Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usikan dari Masa Lalu
"Tuan, Nyonya, saya mau ke sana dulu ambil sayuran segar," panggil Bik Sum sopan sambil menunjuk ke arah lorong bahan makanan basah.
"Baik, Bi. Kami di sini dulu, biarkan ratu kecilku memilih jajannya," balas Gabriel santai, matanya tak pernah lepas mengawasi gerak-gerik Amara dengan senyum tipis memanjakan.
Bik Sum mengangguk mengerti lalu berjalan meninggalkan mereka berdua. Amara tampak begitu riang, tangannya yang mungil sibuk memilih berbagai jenis makanan ringan yang menurutnya enak dari rak supermarket. Perut buncit empat bulannya yang terbalut jaket rajut hangat sesekali ia elus pelan.
Namun, saat tangan mungil Amara terulur hendak mengambil kotak biskuit favoritnya—
"Lho... Kak Amara?"
Seketika tangan Amara terhenti dan menggantung kaku di udara. Suara melengking nan angkuh itu begitu familier, menghentak memori kelam dalam benaknya.
Sesosok gadis muda berpenampilan glamor dengan pakaian bermerek melangkah mendekat, mengikis jarak dengan tatapan meremehkan yang amat tajam. dialah adik tiri Amara yang baru saja kembali dari luar negeri.
"Wah, lihat... siapa ini?" goda adik tirinya itu dengan tawa sinis yang tertahan, matanya meneliti penampilan Amara dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum tertuju pada perut buncitnya. "Dan... apa ini? Kakak sedang hamil? Siapa ayah dari anak ini? Apa jangan-jangan kakak menjual diri ya agar bisa bebas dari rumah dan hiduplayak seperti ini?"
Amara membeku seketika. Tubuhnya gemetar hebat, mukanya mendadak pucat pasi bagai kehilangan seluruh darah. Ketakutan trauma masa lalu mendadak membayang kembali.
"K-kamu..." cicit Amara bergetar hebat, tangannya yang gemetar refleks ditarik untuk melindungi perut buncitnya.
"Kenapa? Kaget melihatku sudah pulang?" cibir adik tirinya dengan nada merendahkan yang kian menjadi-jadi. "Harusnya kamu itu sadar diri, anak bisu dan tidak berguna seperti kamu mana layak jalan-jalan santai di tempat seperti ini! Papa dan Mama sampai hancur gara-gara kamu, dan sekarang kamu malah enak-enakan hamil anak haram?!"
Cengkeraman dingin dan tajam tiba-tiba mendarat di bahu sang adik tiri.
Aura membunuh yang begitu pekat dan menekan seketika memenuhi udara di lorong supermarket itu. Gabriel melangkah maju, memotong jarak dan langsung menyembunyikan Amara di belakang tubuh tegapnya secara penuh.
"Bicara sekali lagi..." suara bariton Gabriel terdengar begitu dingin, rendah, dan sarat akan ancaman mematikan. "...dan aku pastikan lidahmu tidak akan pernah bisa bersuara lagi mulai detik ini."
Adik tiri Amara meringis sakit saat cengkeraman Gabriel di bahunya kian menguat tanpa ampun. Wajah angkuhnya seketika berubah pucat begitu manik matanya beradu dengan tatapan kelam penuh kebencian milik Presdir berkuasa tersebut.
"Si... siapa kamu?! Lepaskan! Sakit tahu!" jerit sang adik tiri panik, mencoba menghentakkan tubuhnya namun sia-sia di hadapan kekuatan Gabriel.
"Gabriel..." cicit Amara ketakutan, meremas erat bagian belakang baju suaminya sambil terisak pelan.
"Tenang, Sayang. Ada aku di sini," bisik Gabriel penuh kelembutan tanpa mengalihkan pandangan mematikannya dari gadis di hadapannya. Ia berbalik menatap tajam sang adik tiri. "Reno! Bawa wanita tidak berpendidikan ini keluar dari area supermarket sekarang juga. Pastikan dia merasakan akibat dari mulut sampahnya."
