Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Fiora menahan napas saat para bandit melangkah keluar menuju ruang utama gudang untuk merayakan hasil tangkapan mereka. Suara tawa kasar dan denting botol minuman keras bersahut-sahut, berkamuflase dengan raungan Zombie Muatan di luar.
Menggunakan sisa tenaganya, Fiora menggeser tubuh di atas lantai semen yang dingin. Gesekan rantai besi menimbulkan suara halus. Jarinya yang gemetar menggapai serpihan plat besi tajam bekas reruntuhan kontainer yang tergeletak tak jauh dari kakinya. Dengan rasa nyeri menyayat di bagian perut, Fiora menggergaji ikatan tali tambang di pergelangan kakinya, lalu memanfaatkan celah engsel rantai tua yang mulai berkarat.
*KTAK!*
Pengunci rantai berhasil dilonggarkan. Fiora merayap cepat menuju Leo, memotong ikatan bocah itu dengan serpihan besi.
"Tante Fiora..." bisik Leo sangat pelan. Fiora menempelkan jari di bibirnya, lalu mendekap Leo sebentar.
"Kita harus cari jalan keluar sebelum fajar," bisik Fiora mantap.
Mereka menyusuri lorong belakang gudang yang gelap dan tertutup tumpukan mesin tua. Saat melintasi deretan sel isolasi kotor yang tampaknya digunakan bandit untuk menyekap tawanan lain, Fiora mendengar isak tangis yang sangat halus dari balik tumpukan karung bekas.
Fiora mendekat dengan waspada. Di dalam sebuah sudut sel karatan, seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahun meringkuk memeluk lututnya. Wajahnya yang mungil berlepotan debu dan air mata.
"Ssshh... jangan takut," bisik Fiora lembut seraya berlutut di hadapan gadis kecil itu.
Gadis kecil itu mendongak dengan mata berair, jemari mungilnya menunjuk ke arah sudut sel yang terisolasi jeruji besi tebal. Di dalam sana, dua figur manusia berdiri kaku dalam kegelapan. Mata mereka menyala merah pekat, kulit mereka kehitaman dengan pembuluh darah yang menonjol—dua Zombie Muatan yang terkunci.
"Ibu... Ayah..." bisik gadis kecil itu sesenggukan, suaranya dipenuhi kepedihan yang memotong dada Fiora.
Fiora membeku. Ia mengenali pakaian lusuh yang dikenakan kedua zombie itu—bekas pakaian warga sipil biasa. Pria dan wanita itu telah terinfeksi dan berubah menjadi mutan agresif, namun entah bagaimana terkurung terpisah dari anak mereka.
Rasa duka yang mendalam seketika menghantam dada Fiora. Kehilangan calon buah hatinya sendiri membuat naluri keibuannya membuncah menatap gadis kecil yang sebatang kara ini. Fiora merengkuh gadis kecil itu ke dalam pelukannya, menghapus air matanya dengan lembut.
"Siapa namamu, Sayang?" tanya Fiora pelan.
"M-Maya..." jawab gadis kecil itu bergetar.
"Ikut Tante ya, Maya? Tante janji bakal lindungi kamu," tegas Fiora seraya menggenggam tangan Maya dan Leo secara bersamaan. Di tengah kegelapan sarang bandit dan kepungan zombie, Fiora bertekad membawa kedua anak itu keluar dengan selamat.
Langkah Fiora mendadak terhenti di lorong belakang gudang. Raungan melengking memecah kegelapan malam—dua Zombie Muatan di dalam sel besi berhasil merobohkan jeruji yang melapuk. Bau pembusukan menyengat tajam saat kedua orang tua Maya yang telah bermutasi itu merayap cepat ke arah mereka, disusul oleh erangan puluhan zombie lain yang menjebol dinding luar pabrik karena tertumpuk gelombang infeksi.
"Lari!" teriak Fiora seraya menarik tangan Leo dan menggendong Maya di pelukannya, mengabaikan rasa nyeri yang menusuk tajam di perutnya.
Suara keributan itu memicu kepanikan di antara para bandit. Namun, sebelum para bandit sempat melepaskan tembakan, gelombang Zombie Muatan menerobos masuk dari segala arah, memantai tempat itu menjadi ajang pembantaian massal. Jeritan histeris dan dentuman senjata bersahut-sahut di belakang mereka.
