Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.
Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.
Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Pria Nggak Jelas
# Dua Pria Nggak Jelas #
"Tuan, ingat ya... kita nggak punya banyak waktu. Efek obat biusnya cuma sementara. Ngobrol yang penting-penting aja. Cepat, Tuan. Saya berjaga di bawah. Kalau ada suara siulan, itu artinya kondisi darurat. Oke?" bisik Rio memperingatkan.
Axcel hanya mengangguk kecil sembari fokus menaiki anak tangga portable yang sudah dipasang Rio di pohon besar persis di sebelah balkon kamar Sora. Setelah memastikan Tuan Mudanya menggapai pagar balkon dengan aman, Rio segera melipat tangga lipat tersebut dan menyembunyikannya di balik semak-semak tak jauh dari pagar rumah Sora.
"Hah? Tuan ini ngomong apa sih? Udah dibilangin ngomong yang penting aja, sekadar bikin janji ketemu. Malah main-main kayak anak kecil!" gerutu Rio lirih. "Tuaaan... Tuaann... Masuk! Cepat masuk!" teriaknya setengah berbisik. "Haduh... gawat kalau ada orang rumah yang lihat dari bawah. Lempar batu aja kali ya? Eh, jangan yang ini... kegedean, bisa gegar otak kalau kena kepalanya."
Rio yang sibuk mencari kerikil dengan ukuran pas tidak memperhatikan kelakuan Axcel yang semakin mengkhawatirkan. Bukannya menyelinap masuk ke dalam kamar, Axcel justru santai bersandar di pagar balkon sambil memanggil-manggil nama Sora. Rio yang makin panik akhirnya melemparkan kerikil kecil beberapa kali hingga mengenai lengan Axcel. Pria itu menggerutu sambil melotot dan menunjuk-nunjuk Rio, memperingatkan agar asistennya itu tidak melontarkan batu lagi.
Rio yang tidak bisa bersuara lantang hanya memberi isyarat tangan, menyuruh Axcel cepat masuk dan jangan berisik.
"Apalah Rio itu, ngomong apa coba? Aku mana ngerti bahasa isyarat. Aneh!" gumam Axcel polos.
*Eeiist...!*
Axcel yang sedang memperhatikan Rio dari atas hampir saja terjungkal melewati pagar balkon karena mendapat tepukan keras mendadak di bahu kanannya. Suara kaget setengah berteriak yang lolos dari mulut Axcel membuat Rio di bawah hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Asistennya itu makin yakin kalau Tuan Mudanya terkadang bisa bertingkah sangat konyol.
"Cel! Kamu gila, ya?!" desis Sora menahan napas.
Baru saja melintas pikiran tentang pria 'Satu Miliar' ini, dan tanpa disangka-sangka Axcel benar-benar muncul di balkon kamarnya dengan tingkat kewaspadaan nol besar! Rio di bawah bisa bernapas lega dan langsung menyusut bersembunyi saat Sora dengan gerakan secepat kilat menarik Axcel masuk ke dalam. Nyaris saja Tuan Mudanya yang rada-rada itu membuat Rio kena serangan jantung di usia muda.
Kini Rio hanya bisa berharap Axcel tidak mengulur waktu lagi. Ia memutuskan bersembunyi rapat-rapat di balik pohon bersama tangga portable-nya.
Di dalam kamar, Sora meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya agar Axcel tidak membuat keributan lagi. Merasa area kamarnya kurang aman, siapa tahu Bi Muna atau Nyonya Jolly mendadak masuk. Sora memutuskan membawa Axcel ke dalam ruang ganti (walk-in closet). Itu adalah satu-satunya ruangan selain toilet yang bisa dikunci dari dalam.
"Baru tadi pagi Mama mu kasih aku penawaran satu miliar, terus malamnya nyuruh kamu nyulik aku, ya?" cerca Sora dengan berbisik. "Aku belum selesai mikirin itu! Belum ada keputusan. Mending kamu pulang sekarang deh, sampaikan maafku ke Tante Evelyn."
