NovelToon NovelToon
Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fahmishodiq Abdullah

Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

topeng yang mulai terbuka

Vania tidak tidur semalaman.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap kegelapan kamar apartemen yang biasanya terasa mewah dan nyaman, kini terasa asing dan dingin. Rangga tidur di kamar tamu malam itu—pertama kalinya sejak mereka tinggal bersama—dan keheningan yang tercipta terasa jauh lebih menyakitkan daripada pertengkaran sekalipun.

Pagi harinya, Vania mencoba peruntungan terakhir. Ia mengetuk pintu kamar tamu, membawa dua cangkir kopi seperti kebiasaan mereka setiap pagi.

"Rangga," katanya lembut, "kita perlu bicara baik-baik."

Rangga membuka pintu, wajahnya lelah, matanya menunjukkan semalaman tanpa tidur juga. "Bicara soal apa lagi, Van? Kamu udah jelasin semalam, dan itu nggak mengubah apa pun."

"Aku cuma... takut kehilangan kamu," kata Vania, suaranya bergetar, air mata mulai menggenang lagi di matanya. "Aku lihat cara kamu menatap Kirana belakangan ini, Rangga. Aku takut, dan aku bertindak gegabah karena rasa takut itu. Aku salah, aku tahu. Tapi aku melakukannya karena aku benar-benar sayang sama kamu."

Rangga menatapnya lama, mencoba memilah antara rasa kasihan dan kenyataan yang sudah tidak bisa ia sangkal lagi. "Itu bukan alasan buat menjatuhkan orang lain, Van. Apalagi dengan cara sekotor itu."

"Aku tahu," Vania menunduk, suaranya semakin pelan. "Aku janji nggak akan ulangi lagi. Tolong, kasih aku kesempatan buat perbaiki ini."

Rangga tidak memberikan jawaban pasti pagi itu, hanya mengambil kopi yang disodorkan Vania dan berjalan ke kamar mandi tanpa berkata apa-apa lagi. Tapi di dalam hatinya, kepercayaannya pada Vania sudah retak lebih dalam dari yang bisa diperbaiki hanya dengan permintaan maaf dan air mata.

Masalahnya tidak berhenti di situ. Siang harinya, kabar tentang keterlibatan Vania dalam penyebaran isu fitnah terhadap Kirana sampai ke telinga Pak Wijaya—bukan dari Rangga, melainkan dari salah satu direksi senior yang kebetulan mendengar percakapan staf yang membicarakan bukti chat Yoga yang mulai beredar terbatas di kalangan internal, tanpa sepengetahuan Kirana sekalipun.

Pak Wijaya memanggil Rangga ke ruang kerjanya sore itu, ekspresinya jauh lebih tegang dari biasanya.

"Apa benar Vania yang menyebarkan fitnah soal Cahaya Abadi Investama?" tanya Pak Wijaya langsung, tanpa basa-basi.

Rangga terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. "Benar, Pa. Saya baru tahu juga beberapa hari lalu."

Pak Wijaya menghela napas berat, menyandarkan punggungnya di kursi. "Rangga, perusahaan kita baru saja menandatangani kerja sama penting dengan Cahaya Abadi Investama. Kalau publik tahu calon menantu kita yang menyerang reputasi mitra bisnis kita sendiri, ini bisa jadi skandal besar. Bukan cuma buat kamu, tapi buat seluruh Sentosa Abadi Grup."

"Saya tahu, Pa," jawab Rangga, suaranya berat. "Saya lagi pikirkan langkah selanjutnya."

"Langkah selanjutnya sudah jelas," kata Pak Wijaya tegas. "Pertunangan ini harus dipertimbangkan ulang. Papa nggak bisa biarkan reputasi keluarga dan perusahaan dipertaruhkan karena sifat asli calon menantu yang ternyata seperti ini."

Kabar itu, meski awalnya hanya beredar terbatas di kalangan internal, akhirnya bocor juga ke media—bukan lewat Kirana atau timnya yang memang sengaja menahan diri, melainkan lewat salah satu staf junior Sentosa Abadi yang tidak sengaja membicarakannya di tempat umum dan didengar oleh wartawan lepas.

