NovelToon NovelToon
KKN DESA MATI

KKN DESA MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Author Melda

6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18. MAYA BUKAN MAYA

Lampu minyak padam.

Gelap total.

Hanya suara napas kami berdua yang terdengar di dalam rumah Mbok Darmi. Napas Maya yang cepat dan terputus-putus, dan napasku yang tercekat karena takut.

"Mbok... Mbok Darmi..." panggilku pelan dengan suara gemetar.

Tidak ada jawaban. Hanya suara KRETEK KRETEK dari alat tenun yang masih bergerak sendiri di kegelapan. Suaranya semakin cepat.

Tiba-tiba, lampu minyak itu menyala lagi sendiri. Ceklek.

Aku bisa melihat sekeliling. Mbok Darmi sudah tidak ada di depan alat tenunnya. Kursinya kosong. Gunting besar berkarat yang tadi dia bawa tergeletak di atas kain kafan yang setengah jadi.

"Mbok?" Maya menarik bajuku. "Mbok nya kemana, Vi?"

Aku menggeleng. Aku tidak tahu. Perasaan takutku semakin menjadi. Rumah panggung ini terasa semakin sempit, dinding kayunya seperti bergerak mendekat.

"Kita keluar, May. Kita keluar dari rumah ini sekarang!"

Aku menarik tangan Maya menuju pintu. Tapi pintu itu tidak bisa dibuka. Aku tarik sekuat tenaga, aku dorong, aku tendang. Tidak bergerak sama sekali. Seperti dipaku dari luar.

Jendela juga sama. Semua terkunci.

Kami terjebak.

"Selvi..." Maya berbisik di belakangku. Suaranya pelan sekali. Beda dari suara Maya biasanya.

Aku menoleh.

Maya berdiri di tengah ruangan, di bawah lampu minyak. Wajahnya menunduk, rambut panjangnya menutupi wajahnya. Kain kafan yang tadi dia peluk kini dia bentangkan. Di dalam kain itu, ada 6 nama yang sudah ada, dan satu nama baru yang sedang muncul perlahan, ditulis dengan darah.

NAMA KETUJUH.

"May, kamu kenapa?" Aku melangkah mendekatinya pelan-pelan.

Maya perlahan mengangkat kepalanya.

Dan aku menjerit tanpa suara.

Wajah Maya bukan wajah Maya. Matanya hitam semua, tidak ada putihnya. Dari matanya keluar benang-benang putih yang menetes seperti air mata. Mulutnya sobek sampai ke telinga, dan dari dalam mulutnya keluar suara Mbok Darmi.

"Kamu belum sadar ya, Selvi?"

Aku mundur sampai punggungku menabrak dinding. Kakiku lemas. "K-kamu siapa? Kamu bukan Maya! Kamu dimana Maya?!"

Sosok yang memakai wajah Maya itu tertawa. Tertawa melengking. Suaranya tumpang tindih antara suara Maya dan suara Mbok Darmi.

"Maya yang asli sudah lama masuk sumur, Selvi. Sejak malam pertama. Di BAB 3, TEROR MALAM PERTAMA, ingat? Yang tidur di samping kamu itu bukan Maya lagi. Itu aku. Aku yang pakai kulitnya."

Darahku berhenti mengalir.

Apa maksudnya? Malam pertama? Di balai desa?

Aku ingat. Malam pertama kami di balai desa tanpa bayangan itu, Maya memang tidur di sampingku. Dia bilang kedinginan. Tapi... tapi aku ingat bayangan Maya tidak ada di dinding saat senter menyala.

"Gak... gak mungkin... bohong!" teriakku sambil menangis. "Maya ada terus sama aku! Dia yang tolong aku di hutan larangan tadi!"

"Yang tolong kamu di hutan tadi juga aku, Selvi," kata sosok itu sambil melangkah mendekatiku. Setiap langkahnya, lantai kayu rumah itu mengeluarkan darah hitam. "Kalau bukan aku, kamu sudah ditarik akar tadi. Aku butuh kamu tetap hidup. Karena kamu penenun terakhir."

Aku memeluk kepalaku. Tidak. Tidak mungkin. Maya temanku dari semester 1. Maya yang selalu pinjam catatanku. Maya yang selalu traktir aku cilok.

"Maya anakku, Selvi," lanjut sosok itu. Suaranya kini sepenuhnya suara Mbok Darmi yang serak. "Anak kandungku yang aku buang ke sumur 20 tahun lalu karena dia cacat. Kakinya pincang. Warga bilang dia pembawa sial. Jadi aku tenun dia jadi kain kafan pertama. Dan sekarang, dia pinjam tubuh temanmu."