Sebenarnya Sora bukanlah wanita bodoh yang akan membuang kesempatan emas yang belum tentu datang dua kali seumur hidup. Ia sangat ingin menerima tawaran itu dan pergi keliling dunia bersama sahabat barunya yang kini sedang duduk di hadapannya dengan wajah yang dipaksa serius. Namun, Sora juga harus memikirkan kondisi Ayah dan Bundanya. Ia tidak ingin orang tuanya jatuh sakit karena terkejut. Sora ingin membersihkan nama baiknya terlebih dahulu dalam waktu dua hari ke depan agar bisa mendapatkan kembali kepercayaan penuh dari Nyonya Jolly. Dengan begitu, Sora tidak harus terburu-buru menikahi Easton hanya karena takut rumor buruk menyebar.
Jika dipikir-pikir lagi, ketakutan Nyonya Jolly sebenarnya kurang berlandaskan alasan kuat. Kalaupun takut nama baik tercemar rumor, bukankah masih ada Axcel yang bersedia menikahinya karena kebutuhan mendesak? Namun, alasan utamanya tampaknya karena Nyonya Jolly belum mengenali sosok Axcel dengan baik.
*TOK... TOK...*
"Nona... mau makan malam apa?" suara Bi Muna terdengar memanggil dari balik pintu kamar.
Sora bergegas berdiri mendatangi pintu. Sebelum melangkah, ia memberi isyarat tajam agar Axcel tetap diam di tempat.
"Bi, bisa buatin bubur angsa pakai sedikit jahe? Perutku rasanya kurang nyaman. Sama air hangat ya, Bi," sahut Sora dari dalam.
Sora menempelkan telinganya di daun pintu untuk memastikan langkah kaki Bi Muna benar-benar menjauh. Ia berharap tidak ada yang tahu keberadaan Axcel di rumah ini, termasuk Bi Muna. Biarpun ia tahu orang tuanya sedang menghadiri acara di luar, ia tetap tidak bisa meminta bantuan Bi Muna untuk meloloskan Axcel. Saat ini Bi Muna sepenuhnya berdiri di pihak Nyonya Jolly.
Tiba-tiba bulu kuduk Sora meremang saat merasakan hembusan napas hangat tepat di belakang lehernya.
"Kamu sedang apa?" bisik sebuah suara santai.
"Woilaahh!" *BRUGH!*
Entah sejak kapan Axcel sudah berdiri mepet di belakangnya. Hembusan napas Axcel yang berdiri dalam jarak yang sangat dekat, menyapu ujung kepala Sora dan membuat gadis itu kikuk lalu refleks mendorong dada pria itu hingga tubuh Sora sendiri hilang keseimbangan dan bokongnya mendarat sempurna di lantai.
Entah mendapat kekuatan darimana, Sora dengan tubuh mungilnya langsung mencengkeram kuat hoodie yang dikenakan Axcel. Terasa sangat mudah bagi Sora menyeret Axcel kembali masuk ke dalam ruang ganti hanya dengan satu tangan. Sementara itu, Axcel hanya pasrah sembari menyilangkan kedua tangan di dada. Ia bingung apa kesalahannya kali ini, hingga Sora memperlakukannya seperti anak kucing yang sedang diangkut.
"Kan udah dibilang, diam! Tunggu di sini aja!" omel Sora berbisik tajam. "Aku tuh butuh waktu buat jelasin semua ke keluargaku, kamu jangan ngacau dulu lah! Sabar! Kalau kamu ketahuan sekarang, makin susah aku jelasin ke Bunda!"
Axcel malah tersenyum. Ternyata Sora tidak benar-benar ingin meninggalkannya, melainkan menyuruhnya bersabar.
Tak berapa lama, terdengar pintu kamar Sora kembali diketuk dan kunci pintu berputar dua kali. Sora panik setengah mati. Ia buru-buru menarik lengan Axcel agar berdiri, mencoba menyembunyikannya kembali ke dalam storage duffle bag raksasa seperti kemarin. Namun, Sora mendadak teringat perkataan Nyonya Evelyn, bahwa Axcel sedang tidak enak badan dan mogok makan. Bisa pingsan lagi pria ini kalau dijejalkan ke dalam tas!
Mata Sora tiba-tiba tertuju pada gaun merah yang dikenakannya tadi pagi. Hal itu mengingatkannya pada setelan baju wanita yang pernah dibeli oleh kepribadian Ino saat mereka pergi ke mal.
"Nona... Nona? Ini Bibi udah tata makanannya di meja. Ayo makan dulu. Nona lagi di kamar mandi, kah?" panggil Bi Muna dari dalam kamar.