Judul artikel yang terbit keesokan paginya cukup mengejutkan banyak pihak:

"Skandal di Balik Kerja Sama Bisnis: Calon Istri Direktur Sentosa Abadi Diduga Dalang Fitnah terhadap Mitra Investasi"

Kirana membaca berita itu dengan perasaan campur aduk—bukan puas, karena ini bukan cara yang ia inginkan untuk membongkar kebenaran, tapi juga tidak bisa disebut menyesal, karena kebenaran memang layak diketahui publik cepat atau lambat.

"Ini bukan cara kita yang bocorkan, kan, Bu?" tanya Dimas, sedikit khawatir timnya akan disalahkan.

"Bukan," jawab Kirana tegas. "Kita nggak pernah kirim bukti itu ke media mana pun. Ini murni bocor dari pihak mereka sendiri."

Pak Hadi, yang ikut membaca berita itu, menatap Kirana dengan ekspresi lega bercampur waspada. "Bagaimana pun juga, ini bisa berdampak ke reputasi kerja sama kita dengan Sentosa Abadi. Kita perlu siapkan pernyataan resmi lagi, memastikan publik tahu Cahaya Abadi Investama tidak terlibat dalam penyebaran berita ini."

Kirana mengangguk setuju, meski pikirannya sesaat melayang ke Rangga—membayangkan betapa beratnya posisi pria itu sekarang, terjepit antara reputasi keluarga besar, ayahnya sendiri, dan kenyataan tentang calon istrinya yang ternyata jauh dari sosok yang selama ini ia percaya.

Sore itu, di apartemen yang kini terasa seperti medan perang dingin, Vania menatap layar ponselnya, membaca berita yang sama dengan tangan gemetar. Nama dan fotonya, meski tidak disebutkan secara eksplisit di judul, cukup jelas teridentifikasi dari isi artikel yang menyebutkan posisinya sebagai calon istri direktur.

Ponselnya berdering. Ibunya menelepon, suaranya panik di ujung telepon.

"Vania, ini benar? Apa yang sebenarnya kamu lakukan?"

"Mama, ini... ini disalahpahami," jawab Vania, mencoba membela diri meski suaranya sendiri terdengar rapuh.

"Seluruh kerabat sudah mulai bertanya-tanya, Vania! Bagaimana kalau pertunangan ini dibatalkan karena ini? Bagaimana nasib keluarga kita di mata orang-orang?"

Vania menutup telepon itu dengan tangan gemetar, air mata yang sebelumnya ia gunakan sebagai senjata untuk meluluhkan Rangga, kini benar-benar mengalir tanpa bisa ia kendalikan—bukan lagi air mata strategi, melainkan air mata seseorang yang mulai menyadari bahwa dunia yang selama ini ia bangun di atas kepura-puraan, perlahan runtuh satu per satu.

Ia menatap cermin di kamarnya, refleksi dirinya yang dulu selalu percaya diri, kini terlihat lelah dan takut.

Bagaimana semua ini bisa jadi sekacau ini? pikirnya, meski jauh di dalam hati, ia tahu betul jawabannya—ia sendiri yang memulai semuanya, jauh sebelum Kirana bahkan menyadari ada yang mengincar reputasinya.

1
Kumbang di taman
semangat selalu 😍
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih atas kunjungannya
total 1 replies
Kumbang di taman
sukses selalu Author 👍
Adinda
toko utamanya Kirana atau dimas Dan alya,kalau bisa libatkan toko pemeran utamanya Dan tokoh yang jadi pendamping hidup Kirana,jadi ceritanya makin seru.
Fahmishodiq Abdullah: ok kak masukan saya terima kak,makasih atas masukan dan sarannya
total 1 replies
Detie Kurniawati
cerita yg tak aku pahami ahirnya??
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih kak kritiknya,saya akan mencoba memperbaruhinya
total 2 replies
Heny
Hadir thor
Fahmishodiq Abdullah: makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!