Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI DI ATAS ASPAL BASAH
Decitan ban mobil SUV hitam yang bergesekan dengan permukaan aspal basah masih menyisakan dengung memekakkan telinga di udara pagi kawasan Dharmawangsa. Gerimis tipis kembali turun menyiram bumi, menyatukan tetes air hujan dengan keringat dingin yang mengucur deras di pelipis Ziva. Gadis itu berdiri mematung, bagai mangsa yang tak punya tempat untuk berlari lagi ketika sang predator puncak kini berdiri tepat di hadapannya.
Letnan Jenderal Gibran Mahendra tidak langsung berteriak. Pria itu berdiri tegak dengan postur militer yang mengintimidasi, mengenakan seragam dinas lengkap yang kancing kerahnya sedikit terbuka akibat gerakan terburu-buru dalam perjalanan pulang dari markas besar. Manik mata hitamnya menatap lurus ke arah Ziva bukan dengan kemarahan biasa, melainkan dengan sorot gelap yang memancarkan kombinasi antara kekecewaan mendalam, rasa kepemilikan yang mutlak, dan badai murka yang siap membakar apa saja di sekitarnya.
Ziva melangkah mundur secara insting. Tumit kakinya yang terkilir berdenyut nyeri, membuatnya nyaris kehilangan keseimbangan di atas jalanan basah. "Jangan mendekat..." bisik Ziva tertahan, napasnya memburu tak beraturan, sementara air mata hangat bercampur air hujan mengalir deras membasahi pipinya. "Biarkan aku pergi, Gibran... Tolong..."
Gibran mengabaikan rintihan itu. Pria itu terus melangkah mendekat tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari mata Ziva. Setiap derap sepatu pantofelnya menghantam aspal bagaikan dentang lonceng kematian bagi harapan kecil yang baru saja dibangun Ziva.
Dalam dua langkah lebar, Gibran sudah berada tepat di hadapan gadis itu. Tanpa memberi kesempatan bagi Ziva untuk menghindar atau melayangkan pukulan, tangan kekar Gibran langsung merengkuh pinggang mungilnya dengan cengkeraman kuat yang tak terbantahkan, menarik tubuh Ziva melekat sempurna ke dada bidangnya.
Ziva menjerit kecil, memukul-mukul dada Gibran dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. "Lepaskan aku! Kamu monster! Kamu tidak punya hak melakukan ini padaku!" teriaknya histeris di tengah guyuran gerimis.
Gibran tidak membalas bentakan itu dengan suara tinggi. Sebaliknya, kepala pria itu menunduk, mendekat hingga bibirnya hampir menyentuh daun telinga Ziva. Bisikannya terdengar sangat rendah, parau, namun sarat akan ancaman dingin yang membekukan darah.
"Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja dari saya, Ziva?" bisik Gibran penuh penekanan. "Kamu sudah diberi kelonggaran, kamu diberi perlindungan di dalam rumah saya, tapi kamu justru memilih menguji batas kesabaran saya. Masuk ke dalam mobil. Sekarang."
Sebelum Ziva sempat merespons atau berontak lebih jauh, Gibran mengangkat tubuh ringan gadis itu dalam gendongan satu tangan dengan mudah, membawanya melangkah kembali melewati gerbang samping yang terbuka, menuju pintu SUV hitam yang masih menganga lebar. Ziva terus meronta dan memanggil nama Aris, namun tenaganya bagaikan bulu di hadapan kekuatan fisik seorang jenderal pasukan khusus.
Gibran mendudukkan Ziva dengan kasar namun terukur di kursi penumpang depan, lalu membanting pintu mobil itu hingga tertutup rapat. Pria itu berputar melewati bagian depan mobil, masuk ke kursi pengemudi, dan langsung mengunci seluruh pintu secara otomatis dari panel utama.
Kendaraan itu melesat meninggalkan halaman luar Dharmawangsa dalam kecepatan tinggi, membawa Ziva kembali ke dalam cengkeraman sang sangkar emas yang kini dijaga jauh lebih ketat dari sebelumnya.
