Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.
Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.
Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : Teriakan dari Tribune dan Cemburu (?)
Beberapa minggu setelah kejadian tugas kelompok di perpustakaan, dinamika di Kelas XI IPS 2 berjalan makin manis meski dibalut gengsi setebal benteng. Hari Rabu sore ini, suasana SMA Cahaya Permata mendadak jauh lebih riuh dari biasanya. Begitu bel jam pelajaran terakhir berbunyi, derap langkah ratusan siswa langsung berbondong-bondong memadati area gedung olahraga indoor sekolah.
Sore ini, tim basket putra kebanggaan sekolah dijadwalkan melakoni laga sparing persahabatan melawan tim rival lama mereka dari SMA Garudatama.
Suara decit sepatu kets di atas lantai kayu berlapis varnish berpadu riuh dengan ketukan drum penonton dan sorakan heboh dari tribune bertingkat.
Kiara sebenarnya berniat langsung pulang. Namun, lengan bajunya sudah ditarik erat-erat oleh Neona dan Maya.
"Ayo dong, Kia! Nonton sebentar aja," bujuk Neona antusias sambil merangkul lengan Kiara. "Gue mau nonton si Kevin, katanya hari ini dia main awal," ujarnya seraya memelas minta ditemani.
"Iya, Kia. Sekalian nyemangatin anak-anak kelas kita. Tuh, ramean cewek IPS Dua pada nongkrong di sana," tambah Maya menunjuk deretan tribune bawah yang diisi Sisil, Nisya, dan Misya.
Kiara menghela napas pasrah, menuruti langkah kedua temannya. "Tapi sebentar aja ya... gue belum ngabarin Mang Ujang juga sih."
"Gampang itu mah, nanti setelah nonton juga bisa ngabarinnya." timpal Neona semangat.
Mereka mengambil tempat di tribune barisan ketiga yang menghadap langsung ke tengah lapangan. Begitu duduk, mata Kiara refleks memindai area pertandingan.
Di sana, Khafi sedang memimpin sesi pemanasan. Cowok itu mengenakan jersey tanpa lengan berwarna Biru-hitam dengan nomor punggung 07. Seragam itu membingkai bahunya yang tegap dan dada bidangnya dengan sempurna. Rambut hitamnya sedikit basah oleh peluh, dan sebuah headband hitam melingkar di dahinya untuk menahan poninya yang jatuh.
Deg.
Kiara menelan ludahnya pelan. Pesona Khafi saat memakai seragam sekolah biasa dan saat berada di lapangan basket sungguh dua dunia yang berbeda. Di lapangan, Khafi menjelma menjadi kapten yang dingin, dominan, dan sangat karismatik. Aura kepemimpinannya menguar kuat dari setiap instruksi tegas yang ia lontarkan pada timnya.
"Woi! Kapten kita ganteng banget hari ini, gila!" bisik Sisil dari barisan belakang.
"Jangan keras-keras, Sil! Nanti ada yang baper!" ledek Neona melirik Kiara yang pura-pura sibuk membetulkan tali sepatunya untuk menutupi salah tingkah.
Prrriiiittt!
Peluit wasit melengking memanggil kedua tim. Pertandingan sparing resmi dimulai.
Suara ketukan bola yang mendribel cepat dan benturan fisik antar pemain memenuhi arena. Khafi sebagai Point Guard utama bermain sangat spektakuler. Pergerakannya lincah, matanya tajam memindai celah, dan umpan-umpannya presisi luar biasa.
Di menit kelima, Ghibran melakukan crossover cepat yang mematikan, menipu Guard Garudatama hingga hilang keseimbangan, lalu meliuk melewati dua pemain bertahan lawan dan melepaskan umpan no-look pass ke arah Kevin.
Swoosh!
Kevin mencetak dua poin pertama lewat tembakan jump shot yang mulus.
"Nice pass, Khaf!" teriak Kevin sambil mengangkat tangannya melakukan high-five dengan Khafi di udara.
Kiara yang awalnya cuma niat menonton santai, tanpa sadar mulai hanyut total. Matanya tidak pernah bisa lepas dari nomor punggung 07. Setiap kali Khafi memutar badannya, melakukan dribble membentur lantai lapangan hingga melompat tinggi melayang di udara untuk mencetak angka lewat fadeaway shot, dada Kiara berdesir hebat. Otot lengannya yang menegang saat melempar bola benar-benar mengeluarkan pesona terpendam yang bikin siapa saja terhipnotis.
