NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: SAPEI

**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**

Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.

Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.

Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.

Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...

**suamiku sendiri membunuhku.**

Aku pikir kematian adalah akhir.

Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.

Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.

Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.

Suamiku masih belum menjadi suamiku.

Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.

Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.

Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.

Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.

Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11- MALAM PEMBERSIHAN DURI

Malam kian larut ketika roda sedan lapis baja Varell Group membelah jalanan basah ibu kota menuju kawasan perumahan elite Menteng.

Hawa dingin sisa hujan badai masih menempel pekat pada kaca jendela mobil. Lampu-lampu jalanan tua bergaya kolonial berkelebat cepat, melukis bayangan belang-belang di wajah Adrian Varell yang duduk tepat di sampingku. Pria itu menyandarkan punggungnya santai, jemarinya mengetuk perlahan di atas sandaran tangan kulit, sementara matanya tak pernah lepas mengamati berkas intelijen digital yang baru saja diproyeksikan asistennya ke layar tablet di hadapan kami.

"Klinik distrik empat sudah disegel secara penuh oleh tim medis kita," suara Bastian terdengar datar dari kursi depan melalui interkom mikrofon kecil. "Selena Marvia sempat histeris di lorong sebelum akhirnya diamankan oleh petugas pengawalan dan diantar paksa kembali ke kediaman keluarganya yang telah dipasangi garis pita sita jaminan oleh juru sita pengadilan negeri."

"Bagaimana dengan Darmawan Arkana?" tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari deretan nama di layar tablet.

Bastian melirik kaca spion tengah sebelum menjawab. "Orang tua itu sempat mencoba menghubungi kapolda dan kepala divisi kejaksaan tinggi tiga puluh menit lalu, namun seluruh nomor pribadinya dialihkan ke kotak suara. Begitu menyadari surat utang subordinasi Arlena Holding telah berpindah tangan ke entitas Varell di Singapura, tekanan darahnya melonjak drastis. Dokter pribadinya baru saja tiba di kediaman Arkana."

Aku tersenyum tipis. Sebuah senyuman dingin yang tak menyisakan secuil pun rasa kasihan.

Darmawan Arkana mengira ia bisa memainkan pion-pion Arlena Holding semudah membalikkan telapak tangan. Dia tidak tahu bahwa begitu sebuah batu bata ditarik dari fondasi busuk yang ia bangun, seluruh istana pasirnya akan runtuh seketika menimpa kepalanya sendiri.

"Jangan biarkan dia mati terkena serangan jantung terlalu cepat," Adrian akhirnya bersuara, nada baritonnya begitu rendah dan mematikan bagai dengung bilah pedang yang ditarik dari sarungnya. "Saya masih membutuhkan Darmawan tetap bernapas saat bursa efek dibuka pukul sembilan pagi besok. Pria itu harus menandatangani penyerahan agunan aset tanah pergudangannya di Cilegon sebelum dia kehilangan kesadarannya sepenuhnya."

"Dipahami, Tuan Besar," jawab Bastian patuh.

Aku menatap layar tablet di hadapan kami. Di sana terpampang diagram alur organisasi Arlena Holding. Satu lingkaran merah tebal melingkari foto seorang pria paruh baya dengan senyum ramah yang tampak bersahaja: Hendra Arlena, pamanku sendiri.

"Paman Hendra mengira skandal Marvia Corporation dan kegagalan kecelakaan Ethan hanyalah kesialan teknis biasa," kataku pelan, membedah strategi musuh berikutnya. "Dia pasti berpikir bahwa posisinya sebagai adik kandung Ayah sekaligus direktur operasional membuatnya tak tersentuh di dalam rapat dewan komisaris besok pagi."

"Hendra bukan sekadar lintah darat amatir, Nadia," sela Adrian, jemarinya bergerak di atas layar, membuka sebuah folder terenkripsi berkode C-1997. "Dia sudah menyiapkan sekoci penyelamat sejak sepuluh tahun lalu. Dia tahu Edward Arlena terlalu sentimental terhadap ikatan darah, dan dia memanfaatkan kelemahan itu untuk menanamkan modal ventura bayangan di delapan anak perusahaan logistik kita."

Adrian menoleh ke arahku, tatapan matanya yang hitam kelam mengunciku tanpa celah.

"Dan yang lebih berbahaya... Hendra memegang salinan akta otentik pembagian hak waris tertutup milik kakekmu. Akta yang dibuat beberapa pekan sebelum kamu lahir."

