*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*
Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.
Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.
Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.
Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...
Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Sangkar Gravitasi
Tubuh berjubah putih melesat turun seperti bintang jatuh yang membawa kehancuran. Lin Xuan sama sekali tidak memperlambat gerakannya. Ia justru membiarkan tubuhnya ditarik oleh daya dahsyat dari formasi yang berdenyut di bawah.
Alun-Alun Luar Taichu telah berubah menjadi lautan darah. Puluhan ribu prajurit dikorbankan demi mengaktifkan Formasi Sepuluh Ribu Dewa.
Pilar-pilar cahaya merah menjulang dari tanah hingga menutupi langit, sementara di tengah formasi berputar pusaran daya tarik yang begitu mengerikan hingga udara memadat dan cahaya pun seolah terseret menuju bumi.
Booom!
Lin Xuan menghantam tepat pusat formasi.
Benturannya mengguncang seluruh alun-alun. Debu merah menyapu segala arah, tetapi sebelum sempat terangkat tinggi, tekanan dahsyat langsung menghantamnya kembali ke tanah.
Satu juta kali lipat dari daya tarik biasa.
Tekanan sebesar itu bahkan mampu meremukkan tulang seorang Kaisar Hukum Suci dalam sekejap. Lantai yang dilindungi rune kuno retak dan ambles puluhan meter hingga membentuk kawah raksasa.
Namun Lin Xuan tetap berdiri di tengahnya.
Lututnya tidak bergeser sedikit pun. Jubah putihnya bahkan tidak berkibar.
Tubuhnya telah mencapai Tungku Daging Kesengsaraan Tingkat 11. Bagi tubuh yang telah ditempa hingga tingkat tersebut, tekanan yang mampu menghancurkan seorang Kaisar Hukum Suci tak lebih dari hembusan angin musim gugur yang mencoba menggoyangkan gunung.
Di aula pengawasan Kota Dalam, para tetua menatap pemandangan itu dengan wajah pucat.
"Mustahil! Dia menahan tekanan formasi hanya dengan tubuhnya. Bahkan tanpa mengerahkan Qi!"
Tetua Keempat mengepalkan tangan dengan wajah tak percaya.
"Jangan panik!"
Tetua Kelima segera menyalurkan kekuatannya ke inti formasi.
"Dia memang mampu menahan tekanan, tetapi dia masih berada di pusat formasi. Aktifkan tahap kedua!"
Para tetua lainnya segera mengikuti. Sisa esensi darah dari puluhan ribu prajurit yang telah dikorbankan mengalir menuju inti formasi, membuat cahaya merah di seluruh alun-alun berdenyut semakin ganas.
"Bangkitkan Rantai Kutukan Darah dan kuras tenaga hidupnya!"
Gemuruh mengguncang tanah.
Dari retakan alun-alun, ratusan rantai merah menjulur keluar. Rantai-rantai itu bukan terbuat dari besi, melainkan darah kental yang dipenuhi kebencian dan jeritan jiwa para korban.
Dalam sekejap, semuanya melesat dan membelit kaki, pinggang, lengan, hingga leher Lin Xuan. Lilitan darah terus mengencang, menutupi tubuhnya seperti ular-ular buas yang hendak mencabik mangsanya.
Taring-taring tumbuh di sepanjang rantai dan berusaha menembus tubuh Lin Xuan untuk mengisap kekuatan kehidupan dari Tungku Daging.
Namun saat menyentuh kulitnya, taring-taring itu langsung patah.
Hun Yuan mendengus dari dalam bayangannya.
"Lelucon. Mereka mencoba mengisap tenaga dari tubuh yang bahkan hukum langit pun sulit menekannya."
Lin Xuan menunduk memandangi rantai yang membelenggunya. Ia sama sekali tidak melawan, bahkan tidak berusaha memutuskannya. Sebaliknya, senyum tipis perlahan muncul di wajahnya.
