Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 petunjuk masa lalu
Jejak Naga Matahari & Keputusan Baru"Kenapa, Mas?" tanya Alya terheran-heran melihat reaksi Adam yang mendadak melompat bangun.
"Bagaimana kalau Sonia marah, Alya?" Adam mengusap wajahnya gelisah.
"Dia harus belajar dewasa, Mas. Kita kan bisa meminjamkannya sesekali," jawab Alya santai.
"Tapi dia ke kampus setiap hari... Nanti kalau dia mogok kuliah bagaimana?"
Alya menghela napas panjang, menatap Adam dengan raut serius. "Kalau sikap kamu seperti ini terus, kamu justru akan menghancurkan Sonia, Mas. Kamu itu lelaki tangguh. Lihat aku dong, aku mampu bertahan sampai mendapat gelar magister di luar negeri tanpa bantuan keluarga sama sekali."
(Alya membanggakan diri tanpa bantuan keluarga, padahal selama di Jepang ia menguras habis uang tabungan Adam).
"Dia palingan cuma marah sehari dua hari. Lagipula mobil itu baru minggu depan kita pakai, jadi Sonia masih bisa menggunakannya dulu untuk sementara," tambah Alya menenangkan.
Adam mengangguk-angguk pelan. "Benar juga... Ya sudah kalau begitu."
Adam kembali merebahkan diri dan memejamkan mata. Alya memperhatikan wajah suaminya yang lelah di sampingnya.
'Perlahan-lahan aku harus mengubah Mas Adam. Dia tidak bisa terus-terusan jadi mesin ATM untuk keluarganya,' batin Alya bertekad kuat. (Tentu saja, maksud Alya adalah agar Adam berhenti jadi mesin ATM keluarganya sendiri, lalu beralih menjadi mesin ATM pribadi untuk Alya dan keluarganya).
Sementara itu, sebuah mobil Pajero Sport hitam pekat berhenti di depan bangunan sederhana yang asri. Amira telah sampai di Panti Asuhan Kasih Ibu.
Panti ini adalah rumah tempat Amira dan Rika dibesarkan sejak kecil. Rika sendiri sebenarnya sudah berhasil menemukan keluarga kandungnya. Namun, Rika belum sepenuhnya bisa menerima mereka. Satu-satunya hal yang ia terima hanyalah hadiah mobil Pajero Sport dari keluarga aslinya tersebut.
Ibu Lasmi, wanita paruh baya berwajah teduh, menyambut kedatangan anak-anak kesayangannya dengan senyum penuh kehangatan.
"Aduh, Amira... Masih ingat jalan pulang?" goda Ibu Lasmi seraya memeluk Amira erat-erat. Ia lalu menoleh ke arah Rika. "Rika, kamu makin cantik saja... Ibumu menelepon Ibu terus, loh!"
"Biarkan saja, Bu... Hanya Ibu Lasmi ibuku, titik!" sahut Rika tegas.
"Ya, ya... Ayo masuk dulu," ucap Ibu Lasmi menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
Rumah panti berukuran cukup luas itu memiliki banyak kamar. Ibu Lasmi adalah seorang pensiunan guru, sedangkan almarhum suaminya, Pak Handoko, adalah seorang pensiunan TNI. Menggunakan uang pensiunan gabungan, mereka berdua mendedikasikan hidup untuk membesarkan anak-anak terlantar karena mereka sendiri tidak dikaruniai anak.
Bagi Amira dan Rika, Pak Handoko dan Ibu Lasmi adalah cerminan pasangan sejati. Mereka berpisah hanya karena maut yang memisahkan. Saling menerima kekurangan dan tak pernah mempermasalahkan kehadiran anak kandung.
"Kalau kita tidak punya anak kandung, kita bisa mengasuh banyak anak orang lain," itulah kalimat bijak yang selalu diucapkan mendiang Pak Handoko semasa hidupnya.
Kamar-kamar panti diisi oleh puluhan anak dari berbagai tingkatan usia, mulai dari 5 hingga 16 tahun. Panti asuhan ini tidak pernah mengandalkan sumbangan pemerintah atau belas kasihan orang lain. Operasional panti murni ditopang oleh dana pensiun Ibu Lasmi serta sumbangan para alumni panti yang telah sukses dan ingin berbakti—seperti Amira dan Rika.
Didikan Pak Handoko yang disiplin ala militer serta kecerdasan Ibu Lasmi menjadi perpaduan sempurna yang melahirkan anak-anak panti bermental tangguh dan cerdas.
"Amira, malam-malam begini main ke panti... Apa kamu sudah izin sama suamimu?" tanya Ibu Lasmi seraya menyajikan cangkir teh hangat.
"Aku sudah cerai, Bu," jawab Amira tenang.
"Apa?! Cerai?!" Ibu Lasmi terperanjat kaget.
Amira pun menceritakan seluruh rentetan kejadian yang menimpanya—mulai dari pengkhianatan Adam hingga keputusannya membakar seluruh kenangan di halaman rumah mertuanya.
Ibu Lasmi menghela napas panjang. "Sebenarnya... Ibu sudah memprediksi hal ini."
"Iya, Bu... Dulu Ibu sudah mengingatkanku berkali-kali. Akunya saja yang bebal dan tetap nekat mau menikah dengan Mas Adam," sesal Amira tipis.