Masuk kuarter ketiga, permainan makin keras. Saat Khafi melakukan penetrasi cepat ke area paint, salah satu pemain lawan tak sengaja menyenggol bahunya cukup keras hingga Khafi jatuh terjerembap ke lantai kayu.
PRRRIIIITTT! Foul!
Anak-anak di tribune seketika riuh.
"Khafi!" pekik Kiara refleks berdiri setengah badan dari duduknya, jemarinya meremas pembatas tribune kencang dengan raut cemas luar biasa.
Khafi terduduk sejenak, meringis pelan memegangi sikutnya. Namun saat ia mendongak memindai arah tribune, matanya langsung bertabrakan dengan mata Kiara yang menatapnya panik.
Raut meringis di wajah Khafi seketika melunak. Sudut bibirnya terangkat tipis menyunggingkan senyum miring yang sangat tipis. Rasa perih di tangannya seolah menguap begitu saja. Khafi bangkit berdiri, menepuk-nepuk celana jerseynya, lalu menyapu pandangan kembali ke Kiara seolah ingin membuktikan bahwa ia baik-baik saja.
Pertandingan berakhir dengan kemenangan manis tim sekolah mereka. Peluit panjang dibalas tepuk tangan meriah seisi GOR.
Saat para pemain beristirahat di pinggir lapangan, Ferdi—Si yang selalu heboh—menghampiri tribune cewek-cewek IPS 2 sambil mengusap keringat di lehernya.
"Aduh, cadas pisan euy permainan hari ini!" seru Ferdi nyengir lebar. "Guys, berhubung tenggorokan kering sama cacing di perut udah demo, hayu urang keluar nongkrong dulu ke kafe depan sekolah! Jajan-jajan lucu lah!"
"Hayu! Gue juga laper banget nih!" sahut Pandu setuju seraya mengusapkan kacamatanya yang berembun.
Kevin melangkah mendekat, melirik ke arah Neona sambil menaikkan alisnya. "Ikut nggak, Na? Sekalian gue traktir minum deh."
Neona menatap Kevin curiga tapi bibirnya mengulum senyum. "Beneran ditraktir nih? Nggak bohong?"
"Beneran, masa bohong sama lo," jawab Kevin santai.
Neona lalu menyikut lengan Grizelle pelan. "Ikut yuk, Kia! Kan lo juga belum dikabarin jemputannya!"
"Eh? Tapi..." Kiara ragu-ragu.
"Apan sih, ikut aja! Rame-rame ini, ada Maya sama yang lain juga kok," bujuk Neona yakin.
"Iya, Kia, santai kali kayak sama siapa aja," timpal Pandu membujuk. "Eh, si Kapten mana?"
Khafi yang baru selesai membasuh mukanya di kamar ganti melangkah menghampiri kerumunan mereka dengan kaus hitam polos dan celana abu-abu seragamnya. Handuk kecil masih tersangkut di lehernya.
"Ngapain pada berdiri di sini?" tanya Khafi datar.
"Mau nongkrong ke kafe depan, Khaf. Ikut nggak lo?" ajak Pandu.
Khafi melirik Kiara sekilas, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Ogah. Mager gue. Mau langsung pulang aja."
"Yah, si Bos mah gak asik!" celetuk Ferdi. "Ya udah, Kiara ikut sama kita kok!"
Khafi mendadak menghentikan langkahnya, menoleh menatap Kiara lurus-lurus. "Lo beneran mau ikut?"
Kiara menegakkan tubuhnya, memasang wajah datar biasa saja ia menjawab pelan. "Iya, mau ikut. Lagian Mang Ujang belum jemput. Daripada gue bengong di gerbang sendirian?"
Khafi diam sejenak, memandangi Kiara dengan alis bertaut tipis, sebelum akhirnya menghela napas pendek. "Ya udah. Gue ikut."
"Dih, langsung berubah pikiran begitu denger Kiara ikut," bisik Pandu pelan ke Kevin sambil terkekeh. Khafi hanya melempar tatapan tajam yang membuat Pandu langsung pura-pura batuk.