Sora gugup setengah mati karena Bi Muna sudah masuk dan pasti akan memeriksa area ruang ganti dan toilet. Power of kepepet langsung memicu ide brilian di otak Sora! Ia membuka laci tempat menyimpan gaun orange milik Ino yang masih tertinggal, membuka kaos Axcel secara paksa dan mengenakan gaun serta wig panjangnya. Sebelum keluar mendatangi Bi Muna, Sora menarik cardigan oversize miliknya dan memaksakannya ke tubuh Axcel untuk menutupi bagian dada dan lengannya yang lebar.
Dalam hati Sora membatin, jika Axcel sampai ditemukan oleh orang rumah, paling tidak ia bisa mengakuinya sebagai 'Ino'. Semua orang di rumahnya kan sudah kenal Ino, jadi akan lebih mudah untuk mengeluarkan pria ini tanpa memicu kecurigaan. Kenapa ide ini baru terpikir sekarang, ya?
"Ah... Bibi kira Nona kenapa-napa di toilet. Gimana? Perutnya masih sakit?" Bi Muna menyapa khawatir saat Sora keluar dari ruang ganti. "Ini Bibi bawain minyak angin juga biar hangat. Sakit karena masuk angin atau mau haid? Tadi daripada Bibi mondar-mandir, Bibi bawain sekalian. Habis makan Bibi pijat ya pinggangnya."
Wajah Sora pucat pasi karena ketakutan, tetapi Bi Muna malah mengira Nonanya sedang menahan sakit hingga keluar keringat dingin di dahi. Bi Muna bahkan berniat memanggilkan dokter. Sora cepat-cepat menolak dengan alasan hanya bad mood dan ingin menyendiri. Sakit perutnya hanya karena masa menstruasi yang sudah dekat dan akan membaik setelah minum obat. Sora mengucapkan terima kasih atas perhatian Bi Muna, lalu mendorong pelan tubuh pelayan senior itu agar segera keluar dan ia bisa mengunci kamar kembali.
Dengan begitu, ia bisa memberikan bubur hangat ini untuk Axcel. Sebelum menyuruhnya pergi lewat balkon, Sora harus memastikan Axcel berhenti mogok makan demi menjaga kesehatannya.
"Mari, Dok, masuk saja. Tolong periksa putri saya. Tiga hari lagi kami ada acara besar untuknya, jangan sampai tiba-tiba sakit seperti ini," ujar sebuah suara dari luar kamar.
Langkah Nyonya Jolly dan seorang dokter terhenti tepat saat Sora sedang mendorong Bi Muna keluar dari kamarnya. Suasana mendadak canggung dan membeku seketika.
"Ada apa ini? Ayo masuk, biar Dokter Darla periksa kondisimu. Bi, bawa Sora masuk lagi," perintah Nyonya Jolly tegas.
Kini gantian Bi Muna yang memandu tubuh Sora masuk kembali ke dalam kamar sesuai perintah Nyonya Jolly. Sora berjalan lunglai, menyadari ia sudah tidak bisa mengelak lagi. Namun, saat mereka melangkah menuju ranjang utama, semua orang dikagetkan oleh kehadiran sosok perempuan muda yang sangat dikenali oleh Nyonya Jolly dan Bi Muna!
"Kamu... Ino, bukan? Kapan... kenapa kamu bisa masuk ke kamar Sora? Lewat mana?!" seru Nyonya Jolly terkejut.
Sosok yang disapa 'Ino' yang tak lain adalah Axcel yang memakai wig dan cardigan oversize sedang duduk anggun di sofa dengan mangkuk bubur yang sudah hampir habis di tangan kirinya. Axcel menyapa mereka semua dengan nada suara kemayu khas Ino.
Sora yang awalnya panik kini merasa ketakutan setengah mati hingga perutnya benar-benar terasa melilit hebat. Tubuh Sora mendadak tumbang dan ambruk ke dalam pelukan Bi Muna!
Semua orang terkejut, termasuk Axcel. Buru-buru Axcel meletakkan mangkuk buburnya di meja. Dengan langkah pasti dan sigap, ia membopong tubuh Sora dan membawanya ke atas ranjang. Sikap feminin yang ditunjukkannya tadi seketika menguap berganti menjadi gerakan maskulin yang sangat cekatan. Bahkan cardigan oversize yang dipakainya tak mampu menyembunyikan siluet otot lengan Axcel saat menggendong Sora dengan mudah.
