Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Livia melihat Elara yang berlari dengan panik segera mengejarnya. Namun saat tiba di ruang tamu ia justru melihat Elara yang menghilang begitu saja.
Wanita itu terkejut dan terdiam beberapa saat. Hingga akhirnya ia sadar dan terus memanggil nama Elara dengan keras.
Danendra yang berada di lantai atas mendengar teriakan sang istri, dengan panik ia segera turun menghampiri Livia yang terlihat kebingungan di ruang tamu.
“Ma, ada apa? Mama kenapa teriak?”
“Elara, Pa. Elara... dia menghilang.”
“Apa? Elara hilang?” Danendra langsung panik, wajahnya pucat. Putri yang baru saja ia bawa pulang sekarang menghilang.
“Bukan. Bukan hilang yang seperti itu. Dia… dia…”
“Mama tenang dulu. Coba tarik nafas terus buang pelan-pelan. Kalau sudah tenang baru ceritakan apa yang terjadi. Oke?”
Livia mengangguk, mengatur nafasnya sampai ia tenang.
“Sudah?” Danendra memastikan lagi keadaan istrinya. Ia juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi sampai Elara menghilang.
Livia mengangguk. “Jadi, sebelumnya mama duduk di ayunan dengan Elara, awalnya kita mengobrol biasa. Tapi tiba-tiba dia bilang kalau si kembar dalam bahaya. Elara lari keluar dengan panik. Mama coba kejar, tapi… tapi waktu sampai disini dia tiba-tiba menghilang begitu saja. Benar-benar menghilang, Pa. Jejaknya gak ada lagi. Bahkan pintu saja masih tertutup.” Livia menunjuk pintu utama yang memang masih tertutup rapat.
Danendra menatap pintu itu dengan perasaan bingung. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa. Tapi begitu mengingat kalau si kembar dalam bahaya ia segera merogoh ponsel di saku celananya.
Menghubungi Faresta agar segera mencari tahu keberadaan Leonard dan Lionel.
“Papa sudah hubungi Faresta untuk mencari si kembar. Sekarang Mama tenang dulu ya. Masalah Elara… nanti kita bicarakan lagi.”
Livia mengangguk dengan patuh. Ia dituntun Danendra untuk duduk dengan tenang di sofa.
***
Motor Leonard dan Lionel melaju pelan membelah jalanan kota bersama dua temannya, Dimas dan Aldo. Mereka baru saja kabur saat jam makan siang.
“Tadi Pak Budi mukanya merah banget tau?” tawa Aldo yang mengendarai motornya disamping Lionel.
“Biarkan saja. Siapa suruh kasih tugas setebal kamus,” sahut Lionel santai.
Awalnya mereka masih mengobrol santai. Sampai tanpa sadar motor mereka memasuki kawasan lama yang sepi dan jarang dilalui kendaraan.
Deretan ruko tua berdiri dengan cat yang mulai mengelupas menggantikan bangunan modern tengah kota. Beberapa ruko bahkan tertutup dengan rolling door berkarat.
“Sepertinya kita salah jalan deh,” ujar Dimas yang mulai menyadari keanehan disekitar.
“Perasaan tadi beloknya gak aneh-aneh,” sahut Lionel menatap kanan dan kirinya.
Suara motor mereka menggema di sepanjang jalan yang sepi itu.
Leonard mengernyit tatapannya menyapu sekeliling yang terlalu sunyi. “Kita putar balik.”
Ketiganya mengangguk kompak. Namun, baru saja motor mereka berbalik dan melaju beberapa meter, tiba-tiba….
Bruk!
Sebuah balok kayu berukuran besar jatuh tepat di depan mereka.
“Astaga!”
Keempatnya reflek mengerem mendadak.
Belum hilang rasa terkejut mereka, beberapa pria bertubuh besar mulai keluar dari gang-gang sempit dan bangunan di sekitar sambil membawa besi dan senjata tajam.
“Wah… ternyata anak sultan,” ujar salah satu dari mereka sambil menatap motor sport Leonard dan Lionel yang paling mencolok.