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah duduk di area outdoor kafe estetik tak jauh dari sekolah. Meja panjang itu diisi oleh Ferdi, Pandu, Kevin yang sibuk ngobrol berdua sama Neona, serta Khafi yang duduk tepat di sebelah Kiara.
Obrolan di meja terasa mengalir hangat. Neona dan Kevin sibuk berdebat soal hal-hal random yang hanya mereka berdua mengerti, sementara Ferdi tak berhenti melempar lelucon Sunda yang memancing tawa.
Tak lama kemudian, rombongan pemain dari SMA Garudatama juga masuk ke kafe yang sama. Walau di lapangan mereka rival sengit, di luar lapangan mereka ternyata berteman cukup akrab karena sering bertemu di berbagai turnamen.
Kapten tim Garudatama—Rendra—seorang cowok tinggi berparas tampan dan ramah, langsung melambaikan tangan saat melihat Khafi.
"Woi, Khaf! Nongkrong di sini juga lu!" sapa Rendra mendekati meja mereka bersama dua temannya.
"Yo, Ndra. Main lo mantap tadi," balas Khafi menyalami Rendra dengan bro-fist santai.
"Ah, masih kalah cerdik sama Point Guard lo," puji Rendra terkekeh.
Namun, saat mata Rendra bergulir memindai seisi meja untuk menyapa, pandangannya mendadak mengunci ke arah Kiara yang sedang tenang menyesap jus mangganya. Rendra menaikkan alisnya, tersenyum ramah dan terang-terangan menatap Kiara.
"Eh, halo. Anak Cahaya Permata juga? Kok gue baru liat ya?" tanya Rendra santai.
Kiara yang kaget mendadak ditanya langsung menaruh minumannya. "Eh... iya. Salam kenal, gue Kiara."
"Gue Rendra," sahut Rendra tersenyum manis, memajukan posisinya seolah mau mengajak ngobrol lebih lanjut. "Kelas berapa, Kiara? Anak eskul apa di CP?"
"Kelas sebelas IPS—"
"Dia anak IPS Dua, sekelas sama gue," potong Khafi cepat dengan suara berat dan datar yang sangat tidak bersahabat, bahkan sebelum Kiara menyelesaikan kalimatnya.
Melihat reaksi cepat Khafi, Rendra terkekeh pelan. "Santai kali, Khaf, gue cuma nanya doang. Boleh minta kontak Instagram-nya nggak, Kia? Nanti biar bisa saling follback."
Kiara membelalak kaget, bibirnya terbuka mau menjawab. Namun sebelum sempat kata keluar dari mulut Kiara, suara dingin Khafi sudah memotong duluan tanpa ragu.
"Nggak bisa. Dia nggak main Instagram kalau sama orang asing," cetus Khafi asal menceploskan alibi paling tidak masuk akal, padahal Instagram Kiara sangat aktif.
Kiara melotot menatap samping wajah Khafi. Husen ngaco banget! Sejak kapan gue nggak main IG?! batinnya teriak gemas.
"Lah? Masa sih zaman sekarang nggak main IG?" Rendra tertawa geli, makin paham situasi di depannya. Rendra melirik Khafi dengan tatapan menggoda. "Sensitif amat lu, Khaf. Pacar lo memangnya?"
Pertanyaan Rendra membuat meja mereka mendadak hening seketika. Kevin dan Neona bahkan menghentikan obrolan mereka untuk menonton drama gratis ini. Ferdi dan Pandu cuma bisa saling lirik sambil menahan tawa.
Kiara menahan napasnya, dadanya berdebar kencang menantikan jawaban dari mulut cowok di sampingnya.
Khafi menyandarkan punggungnya ke kursi, merangkulkan satu tangannya ke sandaran kursi Kiara—sebuah gestur posesif terselubung—lalu menatap Rendra lurus-lurus tanpa rasa ragu.
"Bukan pacar," jawab Khafi pelan tapi penuh penekanan. "Tapi dia tanggung jawab gue sore ini. Jadi jangan diganggu. Paham?"
