan sengaja melempar bantal sofa kecil tepat ke arah dada suaminya. Fedro menangkapnya dengan mudah, lalu tertawa lebar. Suasana rumah yang dulunya terasa dingin dan megah kini terasa hidup, dipenuhi kehangatan yang tak satupun dari mereka duga sebelumnya.
Namun, di balik tawa dan canda itu, ponsel Fedro di atas meja tiba-tiba berdering nyaring.
Fedro melirik layar ponselnya. Wajahnya yang tadinya santai mendadak berubah serius seketika. Ia mengangkat panggilan tersebut tanpa mengalihkan pandangannya dari Clara.
"Ada apa?" tanya Fedro dengan suara rendah namun tegas.
Suara di seberang melaporkan sesuatu yang membuat rahang Fedro mengeras. "Tuan, orang yang memantau pergerakan kita baru saja terdeteksi. Mereka sempat mendekati kediaman Anda siang tadi saat Anda dan Nyonya keluar."
Tatapan Fedro langsung menajam. Ia melirik jendela ruang keluarga yang menghadap ke gerbang depan. "Kalian dapat pelat nomornya?"
"Sudah, Tuan. Kami sedang melacak keberadaan mobil itu sekarang."
"Bagus. Jangan bertindak gegabah sebelum ada perintah dariku. Pastikan keamanan di sekitar rumah diperketat dua kali lipat."
"Baik, Tuan."
Sambungan terputus. Fedro menurunkan ponselnya perlahan, menyembunyikan kilatan kemarahan di balik matanya agar Clara tidak merasa khawatir. Namun, insting tajam Clara sebagai mantan anggota geng motor langsung menangkap perubahan aura di sekitar suaminya.
Clara meletakkan toples camilan di atas meja. Senyum di wajahnya memudar berganti garis wajah yang serius.
"Ada masalah?" tanya Clara langsung.
Fedro menatapnya sejenak, lalu menggeleng pelan. "Bukan apa-apa. Urusan kantor."
Clara menyipitkan matanya, tidak percaya begitu saja. Ia bergeser mendekati Fedro, lalu menyentuh lengan suaminya. "Fedro, kita sudah membuat kesepakatan semalam. Kalau ada masalah, kita bicarakan. Jangan coba-coba menyembunyikannya dariku."
Fedro menatap tangan Clara yang bertumpu di lengannya. Ia tahu, menyembunyikan kebenaran dari wanita berani ini hanya akan membuat keadaan menjadi lebih rumit. Denganhela napas pasrah, Fedro akhirnya mengangguk kecil.
"Anak buahku baru saja melaporkan sesuatu," kata Fedro jujur. "Seseorang mengawasi rumah kita siang tadi. Gerakan mereka profesional, dan aku yakin mereka adalah orang yang sama di balik masalah saham perusahaan keluargamu."
Alih-alih merasa takut atau panik seperti dugaannya, mata Clara justru menyipit tajam penuh amarah. Cengkeramannya di lengan Fedro mengerat.
"Berani sekali mereka mendatangi rumahku," desis Clara dingin, nada suaranya kembali memancarkan ketegasan seorang ratu jalanan yang siap melindungi teritorinya.
Fedro menatap istrinya, lalu tersenyum tipis—bukan senyuman bercanda, melainkan senyuman penuh keyakinan. "Jadi, Nyonya Alexsander... sepertinya bulan madu kita harus diselingi sedikit aksi penyelidikan."
Clara balas menyeringai, tatapan mereka bertemu dalam satu frekuensi yang sama. Pernikahan ini bukan lagi sekadar ikatan atas dasar keadaan. Ini telah berubah menjadi aliansi berbahaya antara dua jiwa yang siap membakar siapapun yang berani mengganggu orang-orang terkasih mereka.
Dan malam itu, di balik keheningan kota, permainan sesungguhnya baru saja dimulai.
---
Bersambung