Dadaku berdesir kencang. Roda takdir masa laluku yang gelap kembali berputar mendekat.

Di kehidupan pertamaku, dokumen itulah yang digunakan Ryan dan Hendra untuk melumpuhkan Ayah secara hukum. Mereka mengklaim bahwa Edward Arlena bukanlah pengelola sah dari seluruh konsorsium Arlena Holding karena sebuah klausul garis keturunan darah yang dirahasiakan selama puluhan tahun.

"Apa isi klausul itu sebenarnya, Tuan Varell?" tanyaku dengan nada setenang mungkin, meski jemariku di bawah lipatan rok mencengkeram kain dengan sangat kuat.

Adrian menatapku lurus selama beberapa detik. Udara di dalam mobil mendadak terasa begitu tipis dan menyesakkan.

"Kakekmu, William Arlena, membagi saham pengendali menjadi dua bagian," bisik Adrian rendah di samping telingaku. "Empat puluh persen untuk anak laki-laki pertama yang meneruskan nama keluarga, yaitu Edward. Namun enam puluh persen sisanya... diserahkan kepada putri kandung dari mendiang adik perempuannya yang wafat dalam insiden kebakaran tahun 1996."

Napas di tenggorokanku tercekat.

Putri kandung dari mendiang adik perempuan William Arlena.

"Maksud Anda..."

"Kamu bukan putri kandung Edward Arlena, Nadia," suara Adrian mengalun bagai vonis takdir yang meremukkan seluruh fondasi duniaku. "Edward dan Maria Arlena mengadopsimu secara rahasia untuk melindungimu dari pembersihan internal keluarga besar pada masa krisis moneter. Secara biologis, kamu adalah keponakan jauh dari Edward... dan secara hukum, kamu adalah pemilik sah enam puluh persen saham dinasti Arlena."

Ruang kabin mobil terasa berputar liar di sekelilingku.

Sepuluh tahun yang lalu, aku mati tanpa pernah mendengar kebenaran ini secara utuh dari mulut Ayah. Ryan hanya mencemoohku di detik-detik terakhir hidupku, menyebutku 'anak pungut yang tak tahu diri'. Dan kini, mendengar fakta berdarah itu diucapkan secara telanjang oleh Adrian Varell... seluruh potongan teka-teki masa laluku seketika tersusun rapi dengan kejernihan yang mengerikan.

Pantas saja Ayah selalu menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi rasa bersalah dan proteksi yang berlebihan.

Pantas saja Hendra Arlena begitu bernafsu menjodohkanku dengan Ryan, boneka keluarga Arkana. Jika Ryan berhasil menikahiku dan menguasai surat kuasa atasku, seluruh enam puluh persen saham pengendali itu akan berpindah tangan secara legal ke dalam genggaman sindikat mereka tanpa perlu ada pertumpahan darah di pengadilan niaga.

"Dan dokumen asli penetapan hak waris itu," gumamku serak, mataku berkilat berbahaya menembus kegelapan malam, "saat ini berada di brankas pribadi ruang kerja Hendra di kediaman lamanya di Menteng."

Adrian tersenyum tipis—sebuah seringai dingin dari seorang raja pemburu yang melihat anjing pelacaknya telah mencium jejak mangsa dengan sempurna.

"Tepat," ucap Adrian. "Hendra berencana membawa dokumen itu ke hadapan dewan komisaris besok pagi pukul sepuluh. Dia ingin mendeklarasikan bahwa Edward Arlena telah melakukan penggelapan hak wali atas asetmu selama sembilan belas tahun, mendepak ayahmu dari kursi Direktur Utama, dan menunjuk dirinya sendiri sebagai kurator tunggal atas seluruh hartamu."

"Sebuah rencana yang luar biasa licik," desisku dengan tawa dingin yang menggelegar dari balik dada. "Paman Hendra benar-benar mengira dia adalah sutradara dari drama ini."

Aku melirik ke arah kaca depan mobil. Gerbang besi tempa bergaya Eropa klasik milik kediaman utama keluarga Arlena sudah terlihat di ujung jalan rindang yang kami lalui.

"Mobil tidak perlu berhenti di rumah utama, Bastian," perintahku tegas, memotong jalur yang seharusnya.

Bastian menoleh ke belakang sekilas, menunggu konfirmasi dari tuannya. Adrian hanya mengangguk pelan memberi lampu hijau mutlak atas keputusanku.