Rendra mengangkat kedua tangannya sambil tertawa pelan, maklum. "Oke, oke! Paham banget gue! Ampun, Kapten! Ya udah, gue ke meja sana dulu ya. Ditungguin anak-anak."
Sepeninggal Rendra, Neona yang duduk di seberang langsung menyikut pelan lengan Kiara di bawah meja. Neona mencium ada hal yang sangat berbeda dari sikap Khafi sore ini.
"Kiara..." bisik Neona pelan dengan kerlingan mata penuh arti. "Rasa-rasanya ada yang udah nggak anggap lo musuh lagi deh. Posesif banget tadi."
Kiara yang mukanya sudah merona merah padam sampai ke telinga langsung menggeleng cepat, membantah dengan suara berbisik yang panik. "Apaan sih, Na! Nggak ya! Dia mah emang sengaja bikin gue malu aja biar nggak dapet temen baru!"
"Masa sih? Denial lo tipis banget, Kia," goda Neona tersenyum misterius.
"Beneran, Ona! Khafi tuh cuma iseng!" jawab Kiara makin denial, sibuk mengaduk-aduk es di gelasnya untuk menutupi rasa salah tingkah dan detak jantungnya yang sudah maraton tak karuan.
Kiara lalu berpaling, menyenggol siku Khafi pelan dengan raut wajah sok galak. "Khafi! Maksud lo apa ngomong gitu ke Kak Rendra?!" bisik Kiara menutupi rasa bahagianya yang terlarang. "Sok tau banget bilang gue nggak main IG!"
Khafi melirik Kiara santai, mengambil botol minumnya sendiri tanpa rasa bersalah. "Daripada lo ngelayanin cowok tebar pesona kayak gitu? Mending fokus habisin minum lo."
"Gue bisa jawab sendiri ya!" ketus Kiara tidak terima.
"Tapi lo kelamaan mikir," sahut Khafi pendek, lalu menatap layar HP-nya. "Lagian Mang Ujang udah nge-WA gue. Mobil lo udah ada di depan gerbang kafe."
Kiara tertegun kaget. "Lho? Mang Ujang kok nge-WA lo?!"
"Gue yang minta nomornya dari Mama lo pas di kemping kemarin," balas Khafi santai sambil berdiri dari kursi. "Cepat berdiri. Gue anterin ke mobil."
Kiara melongo menatap punggung Khafi yang berjalan lebih dulu ke arah kasir untuk membayar minuman keduanya. Di belakangnya, Neona cuma tersenyum-senyum sendiri memperhatikan mereka berdua. Kiara berusaha keras merapikan raut mukanya, memegang kedua pipinya yang terasa membakar panas, berpamitan singkat dengan yang lain lalu mengekor di belakang langkah tegap Khafi dengan dada yang bergemuruh hebat
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam kamis pukul delapan malam, kamar Kiara bernuansa ivory dan beige itu terasa begitu tenang. Suara rintik hujan gerimis menyapu kaca jendela, beradu dengan aroma wangi lilin aromaterapi yang menguar halus. Kiara baru saja selesai mengeringkan rambutnya dengan handuk lembut, memakai baju tidur bahan katun warna khakinya, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk.
Di kepalanya, rekaman kejadian sore tadi di kafe masih berputar ulang tanpa henti.
“Bukan pacar. Tapi dia tanggung jawab gue sore ini. Jadi jangan diganggu. Paham?”
Suara berat dan tatapan mata tajam Khafi yang pasang badan di depan Kak Rendra tadi terus terngiang-ngiang. Kiara menarik selimutnya sampai menutupi separuh wajahnya yang mendadak panas.
"Dasar Khafi... bikin orang gila aja," gumam Kiara pelan pada bantal gulingnya.
Ting!
Layar ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas mendadak menyala, memancarkan cahaya terang di tengah kegelapan kamar.
Kiara merangkak pelan, meraih HP-nya itu tanpa rasa curiga. Ia mengira itu cuma notifikasi dari grup kelas atau pesan dari Neona yang mau melanjutkan gosip sore tadi. Namun, begitu matanya menatap nama pengirim di layar terkunci, napas Kiara seketika tertahan.
Khafi(r)
Udah di rumah kan?