“Leon… sepertinya kita memang lagi apes,” ujar Dimas.
Leonard turun dengan tatapan tajam. Meski berusaha tenang, rahangnya mulai mengeras saat jumlah mereka yang jauh lebih banyak, belum lagi dengan senjata yang ada di tangan mereka.
“Kalau mau uang, ambil saja. Jangan cari masalah,” Leonard melemparkan semua uang yang ada di dompetnya.
Salah satu pria bertubuh besar itu tertawa mengejek sambil mengambil uang itu di jalan.
“Wih, galah juga anak sekolahan.”
Pria lainnya mulai mendekati motor mereka. Tatapannya langsung tertuju pada jam tangan Lionel.
“Jamnya bagus. Copot!”
Lionel reflek mundur. “Ini hadiah ulang tahun, Paman.”
Bugh!
Sebuah pukulan keras tiba-tiba mendarat di kepala belakang Lionel hingga pemuda itu sempoyongan.
“LIO!” teriak Leonard.
Emosi Leonard langsung terpancing. Tanpa pikir panjang ia menghantam pria yang memukul adiknya sampai terdungkur ke jalan.
“Sialan. LAWAN MEREKA!”
Suasana langsung kacau. Dimas dan Aldo panik ketika mereka mulai dikepung. Terlebih hampir semuanya membawa senjata.
“Leon, mereka bawa senjata,” ujar Aldo panik.
Leonard menggertakkan gigi sambil melihat Lionel kebelakang.
Jumlah lawan terlalu banyak. Meski Leonard cukup jago beladiri, tapi melawan belasan orang dengan senjata jelas bukan hal yang mudah.
Apalagi Lionel mulai terlihat kesakitan setelah dipukul tadi.
Leonard menatap sekeliling dengan rahang mengeras.
Sialnya. Tidak ada orang lewat sama sekali. Dan tempat ini terlalu sepi untuk meminta bantuan.
Pria bertubuh besar yang tadi dipukul Leonard perlahan bangkit sambil mengusap sudut bibirnya.
“Berani juga anak sekolah sekarang,” ucapnya sambil meludah ke aspal.
Tatapannya berubah penuh amarah, pria itu merasa terhina karena Leonard berhasil memukulnya. “Hajar mereka!”
Beberapa pria langsung maju bersamaan.
Lionel yang baru saja tiba di sebelah Leonard reflek mundur satu langkah. “Leon… sepertinya mereka serius mau menyerang kita.”
“Diam dan fokus,” balas Leonard dingin.
Salah satu pria mengayunkan besi ke arah Leonard, tapi pemuda itu berhasil menahannya sebelum menghantam perut lawannya hingga tersungkur.
Namun disaat yang bersamaan…
Bugh!
Sebuah pukulan keras mendarat telak di wajahnya dari samping.
“Leon!” Lionel segera menarik tubuh kakaknya menjauh.
Darah mulai mengalir dari sudut bibir Leonard. Nafasnya memburu, tapi tatapannya masih tajam menatap orang-orang di depan mereka.
Sedangkan Dimas dan Aldo mulai terlihat panik.
“Lebih baik kita pergi dari sini,” ujar Dimas tegang.
“Mau pergi kemana? Kita saja sudah dikepung,” balas Aldo frustasi.
Leonard mengusap sudut bibirnya kasar. Tatapannya masih fokus memperhatikan pergerakan lawan.
“Aldo, Dimas. Kalian cari celah buat pergi, ajak Lionel sekalian,” ujar Leonard pelan tanpa mengalihkan pandangan.
“Enggak. Aku akan tetap disini. Kalian berdua saja yang pergi,” sahut Lionel cepat.
“Kalau kita pergi, terus kalian gimana?” tanya Dimas panik.
“Kami akan menyusul.”
“Tapi—”
“Cepat!”
Aldo dan Dimas saling bertukar pandang dengan khawatir. Keduanya akhirnya mengangguk memilih untuk mengikuti perintah dari si kembar.
