NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:791
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

Langkah kaki James menggemeretak kaku di atas permukaan semen yang basah. Malam makin larut, dan gerimis yang semula tipis kini berganti menjadi hujan deras yang menghantam atap-atap seng bekas studio foto milik almarhum Evander.

Di dalam saku bagian dalam mantelnya, kartu memori micro-SD yang baru saja diekstraksi dari bangkai kamera tua itu terasa sangat berat.

Kartu kecil itu tidak hanya berisi potongan gambar digital di dalamnya tersimpan rekaman visual berdarah yang menjadi saksi atas kebenaran tragedi sebelas tahun silam.

James melangkah keluar dari pintu belakang studio dengan tingkat kewaspadaan tertinggi. Setiap indranya terasah tajam. Sebagai mantan personel intelijen yang kini menjadi salah satu dari sangat sedikit orang kepercayaan Nicolas Vance, James sangat memahami betapa bahayanya informasi yang baru saja ia temukan.

Namun, belum sempat James mengayunkan langkahnya keluar dari lorong sempit tersebut, sebuah bisikan angin yang janggal menembus gemuruh hujan.

Klek.

Suara mekanisme kokang senjata api yang sangat halus terdengar dari balik bayangan kontainer sampah.

Insting bertahan hidup James bereaksi seketika. Pria itu menghentakkan tubuhnya ke samping persis saat sebuah peluru berkecepatan tinggi menembus dinding bata di dekat telinganya, memercikkan serpihan semen yang panas.

"Ada yang melangkah terlalu jauh di dalam kegelapan malam ini, James," pimpin sebuah suara dingin bersenjata bariton yang asing dari arah sudut lorong.

Dari balik kegelapan hujan, tiga sosok pria bertubuh kekar melangkah keluar. Mereka mengenakan setelan taktis kedap air berwarna kelam, dilengkapi dengan topeng kedap suara dan kacamata pengelihatan malam.

Pria yang berdiri di tengah, pimpinan dari unit pembunuh bayaran tersebut, memegang senjata api dengan penunjuk laser merah yang memancar tajam.

James menyipitkan matanya, merendahkan posisi tubuhnya seraya menarik pistol semi-otomatis dari balik pinggangnya. "Siapa yang mengutus kalian? Apakah Claudia Ophelia mulai panik hingga harus mengirimkan anjing pemburunya untuk menyapu lorong tua ini?"

Pria bertopeng itu tertawa sinis, sebuah tawa yang kering dan tanpa kehangatan. "Nyonya Claudia tidak pernah panik, James. Beliau hanya sangat menyukai kerapian. Dan keberadaan Anda yang bergerak secara liar di luar jangkauan radar Nicolas telah menjadi gangguan kecil yang harus segera dieliminasi."

Pergerakan terjadi dalam hitungan milidetik.

Dor! Dor! Dor!

Dua peluru berperedam suara dilepaskan oleh pimpinan pembunuh bayaran tersebut. James melompat ke balik dinding beton tua, membalas tembakan dengan dua sengatan peluru yang tepat merobohkan salah satu penyerang di bagian dada.

Namun, para pembunuh bayaran ini bukanlah milisi amatir. Mereka adalah unit eksekutor profesional yang disewa oleh Ophelia Group dari jaringan tentara bayaran internasional.

Penyerang kedua memanfaatkan kebingungan situasi untuk memutar ke arah kanan, melepaskan rentetan tembakan brutal secara menyilang.

Brak!

Sebuah peluru berkaliber berat menembus bahu kiri James, mematahkan tulang belikatnya dan menghempaskan tubuh pria itu ke atas tanah yang berlumpur.

Rasa sakit yang luar biasa membakar seluruh saraf lengannya. Senjata api di tangan James terlepas, berdentang kaku di atas tumpukan besi tua.

"Amankan seluruh perangkat elektronik yang dibawanya!" seru pimpinan penyerang seraya mengayunkan langkah mendekat.