Jantung Kiara langsung maraton tanpa ampun. Tumben banget chat nanya posisi gini. batinnya teriak heboh. Ini pertama kalinya cowok itu mengirimi pesan di luar urusan yang menguras emosinya.
Kiara buru-buru duduk tegap, membetulkan posisi duduknya seolah-olah Khafi bisa melihatnya dari balik layar. Jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, memasang raut muka dan nada se-gengsi mungkin.
^^^~KiaraZefanya^^^
^^^Udah dari tadi. Kenapa?^^^
Tak sampai setengah menit, balasan dari Khafi langsung muncul.
Khafi(r)
Gpp. Nanya doang.
Lagian tadi di kafe lo keliatan masih agak lemes.
Kiara mendelik tipis membaca balasan lempeng itu. Dih, gengsi banget bilangnya nanya doang! omel Kiara dalam hati, memasang raut cemberut yang buru-buru berubah jadi senyuman manis.
^^^~KiaraZefanya^^^
^^^Gue gak lemes yaa^^^
^^^Cuma agak kaget aja td pas Kak Rendra ngajak ngobrol.^^^
Khafi(r)
Makanya jngn gampang kepancing sama cowok tebar pesona kyk gitu.
Kiara tertawa pelan membaca pesan posesif terselubung itu. Jemarinya makin semangat mengetik.
^^^~KiaraZefanya^^^
^^^Dih, ngatur!^^^
^^^Lagian kan Kak Rendra cuma ramah, gak kayak lo yang galak mulu.^^^
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di seberang sana, di dalam kamarnya yang serba bernuansa abu-abu, Khafi sedang bersandar di kepala kasur sambil memegang HP-nya. Membaca balasan ketus tapi defensif dari Kiara membuat sudut bibir cowok itu terangkat tipis. Khafi bisa membayangkan dengan sangat jelas bagaimana raut wajah Kiara saat mengetik kalimat itu—pasti sambil memanyunkan bibirnya dan melotot galak.
Khafi menyapu jarinya di layar, mengetikkan balasan berikutnya dengan santai.
^^^Khafi Mahendra^^^
^^^Gue galak juga lo tetep nonton gue main basket dari kuarter satu sampai habis.^^^
^^^Bahkan pas gue jatuh tadi ada yang langsung berdiri heboh di tribune.^^^
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Deg.
Kiara membeku. Wajahnya seketika merona merah padam di bawah temaram lampu kamar.
Mampus, dia beneran liat pas gue berdiri panik tadi! Batinnya.
^^^~KiaraZefanya^^^
^^^Jngn kepedean banget jadi orang!^^^
^^^Gue cuma refleks kaget ya, jngn geer!^^^
^^^Trsrh lo deh, gue mau tidur^^^
Di ujung sana, Khafi terkekeh pelan—suara kekehan halus yang hanya didengar oleh dinding kamarnya sendiri. Jemari panjangnya bergerak cepat mengetik pesan terakhir.
Khafi(r)
Iya, percaya.
Istirahat, kuntil. Good night.
Kiara membeku menatap kata 'Good night' di layar. Ia menjatuhkan HP-nya ke atas kasur, lalu membenamkan wajahnya ke dalam bantal guling sambil menepuk-nepuk kakinya heboh karena salah tingkah yang luar biasa parah.
"Aaaaghhh! Khafi gila! Khafi jahat banget bikin anak orang gak bisa tidur!" jerit Kiara teredam bantal. Malam itu, Kiara tahu pasti, pertahanan gengsinya sudah benar-benar rata dengan tanah.
semangatt
Harus bngtttt sih kalian baca! Jngn lupa ramein komen, like, sama vote ya guys. Biar Author-nya makin semangat & rajin update! 🚀
gasss terus thor/Determined/
Vibesnya kaya balik lagi ke masa SMA wkwkwkk, karakter plus interaksi Kiara dan Khafi tuh relate dan beneran dapet banget vibes enemies to loversnya.
Awalnya cuman iseng baca tapi makin ke sini makin bikin senyum-senyum sendiri hahaha, alurnya ngalir terus penulisannya juga rapi yang bikin enaknya gitu.
Semangat terus thor, ditunggu update selanjutnya!
Wajib baca sih buat yang suka trope gini, rugi banget kalau kelewatan karena dijamin ketagihan kaya gua