Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
"Eh, malah ngelamun. Sofia, ayo!"
Laki-laki itu membuka helmnya. Terpampang lah wajah Maryono dengan kerling dan seringai lebar. Nismara cepat menguasai keadaan, dia pun tersenyum lebar.
"Ya ampun, Om, kirain siapa?" nada kemayu ala Sofia keluar. Dalam hitungan 2 detik, Nismara sudah berada dalam boncengan Maryono. Lalu motor melaju masuk ke area parkir ruang bawah tanah mahkota Gym.
Nismara langsung turun ketika motor Maryono berhenti dalam jajaran parkir. Maryono melepas helmnya, lalu menaruh di salah satu stang motor.
"Di sini aku dipanggil Mario, jadi kamu panggil aku Om Mario, Okey?" Maryono bergerak turun. Gadis itu hanya mengacungkan jempol sambil meringis.
"Nah sekarang kamu ke sini mau apa?" Maryono alias Mario menatap Nismara.
"Ya, mau nge-gym lah, Om, emang mau apa?" Nismara mengikik yang dibuat-buat.
Tangan Maryono datang ke pipi Nismara dengan cepat dan menjauhilah santai. Nismara nyengir meski tangannya spontan mengepal.
Maryono tertawa senang. "Sejak pertama lihat kamu, aku tahu kamu bukan gadis biasa. Ya sudah sana, naik lewat tangga itu. Kalau ditanya Katy, bilang aja kamu kenalan Om Mario Gutheng."
"Okey, siap, Om!"
Nismara langsung melesat pergi ketika ujung matanya melihat tangan Maryono hendak menyosor ke arah tubuh belakangnya.
Dalam tubuh Sofia yang ringan, Nismara berlari ke arah pintu yang ditunjuk Maryono.
Udara dingin menerpa seluruh kulit Nismara ketika pintu dengan ukiran rumit itu dia buka. Seorang cowok dengan alis berjungkit indah menyambut kedatangan Nismara, namun pandangannya begitu tajam menusuk.
Nismara melempar senyum, yang langsung memudar 5 detik kemudian karena wajah dibalik meja itu benar-benar aku. Nismara mengambil nafas pendek lalu memasang wajah kaku.
"Mau daftar Gym, Kak." kata Nismara dengan nada songong. Dia sengaja ikut menajamkan pandangan ke arah cowok itu.
"Tunggu sebentar." sahutnya tak ramah. Namy tidak menutup nada kemayunya yang khas. Ternyata dia sejenis laki-laki melambai, tulang lunak.
Si laki-laki itu meraih ganggang telepon intercom. Nismara memandang ke arah lain dan berpura-pura tidak peduli ketika lelaki melambai itu membicarakan dirinya sambil sesekali melirik.
Setengah menit kemudian Nismara mendengar laki-laki itu berdehen, sehingga mau tidak mau Nismara menoleh.
"Suara namamu?" tanyanya dengan nada yang melunak, seula senyum dia lempar begitu saja.
" Sofia Elena." Nismara tidak ingin gegas melunak. Nada yang dia ucapkan masih songong seperti ucapan pertamanya tadi.
Dia kemudian mengetik sesuatu di komputernya. Tak berapa lama sebuah kartu keluar dari tempat kotak putih.
"Okey, Sofia. Kamu menjadi member kami mulai hari ini." Dia mengulurkan sebuah kartu dengan nama yang Nismara sebutkan tadi.
Nismara menerima dengan tangan bergetar meski hatinya berteriak. "Kuatkan hatimu, Nismara!"
Bukan sebab sukacita telah diterima menjadi anggota mahkota Gym yang telah dia rencanakan, yang membuat tangannya bergetar adalah memori yang tiba-tiba mencuat tentang Sherin. "Bagaimana saat Sherin datang ke sini untuk pertama kalinya? Apakah Dia mendapat perlakuan yang sama atau dia lebih disambut dengan hangat?"
Plek
Suara jari jemari laki-laki itu menjentik, seperti memicu burung bersuara.
Nismara tergagap. Lelaki itu pasti melakukan itu agar Nismara terbangun dari lamunannya.
"Silahkan kamu bisa nge-gym setiap hari, kami buka jam tiga sore, tutup sampai jam 09.00 malam." nadanya makin naik supaya Nismara tidak bengong lagi.
"Loh aku belum bayar." ceplos Nismara polos.
Laki-laki gemulai itu terkekeh. "Kami tidak menarik bayaran, karena itu kami selektif memilih member."
"Oh, bisa gitu ya Kak?"
Dia terkekeh lagi, kemudian mengedipkan mata. "Anggap aja keuntungan terlahir sebagai gadis cantik. Dunia ini lebih berpihak pada penampilan yang indah-indah."