Fiora menerobos pintu belakang pabrik yang terhubung langsung dengan lorong labirin kota mati. Di luar, puluhan Zombie Muatan yang bergerak kilat menyadari keberadaan mereka dan langsung meluncur mengejar dari atas atap-atap gedung.
Napas Fiora memburu, fisiknya yang belum pulih pascakeguguran mulai mencapai batas. Kaki Fiora tersandung reruntuhan beton, membuatnya jatuh terjerembap bersama Maya dan Leo di tengah lorong buntu. Dari kegelapan, tiga Zombie Muatan melompat turun dengan rahang terbuka lebar, siap menerkam.
*SRAAASH!*
Sebuah sabetan tajam membelah udara. Sesosok figur tinggi tegap berkerudung lusuh melompat dari kegelapan, mengayunkan bilah pedang energi buatan yang memutus kepala ketiga zombie itu dalam satu gerakan presisi.
Sinar bulan memantulkan wujud sang penyelamat. Separuh tubuhnya masih berwujud manusia—seorang pria muda dengan mata kelabu yang tenang—namun separuh sisanya adalah jaringan biologis mutan yang terikat dengan implan siberinetik Aegis. Pembuluh darah hitam menonjol di leher dan lengan kirinya yang membesar dengan cakar mematikan.
Ia adalah spesimen eksperimen hibrida Aegis yang berhasil meloloskan diri dari markas pusat.
"Tetap di belakangku," bisik pria hibrida itu dengan suara berat yang bersanding dengan dengung rendah khas mesin.
Belum sempat Fiora merespons, dari sudut lorong lain muncul seorang wanita dengan perut membuncah—hamil tua—memegang senapan laras pendek dengan tatapan siaga. Ia adalah pasangan dari sang pria hibrida, sesama penyintas yang bertahan hidup di reruntuhan Sektor Utara.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya wanita hamil itu seraya membantu Fiora berdiri dan merangkul Maya serta Leo. "Suamiku bisa menahan mutan-mutan ini, tapi kita harus bergerak ke tempat berlindung sekarang!"
Pria setengah zombie itu melangkah ke depan, menancapkan cakarnya ke tanah seraya menggeram rendah, menciptakan barikade pelindung bagi mereka di tengah serbuan Zombie Muatan yang terus berdatangan.
Pria hibrida itu memutar bilah pedang energinya, menyapu bersih dua Zombie Muatan yang mencoba mendekat sebelum menoleh singkat ke arah Fiora. "Namaku Karl. Dan ini Mery, istriku," ujarnya dengan nada berat yang tersaring hembusan napas mekanis.
Mery membetulkan posisi tali senapannya seraya mengamati Fiora yang masih memegangi perut dengan napas terengah. Sambil merangkul Maya dan membimbing Leo, mata Mery tak sengaja menangkap koper baja bersimbol Aegis yang kini berada di genggaman salah satu komandan bandit yang tengah berlari panik menuju kendaraan evakuasi mereka di bagian depan pabrik.
"Vaksin itu..." bisik Fiora parau, menunjuk ke arah koper yang dibawa bandit itu. "Kita tidak boleh melepaskannya. Itu satu-satunya harapan untuk menyembuhkan infeksi virus ini... dan menghentikan penderitaan orang-orang seperti Karl."
Karl menatap koper baja tersebut, lalu beralih melihat kondisi fisiknya sendiri yang dipenuhi implan eksperimen Aegis. Tatapannya mengeras. "Mery, bawa wanita ini dan anak-anak ke lorong drainase bawah tanah. Amati dari sana. Aku yang akan mengambil koper itu."
"Aku tidak biarkan kamu bertarung sendirian, Karl," potong Mery tegas, meski kandungannya sudah membesar. Ia mengokang senapan laras pendeknya dengan lincah. "Aku amankan area luar dan lindungi anak-anak. Kamu masuk dan rebut kembali barang itu."
Karl mengangguk pelan, lalu pandangannya mengunci ke arah kelompok bandit yang panik di tengah kepungan mutan. Dengan satu hentakan kuat yang meretakkan semen lantai, Karl melompat cepat bagai bayangan, menerjang masuk kembali ke dalam gudang yang membara demi merebut kembali vaksin Genesis.