"Kalian ingin menarikku ke bawah dengan daya tarik?" Ia mengangkat kepala dan menatap ke arah Kota Dalam. "Kalau begitu, untuk apa aku harus melawan?"
Cahaya perak perlahan berkumpul di bawah kedua kakinya. Hukum Tolak mulai mengembun pada satu titik. Seluruh daya tolak yang biasanya menyelimuti tubuhnya dipusatkan ke bawah hingga membentuk satu kekuatan yang jauh lebih dahsyat.
Tidak ada ledakan yang menyebar ke segala arah.
Seluruh kekuatannya hanya diarahkan menuju bumi.
"Kalau kalian ingin menarikku ke bawah..."
Suara Lin Xuan berubah dingin.
"...maka aku akan mendorong bumi menjauh dariku."
Boom!
Cahaya perak menembus kedua kakinya dan menghantam inti bumi jauh di bawah formasi.
Dalam sekejap, dua hukum yang berlawanan bertabrakan.
Formasi Sepuluh Ribu Dewa menggunakan daya tarik untuk menekan segala sesuatu menuju bumi. Lin Xuan justru menanamkan Hukum Tolak langsung ke pusat daya tersebut dan memaksa bumi menolak tarikan yang menekannya.
Tarikan dan tolakan bertemu.
Keseimbangan itu runtuh.
Kraak!
Retakan raksasa menjalar ke seluruh tanah.
Boom!
Fondasi Kota Luar meledak. Lempengan bumi kuno terbelah dan terangkat, sementara daya tarik yang sebelumnya menekan Lin Xuan berbalik menghantam sumbernya sendiri.
Rantai Kutukan Darah langsung hancur menjadi debu.
Pilar-pilar merah yang membentuk sangkar retak satu demi satu sebelum meledak menjadi badai energi.
Namun kehancuran terbesar justru terjadi di Kota Dalam.
Serangan balik mengalir melalui hubungan antara inti formasi dan para tetua yang mengendalikannya. Di aula pengawasan, wajah mereka seketika berubah pucat.
"T-Tidak..."
Boom... Boom...
Lebih dari dua belas tetua memuntahkan darah. Zirah mereka retak dari dalam, sementara beberapa di antaranya langsung roboh karena Lautan Roh dan meridian mereka tak mampu menahan serangan balik.
Jeritan memenuhi aula.
Formasi yang selama ini dianggap mampu menyegel naga kuno telah dihancurkan dalam waktu kurang dari sekejap.
Dan Lin Xuan bahkan tidak perlu mengayunkan tinjunya.
Debu perlahan tersapu angin.
Di tengah kawah raksasa yang memenuhi separuh alun-alun, Lin Xuan berdiri dengan tenang. Jubah putihnya tetap bersih tanpa noda, seolah kehancuran yang baru saja terjadi sama sekali tidak berkaitan dengannya.
Ia mengangkat kepala dan menatap gerbang Kota Dalam.
Benteng terakhir Faksi Pendukung kini telah kehilangan seluruh perlindungannya. Gerbang emas setinggi ratusan tombak berdiri tanpa penghalang di hadapannya.
Lin Xuan menarik napas pelan. Ketika suaranya terdengar, gema dinginnya menembus tembok Kota Dalam.
"Mainan kalian sudah hancur."
Ia mulai berjalan menaiki sisi kawah. Langkahnya tetap tenang, tetapi justru ketenangan itu membuat para tetua yang masih hidup semakin ketakutan.
"Berhenti bersembunyi di balik cangkang busuk kalian."
Tatapan Lin Xuan menembus gerbang emas seolah tembok raksasa itu tidak ada.
"Keluar dan hadapi aku."
Ia berhenti sejenak. Aura dingin perlahan menyebar dari tubuhnya.
"Atau aku akan merobohkan tembok ini dan menyeret kalian keluar dari singgasana kalian."