Darah segar berwarna merah pekat mengalir deras membasahi mantel hitam James, bercampur dengan air hujan yang dingin. Dengan kesadaran yang mulai kabur dan pandangan yang memburam, James tahu bahwa jika kartu memori ini jatuh ke tangan mereka, seluruh kebenaran yang baru saja ditemukannya akan musnah selamanya.

Mengumpulkan sisa-sisa tenaga terakhirnya, James merogoh saku mantel dengan tangan kanannya yang gemetaran, menarik kartu memori micro-SD tersebut, lalu menyisipkannya ke dalam celah rahasia di dalam sabuk kulit yang dipakainya, sebuah celah mikro bertulang baja yang dirancang khusus untuk menghadapi situasi darurat.

"Serahkan apa yang baru saja kau temukan dari dalam studio itu, James!" gertak pimpinan pembunuh tersebut seraya menekan ujung laras senjatanya tepat ke dada James.

James mendongak, menyunggingkan senyuman tipis yang berdarah di bibirnya. "Kalian... terlambat..."

Pria bertopeng itu mendesis murka. Tanpa keraguan sedikit pun, ia menarik pelatuk senjata apinya.

Dor!

Sebuah peluru menembus rusuk kanan James, menghancurkan jaringan organ dalamnya. Pria tegap itu terkulai lemah, matanya terpejam tatkala kegelapan yang amat pekat menyapu seluruh kesadarannya.

Para penyerang segera menggeledah pakaian, tas, dan laptop portable yang dibawa oleh James. Mereka menghancurkan laptop tersebut dengan tiga tembakan beruntun hingga apinya padam disiram hujan, lalu mengambil seluruh kaset atau drive fisik yang tampak secara kasat mata, tanpa menyadari keberadaan celah mikro pada sabuk kulit James.

"Target telah mati, seluruh barang bukti digital di lokasi telah dimusnahkan. Laporkan kepada Nyonya Claudia bahwa ancaman dari James telah selesai," ujar pimpinan penyerang dingin seraya berbalik melangkah pergi, meninggalkan tubuh James yang membeku di tengah genangan darah dan air hujan.

Namun, takdir memiliki jalannya sendiri.

Satu jam setelah unit pembunuh bayaran Claudia meninggalkan lokasi penembakan, sebuah mobil van tua milik klinik rehabilitasi swasta melintas di lorong belakang tersebut.

Mobil itu dikendarai oleh Dr. Raymond Montgomery, seorang dokter bedah senior berdarah Inggris-Amerika yang memilih mengasingkan diri dari dunia medis korporat, bersama asisten setianya, Nora Harrison.

Mereka sedang dalam perjalanan kembali dari mengantarkan pasokan obat-obatan gratis untuk kawasan pemukiman miskin di pinggiran kota.

"Raymond berhenti!" jerit Nora seraya menunjuk ke arah sudut lorong yang gelap di dekat tiang listrik.

Dr. Raymond segera menginjak rem mobil van-nya secara mendadak. Dengan sigap, pria paruh baya berewok tipis itu turun membawa lampu senter dan tas medis darurat.

"Ya Tuhan..." bisik Dr. Raymond tatkala pendar lampu senternya menangkap sosok pria bertubuh tegap yang tergeletak tak bergerak dalam kubangan air berwarna merah tua.

Dr. Raymond berlutut, memeriksa denyut nadi di leher James. Sangat lemah, hampir tidak teraba, dan suhu tubuhnya telah merosot drastis akibat hipotermia berat dan pendarahan masif.

"Apakah pria ini masih bernapas, Raymond?" tanya Nora dengan suara bergetar, merapatkan mantelnya karena panik.

"Detak jantungnya sangat lambat, tapi dia masih bertahan hidup," tegas Dr. Raymond cepat.

"Dua luka tembak di area vital. Kita tidak bisa membawanya ke rumah sakit umum, pendarahan dan luka tembak seperti ini akan langsung memicu keterlibatan kepolisian, dan pria ini jelas merupakan korban percobaan pembunuhan terencana."