Sementara itu, suasana di ruang sidang komando utama Markas Besar TNI Angkatan Darat berada dalam titik didih tertinggi. Kepergian mendadak Gibran dari tengah-tengah persidangan darurat tadi pagi memicu kehebohan di antara para perwira tinggi dan utusan Kementerian Pertahanan.
Mayor Jenderal Surya berdiri tegak di samping meja sidang, mencoba meredam ketegangan para petinggi militer yang merasa diabaikan oleh tindakan atasan mereka.
"Di mana Letnan Jenderal Gibran?!" bentak Ketua Dewan Pengawas Pertahanan dengan wajah memerah menahan amarah. "Ia meninggalkan sidang tertutup tanpa izin resmi, dan sekarang utusan diplomatik internasional mendesak jawaban tegas atas laporan penyekapan yang dilayangkan oleh keluarga Adriana!"
Surya menelan ludah kelat. Sebagai orang kepercayaan terdekat Gibran, ia tahu persis apa yang sedang terjadi. Insting Gibran tidak pernah meleset; kembalinya sang Jenderal secara mendadak ke kediaman Dharmawangsa pagi ini pasti berkaitan erat dengan upaya pelarian Ziva. Namun di hadapan dewan sidang, ia harus menjaga wibawa institusi militer agar tidak runtuh seketika.
"Mohon izin, Jenderal," jawab Surya dengan suara tegas namun berhati-hati. "Letnan Jenderal Gibran harus segera meninggalkan ruangan karena ada urgensi keamanan nasional tingkat tinggi di sektor teritorial privat yang memerlukan intervensi langsung komandan utama. Beliau akan segera memberikan laporan tertulis resmi kepada dewan setelah situasi terkendali."
Utusan khusus Kementerian Luar Negeri mendengus sinis, melipat kedua tangannya di atas meja. "Urgensi keamanan nasional? Atau urgensi pribadi untuk mengamankan tawanannya yang hampir melarikan diri? Dengar, Mayor Jenderal Surya. Jika dalam waktu dua puluh empat jam saudari Ziva Adriana tidak dihadirkan secara fisik di hadapan komisi independen, kami akan merekomendasikan penonaktifan wewenang militer Letnan Jenderal Gibran atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan!"
Ancaman itu menggema tajam di dalam ruangan sidang. Surya merasakan dingin merayap di punggungnya. Tekanan dari lingkaran politik dan hukum internasional kini telah mencapai lingkaran dalam markas, dan jika Gibran terus bersikap keras kepala, benteng pertahanan yang dibangun oleh sang Jenderal selama bertahun-tahun bisa runtuh dalam semalam.
Kembali di kediaman Dharmawangsa, suasana kamar utama lantai dua berubah drastis menjadi benteng pengasingan yang sesungguhnya. Ziva terduduk di lantai dekat kaki tempat tidur, menatap kosong ke arah pintu besar yang kini tidak hanya dikunci secara elektronik, tetapi juga dijaga ketat oleh dua orang pengawal bersenjata di luar koridor.
Gibran berdiri di dekat jendela, melepas jas dinasnya dan melemparnya begitu saja ke atas sofa. Pria itu melonggarkan dasinya dengan gerakan kasar, sementara rahangnya masih mengeras menahan sisa-sisa kemarahan akibat insiden di gerbang tadi pagi.
Ia berbalik, melangkah mendekati Ziva yang masih meringkuk di lantai. Suara derap langkah sepatu bot Gibran membuat Ziva mendongak, memperlihatkan manik matanya yang sembap, merah, dan menyiratkan kebencian yang mendalam.
"Kenapa kamu melakukan itu, Ziva?" suara Gibran terdengar rendah, sarat akan kekecewaan yang dipendam di balik dinding otoritasnya. "Apa kekurangan fasilitas atau perlakuan saya di rumah ini sehingga kamu begitu nekat mempertaruhkan nyawamu sendiri demi melarikan diri kepada pria seperti Aris?"
Ziva tertawa sinis, suara tawanya terdengar parau dan penuh kepedihan. "Fasilitas?" ucap Ziva dengan nada bergetar penuh amarah. "Kamu menyebut sangkar emas ini sebagai fasilitas, Gibran?! Kamu merampas kebebasanku, menjauhkan aku dari keluargaku, dan mengurungku seperti narapidana tanpa kesalahan apa pun! Aku bukan bonekamu! Aku manusia!"
