Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Pagi buta sebelum matahari sempat menyapa langit Jakarta, Genta sudah berdiri tegak di depan gedung pencakar langit setinggi lima puluh lantai.
Gedung berkaca biru mengkilap itu adalah markas utama Prameswari Group, raksasa farmasi yang saat ini dikendalikan oleh istri kontraknya.
Genta mengenakan seragam kebersihan berwarna biru kusam yang dua ukuran lebih besar dari tubuhnya, membuat penampilannya semakin memprihatinkan.
Di tangannya, dia menggenggam erat gagang pel besi yang sudah mulai berkarat, senjata andalannya untuk hari ini.
"Ingat baik-baik, gembel," desis seorang pria botak tambun berseragam kepala divisi yang berdiri di depan Genta.
"Tugasmu hanya mengepel lantai dasar dari ujung lobi utama sampai toilet belakang tanpa jeda istirahat sedikitpun."
Pria bernama Pak Budi itu membusungkan dadanya yang buncit, menunjukkan kekuasaannya atas pegawai kasta terendah seperti Genta.
"Jika aku melihat debu setitik saja di lantai marmer ini, gajimu bulan ini akan langsung kupotong setengahnya!"
Genta hanya mengangguk pelan tanpa membantah, mulai mendorong alat pelnya menyusuri lantai marmer yang dingin.
Dia tahu betul bahwa perlakuan kejam ini adalah pesanan khusus dari Kiara untuk mematahkan semangatnya dan membuatnya segera menyerah.
Namun mereka meremehkan ketahanan fisik dan mental seorang pemuda yang dibesarkan di kerasnya alam liar Pegunungan Rinjani.
Selama empat jam penuh, Genta mengepel tanpa henti di bawah tatapan merendahkan ratusan karyawan kantoran yang berlalu-lalang.
Ada yang sengaja menjatuhkan tumpahan kopi di lantai yang baru saja dipel Genta, lalu tertawa lepas bersama rekan-rekannya.
Ada juga yang terang-terangan menendang ember airnya hingga tumpah membanjiri koridor, membuat pekerjaan Genta harus diulang dari awal.
Genta tidak pernah melawan balik, dia hanya membersihkan semuanya dalam keheningan total tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikitpun.
Dia mengamati setiap wajah arogan itu, merekam nama dan jabatan mereka di dalam otaknya yang jenius.
Tepat saat jam makan siang tiba, suasana lobi yang ramai mendadak dipecahkan oleh suara jeritan histeris dari arah pintu masuk pabrik samping.
"Tolong! Siapapun cepat panggil dokter perusahaan, Tuan Surya kolaps!"
Jeritan memilukan itu menghentikan langkah semua orang, membuat suasana lobi yang tertib berubah kacau balau seketika.
Tiga orang pekerja berseragam putih terlihat membopong seorang pria paruh baya yang tubuhnya bergetar hebat.
Pria bernama Surya itu adalah Kepala Peneliti Formula Obat, salah satu aset paling berharga milik Prameswari Group.
Mulut Surya terus mengeluarkan buih putih kental bercampur darah segar, dan matanya melotot ke atas dengan mengerikan.
Tubuhnya dihempaskan begitu saja ke atas sofa mewah di lobi utama karena dia tidak lagi sanggup bernapas untuk melangkah.
"Minggir, beri aku jalan!" teriak seorang pria berkacamata yang berlari tergopoh-gopoh dari lift eksekutif.
Dia adalah Dokter Hendra, dokter kepala klinik internal perusahaan yang gajinya puluhan juta per bulan.
Dokter Hendra segera berlutut di samping Surya, mengeluarkan stetoskop mahal dan memeriksa detak jantung pasiennya.
Wajah Dokter Hendra langsung berubah pucat pasi, keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya.
"Detak jantungnya nyaris hilang dan paru-parunya mengalami penyumbatan ekstrem dalam hitungan detik."
"Ini bukan serangan jantung biasa, ini reaksi alergi senyawa kimia mematikan dari lab tingkat empat!"
Dokter Hendra gemetar, dia langsung mundur beberapa langkah menjauhi pasiennya yang sedang meregang nyawa.
"Cepat panggil ambulans dari rumah sakit pusat kota, aku tidak berani melakukan tindakan medis apa pun."
"Jika aku salah bertindak dan dia mati di tanganku, tamatlah karir dan nyawaku di tangan keluarga Prameswari!"
Para karyawan di sekelilingnya langsung menjerit marah mendengar kepengecutan dokter kepala mereka.
"Ambulans butuh waktu minimal tiga puluh menit untuk menembus kemacetan, dia bisa mati dalam lima menit ke depan!" teriak salah satu pekerja pabrik histeris.
Namun Dokter Hendra hanya menunduk diam, menolak mengorbankan masa depannya demi menyelamatkan nyawa bawahannya.
Tepat saat keputusasaan mencekik seluruh lobi, terdengar bunyi decitan gagang pel yang diseret mendekat ke kerumunan.
Genta melangkah santai membelah kerumunan karyawan yang panik, meletakkan alat pelnya tepat di samping sofa.
"Kalian terlalu berisik, geser sedikit dan biarkan udara segar masuk," ucap Genta tenang tanpa nada panik sedikitpun.
Dokter Hendra terbelalak melihat seorang tukang pel lusuh berani mencampuri urusan medis di depan matanya.
"Hei gembel udik, apa yang kau lakukan?!" bentak Hendra murka.
"Jangan berani menyentuhnya atau kau akan kutuntut atas tuduhan pembunuhan berencana!"