"Putar haluan ke sayap barat kawasan Menteng," lanjutku dengan tatapan sedingin es kutub. "Kita akan berkunjung ke paviliun pribadi Paman Hendra malam ini juga."

"Nona Arlena," Bastian bersuara hati-hati. "Kediaman Tuan Hendra dijaga oleh enam pengawal bersenjata berlisensi swasta yang disewa dari yayasan militer purnawirawan."

"Dan Anda sedang membawa pasukan tempur taktis Varell Group di belakang sedan ini, Bastian," sahutku tanpa ragu. "Apakah menurutmu anjing-anjing sewaan paman saya berani melepaskan peluru ke arah lambang trisula perak milik Tuan Varell?"

Adrian terkekeh pelan di sampingku, suara tawanya sarat akan rasa bangga yang pekat. "Kamu mendengar perintah Nona Muda, Bastian. Terobos gerbang sayap barat. Jika ada yang berani mengangkat senjata, patahkan pergelangan tangan mereka di tempat."

"Siap, Tuan Besar!"

Sedan lapis baja kami berakselerasi tajam, membelok ke kiri menuju sebuah rumah megah berlantai dua dengan halaman luas yang dipagari pohon palem kipas tinggi.

Di depan gerbang rumah Hendra, dua pria berbadan tegap dengan seragam safari gelap melangkah maju seraya mengacungkan senter bertenaga tinggi, bermaksud menghentikan kendaraan asing yang mendekat.

Namun mobil kami tidak sedikit pun menginjak rem.

BRAAAKKK!

Bumper baja diperkuat milik sedan Varell menghantam gerbang besi tempa itu tanpa ampun. Kunci gerbang pecah berkeping-keping, daun pintu besi terhempas ke dalam halaman rumput dengan suara gemuruh yang merobek kesunyian malam perumahan elite itu. Dua penjaga gerbang terpelanting panik ke semak-semak untuk menyelamatkan nyawa mereka.

Sebelum alarm keamanan rumah sempat meraung untuk kedua kalinya, dua van taktis Varell yang mengikuti dari belakang langsung memblokir jalan masuk. Delapan personel bersenjata lengkap melompat turun, menyisir halaman dalam formasi tempur presisi, dan melumpuhkan sisa penjaga pribadi Hendra hanya dalam tempo kurang dari empat puluh detik tanpa ada satu tembakan pun yang meletus.

Pintu depan kediaman Hendra terbuka lebar dengan kasar.

Hendra Arlena muncul di ambang pintu hanya dengan mengenakan piyama sutra hitam dan jubah tidur tebal. Wajahnya yang biasa dipenuhi senyum kepalsuan kini merah padam karena amarah dan keterkejutan luar biasa. Di tangannya, sebuah pistol revolver perak berkaliber kecil tergenggam gemetar.

"Siapa yang berani membuat kekacauan di rumah saya tengah malam begini?!" raung Hendra histeris, menodongkan moncong senjatanya ke arah lampu depan mobil yang menyilaukan matanya. "Saya anggota dewan direksi Arlena Holding! Pengawal! Hubungi kepolisian sekarang juga!"

Pintu belakang sedan hitam kami terbuka perlahan.

Aku melangkah turun ke atas jalan setapak beralas batu alam yang basah. Langkah kakiku terdengar mantap, tenang, dan berirama di tengah keheningan mencekam. Di sampingku, Adrian Varell berjalan berdampingan, jangkung dan menjulang layaknya malaikat maut berjas hitam yang siap menjatuhkan penghakiman terakhir.

Mata Hendra membelalak lebar begitu cahaya lampu teras menyinari wajahku dan sosok pria di sebelahku. Moncong pistol di tangannya bergetar hebat hingga turun beberapa inci.

"N-Nadia...?" Hendra terperanjat, suaranya tercekat di tenggorokan. "T-Tuan Adrian Varell?! Apa... apa maksud dari semua kegilaan ini?!"

"Turunkan mainan murahanmu itu, Paman," kataku datar seraya melangkah maju menaiki undakan teras marmer tanpa sedikit pun rasa takut terhadap pistol di tangannya. "Satu gerakan ceroboh dari jarimu, dan penembak runduk Tuan Varell yang berada di atap garasimu akan membuat kepalamu berlubang sebelum pelurumu sempat keluar dari selongsong."

Hendra menelan ludah dengan susah payah. Matanya melirik liar ke arah atap garasi, di mana titik laser inframerah merah tampak berkedip tepat di tengah keningnya. Keringat dingin seketika membasahi kerah piyama sutranya.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Hendra melepaskan pistol itu hingga jatuh berdentang ke lantai marmer teras.

