NovelToon NovelToon
Jenderal Milliarder

Jenderal Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.

Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.

Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Mengumpulkan Badai

Di ruang perawatan medis yang steril dan bernuansa putih, bau antiseptik mengudara dengan pekat. Seorang dokter militer dari Phantom Vanguard tengah membalut ulang lengan kiri Arthur Summers yang mengalami luka bakar tingkat tinggi akibat tebasan plasma. Sang Jenderal duduk dalam diam; wajahnya sedingin pualam, tak sedikit pun menunjukkan rasa sakit saat jaringan kulitnya yang rusak dibersihkan.

Di ambang pintu, Mia Zimmer berdiri bersedekap. Mata gadis itu tidak pernah lepas dari luka di lengan Arthur. Meskipun ayahnya, Thomas Zimmer, baru saja tertidur usai mengambil alih kembali kendali keluarga, Mia menolak untuk beristirahat.

Begitu dokter selesai dan menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan, Mia melangkah masuk.

"Kau tidak bisa pergi ke Kota Khanh sendirian, Arthur," ucap Mia memecah keheningan, suaranya dipenuhi oleh tekad yang tak tergoyahkan.

Arthur memutar bahunya perlahan, menguji fleksibilitas lengannya yang baru saja dibalut, sebelum menatap gadis itu. "Medan perang bukanlah tempat untukmu, Mia. Adikku, Gideon, telah memobilisasi sisa kekuatan Kekaisaran Utara di sana. Ini akan menjadi zona pembantaian."

"Aku tidak meminta untuk ikut memegang senjata di garis depan," sela Mia cepat, melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal. Gadis itu menatap langsung ke dalam mata sang Jenderal tanpa gentar. "Keluarga Zimmer sekarang memiliki akses ke ratusan armada transportasi, pelabuhan swasta, dan jaringan logistik di seluruh negeri. Biarkan aku yang mengurus jalur udara dan suplai pasokan tempurmu. Kau berdarah untuk melindungi keluargaku semalam. Sekarang, biarkan aku menjadi fondasi logistikmu."

Melihat kobaran api di mata Mia, Arthur terdiam. Ia terbiasa menanggung beban dunia sendirian, namun keras kepalanya gadis ini entah bagaimana selalu berhasil meruntuhkan tembok pertahanannya. Sang raja mengembuskan napas pelan, lalu mengangguk.

"Baiklah. Berkoordinasilah dengan Silas untuk jalur udaranya," jawab Arthur, membuat senyum lega sekaligus bangga terukir di wajah Mia.

Satu jam kemudian, Arthur melangkah memasuki ruang komando utama yang kini telah diredupkan. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar memancarkan pendaran cahaya biru.

Silas Mercer menekan tombol aktivasi. Seketika, lima proyeksi hologram seukuran manusia dewasa muncul mengelilingi meja tersebut. Mereka adalah para pemimpin tertinggi dari organisasi asing paling besar di dunia, sosok-sosok yang memancarkan aura mengerikan layaknya dewa perang. Di dalam Istana yang dibangun oleh Arthur.

Di tengah-tengah proyeksi itu, tampak hologram seorang pria bertubuh tegap bernama Clifford Hann, salah satu bawahan yang paling dipercayainya.

"Bos," sapa Clifford dengan suara berat yang menggema, menundukkan kepalanya dalam-dalam, diikuti oleh keempat raja lainnya. "Seluruh armada tempur utama kita telah bersiaga. Kami hanya menunggu perintah Anda."

Arthur menatap kelima panglimanya. Sorot matanya menajam, menembus ruang dan waktu, kembali pada memori kelam enam tahun silam.

Sang Jenderal menatap lurus ke depan. "Gideon Summers telah mendeklarasikan perang dan mengundang kita kembali ke Kota Khanh. Mari kita tunjukkan padanya, dan pada seluruh Keluarga Utama Summers, monster seperti apa yang telah mereka ciptakan. Clifford, mobilisasi seluruh armada. Kita akan mengepung Kota Khanh sebelum fajar menyingsing."

"Sesuai perintah Anda, Jenderal Tertinggi!" seru kelima raja itu serempak, suara mereka menggelegar penuh kebanggaan dan kehausan akan pertempuran.

Tepat saat proyeksi hologram itu dimatikan, sebuah telepon satelit khusus di dalam saku jas Arthur berdering. Nada dering itu sangat spesifik sebuah saluran rahasia yang hanya diketahui oleh kurang dari lima orang di dunia ini.

Arthur memberi isyarat kepada Silas untuk meninggalkan ruangan, memastikan tidak ada yang bisa mendengar percakapan ini. Ia mengangkat telepon tersebut.

"Arthur," suara seorang pria paruh baya yang sangat berwibawa terdengar dari seberang saluran. Itu adalah Panglima Militer Tertinggi negara ini, mantan atasan langsung Arthur bertahun-tahun yang lalu sebelum ia mendirikan organisasinya sendiri.

"Panglima," jawab Arthur singkat dan dingin.

"Intelijen militer mendeteksi pergerakan masif dari Istana Phantom menuju Kota Khanh. Adikmu, Gideon, telah menyusup membawa sisa-sisa pasukan Kekaisaran Utara," ucap sang Panglima dengan nada berat. "Arthur, pemerintahan tidak ingin ada keributan yang terlalu besar. Kita baru saja selesai berperang, dan stabilitas nasional sedang berada di titik rawan. Jika Kota Khanh hancur, negara musuh akan memanfaatkannya sebagai propaganda."

"Jika pemerintahmu takut, maka tutup matamu dan biarkan aku yang membersihkan sampah itu," balas Arthur tanpa basa-basi.

