NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Aku Mau Kamu yang Bimbing

Air mata Amaya tidak langsung berhenti.

Wasabi yang tersisa di kelopak bawah masih menyengat. Ia mengambil tisu kedua, menekannya perlahan, lalu mengedip cepat.

Sebastian membuka laci dan mengeluarkan permen mint.

"Makan ini."

"Kenapa?"

"Matamu merah, hidungmu juga. Rasa mint bisa membantu."

Amaya menerima permen itu. Dingin mentol menekan sisa panas wasabi di mulutnya.

Dokter memang sulit ditipu kalau gejalanya tidak dibuat lengkap. Untung kali ini obatnya justru disediakan oleh korban.

"Kalau aku membuka akses klinis," kata Sebastian, "kamu harus mengikuti jadwal unit. Mulai pukul tujuh pagi."

"Baik."

"Jam pulang tidak tetap."

"Baik."

"Kalau pengambilan atau pengujian harus menunggu jadwal operasi, kamu ikut menunggu. Bisa sampai tengah malam."

"Aku mengerti."

Sebastian menyipitkan mata. "Jangan jawab terlalu cepat."

"Kalau aku berpikir lama, jam masuknya berubah jadi delapan?"

"Tidak."

"Berarti nggak ada yang perlu dipikirkan."

Sebastian mengambil ponsel dan membuka daftar staf. "Aku akan meminta dokter dari unit riset mendampingimu. Perempuan, supaya lebih nyaman."

"Aku nggak mau."

Jarinya berhenti.

"Kamu baru saja meminta bantuan."

"Aku minta akses. Soal siapa yang membimbing, aku punya pilihan."

"Ini rumah sakit, bukan kelas privat."

Amaya berdiri dan berjalan ke sisi mejanya. "Aku mau kamu yang bimbing."

Sebastian menatapnya dari balik kacamata. "Tidak."

"Kenapa?"

"Aku punya pasien, operasi, rapat direksi, dan pekerjaan sendiri."

"Kamu juga orang yang paling memahami hubungan data ini dengan kebutuhan klinis."

"Banyak dokter lain yang mampu."

"Tapi kamu yang terbaik."

Pujian itu disampaikan tanpa malu. Sebastian tahu dirinya sedang dimanipulasi, tetapi tetap saja dadanya menghangat.

"Aku bisa meminta dr. Ratih. Dia memimpin laboratorium molekuler."

"Aku mau Koh Sebas."

"Jangan gunakan nada itu."

"Nada apa?"

"Seolah kalau aku menolak, kamu akan menangis lagi."

Mata Amaya kembali berair karena sisa wasabi. Waktunya terlalu tepat.

Sebastian menatap langit-langit.

"Aku belum melakukan apa-apa," kata Amaya lembut.

"Itu justru masalahnya."

Guntur terdengar jauh. Hujan di luar semakin rapat, menghapus pemandangan gedung-gedung SCBD di balik kaca.

"Setengah bulan," kata Sebastian akhirnya. "Aku membimbingmu langsung selama dua minggu. Setelah itu kamu harus bisa bekerja dengan unit masing-masing."

"Kenapa cuma dua minggu?"

"Karena tujuan pendampingan bukan membuatmu bergantung kepadaku. Dalam dua minggu kamu harus memahami alur, mengenali siapa yang bertanggung jawab, dan tahu pertanyaan yang benar."

"Satu bulan lebih aman."

"Tidak."

"Tiga minggu?"

"Dua."

"Kamu pelit sekali dengan waktu."

"Aku dokter bedah, bukan tutor penuh waktu."

Amaya menopang dagu. "Kalau muridnya sangat pintar, mungkin dua minggu memang cukup."

"Kepercayaan dirimu pulih cepat."

"Karena sudah ada yang mau membantu."

Sebastian tahu air mata tadi adalah senjata, tetapi tidak tahu seberapa harfiah kenyataan tersebut. Ia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena sudah menyerah sebelum negosiasi benar-benar dimulai.

Amaya tersenyum. "Setuju."

"Belum selesai. Ada tiga syarat."

"Silakan, Dokter."

"Pertama, hanya dua minggu. Jangan memperpanjang dengan alasan belum siap."

"Baik."

"Kedua, di lingkungan klinis kamu mengikuti instruksiku. Tidak membantah, tidak menawar, dan tidak menggunakan hubungan keluarga untuk melanggar aturan."

"Kalau instruksinya salah?"

"Boleh bertanya. Bukan membangkang."

"Masuk akal. Yang ketiga?"

