Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 34
Hari sudah semakin gelap. Rara terbaring sendiri di dalam ruang rawat. Kakaknya jam 4 tadi pamit pulang, sementara kakak iparnya sedang ada pemeriksaan pasien yang lain.
Ceklek..
Pintu terbuka. Rio berjalan masuk. Ia melepas jas putihnya, lalu meletakkan ke sofa. Ia menutup tirai jendela. Setelah itu, mendekat ke Rara.
"kamu udah makan ?" tanya Rio. Rara memberikan gelengan kepala.
Rio lalu mengalihkan pandangan ke meja dekat ranjang. Disitu masih terlihat nasi dan sayur bening yang masih utuh.
"baik ra, kalau gitu kamu makan dulu ya, mas yang suapin," kata Rio sambil memegang mangkok dan sayur bening. Ia duduk dikursi dekat ranjang.
"nggak usah mas. aku bisaa..." jawab Rara. Ia seketika ingin mengangkat tubuhnya bangun. Namun, nyerinya kembali terasa. Ia pun meringis kesakitan.
"sudah, sudah, kamu tenang aja. Kamu nggak boleh banyak gerak dulu," ucap Rio. Ia mencoba menghentikan usaha adik iparnya yang ingin bangun. Ia menyadari kalau Rara mengalami kecelakaan yang parah dan banyak luka yang diakibatkan kecelakaan tersebut.
Akhirnya Rara pun pasrah. Ia lalu dibantu kakak iparnya untuk sedikit bangun. Agar posisinya saat makan terasa nyaman.
"makan ya, ra," ucap Rio. Perlahan ia menyendok sedikit makanan dan mengarahkan ke mulut Rara.
Rasanya hambar saat masuk ke mulut. Rara tetap mencoba untuk menelannya. Sedikit demi sedikit ia mulai terbiasa dengan rasanya.
Rara menatap kakak iparnya. Didalam hatinya ada perasaan tidak enak pada kakaknya. Ia sebenarnya tidak mau di suapin Rio. Tapi mau tidak mau ia harus sadar pada kondisinya saat ini.
"ra, mas boleh tanya," ucap Rio sambil terus menyuapi adik iparnya pelan-pelan.
"tanya apa mas," jawab Rara.
"kamu malam itu, kenapa ? Apa kamu masih ingat apa yang terjadi ?" tanya Rio.
Sesaat rekaman kejadian beberapa malam kemarin, terputar di ingatannya. Rara berjalan tergesa-gesa dan melaju cukup kencang, hingga terjadi kecelakaan yang tak bisa ia hindari. Ia pun terdiam belum mampu untuk menjawabnya.
"ra, masih ingatkan perkataanku beberapa hari yang lalu ? Masalah itu jangan kamu pendam sendiri. Cerita aja, mas akan carikan solusinya," ucap Rio.
"mas masih ingat masalahku yang pernah aku ceritakan di rumah ?" kata Rara. Ia mulai mau bercerita.
"masih," jawab singkat Rio sambil terus menyuapi Rara.
"malam itu aku coba lari dari orang itu. Dia mengejarku dan tak membiarkan aku lolos. Yah...karena panik. Jadilah kecelakaan itu," jelas Rara.
"mas jadi ingat, kamu pernah cerita punya masalah dengan orang yang bernama Bramantyo, apa itu orang yang sama ?" tanya Rio.
Rara langsung bingung menjawabnya. Ia tidak bisa menceritakan semuanya saat ini. Ia mencari jawaban lain yang bisa menghentikan kakak iparnya bertanya lebih dalam.
"sama," jawab singkat Rara tersenyum tipis.
"maaf ya ra. Mas cuma ingin tahu. Selama ini yang mas tahu dari kakakmu, kamu kerja sebagai pelayan restoran di Aura Luxe yang terkenal mewah. Tapi beberapa kali mas lewat depan Velvet & Gold seakan melihat kamu masuk kedalam dan malam itu saat ketemu kamu ditaman yang dekat kelab malam itu, meyakinkan mas, kalau kamu bukan bekerja sebagai pelayan restoran. Benar kan ra ?" jelas Rio. Kini tinggal satu suapan dan makanan habis.
Rara seketika memalingkan wajahnya. Inilah perkataan yang ditakutkan olehnya. Ia tidak menyangka kalau sejak awal kakak iparnya sudah curiga. Ia pun terpikir untuk jujur saja.
Karena ia menolak untuk suapan terakhir, kakak iparnya pun meletakkan kembali sendok dan mangkok ke atas meja.
"iya mas. Aku memang kerja disana," jawab Rara sambil mengela napas dan kembali menatap Rio.
"mas nggak mau bertanya lebih dalam lagi. Saran mas kamu berhenti kerja disana. Banyak resiko yang harus kamu hadapi, walaupun memang uang disana lebih banyak. Tapi keputusannya ada di kamu, mas hanya bisa kasih saran aja," jawab Rio. Kini ia mengambil segelas air dan perlahan mendekatkan ke mulut adik iparnya. Rara pun meminumnya walau hanya sedikit dan cukup melegakan tenggorokan.
"tolong ya mas, jangan kasih tahu kakak. Aku nggak mau kakak kecewa. Tolong ya mas jaga rahasia ini," mohon Rara dengan memelas.
"mas sementara waktu belum membicarakan semuanya ke Nadia, tapi kamu harus janji untuk cerita semuanya kepadanya jangan ada yang kamu tutupi," ujar Rio tegas.
"baik mas, aku akan tunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya," jawab Nadia.
Obrolan mereka selesai. Rio kembali duduk di sofa sementara Rara mengistirahatkan tubuhnya.