Namun, belum sempat mereka bergerak, salah satu pria itu langsung menghadang sambil mengayunkan besi.
Leonard berhasil menahan serangan itu menggunakan lengannya hingga terdengar suara benturan keras.
“Leon!” Lionel membelalak panik.
Saat hendak maju untuk membantu, Leonard justru sudah membalas menghantam pria itu sampai terjatuh.
“Kalian berdua cepat pergi, cari tempat aman!”
Aldo dan Dimas pun segera pergi. Sepertinya jika tetap di sana mereka hanya akan menjadi beban untuk Leonard. Sebaiknya mereka menjauh dan segera menghubungi bantuan.
Nafas Leonard mulai memburu. Tubuhnya jelas mulai kelelahan setelah terus melawan sejak tadi.
Sedangkan Lionel kini berdiri di samping Leonard dengan wajah tegang. Biasanya pemuda itu selalu banyak bicara, tetapi kali ini bahkan mulutnya terasa kelu.
“Sepertinya anak-anak orang kaya ini sudah mulai capek,” ejek salah satu pria sambil tertawa.
Pria lain mulai memainkan pisau di tangannya. Kilatan benda tajam itu langsung membuat Lionel menelan ludah.
“Apa kita benar-benar akan tamat disini, Leon?”
Leonard tidak menjawab, tubuhnya bergeser sedikit dan berdiri di depan Lionel secara reflek. Saudara kembarnya ini memang payah dalam bertarung. Ia hanya pandai dalam berkata-kata. Tapi kali ini entah setan apa yang merasuki bahkan suaranya pun hanya terdengar mengeluarkan beberapa kata saja.
Salah satu dari mereka langsung berlari menyerang Leonard dengan besi di tangannya.
Leonard berhasil menghindar dan membalas pukulan itu, tetapi disaat yang bersamaan pria lain tiba-tiba menarik Lionel dari belakang.
“LEPAS!”
Lionel berusaha memberontak, namun cengkeraman pria itu terlalu kuat.
“Leonard!”
Leonard yang masih menyerang lawannya reflek menoleh saat mendengar teriakan Lionel.
Dan detik itu juga, pria yang menjadi lawan Leonard perlahan mengangkat pisau lipatnya tinggi-tinggi, siap menusuk Leonard dari belakang…
BRAAAKKK!!!
Angin kencang mendadak berhembus entah dari mana, menerbangkan puing-puing ruko yang mulai rapuh. Debu dan dedaunan beterbangan memenuhi jalanan hingga membuat mereka semua reflek menutup wajah mereka.
“Apa-apaan ini?”
Belum sempat mereka memahami situasi, tanah tiba-tiba bergetar. Retakan mulai terlihat dan akar pohon muncul dari celah retakan aspal, melilit kaki pria yang membawa pisau itu hingga tubuhnya terjungkal.
“Argh! Apa ini?”
Pisau di tangannya terlepas. Semua orang langsung membeku di tempatnya.
Leonard yang tadi hampir diserang ikut menoleh dengan nafas memburu.
Lionel sendiri berhasil lepas dari pria yang mencengkeramnya langsung berlari ke arah Leonard.
Angin masih berhembus dingin meski matahari siang bersinar terik di atas mereka.
Dan di tengah kepungan angin itu… Elara berdiri dengan gaun putihnya yang bergerak pelan.
Iris mata hijaunya menyala terang. Tatapannya dingin. Sangat dingin seolah ingin menguliti mereka yang berada disana.
“Kalian…” suaranya terdengar pelan, tapi entah kenapa terdengar menggema di telinga para pria itu. “Berani sekali menyentuh keluargaku.”
Lionel langsung menunjuk Elara dengan wajah Syok.
“Leon, i-itu… itu Elara, kan?”
Leonard sendiri sampai terdiam beberapa detik. Tatapannya membeku saat melihat akar-akar pohon yang masih bergerak pelan di sekitar kaki para pria itu.
Dan untuk pertama kalinya… ia benar-benar merasa jika Elara bukan gadis biasa.
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