"Lantas apa yang harus kita lakukan?"

"Bawa dia ke klinik tersembunyi kita di perbukitan Saint Claire," perintah Dr. Raymond tanpa ragu.

"Angkat tubuhnya sekarang, Nora!"

Dengan usaha ekstra, Dr. Raymond dan Nora memindahkan tubuh James yang kaku ke dalam bagian belakang mobil van, meluncur membelah kegelapan malam menuju fasilitas medis swasta milik Dr. Raymond yang berada di luar jangkauan sistem pelacakan digital kota.

Operasi darurat berlangsung selama lima jam yang menegangkan di bawah lampu bedah klinik Saint Claire.

Dr. Raymond Montgomery bekerja tanpa henti untuk mengeluarkan dua selongsong peluru yang bersarang di dada dan bahu James, menjahit pembuluh darah yang pecah, serta mengalirkan tiga kantong darah transfusi. James bertahan melewati masa kritis operasi pertamanya, namun kerusakan fisik yang dialaminya terlalu parah.

Jaringan otaknya mengalami trauma berat akibat kekurangan oksigen yang cukup lama tatkala tubuhnya tergeletak di bawah hujan deras.

"Dia selamat dari kematian klinis," ujar Dr. Raymond seraya melepas sarung tangan bedahnya yang bersimbah darah, menatap tubuh James yang kini terhubung dengan berbagai mesin pendukung kehidupan.

"Namun, benturan trauma pada sistem saraf pusatnya sangat dahsyat. Pria ini telah jatuh ke dalam kondisi koma dalam vegetative state."

Nora Harrison mengusap pelipisnya yang berkeringat. "Berapa lama dia akan berada dalam kondisi seperti ini, Dokter?"

"Bisa bertahap dalam beberapa minggu, beberapa bulan... atau bahkan tidak akan pernah terbangun lagi," jawab Dr. Raymond prihatin.

"Kita tidak memiliki identitas resminya karena seluruh dokumen dan perangkat elektroniknya telah hancur. Kita hanya bisa merawatnya di tempat ini hingga kesadarannya kembali."

Saat merapikan pakaian James yang telah digunting untuk keperluan operasi, jemari Nora tersangkut pada engsel logam kecil di bagian dalam sabuk kulit pria tersebut. Nora menariknya dengan rasa penasaran, lalu menemukan sebuah benda berukuran sangat kecil yang terbungkus lapisan baja mikro.

Sebuah kartu memori micro-SD.

"Raymond, lihat ini," bisik Nora seraya menunjukkan kartu memori kecil itu. "Pria ini mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi benda kecil ini."

Dr. Raymond menerima kartu memori tersebut, menatapnya dengan raut wajah penuh keseriusan. "Jangan pernah menghubungkan kartu ini ke jaringan internet terbuka, Nora. Orang-orang yang mencoba membunuh pria ini memiliki pengaruh yang sangat besar. Simpan benda ini di dalam brankas kedap udara bersama barang-barang pribadinya. Kita akan menyerahkannya saat dia sadar."

Waktu bergulir tanpa ampun.

Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Di dalam ruang perawatan beratap kayu yang tenang di Klinik Saint Claire, James terbaring kaku bagaikan patung bernapas.

Suara bip teratur dari monitor jantung menjadi satu-satunya indikator bahwa jiwa pria itu masih bertarung di batas antara hidup dan mati.

Dr. Raymond Montgomery dan Nora Harrison merawat James dengan ketulusan yang luar biasa. Setiap hari, Nora membersihkan luka bekas operasi James, mengganti cairan infus, dan memastikan tidak ada infeksi sekunder yang menyerang tubuhnya.

Bagi mereka, pria asing ini adalah seorang pejuang yang sedang menyimpan sebuah rahasia besar di dalam jiwanya.

...****************...

