Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Tatapan mata Dayang yang menusuk dan sarat rasa curiga membuat udara di sekitar lapak terasa mendadak menghimpit.
Rimba menelan salivanya pelan, memutar otak secepat kilat untuk menyelamatkan penyamarannya tanpa merusak kepercayaan yang baru saja terbangun.
Ia mengatur napasnya, memosisikan bahunya sedikit membungkuk—kembali menyerap gesture seorang rakyat jelata—lalu mengusap tengkuknya dengan raut wajah serba salah yang dipaksakan.
"Mbak Dayang, jangan memandang saya seperti itu," sahut Rimba dengan nada suara yang sengaja dibuat sedikit ragu dan pelan.
"Saya ini memang cuma orang perantauan miskin. Tapi sebelum nasib saya hancur dan terdampar di pelelangan ini, saya pernah kerja bertahun-tahun jadi kernet sopir truk pengangkut pasokan di PT Sentosa Lautan, perusahaan logistik ikan skala sedang di Jawa Tengah."
Rimba menghela napas pendek, menatap lantai semen lapak dengan pandangan yang dibuat seolah mengenang masa lalu yang pahit.
"Tiap hari saya dengar bos-bos logistik itu rapat dan berdebat soal supply chain, kuota kapal, sama potongan harga buat pabrik besar. Karena saya sering bantu bongkar muat dan dengar mereka diskusi di gudang, lama-lama istilah dan cara hitung-hitungannya nempel sendiri di kepala saya, Mbak. Saya cuma mencoba mengingat-ingat apa yang pernah saya dengar dulu, barangkali ada manfaatnya buat Mbak Dayang biar ndak dibodohi sama perusahaan besar seperti Suryo Group ini."
Mendengar penjelasan yang begitu masuk akal dan disampaikan dengan raut penyesalan yang tertata, ketegangan di wajah Dayang perlahan mengendur.
Keraguan di matanya sedikit terobati oleh alasan logis itu, meski sisa-sisa rasa takjub atas kecerdasan 'kuli'-nya masih berbekas.
Dayang menghela napas panjang, lalu melangkah mendekat ke meja seng.
Tangan mulusnya meraih map tebal berisi draft perjanjian kerja sama yang disodorkan Dio tadi.
"Baiklah," ucap Dayang dingin namun profesional, menatap Dio yang masih berdiri menunggu.
"Saya ambil berkas ini. Saya perlu waktu untuk pelajari poin-poinnya dan diskusi dulu sama pengurus asosiasi nelayan. Saya tidak bisa putuskan sekarang."
Dio menganggukkan kepalanya dengan sangat sopan dan patuh.
Ia melihat rencana sang atasan berjalan mulus tanpa mengumbar identitas aslinya.
"Tentu, Mbak Dayang. Terima kasih atas waktunya. Kami tunggu kabar baik dari Mbak," ujar Dio mantap sebelum berbalik melangkah meninggalkan area lapak.
Setelah seluruh keranjang es dibersihkan dan meja seng disiram air hingga bersih, Dayang melepas celemek pasarnya lalu menggulungnya rapi.
Ia menatap Rimba yang baru saja selesai menyapu sisa-sisa sisik ikan di sekitar lapak.
"Bim, kita ke dermaga pasar ikan sekarang ya," ujar Dayang seraya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Aku ingin berbicara sama Bang Jaka soal masalah penawaran dari Suryo Group ini. Bagaimanapun juga, Bang Jaka itu tertua di rantai pasokan nelayan kita."
Rimba menganggukkan kepalanya dengan sigap. "Baik, Mbak Dayang. Mari saya bawa keranjang kosongnya sekalian."
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong pasar yang mulai lengang menuju area dermaga pelelangan utama di belakang pasar.
Bau angin laut yang khas dan deru mesin kapal motor langsung menyambut kedatangan mereka.
Dari kejauhan, tampak Bang Jaka sedang sibuk mencatat tonase hasil tangkapan kapal yang baru saja bersandar di dermaga kayu.
Melihat kedatangan Dayang bersama 'kuli baru'-nya yang bertubuh jangkung itu, Bang Jaka menghentikan catatannya dan menyunggingkan senyum ramah.
"Eh, Nduk Dayang! Katanya daganganmu di lapak sudah ludes dari jam enam pagi?" sapa Bang Jaka terkekeh, lalu melirik Rimba dari atas ke bawah.
"Wah, ini dia kuli angkut tenar yang bikin heboh pasar subuh tadi ya?"
Dayang tersenyum tipis, meski raut wajahnya kembali serius saat menepuk map tebal Suryo Group di dalam pelukannya.
"Iya, Bang. Tapi aku ke sini bukan mau bahas itu," potong Dayang seraya melangkah mendekati meja kerja Bang Jaka.
"Ada hal penting banget yang harus kita bahas soal pasokan ikan nelayan kita buat pabrik besar."
Dayang menyodorkan berkas tebal bersampul rapi itu ke atas meja kayu Bang Jaka.
Pria paruh baya berbadan gempal itu merogoh kacamata bacanya, lalu membalik halaman demi halaman dengan kening berkerut dalam.
"Suryo Group lagi?" gumam Bang Jaka, helaan napas berat keluar dari mulutnya. Ia menatap Dayang dengan raut wajah penuh keraguan.
"Nduk, kamu tahu sendiri kan gimana jejak perusahaan besar kalau sudah masuk ke wilayah nelayan kecil? Awalnya manis janji beli borongan, ujung-ujungnya harga ditancap murah, pembayaran diutang berbulan-bulan, nelayan kita yang gigit jari."