"Nadia... kamu... kamu sudah gila?!" desis Hendra serak seraya mundur dua langkah ke dalam ruang tamu. "Saya ini pamanmu! Adik kandung dari ayahmu! Berani-beraninya kamu membawa orang luar untuk menyerang rumah keluarga sendiri?!"

"Orang luar?" Aku melangkah masuk ke dalam ruang tamu megah bergaya klasik itu, mengabaikan caci makinya. Mataku menyapu interior ruangan yang dipenuhi barang-barang antik mahal hasil jarahan kas operasional Arlena Holding selama bertahun-tahun.

Aku berjalan santai menuju sebuah sofa beludru merah, lalu duduk dengan anggun seraya menyilangkan kaki. Adrian berdiri tegak di belakang sofaku, menatap Hendra dengan sorot mata sedingin bilah pedang eksekusi.

"Paman Hendra," suaraku mengalun lembut, namun penuh racun yang membekukan darahnya. "Bukankah Paman sendiri yang lebih dulu membawa orang luar untuk menghabisi adikku di jalur lingkar barat sore tadi?"

Wajah Hendra seketika berubah pasi bagai mayat. "A-apa yang kamu bicarakan?! Ethan kecelakaan karena kelalaiannya sendiri! Ryan Arkana sudah memberitahu keluarga bahwa—"

"Ryan Arkana saat ini sedang terbaring di klinik distrik empat dengan tiga tulang rusuk patah dan ponsel pribadinya telah disita oleh tim forensik digital Varell Group," potong Adrian dingin, suaranya bergema di seluruh langit-langit ruangan. "Rekaman panggilan suara antara Anda dan Tuan Muda Arkana pada pukul sebelas siang tadi telah berhasil diekstraksi secara utuh, Tuan Hendra. Termasuk instruksi Anda untuk memastikan rem mobil Porsche itu dimodifikasi di bengkel rekanan Marvia."

Hendra ternganga di tempatnya berdiri. Kedua lututnya goyah, memaksanya harus berpegangan pada tepi lemari pajangan kristal agar tidak roboh ke lantai. Segala alibi, segala kebohongan yang telah ia persiapkan untuk rapat dewan komisaris besok pagi hancur lebur berkeping-keping di hadapan bukti digital yang tak terbantahkan.

"Tidak... kalian tidak bisa menggunakan rekaman ilegal itu di pengadilan..." bisik Hendra terbata-bata, napasnya memburu liar bagai tikus yang terperangkap dalam sangkar besi.

"Siapa yang bilang kami akan membawamu ke pengadilan umum, Paman?" tanyaku dengan senyum tipis yang mematikan. "Pengadilan niaga terlalu lambat, dan penjara negara terlalu nyaman untuk pengkhianat berdarah dingin sepertimu."

Aku menegakkan punggungku, menatap tepat ke manik mata pamanku yang bergetar dipenuhi horor murni.

"Buka brankas di balik lukisan potret kakek di ruang kerjamu sekarang juga, Paman. Bawa keluar berkas wasiat bertanggal empat belas Agustus 1996."

Mendengar tanggal keramat itu terucap dari bibirku, Hendra tersentak hebat seolah baru saja disengat aliran listrik bertegangan ribuan volt. Matanya membelalak lebar hingga urat-urat merahnya mencuat jelas.

"K-kamu... dari mana kamu tahu tentang berkas itu?!" jerit Hendra histeris, suaranya melengking tinggi menembus dinding ruangan. "Edward tidak mungkin menceritakannya padamu! Dia bersumpah demi nyawa ibunya untuk mengubur rahasia itu selamanya!"

"Ayah tidak menceritakan apa pun padaku, Paman," sahutku tenang seraya bangkit dari sofa, melangkah perlahan mendekatinya hingga aroma ketakutan dari keringat dinginnya tercium jelas di udara. "Tapi malaikat maut yang membangkitkanku dari malam kematianku membisikkan segalanya ke telingaku. Aku tahu siapa diriku. Aku tahu enam puluh persen saham yang kamu incar dengan menjualku kepada keluarga Arkana adalah hak waris mutlak milik ibuku yang kalian bakar sepuluh tahun lalu."

Hendra mundur teratur hingga punggungnya membentur dinding kayu. Wajahnya dipenuhi rasa ngeri yang tak terlukiskan—tatapan seorang pendosa yang melihat arwah korban masa lalunya bangkit menuntut balas di hadapannya.

