Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.
Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.
Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota Terlarang dan Penguasa Baru
Pendar lampu gantung kristal di penthouse tertinggi Perkasa Tower membiaskan kilau keemasan yang mewah di atas lantai marmer hitam. Pengakuan Raymond tentang masa lalu Ayah dan akun Project Serpent masih bergema di benakku, beradu dengan detak jantungku yang belum sepenuhnya tenang usai ciuman intens yang mengesahkan takdir baru kami.
Papan catur yang kukira milikku ternyata dirancang oleh pria ini sejak awal. Namun, bukannya merasa terkalahkan, rasa puas yang teramat pekat justru merayapi aliran darahku. Aku tidak dijebak untuk menjadi korban; aku ditarik ke puncak untuk menjadi ratu di samping sang penguasa.
Raymond berdiri di dekat dinding kaca raksasa yang menampilkan panorama malam Jakarta yang megah. Pria 35 tahun itu telah mengenakan kembali jas hitamnya, memancarkan aura dominan yang makin tak terjangkau. Di tangannya, sebuah kotak beludru merah tua berukuran sedang bertengger anggun.
"Kemarilah, Clarissa," suara bass Raymond bergema rendah namun begitu berwibawa di dalam ruangan yang sunyi.
Aku melangkah mendekatinya dengan anggun. Gaun malam berbahan sutra merah marun yang kupakai berayun halus, memeluk lekuk tubuhku dengan sempurna. Hak tinggi sepatuku berdenting mantap di atas lantai marmer, menandai setiap langkahku sebagai wanita yang kini memegang separuh dari kekaisaran bisnis ini.
Begitu aku berdiri tepat di hadapannya, Raymond membuka kotak beludru tersebut. Di dalamnya, bertengger sebuah cincin platina berhiaskan berlian canary yellow berbentuk emerald cut 10 karat yang memancarkan kilau emas pekat—simbol kepemilikan mutlak dan kekuasaan tanpa batas.
"Ini bukan sekadar cincin pertunangan atau kompensasi atas warisan ayahmu," ujar Raymond datar namun bernada teramat posesif. Manik mata hazel-nya mengunci pandanganku tanpa ragu. "Ini adalah tanda bahwa mulai malam ini, tidak ada lagi bayang-bayang Siska, tidak ada lagi masa lalu yang menahanmu. Kamu adalah satu-satunya nyonya di Perkasa Group."
Raymond meraih jemari tangan kiriku, menyematkan cincin bernilai puluhan miliar itu ke jari manisku dengan gerakan yang teramat presisi. Sentuhan jarinya yang hangat dan mantap mengirimkan gelombang panas yang membakar seluruh pertahananku.
"Bagaimana dengan para dewan komisaris dan media yang masih mempertanyakan keabsahan posisi kita, Raymond?" tanyaku halus, mengusap permukaan berlian kuning yang dingin namun memikat di jariku.
Raymond menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan dominasi dingin. Tangannya yang besar melingkar ketat di pinggang rampingku, menarik tubuhku rapat ke dadanya yang tegap.
"Tadi sore, seluruh saham Siska di anak perusahaan telah aku akuisisi penuh atas namamu," bisik Raymond di dekat telingaku, napas hangatnya membakar kulit leherku. "Besok pagi, tim hukum kita akan mendaftarkan pengalihan aset Project Serpent secara resmi. Siapa pun di dewan komisaris yang berani mempertanyakan keberadaanmu... akan kuingatkan siapa yang memegang kendali atas dana dan masa depan perusahaan ini."
Aku menengadahkan kepalaku, menatap lurus ke dalam iris mata hazel-nya yang berbahaya. "Kamu membuat seluruh Jakarta bertekuk lutut di bawah kakiku, Raymond."
"Bukan seluruh Jakarta, Clarissa," ralat Raymond parau, jemari tangannya menekan pinggangku lebih dalam, menundukkan kepalanya hingga bibir kami saling bersentuhan halus. "Tapi seluruh duniaku."
Ciuman yang menyusul terasa begitu dalam, sarat akan tuntutan dan obsesi terlarang yang kini telah sah di mata kekuasaan kami. Di balik dinding kaca, hujan di atas langit Jakarta perlahan mereda, menyisakan gemerlap lampu kota yang seolah membungkuk memberi hormat pada pasangan penguasa baru yang lahir dari pusaran dendam dan skandal.
Keesokan harinya, ruang rapat utama Perkasa Tower di lantai 48 dipenuhi oleh belasan anggota dewan komisaris dan investor kakap berjas gelap. Keheningan yang tegang menggantung di udara saat pintu ganda ruangan itu terbuka lebar.
Aku melangkah masuk terlebih dahulu dengan gaun blazer hitam berpotongan tajam, memamerkan cincin berlian canary yellow di jari manisku dan liontin blue sapphire yang melingkar di leher. Di belakangku, Raymond melangkah dengan wibawa mengintimidasi yang membuat seluruh peserta rapat berdiri secara refleks dari kursi mereka.
Raymond tidak melangkah menuju kursi presiden direktur di ujung meja. Pria itu justru menarik kursi utama tersebut, memandangkan matanya ke arahku, dan membimbingku untuk duduk di singgasana tertinggi Perkasa Group.
"Selamat pagi, Tuan-tuan," suara bariton Raymond memecah kesunyian ruangan dengan sangat jernih. Pria itu berdiri tegak di samping kursiku, meletakkan sebelah tangannya secara posesif di sandaran kursiku. "Mulai hari ini, Nona Clarissa Perkasa resmi menjabat sebagai Executive Chairperson Perkasa Group dengan kendali atas lima puluh satu persen saham hak suara."
Tak ada satu pun anggota komisaris yang berani bersuara atau mengajukan keberatan. Pemandangan di hadapan mereka terlalu mutlak: sang taipan paling ditakuti di ibu kota telah secara sukarela menyerahkan tahtanya pada wanita yang dicintainya, mengunci takdir Perkasa Group di dalam genggaman kami berdua.
Aku menyunggingkan senyuman dingin yang terukir sempurna, menatap belasan pria berkuasa di hadapanku dengan pandangan penuh kemenangan. Dendam masa lalu telah tuntas, topeng-topeng kehancuran telah runtuh, dan di atas puing-puing itu... aku telah berdiri sebagai ratu yang tak tergoyahkan.