Pout for Me, Little Mouse.
Fraülein Keylana Reinhardt, Putri Raja perbankan Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.
Setelah bertunangan, mereka tinggal bersama di Berlin, Tidak ada satu hari pun tanpa pertikaian. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal.
Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan satu Perasaan yang dianggap tidak penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xyBubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rubanah (Bagian 3)
"Keylana?" Dia melangkah mendekat dengan wajah tercengang. "Bukankah kamu Keylana?"
Pengumuman itu membuat Bianca, Mistress Julian yang duduk di sofa tersedak minumannya dengan temannya yang segera menepuk punggungnya.
Kedua pria itu menoleh bersamaan, Lana terbelalak melihatnya. Situasi ini semakin kacau sejak wajah lana tereskpos dan kini seseorang mengenali dan mengumumkannya pada seluruh ruangan.
Wajah-wajah manusia yang menoleh pada Lana tampak tercengang, terperangah karena mendapati identitas wanita yang selama ini mereka anggap misterius. Wajahnya, ciri-cirinya, penampilannya.
Semuanya tidak terduga. Gadis ini; Cantik, lucu, tampak trendi, tidak seperti yang mereka bayangkan. Gadis dengan penampilan nyonya besar yang kaku dan konservatif sebagai Reinhardt dengan wajah yang menghakimi perilaku mereka semua, ini.... Justru tidak seperti yang mereka pikirkan.
Valeri berjalan mendekat ke arah mereka bertiga sambil menyilangkan tangan dengan angkuh seolah semua ruang disana adalah miliknya, matanya memicing.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Liam melirik Lana sambil menyeringai sementara Lana memindai sekitar dengan waspada tapi tenang. Mereka semua adalah lingkaran yang seharusnya adalah musuh atau saingan, yang sekarang bergabung dengan bebas seperti yang diberitakan Roy.
Karin yang daritadi masih menahan kesal membentak sambil menyilangkan tangan.
"Dia disini karena Roy membawanya!"
Lana melirik tajam Roy penuh kekesalan, memang benar dia yang membawanya dan sekarang semua ini mejadi rumit sejak mereka melewati pintu. Bisik-bisik mulai terdengar sementara di pojok, ada lingkaran pertemanan Julian seperti Jean dan Enrico.
"Apakah itu Keylana? dari keluarga Reinhardt?"
"Dia terlihat sangat.... berbeda."
"Rambutnya sangat indah..."
"Reinhardt? Bukankah dia yang bertunangan dengan Julian."
"Keluarganya pasti akan sangat marah jika tahu dia ada di sini."
"Keylana, Ya? Nama cantik untuk gadis cantik." Liam mendekat lagi dengan seringai arogan. "Kau terlihat seperti anak domba kecil yang tersesat di sarang serigala,"
Dia mendekat untuk berbisik di dekat telinga gadis itu. "Dan mungkin, akulah serigala yang harus kamu khawatirkan."
Roy segera berdiri di depan Lana dengan defensif, Valeri sepenuhnya diabaikan untuk melanjutkan Konfrontasi.
"Dia tidak tertarik dengan permainanmu, Leon. Dia bertunangan dengan seseorang yang bisa menghancurkan seluruh karirmu hanya dengan satu panggilan telepon."
Penyebutan Julian sepertinya membuat Liam berkilat kesal, senyum sinisnya sedikit memudar sejenak sebelum memikirkan potensi diobrak-abrik oleh anjing gila itu.
"Julian? Dia hanya seorang pengusaha, bukan seorang raja." Katanya dengan keberanian yang dipaksakan tapi penuh perhitungan.
Dia memegang pundak Roy dan menyingkirkan tubuhnya yang lebih ringan tanpa menatapnya agar tidak menghalanginya dari Lana.
"Selain itu, Sayangku Keylana," katanya dengan nada dan senyum menggoda, mendekat hingga hampir bersentuhan hidung.
"Tunanganmu pasti tidak keberatan kau berada di sini, bersama kami. Mungkin, dia senang mengetahui bahwa kamu sedang dihibur oleh pria lain."
"Tidak, terimakasih!" Lana mendorong pria itu sambil memalingkan wajahnya yang mengernyit.
Roy tampak pucat karena amarah yang hampir tak tertahankan saat melihat tangan pria lain menyentuh Lana—meskipun itu hanya karena Lana mendorongnya, Padahal Roy sendiri bahkan bukan siapapun dari Lana.
"Selesai, Pergi dari sini, Liam. Sekarang juga." Katanya sambil kembali menghadang Liam sambil memegang pundak pria itu.
"Apa masalahmu, Roy!" Liam geram lalu kembali ke nada menggoda menatap Lana.
"Dia adalah milik Julian, tetapi.... karena Julian tidak ada di sini untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya... Sepertinya itu membuka peluang untuk... Opsi lain."
"Tidak begitu Cepat, Liam."
Hampir semuanya menoleh mendengar suara bariton yang berat itu, Suara Julian. Pria itu berdiri dengan setelan hitam dan mantel, kedua tangan di dalam saku celananya. Wajahnya muram tapi masih terkendali.