Genta sama sekali tidak mempedulikan ancaman kosong dokter pengecut itu, matanya hanya fokus pada sosok Surya yang mulai membiru.
Tanpa banyak bicara, Genta mengangkat dua jari tangan kanannya dan menekan kuat sebuah titik saraf rahasia di bagian pangkal leher Surya.
Tekanan jemari itu terlihat biasa saja, tapi sebenarnya menyalurkan energi yang luar biasa presisi untuk membuka sumbatan jalur udara.
Brak!
Tubuh Surya tersentak hebat, kepalanya terangkat dan memuntahkan segumpal darah hitam berbau busuk kimia yang sangat menyengat.
Seketika, napas pria paruh baya itu kembali masuk menderu-deru memenuhi paru-parunya.
Wajah biru pucatnya perlahan mulai memerah kembali, dan buih di mulutnya berhenti keluar sepenuhnya.
Semua orang di lobi membeku tak percaya, mulut mereka menganga lebar melihat keajaiban instan yang baru saja terjadi.
Dokter kepala perusahaan dengan gaji puluhan juta angkat tangan, namun tukang pel bergaji rendahan menyelamatkannya dalam hitungan detik.
Di saat kerumunan masih syok berat, pandangan mata Genta mendadak digelapkan oleh cahaya biru neon yang luar biasa menyilaukan.
Ding!
[Syarat aktivasi mutlak terpenuhi: Master telah menyelamatkan nyawa pasien dalam kondisi krisis mematikan pertama.]
[Sistem Pewaris Tabib Sakti resmi diaktifkan sepenuhnya.]
Suara mekanis yang agung bergema di dalam kepala Genta, menggetarkan setiap sel di tubuhnya dengan kekuatan tak kasat mata.
[Membuka Gudang Penyimpanan Dimensi.]
[Hadiah Selamat Datang diberikan: 'Satu Set Jarum Emas Seribu Jiwa' dan 'Mata Surgawi Level 1'.]
[Mata Surgawi mulai menyatu dengan retina Master...]
Genta merasakan sensasi terbakar yang luar biasa di kedua bola matanya, namun dia menahannya tanpa mengeluarkan suara rintihan sedikit pun.
Saat dia membuka matanya kembali, pandangannya terhadap dunia telah berubah drastis secara mengerikan.
Dia kini bisa menembus pakaian dan kulit Surya yang tergeletak di sofa, melihat jelas aliran pembuluh darah, titik saraf yang rusak, dan sisa racun yang bersarang di ginjalnya.
"Luar biasa, ternyata benda peninggalan Guru ini jauh melampaui akal sehat manusia mana pun," batin Genta tersenyum tipis merayakan kekuatan barunya.
Namun euforianya segera dipecahkan oleh suara tepuk tangan meriah dan pujian yang meledak dari para karyawan di lobi.
"Dia selamat! Tukang pel ini baru saja menyelamatkan nyawa Tuan Surya!"
"Siapa sebenarnya pemuda ini? Bagaimana dia tahu cara membuka sumbatan napas secepat itu?"
Dokter Hendra yang wajahnya merah padam karena malu mendadak berteriak histeris menutupi kekurangannya.
"Berhenti memuji gembel ini, dia hanya beruntung menekan asal urat leher Tuan Surya!"
"Tindakannya sangat ceroboh dan melanggar kode etik, dia bisa saja mematahkan lehernya tadi!"
Belum sempat Genta menjawab tuduhan konyol itu, suara langkah sepatu hak tinggi bergema nyaring dari arah lobi utama.
Kiara Prameswari melangkah masuk ke tengah kerumunan dengan wajah sekeras batu es, diikuti oleh belasan pengawal pribadinya.
CEO dingin itu langsung memindai kondisi lobi yang kacau balau, matanya kemudian berhenti pada sosok Genta yang berdiri santai di dekat pasien.
"Apa yang terjadi di perusahaanku, dan mengapa parasit ini belum disingkirkan dari lobi utama?" tanya Kiara dengan nada suara yang membekukan sekeliling.
Dokter Hendra langsung berlari mendekati Kiara layaknya anjing peliharaan yang mengadu pada majikannya.
"Nona Kiara, tukang pel rendahan ini baru saja berbuat nekat menangani Tuan Surya yang sedang kritis secara ilegal."
"Saya sarankan kita segera memecatnya dan menyerahkannya ke polisi sebelum perusahaan kita dituntut atas tindakan malpraktiknya."
Kiara memalingkan wajah cantiknya, menatap tajam ke arah Genta yang hanya berdiri memegang gagang pel usangnya.
"Kau benar-benar tidak bisa berhenti membuat masalah sejak hari pertama menginjakkan kaki di kotaku ya, Genta?"
Genta menyeka sisa keringat di pelipisnya, menatap lurus mata dingin istrinya dengan senyum sinis yang baru pertama kali Kiara lihat.
"Aku baru saja menyelamatkan aset terpenting perusahaanmu dari kematian konyol yang dibiarkan oleh anjing penjagamu ini, Nona Kiara."
"Sebaiknya kau perbaiki caramu berbicara denganku sebelum kau menyesal membuang berlian demi mempertahankan sebongkah kotoran bernilai puluhan juta."
Seluruh lobi mendadak hening seketika, tidak ada seorangpun yang berani bernapas mendengar ucapan kasar tukang pel itu pada sang CEO mutlak.
Wajah Kiara memerah menahan amarah, ini pertama kalinya ada pria yang berani menantang otoritasnya langsung di markas kekuasaannya sendiri.