Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Awal Rencana
Kinara baru saja selesai merapikan semua barang-barang miliknya di rumah itu saat tiba-tiba ia teringat ucapan kakak keduanya.
“Siapa teman sekamarku? Kenapa Kak Saga tidak memberitahuku? Aku jadi penasaran,” monolognya lalu duduk bersantai di sofa.
Tak lama kemudian, pintu rumahnya terdengar diketuk berulang. Dengan cepat, Kinara langsung membuka pintunya. Saat melihat dua orang pria berdiri di depannya, Kinara seketika membeku di tempatnya berdiri.
“Kakak? Ka-kalian … bagaimana kalian bisa tahu aku di sini?” gagapnya terkejut.
Dua orang pria di depannya menatap Kinara lekat, dari atas hingga bawah. Lalu keduanya saling menoleh.
“Dia lebih kurus, ya, Kal?” tanya pria yang lebih tua, setengah berbisik.
Pria di sampingnya turut mengangguk dan membenarkan. “Ternyata Sagara tidak berbohong. Aku yakin dia tidak diberi makan dengan benar,” timpalnya pelan lalu menatap Kinara lagi. “Aku hampir tidak mengenalinya, Kak.”
Galendra lalu berjalan masuk ke dalam meskipun Kinara belum mempersilahkannya untuk masuk. Kalandra menyusul di belakangnya, tersenyum lebar pada Kinara dan memberinya satu box kue yang dibelinya saat di perjalanan.
Kinara masih berdiri di ambang pintu sambil menatap dua kakaknya yang kini sudah berada di dalam rumah. Ia bahkan belum sempat mencerna bagaimana Galendra dan Kalandra bisa mengetahui keberadaannya.
"Kalian benar-benar datang?" tanyanya pelan.
Galendra menoleh dengan wajah datar. "Memangnya kami harus meminta izin untuk mengunjungi adik sendiri?"
"Bukan begitu maksudku." Kinara buru-buru menutup pintu. "Aku hanya heran. Kak Sagara tidak bilang apa-apa."
"Kami memang sengaja tidak memberitahumu," jawab Kalandra ringan. “Anggap saja ini sebagai kejutan. Kenapa? Kau tidak senang melihat kami?”
"Tidak, aku senang. Aku hanya tidak mengira kalian berdua akan datang tiba-tiba seperti ini." Kinara tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat melihat kedua kakak tertuanya datang menemuinya setelah 5 tahun, dan setelah apa yang terjadi.”
"Jika kami memberitahu lebih dulu, kau pasti mencari alasan untuk menghindar." Galendra, kakak pertamanya menjawab dengan lugas.
Kinara terdiam. Ia tidak bisa membantah.
Galendra kemudian berjalan mengitari ruang tamu. Tatapannya menyapu ruangan sederhana yang kini ditempati Kinara. Beberapa kardus masih tersusun di sudut ruangan, sementara pakaian dan barang-barang pribadi Kinara sudah tertata dalam beberapa tas.
"Bagaimana kabar kalian?” tanya Kinara pelan. Meskipun ia bisa melihat sendiri kondisi kedua kakaknya yang sangat bugar, tetapi ia tetap saja ingin menanyakannya.
Galen menatapnya sekilas lalu memalingkan wajah dengan cepat. “Menurutmu bagaimana? Tidak ada yang baik-baik saja setelah kau menikahi pria itu,” jawabnya sarkas.
Kala yang mendengarnya langsung mendekati Kinara. “Kami baik-baik saja, Ra. Jangan terlalu diambil hati ucapan Kak Galen,” bisiknya. “Semenjak kau pergi, Kak Galen jadi sedikit emosional.”
Kinara mengangguk dengan rasa bersalah, kepergiannya pasti sudah membawa banyak perubahan bagi keluarganya, terutama kakak-kakaknya. Ia lalu bangkit berdiri dan mendekati kakak pertamanya itu.
“Kakak,” panggil Kinara pelan.
“Hm.” Galen masih enggan menatapnya. Kekecewaannya yang menumpuk selama 5 tahun terlalu sulit membuatnya menoleh, atau lebih tepatnya, ia belum sanggup menatap wajah Kinara yang menurutnya lebih tirus.
Saat mendengar cerita dari Sagara, Galendra tak bisa menahan amarahnya terhadap Rashid. Apalagi saat ia tahu pria itu mengkhianati adiknya dan membuangnya layaknya barang yang tak berguna. Rasanya, Galen ingin mencekik Rashid detik itu juga.
“Maafkan aku,” lirih Kinara dengan kepala tertunduk merasa bersalah. “Aku tahu Kak Galen pasti sangat kecewa terhadapku, aku benar-benar menyesal karena tidak mendengarkan nasihatmu waktu itu.”
Galendra akhirnya luluh, perlahan ia menoleh dan meraih tangan Kinara agar duduk di sampingnya. Lalu, tanpa aba-aba, Galen memeluknya.
“Kau pasti sangat menderita selama 5 tahun ini,” ujarnya seraya mengusap rambut Kinara. “Aku janji, setelah ini, aku tidak akan membiarkan Rashid hidup tenang!”
Kala pun turut mendekat, ikut memeluk Kinara dari samping. “Selama kakak-kakakmu masih hidup, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Ra. Kami pasti akan selalu menjagamu. Dan yang terpenting sekarang, kita akhirnya berkumpul lagi.”
“Satu hal lagi, jangan sekalipun kau mengingat masa lalu dan merasa bersalah. Yang berlaku biarkan seperti itu, sekarang waktunya kau menatap masa depanmu,” tambah Galen lagi.
Kinara mengangguk setuju. “Iya, Kak. Terima kasih.”
Cukup lama mereka saling mengurai rindu sampai akhirnya Sagara datang bersama dengan Shena.
“Sepertinya kita ketinggalan sesuatu, Kak,” bisiknya pada Sagara yang berdiri mematung di sampingnya.
Sagara mengangguk, sedikit iri namun juga bahagia melihat adiknya bertemu kembali dengan kedua kakak tertuanya.
“Hei, hei, hei. Setidaknya ajak aku jika ingin reuni, aku juga ingin ikut!” seru Shena berlari lebih dulu ke arah Kinara.
“Jadi, karena semuanya sudah berkumpul di sini. Mari kita bahas rencananya,” singgung Sagara, duduk di antara Galen dan Kala.