"Sebenarnya Adam itu anak baik, Amira," ucap Ibu Lasmi bijaksana. "Andai saja dulu dia tidak langsung pergi ke Jepang, mungkin kamu masih bisa membimbingnya. Yang benar-benar racun di rumah itu adalah keluarganya. Mereka itu gampang sekali merendahkan orang lain, padahal mereka sendiri tidak punya kemampuan apa-apa."
"Iya, Bu," sahut Amira menyetujui.
"Lalu, apa rencanamu selanjutnya, Amira? Apa kamu mau mencari suami baru?"
"Sepertinya aku tidak berminat untuk membangun rumah tangga lagi, Bu."
"Huss! Jangan bicara seperti itu... Tidak semua laki-laki di dunia ini jahat, Amira," nasihat Ibu Lasmi lembut.
Amira menghela napas pelan. Dua tahun belakangan ini terasa seperti tahun-tahun terburuk dalam hidupnya. Tidak ada pencapaian berarti. Padahal, Amira selalu rutin membuat resolusi di awal tahun dan evaluasi di akhir tahun. Namun selama dua tahun menikah dengan Adam, semua kebiasaan produktif itu terhenti total.
"Sekarang... aku ingin mencari siapa orang tua kandungku, Bu," tegas Amira.
Ibu Lasmi terkejut. Biasanya, Amira akan merajuk atau marah jika topik tentang asal usulnya diungkit. Tapi kali ini, Amira sendiri yang memintanya. "Kamu serius, Amira?"
"Iya, Bu. Aku akan terima apa pun kondisiku nanti. Entah aku dibuang karena orang tuaku tidak mampu, atau karena aku dianggap produk aib... Aku akan terima semuanya."
"Jangan berpikiran buruk seperti itu, Amira," potong Ibu Lasmi lembut. "Saat Ibu menemukanmu dulu, kamu dalam kondisi bersih, cantik, dan pakaianmu sangat bagus. Sepertinya kamu bukan dibuang... tapi kamu hilang atau tertinggal."
"Hilang...? Tertinggal...?" gumam Amira merenung. "Kalau aku hilang, kenapa tidak ada yang mencariku?"
"Umur berapa aku ditemukan dulu, Bu?" tanya Amira lagi.
"Sekitar 4 atau 5 tahun, Amira."
"Apa waktu itu Ibu sudah melapor ke kantor polisi mengenai kehilanganku?"
"Sudah. Tapi sampai bertahun-tahun berlalu, tidak pernah ada satu pun pihak keluarga yang datang mencari," jelas Ibu Lasmi.
"Apakah tidak ada kartu identitas atau petunjuk nama pada pakaianku, Bu?"
"Tidak ada."
"Apakah waktu itu aku belum bisa bicara?"
"Sudah bisa bicara. Tapi kamu tidak bisa bahasa Indonesia sama sekali. Bahasanya sangat asing... Tapi kata seorang petugas polisi yang memeriksa waktu itu, kamu bergumam memakai bahasa Jepang."
Amira mengerutkan kening. "Jadi... kemungkinan Amira ini orang Jepang, Bu?"
"Sepertinya begitu."
"Pantas saja mukamu mirip Satomi Ishihara!" celetuk Rika tiba-tiba sambil tertawa terkekeh.
"Apaan sih kamu, Rika... Tidak jelas," celetuk Amira menepuk bahu sahabatnya itu.
"Apakah benar-benar tidak ada petunjuk lain mengenai latar belakangku, Bu?" tanya Amira kembali serius.
"Tidak ada... Bahkan almarhum suami Ibu dulu sampai nekat mendatangi Kedutaan Besar Jepang. Tapi pihak sana malah mengusir suami Ibu dengan dingin. Padahal orang Jepang terkenal sangat ramah, kan?" kenang Ibu Lasmi mengingatkan betapa jengkelnya Pak Handoko kala itu.
Rika melipat tangannya di dada. "Sepertinya keluarga kamu bukan keluarga sembarangan, Amira..."
"Kalau bukan keluarga sembarangan dan sampai diusir diplomat... Kemungkinan keluargaku penjahat kelas atas, seperti mafia," tebak Amira setengah bercanda namun matanya tajam.
"Wih! Ngeri banget dong kalau begitu!" celetuk Rika heboh.
"Kalian berdua ini kebanyakan membaca novel online!" sahut Ibu Lasmi menepuk dahi.
Ibu Lasmi bangkit berdiri, melangkah ke kamar pribadinya, lalu kembali lagi ke ruang tamu seraya membawa sebuah kotak kayu tua berukiran unik.
"Waktu Ibu menemukanmu, ada kalung ini di lehermu... Ibu menyimpannya baik-baik. Ini mungkin satu-satunya identitas asli milikmu," ucap Ibu Lasmi seraya menyerahkan kotak itu.
Amira membuka kotaknya. Di dalamnya terbaring seutas kalung perak dengan bandul unik berbentuk cincin. Amira mengambilnya dan mengamati dengan saksama di bawah temaram lampu ruang tamu.
"Ini... ada ukiran naga yang melingkari matahari..." gumam Amira pelan.
Mata Amira berkedip menatap ukiran rumit namun gagah pada cincin perak itu. 'Apa aku ini benar-benar anak mafia...?' batin Amira pada dirinya sendiri.