NovelToon NovelToon
Sistem Kebohongan Menjadi Kenyataan

Sistem Kebohongan Menjadi Kenyataan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Kring... Kring...

Suara dering telepon dari layar interkom di samping tempat tidur membangunkan Rizal dari tidur siangnya.

Pemuda itu menguap pelan dan meregangkan otot-ototnya sebelum menekan tombol terima panggilan.

"Ya, ada apa Nona Clara?"

Rizal menyapa dengan suara serak khas orang bangun tidur.

"Tuan Rizal, gawat! Kita sedang diserang habis-habisan dari berbagai arah!"

Suara Clara dari seberang telepon terdengar sangat panik dan gemetar.

Ketenangan yang baru saja mereka nikmati setelah penangkapan Paman Herman ternyata hanya bertahan kurang dari dua puluh empat jam.

"Tenanglah dulu Nona Clara, tarik nafas dalam-dalam dan ceritakan pelan-pelan."

Rizal bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju balkon kamar untuk mencari udara segar.

"Tiga pemasok bahan baku utama untuk proyek mega-resor kita di Bali baru saja membatalkan kontrak secara sepihak."

Clara menjelaskan rentetan masalah itu dengan nada yang sangat frustrasi.

"Bukan hanya itu, beberapa bank tiba-tiba membekukan fasilitas kredit kita dengan alasan adanya risiko manajemen pasca skandal kemarin."

Rizal mengerutkan keningnya mendengar laporan tersebut.

Pembatalan kontrak sepihak dan pembekuan kredit secara serentak tidak mungkin terjadi secara kebetulan.

"Ini pasti ulah seseorang yang memiliki pengaruh sangat besar di dunia perbankan dan pemasok material."

"Anda benar Tuan Rizal, ini adalah ulah Broto Sanjaya dari Sanjaya Corp."

Clara menyebut nama musuh baru mereka dengan nada penuh kebencian.

"Keluarga Sanjaya adalah penguasa pasar properti dan tambang, mereka rupanya merasa terancam dengan pergantian kekuasaan di Wijaya Group."

Rizal tersenyum miring saat mendengar nama Sanjaya disebut.

Ternyata ayah dari Dion Sanjaya, pemuda sombong yang hartanya dia kuras kemarin, bergerak lebih cepat dari dugaannya.

"Broto Sanjaya baru saja mengadakan konferensi pers secara mendadak setengah jam yang lalu."

Clara melanjutkan laporannya dengan suara yang semakin putus asa.

"Dia menyebarkan rumor bahwa Wijaya Group akan segera bangkrut karena proyek resor Bali kita mangkrak akibat kehabisan material baja dan semen kualitas tinggi."

"Lalu apa tanggapan dari para pemegang saham kita?"

"Mereka semua panik Tuan Rizal, harga saham kita mulai anjlok perlahan di lantai bursa sejak rumor itu menyebar."

Clara menghela nafas panjang karena merasa beban di pundaknya kembali memberat.

"Pemasok dari luar negeri butuh waktu sebulan untuk mengirim material, sementara kita harus mengecor fondasi resor itu minggu ini."

"Satu-satunya sumber material cadangan kita hanyalah sebuah tambang tua milik kakek di daerah perbukitan Jawa Barat."

"Tapi tambang itu sudah lama ditutup karena dinilai tidak produktif."

Rizal mendengarkan semua masalah itu dengan sangat tenang, otaknya mulai bekerja mencari celah dari kepanikan musuh.

"Apakah Broto Sanjaya menyinggung soal tambang tua kita itu di konferensi persnya?"

"Ya Tuan Rizal, dia bahkan menjadikan tambang kita itu sebagai bahan tertawaan di depan media."

Clara menyalakan televisi di ruang kerjanya dan mendekatkan gagang telepon ke speaker agar Rizal bisa mendengar siaran ulangnya.

Dari seberang telepon, Rizal bisa mendengar suara bariton seorang pria tua yang terdengar sangat arogan.

"Wijaya Group sudah tamat, saudara-saudara sekalian!"

Suara Broto Sanjaya menggema dari rekaman konferensi pers tersebut.

"Mereka bilang mereka punya tambang cadangan di Jawa Barat, tapi biar saya beritahu sebuah rahasia kecil."

Terdengar suara tawa meremehkan dari pria tua tersebut.

"Tambang tua milik Keluarga Wijaya itu hanyalah lubang batu gersang yang isinya cuma tanah liat dan kerikil murahan!"

"Bahkan cacing pun tidak mau hidup di tanah buangan seperti itu, apalagi menghasilkan bijih besi berkualitas!"

Ting!

[Mendeteksi adanya omong kosong dan fitnah merendahkan yang disiarkan di media massa.]

[Kebohongan: Tambang tua milik Wijaya Group hanyalah lubang batu gersang berisi tanah liat dan kerikil murahan.]

Suara mekanis sistem berdenging nyaring di kepala Rizal.

Senyum Rizal seketika mengembang lebar hingga memperlihatkan deretan giginya.