Gibran berlutut di hadapan Ziva, mencengkeram kedua bahu gadis itu dengan kuat namun terukur, memaksa Ziva untuk tidak berpaling sedetik pun. "Kamu bukan boneka, Ziva. Kamu adalah satu-satunya hal berharga yang tersisa di dunia ini bagi saya. Di luar sana, dunia itu kejam dan penuh pengkhianatan. Aris tidak akan mampu melindungimu dari badai yang sesungguhnya."
"Aris tidak pernah menjadi ancaman bagiku!" teriak Ziva histeris, air matanya tumpah semakin deras. "Ancaman terbesar di dalam hidupku adalah kamu, Gibran! Kamu monster yang menghancurkan hidup orang lain demi memuaskan obsesi gilamu sendiri!"
Mendengar kata-kata itu, benteng kesabaran Gibran akhirnya benar-benar runtuh. Kilatan gelap dan rasa sakit yang teramat dalam melintas di manik mata hitam sang Jenderal. Pria itu tidak lagi mampu menahan gejolak emosi yang mengadu di dalam dadanya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Gibran merengkuh tubuh Ziva ke dalam dekapan erat yang membuat gadis itu hampir kehabisan napas. Ziva memberontak, memukul dada bidang Gibran dengan sekuat tenaga, namun pelukan itu begitu mutlak, mengunci setiap pergerakan dan menutup seluruh jalan keluar.
"Silakan benci saya, Ziva," bisik Gibran parau tepat di telinga gadis itu, suaranya bergetar hebat di ambang batas kewarasan. "Silakan mendoakan kehancuran saya setiap detik. Tapi sampai kapan pun, di dunia ini atau di neraka sekalipun, kamu tidak akan pernah bisa lepas dari saya."
Malam kembali merayap turun di ibu kota, membawa serta badai petir yang menggelegar di langit Jakarta. Hawa dingin malam menembus kaca jendela kamar utama Dharmawangsa, di mana Ziva tertidur lelah dalam isak tangis tertahan di atas ranjang setelah pertengkaran hebat tadi siang. Gibran duduk di kursi kerja sudut kamar, menatap layar laptop militernya yang menampilkan notifikasi darurat dari Mayor Jenderal Surya mengenai ultimatum dewan sidang markas.
Tekanan dari luar semakin mendekat. Ancaman pencopotan wewenang militer dan investigasi terbuka dari kementerian pertahanan tinggal menghitung jam. Namun di tengah badai politik dan militer yang mengancam kariernya, perhatian Gibran tidak sedikit pun beralih dari sosok Ziva yang terlelap gelisah di atas ranjang.
Pintu kamar tiba-tiba diketuk tiga kali dengan cepat sebuah sandi darurat dari pengawal luar.
Gibran berdiri perlahan, melangkah tanpa suara, lalu membuka pintu sedikit untuk melihat Surya berdiri di balik koridor dengan wajah pucat pasi di bawah temaram lampu dinding.
"Jenderal," lapor Surya dengan napas tersenggol-senggol. "Situasinya di luar kendali. Utusan khusus kementerian dan keluarga Adriana mengerahkan tim investigasi gabungan didampingi satuan polisi militer untuk mendatangi kediaman ini malam ini juga. Mereka membawa surat perintah penjemputan resmi atas nama negara."
Gibran menyipitkan matanya. Alih-alih menunjukkan kepanikan, sudut bibir sang Jenderal justru terangkat membentuk garis seringai tipis yang mengerikan. Badai yang sebenarnya baik dari musuh di luar maupun dari dalam jiwanya sendiri kini resmi dimulai.
intinya yadoa yg terbaik buat baby dan kluarga kecil girang dan ziva😍😍
agar kluarga kecil mereka bhgia
ya allah jd nggaksbr nunggu debay lahir
semoga kluarga kecil klian slalu bhgia,sehat
dan andai cobaan lg smoga klian bisa melaluinya bersama
dan sehat sllu si debay
ya allah semoga kedepannya kbhagiaan slalu menyertai. amiin