"Sebelum yang ketiga, ada tambahan. Kamu memakai kartu akses sesuai area. Ruang steril, penyimpanan terkendali, dan data identitas pasien tidak boleh dimasuki sendirian."

"Itu aturan, bukan syarat khusus."

"Aku perlu memastikan kamu memahami perbedaannya."

"Aku memang lulusan bisnis setengah matang, tapi aku bisa membaca tanda dilarang masuk."

"Bagus. Jangan membuatku mengeluarkanmu di hari pertama."

"Kalau Koh Sebas yang mengeluarkan, setidaknya lakukan dengan lembut."

Tatapan Sebastian menajam. "Konteksnya kerja."

"Aku juga bicara soal kerja. Pikiran Dokter ke mana?"

Sebastian menekan pangkal hidungnya. Menyetujui pendampingan ini mungkin keputusan terburuk kedua setelah mengikuti perempuan itu ke sudut gelap.

Tatapan Sebastian turun ke matanya.

"Jangan menangis di depanku. Mengganggu."

Amaya menggigit bagian dalam pipi agar tidak tertawa. "Mengganggu konsentrasi?"

"Mengganggu semuanya."

"Baik. Aku akan berusaha."

Mereka menyusun jadwal akses malam itu juga. Sebastian mengirim pesan kepada kepala laboratorium, unit penyimpanan sampel, dan sekretariat klinis. Meja sementara disiapkan di ruang administrasi riset mulai Selasa pagi.

"Sekarang tunjukkan tabel lengkapmu."

Amaya memindahkan laptop ke sisi Sebastian. Mereka duduk bersebelahan, bahu hanya berjarak beberapa sentimeter.

Sebastian mengambil satu lembar kosong dan menggambar alur dari pengambilan bahan hingga hasil masuk basis data.

"Satu nomor sampel bisa punya beberapa hasil karena pengujian ulang. Kamu nggak boleh menganggap semuanya duplikat. Cari alasan pengulangannya."

"Kalau alasannya nggak tercatat?"

"Tanya petugas, cek log alat, lalu tandai sebagai penyimpangan dokumentasi. Jangan mengarang alasan agar tabel terlihat bersih."

Amaya menambahkan tiga kolom baru: alasan pengulangan, bukti pendukung, dan status validasi.

"Jangan hanya menulis valid atau tidak valid," lanjut Sebastian. "Pisahkan masalah sumber, proses, dan pencatatan. Kalau bahan rusak sebelum diuji, itu masalah sumber. Kalau alat gagal kalibrasi, itu proses. Kalau hasil benar tapi dipindahkan ke baris salah, itu dokumentasi."

Amaya membuat daftar pilihan pada tabel.

"Kalau satu sampel punya dua masalah?"

"Catat keduanya. Jangan memaksa satu penyebab demi laporan yang rapi."

"Evaluator akan melihat jumlah penyimpangan lebih banyak."

"Lebih baik terlihat banyak tapi jujur daripada sedikit karena disembunyikan. Tujuanmu memulihkan kepercayaan, bukan mempercantik angka."

Amaya mengangguk. Kalimat itu masuk ke kolom catatan utama.

Mereka membuka nomor `A-114` yang muncul tiga kali. Sebastian menunjukkan bahwa pengujian pertama ditolak karena kontrol internal gagal, sedangkan pengujian ketiga digunakan untuk konfirmasi. Masalahnya bukan tiga hasil, melainkan laporan yang memakai hasil kedua tanpa menyertakan alasan penolakan dan konfirmasi.

"Jadi angka akhirnya belum tentu salah. Jalur pembuktiannya yang putus."

"Tepat."

"Kalau log alat masih ada, kita bisa membangun jalurnya kembali."

"Itu yang akan kamu cari besok."

Amaya mengubah warna baris dari merah menjadi kuning, lalu menulis `cek log kontrol internal` sebagai tindakan pertama.

Baris berikutnya berkaitan dengan waktu penerimaan yang terlambat tiga jam. Sebastian meminta jenis tabung, suhu penyimpanan, dan batas stabilitas. Amaya mencari protokol di folder acuan, menemukan batas dua jam, lalu menandai data tersebut tidak layak tanpa memerlukan penjelasan tambahan.

"Kamu cepat," ujar Sebastian.

"Karena kali ini filenya nggak disembunyikan di tujuh folder berbeda."

"Besok kenyataannya tidak akan serapi layar."

"Makanya aku perlu guru paling galak."

"Aku bukan gurumu."

"Pembimbing, guru, atasan. Banyak sekali identitas Koh Sebas di hidupku."

Satu identitas lain tidak mereka sebutkan.