Pancingannya berhasil, kesombongan Broto Sanjaya kembali memicu reaksi dari sistem ajaibnya.

[Memproses manipulasi realitas secara masif pada area geografis yang ditargetkan...]

[Manipulasi berhasil. Tambang tua di Jawa Barat kini telah bermutasi secara geologis.]

[Tanah liat dan kerikil murahan telah diubah menjadi urat Tambang Baja Hitam Premium dan Titanium murni yang belum pernah ada di dunia modern.]

[Estimasi nilai sumber daya baru: Tidak terhingga. Cukup untuk menyuplai seluruh proyek konstruksi dunia selama seratus tahun.]

Nafas Rizal sedikit tertahan membaca notifikasi luar biasa dari sistem tersebut.

Tambang Baja Hitam Premium dan Titanium murni?

Itu bukan sekadar bahan material biasa, itu adalah harta karun industri yang akan membuat seluruh dunia bertekuk lutut.

"Tuan Rizal? Apakah Anda masih di sana?"

Suara Clara menyadarkan Rizal dari rasa takjubnya.

"Nona Clara, apakah kita memiliki hak kepemilikan penuh atas tambang tua itu?"

Rizal bertanya dengan nada yang sangat tenang, berbanding terbalik dengan kepanikan Clara.

"Tentu saja Tuan Rizal, sertifikat tanah dan izin tambangnya masih aktif dan dikuasai seratus persen oleh perusahaan kita."

"Bagus. Berhenti memohon pada para pemasok lama yang sudah berkhianat itu."

Rizal berjalan kembali masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap.

"Siapkan helikopter perusahaan, kita akan berangkat ke tambang tua di Jawa Barat itu siang ini juga."

Clara terdiam sejenak karena merasa kebingungan dengan perintah mendadak dari bos barunya itu.

"Ke tambang tua itu? Tapi Tuan Rizal, para ahli geologi kita sudah memastikan bahwa tambang itu benar-benar kosong sejak lima tahun lalu."

"Itu lima tahun yang lalu Nona Clara, keajaiban bisa terjadi kapan saja bukan?"

Rizal membalas dengan nada misterius yang selalu berhasil membuat Clara tidak bisa membantah.

"Kumpulkan beberapa ahli geologi terbaik kita dan bawa peralatan pengujian material ke sana."

"Baik Tuan Rizal, saya akan menyiapkan helikopter VIP di atap Menara Wijaya dalam waktu satu jam."

"Aku akan segera ke sana."

Tut.

Panggilan telepon diakhiri.

Rizal langsung bergegas mandi dan berganti pakaian dengan gaya kasual yang lebih santai namun tetap terlihat mahal.

Dia mengenakan kaos polo berwarna hitam, celana chino abu-abu gelap, dan sepatu boots kulit agar nyaman saat berada di area tambang.

Setengah jam kemudian, Lamborghini hitamnya sudah membelah jalanan Jakarta menuju Menara Wijaya.

Suasana di lobi Menara Wijaya terasa sangat tegang karena banyak karyawan yang mulai termakan rumor kebangkrutan.

Namun begitu Rizal melangkah masuk, aura dominasi yang dia pancarkan langsung membuat keributan di lobi menjadi sunyi senyap.

Tidak ada yang berani berbisik di hadapan pemegang saham mayoritas yang baru saja memenjarakan pamannya sendiri.

Rizal langsung naik ke lantai atap tempat helipad berada.

Clara sudah menunggunya di sana bersama tiga orang pria paruh baya yang membawa koper berisi peralatan uji laboratorium portabel.

"Tuan Rizal, perkenalkan ini adalah ketua tim geologi kita, Profesor Hendra."

Clara memperkenalkan salah satu pria berkacamata tebal tersebut.

"Selamat siang Tuan Rizal, dengan segala hormat, saya merasa perjalanan kita ini hanya membuang-buang bahan bakar."

Profesor Hendra berbicara dengan nada skeptis yang tidak ditutup-tutupi.

"Saya sendiri yang memimpin survei di tambang itu lima tahun lalu, dan tidak ada apa-apa di sana selain batu kapur dan tanah tandus."

Rizal hanya tersenyum tipis menanggapi keraguan dari sang profesor senior.

"Mari kita buktikan saja ucapan Anda nanti, Profesor."

Mereka semua kemudian naik ke dalam helikopter eksekutif yang langsung lepas landas membelah langit Jakarta.

Perjalanan udara menuju daerah perbukitan di Jawa Barat itu memakan waktu sekitar empat puluh lima menit.

Pemandangan hutan lebat dan bukit-bukit hijau mulai terlihat dari jendela helikopter.

Di tengah-tengah hamparan hijau itu, terlihat sebuah area terbuka yang cukup luas namun terlihat sangat gersang.

Beberapa alat berat yang sudah berkarat tampak teronggok begitu saja di pinggiran lubang galian raksasa.

Itulah tambang tua milik Wijaya Group yang dijadikan bahan tertawaan oleh Broto Sanjaya.

1
kinataa⁸
5m nya ksh aku juga/Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!