"Saya tahu, Bang. Makanya saya sengaja ke sini buat diskusi," jawab Dayang jujur.
Bang Jaka menggeleng tegas, hendak menutup map tersebut.
"Abang ragu, Dayang. Kapasitas kapal nelayan kita ini terbatas. Kalau semua disedot buat memenuhi pabrik mereka, stok buat pedagang eceran di Pasar Matahari bakal terganggu. Kita bisa diprotes warga pasar."
Melihat negosiasi vital demi keselamatan Pabrik Merah terancam buntu, Rimba yang berdiri setengah langkah di belakang Dayang mengambil inisiatif.
Ia melangkah maju dengan gerakan sopan, menyatukan kedua tangannya di depan tubuh.
"Permisi, Bang Jaka, kalau boleh saya menyampaikan pandangan sedikit," potong Rimba dengan nada suara rendah namun sangat mantap dan berisi.
Bang Jaka menaikkan sebelah alisnya, menatap 'kuli baru' Dayang itu dengan agak sangsi.
"Kamu kuli baru itu kan? Memangnya paham apa soal alur pasokan kapal?"
"Saya memang cuma kuli, Bang. Tapi waktu ikut truk logistik dulu, saya sering lihat pola seperti ini," ulas Rimba dengan ketenangan yang luar biasa.
"Abang tidak perlu mengalihkan pasokan kapal kecil yang melayani pasar eceran. Di berkas ini, ada klausul pembelian berdasarkan kuota bertingkat."
Rimba mengulurkan jarinya, menunjuk salah satu baris di lembar ketiga dokumen tersebut.
"Abang bisa khususkan kontrak ini untuk kapal-kapal besar di atas 30 GT yang selama ini sering kebingungan melempar sisa tangkapan saat musim panen ikan. Saat hasil tangkapan melimpah, harga di pelelangan biasanya anjlok, kan? Nah, Suryo Group di sini berkomitmen membeli dengan floor price—harga patokan terendah yang terkunci. Nelayan tidak akan rugi saat banjir ikan, dan pasokan eceran pasar lokal tetap aman di tangan kapal-kapal kecil."
Bang Jaka membeku. Matanya menatap tajam ke titik jari Rimba, lalu beralih menatap wajah 'Bima' dengan tatapan tak percaya.
Penjelasan itu begitu presisi, langsung menyasar titik lemah ekonomi nelayan yang selama ini menjadi musuh utama saat musim raya.
"Selain itu," lanjut Rimba, memperkuat argumennya, "sistem pembayarannya menggunakan Letter of Credit atau pencairan maksimal tiga hari kerja setelah bongkar muat. Kalau mereka terlambat bayar sehari saja, pasokan berhak diputus secara sepihak tanpa denda. Posisi nelayan sangat aman."
Bang Jaka perlahan melepaskan kacamatanya. Ia menepuk meja kayu itu pelan, menatap Dayang lalu beralih lagi ke Rimba dengan gelengan kepala heran.
"Luar biasa," bisik Bang Jaka terkagum-kagum.
"Analisis kamu tajam sekali, Bima. Ndak pernah ada kuli di pasar ini yang mikirnya sejauh dan sebersih ini."
Bang Jaka kembali menarik map tersebut ke dekatnya, mengelus dagunya yang ditumbuhi janggut tipis.
"Kalau klausulnya benar-benar diunci seperti yang dibilang Bima ini, Abang pikir, tawaran Suryo Group ini bukan cuma layak dipertimbangkan, tapi bisa jadi penyelamat nasib nelayan kita pas musim barat nanti."
Dayang tersenyum lega mendengar keputusan Bang Jaka.
Namun saat matanya melirik ke arah Rimba yang kembali menunduk bersahaja, dada Dayang kembali berdesir oleh rasa kagum yang makin dalam—bercampur misteri besar tentang siapa sebenarnya pria di sampingnya ini.
Dayang menarik pena hitam dari balik kantong kemejanya, lalu menggoreskan tanda tangan tegas di lembar lembar terakhir dokumen kerja sama tersebut.
Setelah merapikan kembali lipatannya, gadis itu memasukkan map berharga itu ke dalam tas kainnya dengan senyum lega.
Rimba yang berdiri di sampingnya menyunggingkan senyum tipis penuh kepuasan yang tertahan.
Dadanya berdesir lega—misinya berhasil. Pabrik Merah Suryo Group selamat dari ancaman kebangkrutan, dan rantai pasokan pasokan ikan segar kini resmi diamankan tanpa merugikan para nelayan lokal.
"Mas Bima, kita ke mall yuk," ujar Dayang tiba-tiba seraya menoleh pada Rimba, matanya berbinar cerah melupakan perih luka di pipinya.
"Nonton bioskop sama makan siang. Hitung-hitung syukuran karena urusan ini kelar."
Rimba sedikit tersentak kaget, namun rasa hangat langsung menyelimuti hatinya melihat ajakan spontan dari gadis itu.
Sebelum melangkah pergi, Dayang merogoh dompetnya dan menyodorkan beberapa lembar uang kertas pada sang ketua nelayan.
"Bang, besok kirim ikan seperti biasa ya. Ini uangnya."
Bang Jaka menganggukkan kepalanya seraya menerima uang tersebut, lalu menatap Dayang dan Rimba bergantian dengan raut wajah jahil.
"Abang nggak diajak ke mall?" seloroh Bang Jaka sambil terkekeh pelan.
Dayang tertawa kecil, suara tawanya yang renyah membelah riuhnya angin dermaga.
"Nanti ya, Bang Jaka! Kalau hasil panen bulan ini makin melimpah, baru tak traktir sekampung!" ucap Dayang.
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