Laki-laki yang menciumnya sampai lututnya lemah.

Keheningan singkat jatuh. Hanya hujan dan bunyi papan ketik yang tersisa.

"Yang ini bagaimana? Waktu pengambilan berbeda tiga jam dari penerimaan."

"Cek jenis bahannya. Batas stabilitas berbeda."

"Kalau lewat batas?"

"Datanya dikeluarkan dan harus diuji ulang jika sampel pengganti tersedia."

Penjelasan Sebastian ringkas. Setiap jawaban langsung mengubah cara Amaya membaca tabel. Ia tidak menghafal istilah, tetapi menghubungkan proses, risiko, dan keputusan dengan cepat.

Dalam empat puluh menit, dua belas pertanyaan berubah menjadi daftar tindakan.

Amaya kemudian membagi pekerjaan besok menjadi tiga jalur. Pagi untuk orientasi dan izin akses, siang memeriksa log penerimaan, sore mencocokkan hasil pengulangan. Ia menyisakan ruang untuk pelayanan pasien karena Sebastian sudah mengingatkan bahwa proyek tidak pernah menjadi pusat rumah sakit.

"Kamu memasukkan waktu cadangan?" tanya Sebastian.

"Dua jam."

"Tambah satu."

"Terlalu banyak."

"Hari pertama selalu lebih lambat."

"Kalau selesai lebih cepat?"

"Ambil baris berikutnya."

"Guru pelit juga suka memberi PR."

"Pukul tujuh tepat. Terlambat satu menit, nilaimu berkurang."

Amaya menatapnya. "Memangnya ada nilai?"

"Mulai sekarang ada."

Ia menulis angka seratus di sudut kertas, lalu menggambar garis di bawahnya.

"Keterlambatan, mengabaikan instruksi, dan mengganggu unit mengurangi nilai. Kalau jatuh di bawah delapan puluh, pendampingan selesai."

"Koh Sebas baru menciptakan aturan keempat."

"Anggap bonus."

Amaya mengambil pena dan menulis di samping angka itu: `Bonus dari dosen galak.`

Sebastian melihat tulisan tersebut, tetapi tidak mencoretnya.

Sebastian memperhatikannya memindahkan prioritas.

"Kamu belajar ini di mana?"

"Nggak di mana-mana. Latar belakangku bisnis."

"Kamu menyusun risiko seperti auditor."

"Karena angka tetap angka. Yang beda cuma cara angka itu lahir."

"Kamu mengerti lebih cepat daripada dugaanku."

Amaya menoleh. "Itu pujian?"

"Observasi."

"Berarti selama ini Koh Sebas mengira aku bodoh."

"Aku mengira kamu tidak sabar."

"Yang itu benar."

Sebastian hampir tersenyum.

Jam melewati delapan malam. Amaya membuka tas dan mengeluarkan bungkus camilan almond karamel renyah.

"Jangan makan di dekat dokumen," tegur Sebastian.

"Ini kantor, bukan laboratorium."

"Remahnya bisa masuk papan ketik."

Amaya memindahkan bungkus menjauh dari laptop. "Sekarang aman."

Ia mematahkan satu keping dan memasukkannya ke mulut. Aroma mentega dan gula hangus menggantikan rasa mint.

Sebastian mencoba kembali ke layar, tetapi suara renyah kecil di sebelahnya terus mengganggu.

Yang lebih mengganggu adalah jarak bahu mereka. Setiap kali Amaya menggeser laptop, kain lengannya menyentuh jas Sebastian. Sentuhan itu ringan dan jelas tidak sengaja, tetapi tubuhnya mengingat terlalu banyak.

Ia menggeser kursi beberapa sentimeter.

Amaya ikut menggeser laptop mendekat agar mereka tetap bisa membaca layar yang sama.

"Layarnya terlalu kecil?" tanya Sebastian.

"Mataku habis menangis."

Kursinya berhenti bergerak.

Amaya menyembunyikan senyum di balik camilan.

"Mau?" Amaya menawarkan bungkus.

"Tidak."

"Takut manis?"

"Aku sedang bekerja."

"Aku juga. Otak butuh gula."

Sedikit karamel meleleh di ujung telunjuk Amaya. Ia menjilatnya perlahan, lalu menangkap tatapan Sebastian yang terlambat beralih.

Amaya tersenyum.

Ia mengangkat telunjuk yang masih mengilap dan mendekatkannya ke wajah pria itu.

Ujung jarinya berhenti satu inci dari bibir Sebastian.

"Kalau kotor begini," bisiknya, "Dokter Sebastian bantu aku membersihkannya, boleh?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!