"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.
Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."
Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.
Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.
Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak Dalam Gelora Malam
Tangan kecil Aura yang gemetar terangkat spontan, meremas kuat kemeja Arsen di bagian dada, seolah mencari pegangan agar tidak tenggelam dalam pusaran rasa sakitnya sendiri. "Kamu pengkhianat... Sean... kamu pengkhianat..."
Mendengar nama keponakannya diucapkan dengan nada sepenuh penyesalan itu, rahang Arsen mengeras seketika. Mata tajamnya menatap lurus ke depan dengan kilatan dingin. Teka-teki tentang mengapa Aura ditemukan menyendiri, mabuk, dan menangis putus asa di kafe tadi malam kini terjawab sudah. Keponakannya tidak hanya melalaikan tanggung jawab di ruang rapat perusahaan, tetapi juga telah melakukan kebodohan fatal dengan menyakiti wanita yang tulus mencintainya.
"Tolong... jangan tinggalkan aku..." bisik Aura lagi, suaranya makin melemah hingga kembali menjadi isakan halus yang memilukan.
Arsen menghela nafas panjang. Jemari tangannya yang besar dan hangat tergerak perlahan menyapu helai rambut halus yang menutupi wajah Aura, mengusap sisa air mata di pipi mulus gadis itu dengan kelembutan yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.
"Kau aman sekarang," bisik Arsen dengan nada berat dan tenang, seakan berjanji pada malam bahwa tak akan ada lagi pengkhianatan yang bisa menyentuh gadis di pelukannya itu.
Sedan mewah hitam itu akhirnya berhenti tepat di depan pelataran mansion megah berarsitektur modern milik Arsen. Penerangan temaram dari lampu-lampu taman menyinari pilar-pilar kokoh yang berdiri mengapit pintu masuk utama. Tanpa membuang waktu, Arsen keluar dari mobil dan kembali menggendong tubuh mungil Aura yang tampak makin lemas di bawah naungan malam.
Dengan langkah mantap, Arsen membawa Aura melintasi koridor mansion yang sepi dan tenang menuju salah satu kamar tamu paling nyaman di lantai atas. Suasana kamar yang luas itu terasa begitu hangat dengan nuansa warna krem dan lampu tidur berdinding kayu. Arsen membaringkan tubuh Aura dengan sangat perlahan di atas ranjang berukuran king-size yang empuk, memastikan kepala gadis itu tertata nyaman di atas bantal busa lembut.
Arsen menghela nafas pelan, menatap sejenak paras cantik yang masih menyisakan jejak kesedihan itu sebelum membetulkan selimut hingga menutupi dada Aura. Merasa tugasnya telah selesai, sang CEO membalikkan badan dan bersiap melangkah keluar kamar untuk membiarkan gadis itu beristirahat sepenuhnya.
Namun, sebelum kaki Arsen sempat bergerak melepaskan diri dari tepi ranjang, jemari mungil Aura yang gemetar tiba-tiba terangkat dan menggenggam erat pergelangan tangan Arsen. Cengkeraman itu begitu mendadak dan di luar dugaan. Tubuh Arsen yang belum siap menahan beban mendadak kehilangan keseimbangan.
Brak!
Dengan refleks yang tertahan, Arsen terjatuh tepat di atas tubuh Aura. Kedua tangannya dengan cepat menumpu di sisi kiri dan kanan kepala gadis itu, menahan beban badannya agar tidak menghimpit Aura sepenuhnya. Jarak di antara wajah mereka terhapus seketika; nafas hangat Arsen yang terengah berembus tepat di atas kulit wajah Aura yang memerah.
Di balik kesadarannya yang terganggu oleh pengaruh alkohol, benak Aura mendadak melintas bayangan pahit di sudut kafe tadi. Bayangan bagaimana Sean, pria yang selama ini sangat ia percayai, memeluk dan mencium Lyona dengan penuh gairah di belakangnya. Bayangan kata-kata dingin Sean yang menyebutnya "posesif" menusuk dadanya kembali dengan rasa sakit yang tak tertahankan.
Rasa kecewa, marah, dan keputusasaan bercampur menjadi satu gejolak hebat yang menuntut pelampiasan. Aura mendongak perlahan, menatap manik mata tajam milik pria tampan yang kini berada tepat di atasnya.
"Maafkan aku, Tuan..." bisik Aura parau, hampir tak terdengar.
Sebelum Arsen sempat memproses kalimat itu atau menarik diri, Aura memberanikan diri mendorong dadanya ke atas dan mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Arsen.
Arsen menyetrum seketika. Sensasi kehangatan dan kelembutan dari bibir Aura mengejutkan pertahanan dirinya yang selama ini terkenal dingin dan penuh kendali. Keheningan kamar yang pekat mendadak berubah menjadi panas. Tatapan mata Arsen yang tajam menggelap oleh desakan dorongan alami yang terbangun secara spontan.
Melihat rasa sakit dan keputusasaan yang dipancarkan oleh Aura, Arsen tak lagi mampu menahan dirinya. Ia perlahan membalas ciuman gadis itu, mengubah sapuan lembut menjadi pagutan yang dalam, hangat, dan menuntut.
Malam yang dingin itu pun perlahan melarutkan segalanya, menyatukan dua jiwa yang terikat dalam kepedihan dan gairah, menjadi awal dari malam panjang yang tak terbayangkan antara Aura dan paman dari mantan kekasihnya sendiri.