"Kamu... kamu bukan Nadia..." bisik Hendra dengan bibir bergetar hebat. "Nadia adalah gadis bodoh yang penurut... kamu iblis... kamu monster..."

"Bastian," Adrian memberi instruksi pendek tanpa memedulikan racauan pria tua itu.

Asisten pribadi Adrian melangkah cepat menuju ruang kerja di sayap kanan. Suara derit lukisan yang digeser terdengar, disusul suara peralatan pemindai elektronik canggih yang membobol kunci kombinasi digital brankas baja di balik dinding.

Kurang dari tiga menit kemudian, Bastian kembali ke ruang tamu membawa sebuah map kulit berwarna cokelat kusam yang telah tersegel lilin merah bertanda tangan notaris kepresidenan era sembilan puluhan.

Bastian menyerahkan map itu langsung ke tanganku dengan penuh hormat.

Aku memecahkan segel lilin merah yang telah mengering selama hampir dua dekade itu dengan ujung kukuku. Kertas perkamen tebal di dalamnya berdesir renyah saat kubuka di bawah temaram cahaya lampu kristal.

Di sana, tertulis dengan tinta hitam abadi:

Akta Penetapan Hak Waris Tunggal Konsorsium Arlena.

Nama Pewaris: Nadia Arlena binti Helena Arlena.

Persentase Kepemilikan Saham Pengendali: Enam Puluh Persen Hak Suara Mutlak.

Mata air mataku terasa hangat di pelupuk mata, namun bukan karena kesedihan. Ini adalah pengakuan atas darah yang mengalir di dalam nadiku—darah seorang ibu yang mati demi melindungiku, dan darah seorang pewaris sejati yang kini berdiri tegak untuk menuntut kembali takhta yang dirampok oleh para serigala keluarga sendiri.

Aku menutup map tersebut rapat-rapat, mendekapnya di depan dadaku, lalu menatap Hendra Arlena yang kini jatuh berlutut di atas lantai marmer.

"Paman Hendra," suaraku mengalun dingin, memutus segala sisa harapan yang dimiliki pria itu. "Malam ini, kamu punya dua pilihan sederhana."

Hendra mendongak perlahan, air mata keputusasaan membasahi pipinya yang keriput. "A-apa pilihannya, Nadia...? Tolong... jangan hancurkan pamanmu ini..."

"Pilihan pertama," kataku dengan artikulasi yang sangat jelas dan terukur. "Kamu menandatangani surat pengunduran diri secara sukarela dari seluruh jabatan direksi Arlena Holding malam ini juga. Kamu menyerahkan seluruh aset rumah ini, vila di Puncak, dan rekening simpananmu di Swiss untuk menutupi kerugian defisit operasional yang kamu ciptakan bersama Marvia Corporation. Setelah itu, kamu bisa pergi ke pengasingan di luar negeri dengan sisa uang pensiun pokokmu, dan jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di tanah ini seumur hidupmu."

Hendra menelan ludah dengan susah payah, dadanya sesak oleh tuntutan yang merampas seluruh kemewahan hidupnya. "D-dan pilihan kedua...?"

Sudut bibir Adrian terangkat membentuk seringai kejam di belakangku. Pria itu menyandarkan satu tangannya di pegangan sofa, menatap Hendra bagai algojo yang sedang mengukur leher terpidana mati.

"Pilihan kedua," sambung Adrian dingin, memotong udara malam bagai cambuk besi, "berkas pembunuhan berencana terhadap Ethan Arlena, dokumen pencucian uang bersama sindikat Marvia, dan bukti suap perizinan reklamasi pantai akan diserahkan ke meja pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi dan Bareskrim Polri tepat pukul lima subuh nanti. Sebelum fajar menyingsing, wajahmu akan terpampang di seluruh stasiun televisi nasional dengan rompi oranye tahanan, dan kamu akan menghabiskan sisa umurmu di sel isolasi bawah tanah Nusakambangan tanpa pernah melihat sinar matahari lagi."

Hening yang menyusul terasa begitu pekat hingga suara detak jam dinding antik di sudut ruangan terdengar bagai dentuman genderang kematian.

Hendra Arlena gemetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seluruh kebanggaan, arogansi, dan kelicikan yang ia pupuk selama puluhan tahun musnah tak bersisa. Di hadapan kombinasi bukti telak dari Nadia dan kekuasaan absolut tanpa ampun dari Varell Group, pria paruh baya itu tak lebih dari seekor serangga yang menunggu untuk diinjak hingga hancur berkeping-keping.

