Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delvin Cemburu
“Vivian, walaupun kau akan menjadi karyawan Yang Group, kau juga harus tahu diri. Permintaanmu terlalu berlebihan,” kata Mike.
“Direktur Yang, Vivian masih belum mengerti. Mohon jangan menyimpan perkataannya di hati,” ujar June buru-buru.
Delvin menatap Vivian.
“Bisa jelaskan kenapa kau ingin pindah dari sini?”
“Karena aku membutuhkan tempat tinggal yang bisa membuatku tenang. Sebelum lulus, aku harus belajar lebih giat. Aku juga ingin menjadi karyawan yang hebat untuk Yang Group.”
Vivian terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan terus terang.
“Sedangkan tinggal di sini hanya membuat hidupku penuh tekanan. Aku diremehkan, selalu dianggap bodoh, dan tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarga. Sebutan keluarga hanya berlaku untuk mereka, bukan untukku.”
“Vivian, kenapa kau bicara seperti itu di depan Direktur Yang? Apakah kau sengaja ingin mempermalukan Papa dan Mama?” tanya Vivi dengan sengaja.
“Vivian, kalau tidak mencari masalah kau tidak puas? Kenapa kau selalu saja ingin menentang kami?” bentak Tom.
Vivian menatap Delvin.
“Direktur Yang, lihatlah mereka. Begitu Vivi membuka mulut, mereka langsung kompak menyerangku.”
Ia menarik napas panjang.
“Sampai sekarang, aku masih tidak yakin kalau aku benar-benar darah daging mereka. Jadi, aku membutuhkan tempat untuk menyendiri agar hidupku bisa lebih tenang.”
“Vivian, kau...” Mike mengepalkan tangannya.
“Kalian sudah membenciku selama ini. Jadi, lebih baik aku menjauh dan tidak mengganggu kalian sekeluarga yang sedang berkumpul,” lanjut Vivian.
Tatapannya berubah dingin.
“Orang luar sepertiku mana mungkin layak tinggal bersama kalian? Lagi pula, aku juga tidak mau menjadi korban lagi. Suatu hari nanti, kalau putri kesayangan kalian melakukan kesalahan lagi, aku tidak mau kembali menjadi orang yang harus dikorbankan.”
Ruangan itu mendadak hening.
Kata-kata Vivian membuat wajah Mike, June, Vivi dan Tom berubah.
“Tuan Wei, kalian memiliki tiga anak. Tapi mengapa aku justru merasa anak yang paling cerdas malah kalian abaikan?” ujar Delvin. “Bukankah sangat disayangkan? Saat orang tua berharap anaknya tumbuh menjadi seseorang yang pintar dan bisa diandalkan, kalian justru menyia-nyiakannya.”
“Direktur Yang, ini hanya salah paham. Tidak seperti yang dikatakan Vivian,” bantah Mike. “Sejak kecil, aku dan istriku selalu berusaha mendidiknya dengan baik hingga dia menjadi juara. Mana mungkin kami mengabaikannya?”
“Papa, bukankah tadi Papa mengatakan sejak kecil aku tidak mau belajar?” sela Vivian. “Kenapa sekarang Papa justru mengatakan Papa dan Mama yang mendidikku hingga menjadi juara?”
Vivian menatap Mike dengan tenang.
“Yang kalian didik adalah Kakak dan Vivi, bukan aku. Sementara aku harus menyelesaikan semuanya sendiri setiap kali menghadapi masalah. Jadi, jangan mengambil jasa yang bukan milik kalian. Bahkan berapa nilaiku saja kalian tidak pernah peduli dan tidak pernah mau tahu.”
Mike terdiam.
“Tuan Wei, apakah kau menganggap Direktur Yang bisa dibohongi?” ujar Jo. “Nona Wei memang pintar sejak lahir. Bukan karena didikan kalian. Dari ketiga anak kalian, justru putri bungsu inilah yang paling cerdas. Sementara dua anak lainnya bahkan tidak memiliki kelebihan apa pun."
Tom dan Vivi hanya bisa menahan amarah.
Delvin kemudian bangkit dari sofa.
“Permintaan Vivian akan aku kabulkan. Sementara mengenai kerja sama kita, batalkan saja.”
Mike dan Tom langsung terkejut.
“Aku tidak suka bekerja sama dengan orang yang bahkan tidak memiliki tanggung jawab dan ketelitian dalam menjalankan proyek.”