Sementara itu, di dunia luar keberadaan James menghilang secara misterius tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Di dalam lingkungan Vance Group, Nicolas Vance sama sekali tidak mengetahui tragedi berdarah yang menimpa James. Karena pergerakan rahasia James sejak awal dilakukan secara tertutup tanpa melibatkan staf operasional resmi, demi menjaga kerahasiaan misi dari kebocoran sinyal Claudia, Nicolas menganggap bahwa James masih beroperasi secara independen di luar kota untuk menelusuri jejak lama keluarga Ophelia.

Nicolas yang disibukkan oleh konflik terbuka melawan Claudia, pengawasan atas keselamatan Sienna, dan perburuan bukti resep medis, tidak menyadari bahwa salah satu prajurit terpercaya yang memegang kunci rekaman video pembunuhan ibunya sedang terbaring koma di sebuah perbukitan sunyi.

Empat bulan kemudian.

Dedaunan di sekitar Klinik Saint Claire mulai gugur menyambut perubahan musim. Udara dingin berembus menembus celah jendela kamar tempat James dirawat.

Di balik tirai serba putih, jemari tangan kanan James yang kurus mendadak bergerak secara halus.

Bip... bip... bip...

Irama monitor jantung di samping tempat tidurnya mengalami peningkatan frekuensi. Kelopak mata James yang terpejam kaku selama empat bulan lamanya mulai bergetar pelan.

"Raymond memari cepat!" seru Nora dari ambang pintu kamar, matanya membelalak tatkala melihat refleks fisik pada tubuh pasiennya.

Dr. Raymond bergegas melangkah masuk, memegang senter medis kecil untuk memeriksa pupil mata James.

Dua kelopak mata itu perlahan terkuak. Iris mata James yang semula redup dan tanpa pendar kehidupan mulai memfokuskan pandangannya pada langit-langit kamar yang asing. Napasnya terengah-engah secara sporadis melalui masker oksigen yang terpasang di wajahnya.

"Tenang, Anda berada di tempat yang aman," tutur Dr. Raymond dengan bahasa tutur yang sangat lembut, memegang bahu James agar pria itu tidak panik.

"Anda berada di Klinik Saint Claire. Kami telah merawat Anda selama empat bulan setelah Anda mengalami trauma penembakan berat."

James mengedipkan matanya perlahan. Suara di sekelilingnya terdengar seperti dengung berdengung dari dalam air. Ingatan-ingatannya yang terputus mulai tertata kembali secara perlahan bagaikan pecahan kaca yang disatukan.

Studio tua... Evander... tembakan Claudia... Sienna kecil yang memegang senjata... dan serangan brutal para pembunuh bayaran di lorong hujan.

"Tuan... Nicolas..." cicit James dengan suara yang teramat parau, hampir tak terdengar di balik masker oksigennya.

Nora mencondongkan tubuhnya, mendengarkan bisikan parau tersebut dengan cermat. "Apa yang Anda katakan?"

"Kartu... memori..." bisik James lagi, jemarinya yang lemah mencoba meremas seprai tempat tidur dengan sisa tenaga yang dimilikinya. "Kertas... video... Mrs. Claudia..."

Dr. Raymond menatap Nora, lalu melangkah menuju brankas kecil di sudut ruangan. Pria tua itu mengambil tabung besi kecil yang berisi kartu memori micro-SD milik James, lalu memperlihatkannya di hadapan mata pria itu.

"Benda ini masih utuh bersama kami," ujar Dr. Raymond tegas. "Tidak ada seorang pun yang menyentuhnya atau menghubungkannya ke jaringan luar selama Anda koma."

Setetes air mata mengalir dari sudut mata James. Pria itu menghembuskan napas panjang yang teramat lega. Meski tubuhnya masih sangat lemah dan lumpuh akibat koma berbulan-bulan, jiwanya kembali membara.

Kebenaran itu masih selamat. Dan meski ia telah hilang dari radar Nicolas selama empat bulan, James bersumpah di dalam hatinya bahwa ia akan memulihkan fisiknya secepat mungkin untuk menyerahkan bukti rekaman video ini langsung ke tangan Nicolas Vance untuk mengakhiri kejahatan Claudia Ophelia.

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!