Terdengar helaan napas dari seberang telepon. "Aku tahu aku tidak bisa menghentikanmu, Arthur. Lagipula... ibumu adalah sosok yang baik. Lakukan apa yang harus kau lakukan pada Gideon. Bebaslah melawannya. Aku yang akan menjelaskannya pada atasanku nanti."

Arthur terdiam, sedikit terkejut dengan izin implisit dari panglima tertinggi militer tersebut.

"Namun, Arthur," lanjut sang Panglima, nadanya berubah menjadi penuh harap. "Negara ini masih sangat membutuhkanmu. Jika kau sudah menyelesaikan urusanmu di sana... kembalilah ke militer. Kami akan mengembalikan seluruh gelar bintang lima milikmu."

Arthur tidak memberikan jawaban. Ia hanya menatap dingin ke arah dinding ruang komando, lalu langsung mematikan sambungan telepon tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Di waktu yang sama, ratusan kilometer dari sana, di sebuah ruangan kantor kepresidenan yang sangat rahasia.

Sang Panglima Militer meletakkan gagang telepon satelitnya ke atas meja pualam. Ia memutar kursi kebesarannya menghadap ke sudut ruangan yang remang-remang.

Di sana, duduk seorang pria paruh baya berambut perak yang memancarkan karisma kuat seorang kepala negara. Presiden dari negara tersebut rupanya sejak tadi berada di ruangan yang sama, mendengarkan percakapan itu dalam diam.

"Dia menutup teleponnya, Tuan Presiden," lapor sang Panglima dengan senyum getir.

Sang Presiden hanya bisa menghela napas panjang, menatap rintik hujan di balik jendela anti-peluru kantornya. "Anak itu... dia sepertinya benar-benar ingin pensiun dan hidup damai. Bahkan setelah memiliki segalanya, yang ia cari hanyalah ketenangan."

"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Tuan? Jika dia melepaskan kekuatan penuh Istana Phantom di Kota Khanh besok, dunia akan melihatnya."

"Kita tidak akan menyerah untuk memintanya kembali, Panglima. Jika ada peluang sekecil apa pun di masa depan, kita akan membawa Arthur kembali ke militer untuk membantu pemerintahan," ucap Sang Presiden dengan mata berkilat tegas. Pria nomor satu di negara itu kemudian bangkit berdiri.

"Namun untuk saat ini, dia bertarung untuk membalas dendam ibunya. Kita berhutang banyak pada pengorbanan masa lalunya," lanjut Presiden, merapikan jas kenegaraannya. "Keluarkan dekrit eksekutif level merah. Perintahkan seluruh badan intelijen, angkatan udara, dan kementerian komunikasi untuk memberlakukan pemadaman media total (media blackout) di sekitar Kota Khanh selama 48 jam ke depan. Tutupi semua kejadian yang akan terjadi di sana. Jangan biarkan satu pun satelit global maupun berita internasional menyorotnya."

"Dimengerti, Tuan Presiden."

Sang kepala negara menatap ke arah luar jendela, menatap awan mendung yang bergerak ke arah selatan. "Beri jalan untuk sang raja. Biarkan dia menyelesaikan perangnya."

Di landasan pacu rahasia ibu kota, helikopter tempur milik Arthur telah bersiaga, baling-balingnya memutar cepat menepis air hujan. Mia Zimmer dan Silas Mercer telah memastikan seluruh jalur logistik aman.

Arthur melangkah menuju helikopter tersebut, siap untuk kembali ke tempat di mana masa lalu membuangnya, dan di mana masa depannya akan ditentukan. Namun, tepat sebelum kakinya menaiki tangga helikopter, sebuah pesan teks terenkripsi masuk ke ponselnya, bukan dari sekutunya, melainkan langsung dari Gideon Summers.

Pesan itu disertai sebuah foto yang membuat aliran darah Arthur mendadak terasa membeku.

Di dalam foto itu, tampak reruntuhan sebuah panti asuhan tua di Kota Khanh yang terbakar. Di depan reruntuhan itu, berdiri seorang anak perempuan kecil berusia sekitar lima tahun yang menangis memeluk sebuah boneka kotor seorang anak perempuan yang entah bagaimana memiliki sepasang mata yang sangat mirip dengan milik Arthur.

Teks di bawah foto itu berbunyi: "Ayah melupakan satu hal penting saat membuangmu enam tahun lalu, Kakak. Obat bius yang mereka berikan padamu malam itu tidak menghentikanmu untuk meninggalkan sebuah 'jejak' di jalanan Kota Khanh. Datanglah sebelum fajar, atau darah dagingmu sendiri yang akan membayar dosa-dosamu."

1
nanonano
bener2 kalah start arthur
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
nanonano
mantap
nanonano
ternyata lawannya ayahnya sendiri
nanonano
ternyata lawannya keluarga sendiri
nanonano
bukannya arthur lagi gelut sama 7 asasin?
Glastor Roy
update ya torku yang baik hati
nanonano
lawannya kok langsung bisa tahu butuh sumsumnya keluarga zimer padahal belum lihat formulanya
nanonano
byuh kalah sang jendral
Sang_Imajinasi
pialanya sekalian 😄
REY ASMODEUS
aku mampir othor
nanonano
kalah cepat nampaknya si arthur
nanonano
mantap ini
nanonano
perang strategi lebih ngeri
nanonano
mantap
nanonano
tembak aja tadi
Budi Wahyono
ini kalau di wuxiakan
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bikin Arthur bantai keluarga volkov
Budi Wahyono
apakah nanti pengkhianatan terbesar justru datang dari silas ?
nanonano
yah kalah transaksi sama pion kecil
REY ASMODEUS: rahasianya di hack dan kelemahannya ada pada informasi dan kepercayaan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!