“Terima kasih, Direktur Yang!” ucap Vivian sambil ikut berdiri dan menundukkan kepalanya.
“Direktur Yang, beri kami satu kesempatan lagi!” pinta Mike.
“Benar, Direktur Yang. Kami akan memperbaikinya,” sambung Tom.
Delvin menatap mereka dingin.
“Kalian ingin membangun proyek dengan nilai dua ratus juta yuan, tetapi bahkan tidak memahami kondisi lokasi yang kalian pilih. Hanya dengan pengetahuan yang dangkal kalian ingin bekerja sama denganku?"
Tatapan Delvin semakin tajam.
“Apakah kalian menganggap Yang Group sebagai tempat untuk menampung orang-orang yang tidak kompeten?”
Mike dan Tom langsung terdiam.
“Vivian Wei, kapan kau akan pindah?” tanya Delvin.
“Semakin cepat, semakin bagus,” jawab Vivian.
“Baiklah. Asisten Jo akan menyerahkan kuncinya. Kau bisa pindah hari ini ataupun besok,” kata Delvin sebelum melangkah pergi, diikuti Jo dan Vivian.
“Aku akan mengantar kalian keluar!” ucap Vivian dengan semangat.
Setibanya di halaman, Delvin menghentikan langkahnya.
“Asisten Jo, atur Villa Dong Shu untuk Vivian,” perintah Delvin, membuat Jo terkejut.
“Baik, Tuan!” jawab Jo.
“Nona Wei, hubungi saja saya saat kau ingin pindah. Saya akan mengantarkan kuncinya,” ujar Jo.
“Asisten Jo, terima kasih,” ucap Vivian.
“Apa kau membutuhkan bantuan untuk pindah rumah?” tanya Delvin.
“Tidak perlu. Aku hanya membawa pakaian. Selebihnya bukan milikku juga,” jawab Vivian. “Direktur Yang, terima kasih karena sudah mengabulkan permintaanku.”
"Villa Dong Shu adalah tempat istirahat Tuan. Dua vila itu bahkan terhubung menjadi satu. Artinya, Tuan akan selalu bertemu dengan gadis ini di sana," batin Jo.
“Asisten Jo, besok aku akan pindah. Malam ini aku akan berkemas dulu,” kata Vivian.
“Kalau begitu, saya datang menjemput Nona besok,” jawab Jo.
“Terima kasih, Asisten Jo. Anda bukan hanya asisten yang luar biasa, tetapi juga masih muda dan tampan!” puji Vivian dengan tulus.
Delvin yang baru saja melangkah menuju mobil langsung berhenti.
Jo menahan senyum.
“Kalau begitu, aku masuk dulu,” ucap Vivian sebelum berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah.
“Vivian Wei benar-benar gadis yang unik. Selain pintar, dia juga pandai menilai seseorang,” kata Jo sambil tersenyum.
Namun, Jo tidak menyadari tatapan tajam Delvin yang mengarah kepadanya.
“Serahkan kuncinya!” titah Delvin dengan wajah datar.
“Baik, Tuan,” jawab Jo sambil langsung menyerahkan kunci mobil kepadanya.
Delvin membuka pintu mobil lalu masuk ke kursi pengemudi.
“Tuan, kita mau ke mana?” tanya Jo.
“Aku akan pulang,” jawab Delvin sambil menurunkan kaca jendela.
“Oh, kalau begitu saya harus ke mana?” tanya Jo polos.
“Kau jalan kaki saja pulang ke rumah,” jawab Delvin santai.
“Hah?” Jo langsung membelalakkan mata. “Tuan, jangan bercanda! Dari sini ke rumah hingga malam juga tidak bisa sampai!"
“Anggap saja kau sedang berolahraga. Kau masih muda, tidak ada salahnya lebih banyak bergerak,” jawab Delvin sebelum menyalakan mesin mobil.
“Tuan, ini bukan olahraga! Ini penyiksaan!” teriak Jo.
Delvin langsung menjalankan mobilnya.
“Tuan! Jangan pergi! Jangan tinggalkan saya!" Jo langsung berlari mengejar mobil.
“Saya tidak bisa hidup tanpamu!”
Namun, mobil Delvin terus melaju meninggalkan Jo yang masih berlari di belakangnya.