"Baiklah, Kak." Nismara tersenyum lebar, meskipun dalam hatinya bergejolak, sudah pasti ini ada yang aneh.
"By the way udah pernah fitness?"
"Sering, Kak." jawab Nismara mantap. Jawaban yang segera dia sesali. Seharusnya tadi dia berpura-pura tidak bisa, tetapi nasi sudah menjadi bubur.
"Sip, kalau begitu nggak perlu pendampingan trainer ya? Udah bisa sendiri?"
"Okey."
"Masuk saja ke sana ruang fitness ada di belakang." Dia menunjuk sebuah pintu kaca di samping kanan.
Nismara beranjak tanpa berkata apa-apa. Dia sengaja memilih pintu yang salah dan berharap si laki-laki gemulai tidak melihatnya. Namun harapannya kandas ketika dia berteriak nyaring.
"Hai, salah! Sebelah kanan Sofia!"
"Hah?" Nismara berlagak bodoh.
Dengan wajah yang lucu dia tergopoh-gopoh mendapatkan Nismara. "Ih, bandel atau budek sih? Pintu kanan tuh Di sini, sini. Apa kamu nggak tahu kanan dan kiri? Jangan - jangan tanganmu kiri semua."
Dengan gemas khas lelaki kemayu, dia mendorong tubuh Nismara pelan ke depan pintu kaca yang dia maksud.
"Oh, maaf Kak."
"Kami bisa sewaktu-waktu mencabut membermu kalau kamu nggak ikut peraturan ya, Sof. Jadi Jangan sembarangan." entah kenapa kali ini dia menggunakan suara aslinya, tanpa nada kemayu sedikitpun.
"Maaf Kak. Beneran tadi nggak sengaja." kata Nismara meringis lebar. Meski Nismara menyetel wajah kalem, namun dalam hatinya tetap ada sedikit rasa was-was juga. Apalagi dengan nadanya yang sudah berubah galak. Dia tidak menjawab tapi lirikan matanya sudah cukup membuat Nismara mengerti jika Dia tidak sedang main-main.
"Ah, benar-benar aneh ini gym. Banyak kejanggalan. Masuk susah, eh ternyata gratis. Terus apa kata dia tadi? Kalau tidak nurut akan dicabut membernya? Lah padahal dia juga nggak menginfokan pasal apa saja yang tidak boleh dilanggar." Nismara bermonolog ketika menyusuri koridor luas dan elegan.
Nismara menarik nafasnya panjang. Dia teringat Sherin lagi. Dan di sinilah dia berada sekarang, sudah lebih masuk ke dalam, demi Putri kandungnya itu. Untuk mengungkap kematian Sherin. "Bagaimana awalnya hingga sharing terlibat dalam hal seperti ini? Saat masuk gedung tadi sudah terasa aneh semua. Tapi sharing baru akan 18, mungkin pikiran remajanya belum sampai sejauh itu."
Pintu berakhir pada sebuah tempat terbuka, di mana mata Nismara menangkap beberapa cowok dan cewek, yang pastinya berusia remaja yang tengah asik dengan alat fitnes masing-masing. Tidak terlalu ramai, tapi lumayan banyak. Beberapa dari mereka menoleh saat Nismara masuk, namun segera membuang muka lagi dalam waktu singkat. Wajah mereka semua sama sekali tidak ramah. Tidak tampak seorang pun yang memberi dia senyuman.
"Hallo! Aku Bobby trainer di sini." seorang laki-laki mungkin berumur dua puluhan muncul entah dari mana.
"Eh, hallo aku Sofia."
Mereka berjabat tangan dan saling melempar senyum.
"Mau langsung latihan?" Bobby terlihat sangat ramah. Namun pandangan matanya liar menyapu setiap inci tubuh Nismara.
Gadis berambut sebahu itu melenguh tipis. "Kenapa semua orang di sini selalu begini?" gumam Nismara dalam hati.
"Kenapa, Sof?" Bobby bereaksi. Matanya masih menempel lekat pada Nismara.
"Kamu tidak pernah lihat cewek secantik aku.?" Nismara memainkan peran sebagai Sofia yang genit.
Wajah Bobby memerah. "Iya kamu Kamu cantik dan seksi. Kapan-kapan kita jalan yuk!"
"Aku taruh tasku dulu." Kata Nismara acuh, pura-pura tak mendengar ucapan Bobby.
Bobby mengangguk.
Namun saat Nismara selesai mengunci lokernya, laki-laki muda yang mengaku bernama Bobby tidak kelihatan. Akhirnya Nismara melakukan pemanasan seperti yang biasa dia lakukan. Toh sudah terlanjur juga dia mengaku bahwa dia sudah sering fitness. Jadi kalau tiba-tiba dia bingung malah menjadi aneh
teka teki nya dapat. suka banget.