NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: songjihee

Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.

Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.

Tidak ada pesta.

Tidak ada cinta.

Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.

Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.

Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Hari Demi Hari

Hari-hari berikutnya bergulir tanpa ada yang berubah. Di kantor, Naya kembali menjadi sasaran empuk bagi Marina dan Lady. Berkas-berkas laporan yang menumpuk, fotokopi dokumen di menit-menit terakhir sebelum rapat, hingga urusan merapikan kubikel sering kali dilempar begitu saja ke mejanya.

Tapi tidak heran, Naya mengerti karena dia junior. Job desc-nya memang di suruh ini itu. Bagi Naya, semua itu bukan sesuatu yang terlalu aneh. Ia masih anak baru, seorang junior. Ada banyak pekerjaan yang memang harus ia kerjakan ketika diminta senior. Mungkin hal itu normal, dikerjaan manapun.

​"Nay, tolong print ini sekarang ya," perintah Lady seraya menumpuk laporan tebal di meja Naya tanpa rasa bersalah.

​"Sama sekalian rapiin arsip bulan ini, Nay. Lo kan rajin," timpal Marina santai.

​Naya hanya menunduk pelan, mengangguk kecil. "Iya, Kak," sahutnya lirih.

Rasa tidak enakan membuat Naya tak sanggup menolak, meski tubuhnya sendiri tidak suka akan hal itu. Kepalanya juga sering kali pusing akibat tekanan emosional seminggu terakhir.

Tiap kali ada suruhan, Naya mengangguk, menyetujui semua yang bukan miliknya. Tentu saja Lady dan Marina merasa menang. Lain halnya dengan Bian dan Raka yang melihat itu, iba. Namun keduanya tetap diam, kecuali jika itu terlalu berlebihan.

Gea?

Si irit bicara itu hanya mengamati, sesekali ia menyindir, sesekali juga ia menegur dengan nada sarkas.

Entahlah. Bahkan Gea sendiri tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini ia mulai terganggu dengan perlakuan kedua perempuan itu terhadap Naya. Biasanya ia memilih tidak ikut campur dalam urusan orang lain selayaknya Bian dan Raka.

Namun entah karena muak, terganggu, atau memang masih memiliki hati nurani, Gea bahkan beberapa kali mengancam akan melaporkan perlakuan mereka kepada Pak Danang, sukses mendapat bacotan dari dua orang itu.

Begitulah Naya dengan sifat people pleaser-nya.

Sulit berkata tidak, sulit untuk menolak.

Dan terlalu terbiasa memastikan orang lain tidak kecewa kepadanya.

Ketika di rumah, begitu melangkah melewati pintu, Naya seperti mengenakan topeng yang berbeda.

​Ia memoles senyum manis di bibirnya, menyapa Ayah dan Bunda seolah tak ada beban berat yang sedang meremukkan dadanya. Naya tidak mau orang tuanya khawatir—terutama mengingat duka mendalam keluarga mereka yang dulu kehilangan kakak sulungnya. Naya adalah satu-satunya pilar kebahagiaan yang tersisa bagi kedua orang tuanya kini.

Sejak saat itu, Naya selalu merasa dirinya harus menjadi alasan kedua orang tuanya tetap tersenyum.

Dan itulah mengapa, Naya bisa bangkit atau setidaknya berpura-pura bangkit usai kejadian malam itu.

​"Bunda, ini Naya beliin vitamin sama camilan favorit Bunda," ucap Naya lembut, meletakkan bungkusan kecil di meja makan.

"Oke, Sayang. Oh iya, itu paket-paket kamu baru datang." Tunjuk Bunda.

Naya tersenyum senang, langsung menuju meja ruang tamu untuk membawa paketnya ke kamar.

​Paket-paket Naya memang datang hampir setiap minggu. Ada saja yang ia beli, entah karena perlu atau hanya karena lucu.

Naya bukannya pemboros, barang-barang yang dibelinya hanyalah barang kecil nan murah melalui marketplace—sekadar pelipur lara sederhana untuk mengurai stresnya.

Ia juga sekaligus membeli barang-barang keperluan rumah tangga untuk membantu Ayah dan Bunda. Bagi Naya, melihat senyum orang tuanya saat menerima hadiah kecil adalah sumber kebahagiaannya.

Setidaknya begitulah Naya di hadapan mereka, bahagia, seperti tidak ada apa-apa

Lain halnya saat di kamar, begitu pintu kamar tertutup, senyum itu perlahan runtuh.

Kembali berhadapan dengan pikirannya sendiri, dengan malam yang masih menghantuinya, dengan rasa takut dan bersalah yang belum mampu ia ceritakan kepada siapa pun.

Ia menangis dalam diam, berusaha menanggung semuanya seorang diri, seolah rasa sakit itu adalah sesuatu yang memang harus ia terima.

​Sementara itu, di sebuah apartemen yang temaram Ibra duduk melamun di tepi tempat tidur. Pria itu menatap layar ponselnya yang menampilkan deretan pesannya kepada Naya—yang semuanya hanya berstatus terkirim tanpa pernah dibaca apalagi dibalas.

​Denting telepon menghentikan lamunannya. Nama Papa tertera di layar. Ibra menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.

​"Halo, Pa."