"Aww... Kamu kuat banget, ya? Saya baru kali ini lihat perempuan sekuat kamu. Tiap hari gym, ya?" goda Dokter Darla spontan melihat aksi sigap tersebut.
Godaan Dokter Darla tentu saja membuat Axcel tersadar dari aksinya. Ia kelepasan peran! Axcel cepat-cepat tersenyum manis dan berakting tersipu malu, berpura-pura sungkan karena dipuji sekuat itu.
"Nona Sora hanya syok, asam lambungnya butuh perhatian khusus," panggil Dokter Darla kemudian setelah memeriksa kondisi Sora. "Apa akhir-akhir ini Nona Sora sedang berada dalam tekanan berat..."
"...seperti stres berlebihan? Sebaiknya jangan biarkan Nona Sora berpikir terlalu berat dulu. Jika setelah dipasang infus ini kondisinya belum membaik dan masih enggan makan, sebaiknya langsung dibawa ke IGD," pesan Dokter Darla secara medis.
Nyonya Jolly terdiam sembari melipat kedua tangan di dada. Pandangannya terpaku pada putrinya yang terkulai lemah di ranjang. Setelah memberi obat dan memasangkan infus, Nyonya Jolly meminta Bi Muna mengantar Dokter Darla turun ke lantai bawah.
Sebelum berpamitan, Dokter Darla sempat berbisik pelan pada Nyonya Jolly bahwa terkadang penyakit fisik tidak selalu berasal dari virus eksternal, melainkan bisa dipicu oleh beban pikiran yang tidak terkontrol. Mendampingi dan mendengarkan keluh kesah anak bisa menjadi dukungan terbaik untuk kesembuhan Sora.
Beruntung bagi Sora, Nyonya Jolly tidak memperpanjang masalah Ino yang menyelinap masuk ke rumahnya tanpa izin. Nyonya Jolly masih diselimuti rasa bersalah karena terus menekan putrinya dengan rencana pertunangan yang tidak diinginkan.
"Bunda harus bagaimana lagi... Kalau saja tidak ada wartawan yang memotret kamu keluar dari kafe sialan itu, Bunda tidak akan sekhawatir ini," gumam Nyonya Jolly lirih di samping ranjang. "Mereka seperti lintah yang terus memeras Bunda. Bunda cuma ingin melindungi kamu..."
Axcel yang masih berdiri di dekat sofa memainkan ujung rambut wig panjangnya dengan canggung, sambil menerka-nerka apa yang sebenarnya sedang dibicarakan Nyonya Jolly. Kafe? Sora?
"Bukannya waktu itu Sora pergi ke sana sama aku ya, Tante? Apa aku juga kena foto wartawan?" tanya Axcel kelepasan dengan suara aslinya.
Nyonya Jolly seketika berdiri tegak. Ia membalikkan badan dan memandang sosok di depannya dengan sangat teliti dari atas hingga bawah.
"Kamu siapa...?" panggil Nyonya Jolly dengan nada menuntut. "Sora ke kafe itu dengan pria bernama Axcel. Lalu apa hubungannya denganmu, Ino? Apa kau menyembunyikan sesuatu tentang Sora? Kau sahabat Sora, kan? Harusnya tahu mana yang baik dan buruk buat Sora!"
Nyonya Jolly melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah wajah 'Ino' yang tampak panik.
"Apa kau sebenarnya... Axcel?!"
*DEG!*
⭐⭐⭐⭐⭐
Samaran Axcel sebagai Ino berada di ujung tanduk! Akankah Axcel mengaku jujur di hadapan Nyonya Jolly demi melindungi Sora, atau justru Ino yang asli akan 'terpanggil' muncul secara mengejutkan akibat situasi yang serba terdesak ini?
Halo Kiravers! Penyamaran Axcel jadi Ino makin gawat nih! Menurut kalian, Nyonya Jolly bakal percaya kalau Ino itu Axcel, atau Axcel punya trik konyol lain buat ngeles? Jangan lupa tinggalkan jejak suka dan komentar kalian ya! Sampai jumpa di part selanjutnya!