NovelToon NovelToon
Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Bzzzt! Bzzzt!

Suara sengatan listrik itu terdengar sangat mengerikan di tengah keheningan alun-alun desa yang mencekam.

Dua orang bandit yang nekat berlari maju langsung tumbang ke tanah dengan tubuh kejang-kejang.

Mulut mereka mengeluarkan busa putih dan mata mereka terbelalak menatap langit malam yang diterangi api.

Raka memutar lehernya hingga berbunyi gemeretak lalu menatap sisa kawanan bandit itu dengan seringai dingin.

"Ayo maju lagi, petir di tanganku ini masih lapar mencari daging kotor kalian."

Pemimpin bandit yang memakai topeng kulit beruang itu mundur selangkah dengan kaki gemetar.

Ia melihat ketiga anak buah terbaiknya tumbang hanya dalam hitungan detik tanpa luka berdarah sedikit pun.

"Sihir iblis macam apa yang kau pakai bocah! Kami tidak takut padamu!" teriak bos bandit itu mencoba memotivasi sisa pasukannya.

Namun tidak ada satu pun dari belasan bandit itu yang berani melangkah maju sejengkal pun.

Mereka memegang parang dan tombak mereka dengan tangan yang berkeringat dingin menahan teror.

"Oh, jadi kalian cuma berani membantai warga desa yang tidak bersenjata ya?" ejek Raka melangkah maju dengan santai.

Raka mematikan salah satu alat kejut listriknya dan memasukkannya ke dalam saku jaket kulitnya.

Tangan kirinya merogoh saku yang lain dan mengeluarkan sebuah kaleng kecil berwarna hitam.

Itu adalah semprotan merica taktis ukuran besar yang biasa dipakai polisi.

"Kalau kalian tidak mau maju, biar aku yang datang menghampiri kalian."

Wush!

Raka melesat maju dengan kecepatan penuh menggunakan insting jalanannya yang sudah terbiasa tawuran.

Pemimpin bandit itu mengayunkan golok besarnya ke arah leher Raka dengan sekuat tenaga.

Trang!

Raka menangkis ayunan golok karatan itu menggunakan alat kejut listrik di tangan kanannya yang terbuat dari polimer keras.

Di saat yang bersamaan, tangan kiri Raka mengarahkan kaleng hitam itu tepat ke wajah sang pemimpin bandit.

Srot!

Cairan merah pekat bertekanan tinggi menyembur deras dari kaleng itu dan telak mengenai mata si bos bandit.

"Aaaaargh! Mataku! Mataku terbakar api neraka!" jerit pemimpin bandit itu membuang goloknya.

Pria bertubuh raksasa itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil bergulingan di tanah karena rasa perih yang tidak tertahankan.

Melihat pemimpin mereka meronta seperti babi disembelih, mental sisa bandit itu langsung hancur lebur berkeping-keping.

"Bos sudah kalah! Lari! Lari dari dewa iblis ini!" teriak salah satu bandit membuang senjatanya.

Klontang! Klontang!

Sisa bandit itu menjatuhkan parang dan tombak mereka ke tanah bersiap untuk kabur ke dalam hutan.

Tapi Raka tidak akan membiarkan hama ini lolos begitu saja untuk kembali menyerang di masa depan.

"Kepala Desa Boris! Perintahkan seluruh warga laki-laki untuk mengepung mereka sekarang juga!" perintah Raka menggelegar.

Kepala Desa Boris yang tadinya bersembunyi di balik sumur langsung melompat keluar dengan semangat menyala.

"Dengar perintah Tuan Dewa Petir! Kepung para keparat gunung ini dan jangan biarkan ada yang lolos!" teriak Boris mengangkat parangnya.

Melihat para bandit itu sudah kehilangan senjata dan moral, puluhan warga desa mendadak punya keberanian ekstra.

Mereka langsung berlari dari segala arah mengelilingi sisa bandit itu dengan raut wajah penuh dendam.

Bugh! Bugh!

Warga desa mulai memukuli para bandit itu beramai-ramai menggunakan kayu dan batu sampai mereka babak belur.

Raka membiarkan warga melampiaskan kemarahan mereka sejenak sebelum mengangkat tangannya meminta mereka berhenti.

"Sudah cukup, jangan bunuh mereka sekarang karena mereka masih berguna untuk kita," tahan Raka dengan nada otoriter.

Warga desa langsung patuh dan mundur teratur memberikan jalan untuk dewa pujaan mereka.

Raka berjalan mendekati Lin yang sedang memeluk tubuh ayahnya yang penuh luka cambukan.

"Lin, bagaimana kondisi ayahmu sekarang?" tanya Raka berjongkok di sebelah gadis itu.

"Ayah masih bernafas Tuan Dewa, tapi darah dari punggungnya terus mengalir," isak Lin dengan wajah sangat pucat.

Raka membuka sistem gaibnya tanpa bersuara dan mengeluarkan kotak P3K modern yang sempat ia beli di minimarket beberapa hari lalu.

Ia menaruh kotak putih berlogo palang merah itu di depan Lin yang langsung menatapnya kebingungan.