"Saya... saya tanda tangani..." bisik Hendra akhirnya dengan suara tercekat, air mata kehancuran menetes membasahi lantai marmer. "Saya akan tanda tangani surat pengunduran diri itu sekarang juga... tolong... jangan penjarakan saya..."

Bastian segera meletakkan draf surat pelepasan jabatan dan penyerahan aset di hadapan Hendra, lengkap dengan pena emas berkilau.

Dengan tangan yang gemetar bagai daun tertiup badai, Hendra Arlena menorehkan tanda tangannya di atas lembar berkas tersebut, menandai akhir dari kekuasaannya di Arlena Holding selamanya.

Duri pertama di dalam daging keluargaku... telah berhasil dicabut hingga ke akarnya.

Aku tidak membuang waktu sedetik pun untuk memandangi pria yang menangis tersedu-sedu di lantai itu. Aku berbalik, memeluk map wasiat ibuku erat-erat, lalu melangkah keluar dari paviliun mewah itu diiringi derap langkah tegap Adrian Varell di sampingku.

Di luar, angin malam Menteng berhembus kencang, menerbangkan daun-daun kering melintasi halaman yang kini telah dikuasai sepenuhnya oleh armada pengamanan Varell.

Kami melangkah masuk kembali ke dalam kabin sedan lapis baja yang hangat. Begitu pintu tertutup rapat, menyegel kami dari dinginnya dunia luar, Adrian menatapku lekat-lekat di bawah temaram lampu kabin.

"Langkah pembersihan yang sangat bersih, Nona Nadia," ucap Adrian dengan nada baritonnya yang rendah dan memikat. "Dalam tempo kurang dari dua belas jam sejak kamu bangkit dari pingsanmu di kantor tadi pagi, kamu telah menyelamatkan nyawa pewaris Arlena, melumpuhkan keluarga Marvia, memotong leher finansial Arkana, dan merebut kembali enam puluh persen saham pengendali dinastimu dari tangan pengkhianat internal."

Aku menyandarkan kepalaku ke kaca jendela, menatap lampu-lampu kota yang mulai memudar menjelang pergantian hari. Kelelahan fisik mulai merayap di persendianku, namun api di dalam jiwaku masih berkobar dengan intensitas yang sama.

"Ini baru permulaan dari Babak Pertama, Tuan Varell," bisikku pelan, menoleh dan membalas tatapannya dengan senyuman tipis yang dingin. "Besok pagi pukul sepuluh, rapat dewan komisaris akan digelar. Ayah akan mengetahui siapa aku sebenarnya, dan pasar modal akan menyaksikan bagaimana nama Nadia Arlena resmi dicatat sebagai pemegang kendali tertinggi atas separuh perputaran uang di negeri ini."

Adrian menatapku lurus, jemarinya terulur menyentuh helaian rambutku yang sedikit kusut akibat angin malam, menyelipkannya ke belakang telingaku dengan gerakan yang luar biasa lembut—sebuah kontras berbahaya dari sosok monster bisnis yang ditakuti seluruh konglomerat ibu kota.

"Dan saya," bisik Adrian rendah, tatapannya begitu dekat hingga aku bisa melihat kobaran ambisi dan ketertarikan mutlak di dasar matanya, "akan berdiri tepat di samping takhtamu untuk memastikan tidak ada satu pun serigala yang berani menyentuh ratu baruku."

Jantungku berdegup kencang, bukan karena ketakutan, melainkan karena kesadaran bahwa aliansi berdarah ini telah mengikat takdir kami berdua ke dalam pusaran perang korporasi yang jauh lebih besar dan mengerikan di masa depan.

Sedan hitam Varell Group melesat menembus sisa-sisa kegelapan malam, membawa dokumen wasiat yang akan mengguncang seluruh tatanan bisnis ibu kota saat mentari terbit esok pagi.

Babak baru dari pembalasan dendamku telah dibuka.

Dan kali ini, seluruh dunia akan bersujud di hadapan sang pemilik sah takhta Arlena.

Bersambung...

1
REY ASMODEUS
ceritamu ini keren thor. aku suka adegan tabrakan nya... 🤣🤣🤣🤣🤣 coba saja si sirkus itu di dorong saja ke jurang beh mantapnya itu kembang api
One Pey: "Terimakasih Brad...iya ya padahalmah di dorong aja dia...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!