"Baik, Tuan Gabriel," sahut Reno yang tiba-tiba muncul dari balik lorong dengan beberapa pengawal bertubuh tegap, langsung mencengkeram kedua lengan adik tiri Amara.
"Lepaskan aku! Kalian tidak tahu siapa aku?! Kak Amara, suruh orang-orangmu lepas—" teriakan penuh kepanikan itu seketika tertahan saat Reno membungkam dan menyeretnya pergi dengan kasar dari area belanja.
Amara langsung memendamkan wajahnya di dada bidang Gabriel, meremas kuat kemeja suaminya seraya meluapkan isak tangis ketakutannya. Tubuhnya yang mungil tergetar hebat, sementara tangan kanannya tak berhenti menopang perut buncit empat bulannya.
Gabriel merengkuh tubuh Amara makin erat, menyusupkan jemari kokohnya ke sela-sela rambut sang istri untuk memberikan rasa aman yang mutlak.
"Sshh... tidak apa-apa, Sayang. Jangan dengarkan wanita sampah itu," bisik Gabriel penuh kelembutan, mendaratkan kecupan bertubi-tubi di puncak kepala Amara. "Aku di sini. Tidak ada satu orang pun yang boleh menyakitimu atau anak kita."
Sementara itu, di area parkir belakang supermarket, Reno dan para pengawal menyeret kasar adik tiri Amara yang terus memberontak histeris.
"Lepaskan aku! Kalian ini siapa, sih?! Kasar sekali pada perempuan!" jerit sang adik tiri dengan napas memburu, menghentakkan tangannya meski cengkeraman anak buah Reno sama sekali tidak goyah.
Reno mendorong gadis itu hingga tersandar di bodi mobil hitam, lalu berdiri di hadapannya dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.
"Sebenarnya siapa pria itu, ha?!" bentak sang adik tiri penuh amarah dan rasa penasaran yang membakar. "Kenapa dia bisa seberani itu melindungi gadis bisu tidak berguna seperti Amara?!"
Reno menyunggingkan senyum sinis yang amat tipis, menatap gadis di hadapannya seperti menatap serangga tak bernilai.
"Gadis bisu yang kamu sebut itu... adalah Nyonya Utama keluarga paling berpengaruh di negara ini," ujar Reno dengan suara rendah namun sarat akan penekanan dingin. "Dan pria yang baru saja kamu usik adalah Tuan Gabriel, suami sah Nyonya Amara sekaligus pemilik tunggal kekayaan yang bahkan tidak akan pernah sanggup dibeli oleh seluruh keluargamu."
Mata sang adik tiri seketika membelalak lebar. Wajahnya yang tadinya merah padam karena amarah mendadak pucat pasi bagai mayat.
"M-maksudmu... pria itu... Presdir Gabriel?!" pekik gadis itu gemetar tak percaya. "T-tidak mungkin! Amara itu cuma anak penderita cacat yang dibuang! Mana mungkin dia menikah dengan pria berkuasa seperti itu?!"
"Tepuk tangan untuk kebodohanmu yang baru saja kembali dari luar negeri tanpa tahu peta kekuatan di kota ini," balas Reno dingin seraya memberikan isyarat pada para pengawalnya. "Ibumu sudah mendekam di penjara, ayahmu menjadi buronan berkeliaran seperti anjing liar, dan sekarang kamu datang menyodorkan diri untuk dihancurkan."
"A-apa?! Mama di penjara?! Papa buronan?!" jerit sang adik tiri panik, seluruh keangkuhannya runtuh seketika digantikan rasa takut yang membuncah. "Kalian bohong! Ini pasti cuma gertakan!"
"Tuan Gabriel sudah memberi perintah," pangkas Reno tanpa memedulikan histeria gadis itu. "Bawa dia ke kantor polisi atas tuduhan pelecehan verbal, ancaman, dan gangguan keamanan terhadap Nyonya Amara yang sedang mengandung. Pastikan tidak ada jaminan apa pun untuknya."
untung nyonya Eleanor cepat sadar yx ,, dn bnr2 berubah kepada Amara ,,