"Di dalam kotak pusaka itu ada cairan antiseptik dan gulungan perban putih yang sangat bersih."

Raka menunjuk botol alkohol dan perban kasa di dalam kotak tersebut.

"Bersihkan luka ayahmu pakai cairan itu lalu balut dengan perban putih, lukanya akan menutup besok pagi."

Lin mengangguk cepat dan langsung mengambil botol antiseptik itu dengan tangan bergetar.

"Terima kasih Tuan Dewa, Anda benar-benar pelindung keluarga kami," ucap Lin menangis terharu.

Raka berdiri lalu membalikkan badannya menatap puluhan bandit yang kini sudah diikat kuat menggunakan tambang.

Pemimpin bandit itu masih meringis memegangi matanya yang merah bengkak terkena semprotan merica.

"Dewa Boris, apa yang harus kami lakukan pada sampah gunung ini?" tanya Boris membungkuk sangat rendah di sebelah Raka.

"Mulai besok pagi, jadikan mereka semua budak pekerja kasar tanpa bayaran."

Raka menunjuk ke arah batas desa yang hanya dilindungi pagar kayu lapuk.

"Suruh mereka menebang pohon besar dan membuat benteng kayu yang kuat mengelilingi seluruh desa ini."

"Kalau ada satu saja dari mereka yang berani melawan atau malas, cambuk mereka sampai kulitnya mengelupas," tambah Raka tanpa belas kasihan.

Di dunia kuno yang keras ini, Raka sadar ia tidak bisa menggunakan moral manusia modern yang terlalu lembek.

Kalau ia tidak bersikap kejam pada musuhnya, maka musuh itu yang akan memenggal kepalanya di kemudian hari.

"Hamba mengerti Tuan Dewa Raka! Kami akan mengawasi mereka bekerja siang dan malam!" sahut Boris bersemangat.

[Peringatan Darurat Berakhir. Status Wilayah Kekuasaan: Aman.]

Layar biru transparan di sudut mata Raka akhirnya memudarkan warna merahnya menjadi biru kembali.

Raka menghela nafas panjang merasa sedikit lega karena krisis pertama di desanya berhasil diatasi dengan cepat.

"Aku akan kembali ke alam langit sekarang untuk mengurus urusan para dewa."

Raka menatap seluruh warga desa yang langsung bersujud menyembahnya secara serentak.

"Jaga Karta dan seluruh ginsengku baik-baik, aku akan kembali lusa untuk melihat perkembangan benteng kalian."

Raka membalikkan badannya lalu berjalan menjauh dari alun-alun desa menuju jalan setapak ke dalam hutan.

Setelah memastikan tidak ada orang yang mengikutinya, Raka mengeluarkan gagang pintu naga dari saku jaketnya.

"Buka gerbang dunia."

Sring.

Celah cahaya vertikal terbuka dan Raka langsung melangkah masuk meninggalkan aroma asap dan darah di dunia kuno.

Wush.

Raka kembali menginjak lantai beton gudang industrinya di Jakarta dengan nafas yang sedikit terengah-engah.

Ia mengusap keringat di dahinya lalu berjalan menuju mobil Range Rover putih yang terparkir di sudut gudang.

1
Astiana 💕
🤣🤣Astaga, aku ngakak di bagian ini
kiyoe: hehehe 🙏👍
total 1 replies
Was pray
gak punya harta hidup sengsara karena sulit untuk makan, setelah kaya hidupnya gak semakin nyaman tapi semakin runyam, kamu terlalu mengumbar kekayaannya didepan publik Raka apa gunanya punya harta banyak tapi hidup selalu was was ? langkah awalmu di pelelangan gingseng dengan memunculkan identitas sebagai pemilik gingseng adalah kesalahan besar mu, sehingga kamu jadi incaran para mafia konglomerat,sifat Sik pamer adalah bumerang
Was pray
kuat dan pintar itu syarat utama sukses Raka. kaya aja gak cukup, otot dan otak bersinergi akan menghasilkan manusia tangguh
Was pray
satu keteledoran Raka lagi, membawa karung gingseng di depan publik
Was pray
aku kasih like kalau Raka udah cerdas gak blo'on lagi
Was pray
makanya belajar cerdas Raka, jangan miskin ganda , miskin harta dan miskin ilmu. harta mu akan musnah sia2 kalau kamu terlalu polos, kamu jadi ATM berjalan bagi orang yg rakus seperti sasa
Was pray
menang goblog si Raka ini, ngapain seratus gingseng langsung dikeluarkan bersamaan!? kalau langsung banyak ya kamu gak bisa main harga.... ah dasar jiwa miskin ya tetap miskin.... otaknya juga miskin
Was pray
kamu dibodohi dan diperalat Sasa gak nyadar kah Raka? berpikir mu terlalu pendek
Was pray
sasa lebih kejam dari preman pasar, dada mafia kelas kakap yg berkedok pengusaha kalau raka tetap polos tentang dunia mafia ya bisa mati jadi rempeyek...
Rifqy Channel
kok aku makin gak suka ya sama sasa itu selalu saja dipantau terus mana lagi disogok tuh 😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!