Sosok Maya itu menyentuh wajahnya sendiri. Kulit wajah Maya itu terkelupas sedikit, terlihat kulit keriput Mbok Darmi di bawahnya.

Aku mual. Aku ingin muntah.

"Jadi selama ini... yang sama aku itu..."

"Mayanya sudah jadi kain, Selvi. Lihat," dia membentangkan kain kafan itu di depanku. Di antara nama SINTA, RIKO, BIMA, FARHAN, ada nama MAYA yang ditulis dengan benang merah, masih basah. "Dia sudah aku tenun duluan. Tubuhnya ini hanya wadah. Wadah kosong yang aku pakai biar kamu gak curiga."

Aku menangis sejadi-jadinya. Jadi aku sendirian selama ini? Jadi dari 6 orang yang berangkat KKN, hanya aku yang tersisa hidup? Teman-temanku semua sudah mati dan aku bahkan tidak sadar kalau yang di sampingku adalah hantu?

"Kenapa? Kenapa aku? Kenapa harus aku yang disisain?" teriakku.

Sosok itu berjongkok di depanku. Wajah Maya yang mengerikan itu dekat sekali dengan wajahku. Bau tanah basah dan kemenyan busuk menyengat hidungku.

"Karena kamu mirip aku, Selvi. Tanganmu. Tanganmu lentik, cocok untuk menenun. Pak Lurah Karjo sudah aku kasih tau, cari 6 anak KKN yang tangannya bagus untuk gantiin aku jaga sumur. Dan kamu yang paling bagus. Makanya kamu aku sisain terakhir."

Dia mengangkat tanganku. Tanganku yang gemetar dia pegang dengan kuku hitamnya yang panjang.

"Lihat? Cantik. Cocok untuk pegang alat tenun ini selamanya."

Tiba-tiba, dari luar rumah, terdengar suara kentongan bertalu-talu. TUNG TUNG TUNG TUNG.

Itu suara kentongan Pak Lurah Karjo. Tapi Pak Lurah kan sudah mati jadi tumbal di BAB 11?

Sosok Maya itu menoleh kaget ke arah jendela. Wajahnya panik.

"Dia datang..."

Pintu rumah yang tadi tidak bisa dibuka, tiba-tiba terbuka sendiri dengan keras. BANTING.

Di depan pintu, berdiri Pak Lurah Karjo. Tapi bukan Pak Lurah yang biasa. Tubuhnya gosong terbakar, matanya bolong, di tangannya membawa obor yang menyala besar.

"M-BOK DARMI! KEMBALIKAN ANAK-ANAK ITU! DESA INI SUDAH CUKUP TUMBAL!" teriak Pak Lurah Karjo dengan suara berat.

Sosok Maya itu menjerit. Jeritannya bukan jeritan manusia.

Aku melihat ini kesempatan. Aku mendorong tubuh Maya palsu itu sekuat tenaga dan aku lari keluar rumah, menabrak Pak Lurah Karjo yang gosong itu.

Aku jatuh ke tanah lumpur di halaman. Aku tidak peduli. Aku lari. Aku lari sekencang-kencangnya meninggalkan rumah Mbok Darmi, meninggalkan hutan larangan, meninggalkan Maya yang bukan Maya.

Aku lari sambil menangis. Di tanganku, aku masih membawa kain kafan itu. Aku tidak sadar kapan aku mengambilnya.

Di belakangku, aku dengar rumah itu terbakar. Dan suara dua makhluk itu berkelahi. Suara Maya yang tertawa dan menangis bersamaan.

Aku terus lari. Sampai akhirnya aku melihat balai desa lagi. Balai desa tanpa bayangan itu.

Aku sendirian. Sekarang benar-benar sendirian.

Tinggal aku yang tersisa.

Aku memeluk kain kafan itu. Di dalam kain itu, ada 5 nama teman-temanku. Dan di ujung kain, ada nama ketujuh yang baru selesai ditulis dengan darah segar.

Namanya adalah... MAYA.

1
Nandan Waluya
Mantap ceritanya kak 💪
Author Melda: heheh terimakasih kak sdh mampir👍
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sebelum baca BAB 6, aku coba jawab pertanyaan Kak Melda di akhir BAB ini...

Jawabannya adalah...

Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Di akhir BAB, aku bayangin begini:

Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya membayangkan skenario spesial:

Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...

🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya pasti cuma berdiri aja sambil senderan tembok, menatap satu-satu semua temen KKN. Terus tersenyum aja lihat mereka begitu... hihihi...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya bangun dari rebahan, jalan deketin Selvi, dan bilang sama dia, "Gimana? Mau tukeran posisi ketua sama gue, gak?"
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo ada saya di dalam ceritanya, pasti saya udah rebahan santai... sambil bilang, "Nikmati aja dulu... hehehe..."
Author Melda: Nah kan 😈 Cocok jadi ketua penunggu sumur ini mah
"Nikmati aja dulu hehehe" - kata penunggu sumur ke mahasiswa KKN
Fix kakak aku jadiin bos terakhir ya 😂
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah, kok saya malah ngerasa semakin seru ya kalo ada di tim mereka??? 🤭🤭🤭
Author Melda: Wkwk sama kak aku nulisnya aja keringetan 😭
Yaudah sini gabung tim KKN Desa Kalijatiny
Posisinya: divisi nganter makanan ke sumur jam 12 malam 🤝
Gaji: 1 nyawa wkwk
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sudah diduga... Pasti warganya keluar malam-malam...
Author Melda: Wkwk pinter banget nebaknya kak 😈
Tapi... yang keluar malam-malam itu bukan warganya doang...
Ada yang "nemenin" mereka juga 👀
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Eh, bentar-bentar... Si nenek itu bisa menjawab salam???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ini pihak kampusnya gak cari tahu dulu kah soal Desa Kalijatinya???
Author Melda: Bener kak 😭 itu juga yang jadi pertanyaan mahasiswa nya di cerita
Katanya sih "Desa tertinggal, butuh mahasiswa"
Padahal... ada udang di balik batu wkwk
Tunggu plot twist nya di bab selanjutnya yaa
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sumpah, baru BAB pertama aja, udah ngeri banget begini suasana Desa Kalijatinya. Terbayang jelas di imaninasi. Tapi seru juga sih bisa KKN di desa macam gitu... hehehe... 😍😍😍
Author Melda: Hehe makasih udah ngerasain seremnya kak 😈
Tapi... kalau kakak yang KKN di Desa Kalijatiny,
berani gak jaga sumur jam 12 malam sendirian? 👀
Bab 7 udah tayang yaa... siap-siap merinding lagi
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Mending pulang aja gak, sih???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Berasa kayak mau uji nyali dari pada mau KKN...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah, kalau saya ikut di tim mereka, terus dapat ucapan kayak begini sih, langsung merinding sumpah...
na-an
aku gak ngerti deh kak
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐
na-an
seru banget kak! sekarang juga udah lebih teratur alurnya. semangat ya!😁
Author Melda: makasih banyak kak na-an! 🥹❤️ seneng banget kalau sampai BAB 14 udah lebih teratur alurnya! BAB 15 nya lagi direview nih kak bentar lagi tayang, KAIN KAFAN SELVI bakal lebih ngeri lagi! ditungguin ya kak!
total 1 replies
#@.Ar.world(。・ω・。)
merinding sih kak ame seram juga pasti terinspirasi sama film kkn ya kak
Author Melda: Hai kak @Ar.world makasih udah mampir di Bab 12! 🥺 Iya kak ada inspirasi dari film KKN, tapi ini kisah nyata dari desaku sendiri kak yang aku kembangin jadi cerita... Tungguin ya kak, Bab 13 Hutan Larangan lebih serem lagi, Maya bakal dicoret! 👻
total 1 replies
Author Melda
Guys menurut kalian BIMA masih bisa diselamatin gak? 😭 Atau dia udah jadi bagian warga tanpa bayangan selamanya? Komen #SaveBima kalau mau Selvi selamatkan Bima, komen #BimaUdahMati kalau udah ikhlasin! Aku baca semua komen kalian!
#@.Ar.world(。・ω・。): waduh kalo menurut ku bima kayaknya gak Selamat
total 1 replies
na-an
maaf kak selpi, boleh dikasih tahu gak nama-nama tokohnya? aku cukup bingung siapa aja karakternya karena muncul tanpa diperkenalkan di bab 1😅
Author Melda: Halo kak na-an makasih banyak udah baca dan udah kasih tau kak! 😭🙏 Maaf banget ya bikin bingung, kemarin di BAB 8-10 memang ada typo nama dari aku, udah aku benerin semua kok kak!

Ini 6 tokoh utamanya ya biar gak bingung lagi:

Tim KKN 6 orang:
1. SELVI - aku sendiri, ketua KKN
2. MAYA - sahabat aku, yang peka sama hal gaib
3. SINTA - yang paling cantik
4. RIKO - yang bawa kamera terus
5. BIMA - yang badan besar (yang hilang di sumur)
6. FARHAN - yang kocak

Maaf ya kak kalau sempet muncul nama lain selain 6 itu, itu salah ketik aku. Sekarang udah fix semua! Makasih ya udah ingetin, komen kakak membantu banget! Ditunggu lanjutannya di BAB 11 yaa ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!