​"Bagaimana, Ibra? Sudah ada kejelasan dari perempuan itu?" suara tajam namun tenang khas sang ayah terdengar dari seberang telepon.

​Ibra menghela napas panjang, meraup wajahnya yang penuh lesu. "Belum, Pa. Dia... dia trauma sepertinya. Setiap melihat Ibra di kantor, dia langsung lari ketakutan, menghindari. Pesan sama telepon Ibra juga sama sekali enggak pernah dibalas."

​Di seberang sana, sang ayah terdiam sejenak sebelum memberikan arahan. "Ibra, dengarkan Papa. Kamu itu laki-laki. Mau kejadian malam itu ada jebakan atau ketidaksengajaan, fakta kalau kamu ada di kamar yang sama dengan dia tidak bisa dihapus. Jangan bikin dia makin tertekan dengan terus memburu dia."

​"Tapi rasa bersalah Ibra makin besar, Pa. Ibra juga takut dia kenapa-napa."

​"Memberi dia ruang bukan berarti kamu lepas tangan," tegur Papanya tegas, kadang dia kesal sendiri memberitahu hal yang sama terus-terusan pada putranya itu.

"Awasi dari jauh, pastikan dia aman. Jangan bikin dia makin mundur. Kalau waktunya tepat, temui dia baik-baik tanpa membuat dia merasa tersudut."

"Ingat pesan Papa. Tanggung jawab itu bukan soal seberapa cepat kamu menyelesaikan masalah. Kadang tanggung jawab itu cukup menunggu sampai orang yang terluka siap bicara. Tanggung jawab itu bentuknya keberanian, untuk menunggu, untuk menghadapi, bukan memaksa."

​"Iya, Pa. Ibra paham," gumam Ibra pelan.

​Panggilan terputus. Ibra berdiri di dekat jendela kaca apartemennya, menatap kepekatan malam kota. Rasa bersalah, kebingungan, dan rasa ingin melindungi yang belum bersambut itu bergaung hebat di dadanya, menanti bom waktu yang tanpa mereka sadari tengah berjalan.

Satu minggu ini, dipenuhi dengan saran dan arahan Papa.

Pikirkan baik-baik. Jangan memaksa. Beri dia ruang. Tunggu sampai waktunya tepat.

Sial, Ibra benar-benar seperti anak kecil kalau terus begini.

Umurnya sudah dua puluh tujuh tahun, tetapi dalam menghadapi persoalan ini ia bahkan tidak tahu harus mengambil langkah pertama dari mana.

"Persetan sama umur..." gumamnya frustrasi.

Ia menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa.

"Mau dua puluh tujuh atau tujuh puluh tahun juga, kalau situasinya seperti ini, siapa yang enggak bingung?"

Ibra menatap langit-langit apartemen. Mengembuskan napas panjang. Huft.

Yang membuatnya semakin kacau adalah satu hal, karena Naya masih diam.

Dan selama perempuan itu belum bersedia bicara, Ibra tidak pernah benar-benar tahu apakah langkah yang akan ia ambil sudah benar atau justru semakin membuat keadaan buruk.

Namun semakin hari, semakin sulit bagi Ibra untuk sekadar diam.

Karena di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.

Sebenarnya, apa yang terjadi malam itu?

Dan sampai sekarang, Ibra belum menemukan jawabannya.

Orang yang dia hubungi, seorang teman yang bekerja di hotel itu, belum ada kabar. Katanya ada kebijakan, yang harus dipatuhi, terlepas dari uang.

Dan benar, tidak semua hal bisa berjalan lancar hanya karena uang. Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang, kan?

1
Agus Tina
Sebenarnya bukan hamya salah Ibra, mereka berdua korban dr keadaan, walaupin sebenarnya bisa dicegah
Agus Tina
Naya ...
Agus Tina
Ayolah Naya, Ibra ... putuskan cepat keburu perut Naya nggak bisa ditutupi lagi, apalagi modelan Naya hamil yg mualnya parah kayaknya ... berabe nanti kalau orang kantor sama orangtuanya menyadari perubahan itu ...
Agus Tina
Naya keras kepala sekali ...
Enz99
bagus sekali
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤😘😘😘💞💞💞🥰🥰🥰👍👍👍👌👌👌
Agus Tina
Thor kutunggu up nya ...
Agus Tina
Naya, Ibra ... lama sekali kalian memutuskan .... greregaten banget
Agus Tina
Penasaran banget ... double up thor
Agus Tina
Ayolah Naya yg penting nikah aja dulu, nggak tinggal bareng juga gak pa2 sampai trauma kamu sembuh. Lama2 gregeten sama Naya ...
Makasih thor lanjut up ya
Agus Tina
Terimakasih sudah update ... ditunggu kelanjutannya
ronaaksara: terimakasih sudah rela menunggu🫶
total 1 replies
Agus Tina
Thor ,lama banget Naya ngambil keputusannya jadi pusing sendiri sama gregetan pakai banget ...
Aksara Nirmaya
akhirnyaa updateee, thanksss kakkk🫰
Aksara Nirmaya
kakkk kapannn updateeee😭😭
ronaaksara: haii, segera yaa. Masih sibuk rl😭😭
total 1 replies
Aksara Nirmaya
Ceritanya baguss, semangat kakk
ronaaksara: terimakasihhh, kamu juga yaa💪💪
total 1 replies
licy
alurnya sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!