Di Kekaisaran Tianming, Pangeran Ke-14 bernama Mu Xuanyuan dikenal oleh seluruh penjuru istana sebagai pangeran yang "cacat": bodoh, tidak bisa bertarung, gila, dan selalu tersenyum ceria tanpa peduli situasi. Ia menjadi bahan tertawaan para pejabat dan target perundungan utama dari Pangeran Ke-3 (Lu Cangqiong) yang arogan. Dari 21 bersaudara (8 kakak laki-laki, 5 kakak perempuan, 4 adik laki-laki, dan 3 adik perempuan), hampir tidak ada yang menganggap Xuanyuan sebagai ancaman.
Namun, di balik topeng ceria dan tingkah konyolnya, Mu Xuanyuan adalah entitas paling berbahaya di seluruh benua. Ia secara rahasia telah mencapai ranah Immortal Emperor Puncak (Ranah Kaisar Abadi). Tak hanya itu, ia adalah pemilik sah dari Paviliun Lelang Xingzhou (balai lelang terbesar di benua) dan raja di balik Pasukan Bayaran Po Jun (tentara bayaran paling menakutkan). Ia juga memiliki Ruang Dimensi Portabel yang berisi ladang tanaman obat langka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8: The Commander of Po Jun Mercenaries
Malam semakin larut di Kekaisaran Tianming. Celah spasial terbuka perlahan di dalam kamar mandi Kediaman Awan Merah yang temaram. Mu Xuanyuan melangkah keluar dari pusaran cahaya, melepas jubah hitam berhias sulaman emas dan topeng peraknya yang langsung lenyap ditelan dimensi pribadi.
Kembali mengenakan jubah tidur sutra putih yang agak longgar dan acak-acakan, Xuanyuan melangkah ke ruang utama. Feng Wuchen dan Gu Juechen yang berjaga di ambang pintu segera menunduk dalam-dalam.
"Bagaimana situasi di luar saat Yang Mulia pergi?" tanya Xuanyuan seraya menuang air putih dingin ke cangkirnya.
"Aman, Yang Mulia," jawab Gu Juechen dengan senyum tipis.
"Pangeran Ke-3 baru saja kembali dari Balai Lelang Xingzhou. Menurut laporan prajurit bayangan kita, beliau membanting tiga vas porselen langka di kediamannya karena murka."
Xuanyuan terkekeh pelan. "Membanting vas adalah pelampiasan yang sangat murah untuk seseorang yang baru saja kehilangan lima puluh ribu batu kristal dan belasan pembunuh bayaran."
Sret...
Tiba-tiba, angin malam berembus melewati celah jendela. Sosok pria berbadan tegap bagai benteng baja mendadak berlutut di tengah ruangan. Pria itu mengenakan zirah kulit hitam dengan lambang serigala menyilang pedang di dada kirinya. Wajahnya dipenuhi beberapa bekas luka tempaan perang, menyorotkan aura ketegasan dan kebuasan yang sanggup membuat prajurit biasa berlutut ketakutan.
Dialah Po Jun, Komandan Tertinggi Pasukan Bayaran Po Jun—tentara bayaran terbesar, paling ditakuti, dan paling mematikan di seluruh benua.
"Hamba Po Jun, memberi hormat kepada Yang Mulia Immortal Emperor," tegas Po Jun dengan suara berat yang tertahan demi menjaga kerahasiaan.
Xuanyuan mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar pria kekar itu bangkit. "Bangunlah, Po Jun. Bagaimana dengan belasan penyusup dari Geng Bayangan Kelam?"
Po Jun berdiri tegak, matanya memancarkan rasa hormat yang mendalam pada pemuda di hadapannya. Siapa yang sangka bahwa penguasa sejati dari ratusan ribu tentara bayaran paling berdarah dingin adalah pangeran yang dianggap gila dan lemah oleh seluruh keluarga kerajaan ini?
"Laporan Yang Mulia," ujar Po Jun dingin. "Tiga belas pembunuh bayaran yang diutus Pangeran Ke-3 telah kami interogasi di markas bawah tanah. Sesuai dugaan, mereka membawa surat perintah bertanda segel rahasia milik kediaman Pangeran Ke-3. Saat ini seluruh penyusup itu telah kami 'bersihkan' tanpa menyisakan sebutir abu pun."
"Apakah kau menyimpan bukti segel rahasia itu?" tanya Xuanyuan tenang seraya menyesap airnya.
"Tentu saja, Yang Mulia. Bukti autentik perintah Pangeran Ke-3 telah disimpan di brankas rahasia Pasukan Po Jun. Kita bisa menggunakannya kapan saja untuk menjatuhkannya di hadapan Baginda Raja," jawab Po Jun.
Xuanyuan menggeleng pelan dengan senyuman jahil yang khas. "Jangan terburu-buru. Kartu truf paling menarik adalah kartu yang dipasang saat musuh sedang berada di puncak kesombongannya. Simpan bukti itu untuk sementara."
"Diterima, Yang Mulia!" Po Jun mengangguk patuh. Ia lalu melanjutkan, "Ada satu hal lagi, Yang Mulia. Mengenai Ujian Perburuan Musim Semi di Hutan Kabut Abadi dua hari lagi... Jaringan intelijen kami mendeteksi bahwa Pangeran Ke-3 tidak hanya mengandalkan dirinya sendiri. Dia telah menyogok beberapa pemburu liar dan menempatkan jebakan array tingkat tinggi di wilayah perburuan khusus yang akan Anda lewati."
Gu Juechen yang mendengar hal itu langsung mendengus sinis. "Menempatkan jebakan array untuk seorang Immortal Emperor Puncak? Pangeran Ke-3 benar-benar tidak tahu diri."
"Dia hanya tidak tahu kebenaran," sahut Xuanyuan santai. Ia melangkah menuju jendela, menatap rembulan yang tergantung tinggi di langit malam.
"Tapi tindakan Cangqiong ini memberi kita kesempatan bagus. Po Jun, siapkan sepuluh prajurit bayangan terbaikmu untuk menyusup ke Hutan Kabut Abadi sebelum hari H. Biarkan mereka mengawasi pergerakan binatang buas tingkat tinggi di sana."
"Apakah Anda ingin kami membersihkan area perburuan agar aman untuk Anda, Yang Mulia?" tanya Po Jun siaga.
"Tentu saja tidak!" potong Xuanyuan cepat dengan mata berbinar jahil. "Justru sebaliknya! Giring beberapa monster tingkat tinggi kalau bisa yang berwajah paling menyeramkan ke arah jalur perburuan Pangeran Ke-3. Bukankah dia sangat ingin memamerkan kehebatannya di depan Ayahanda? Mari kita beri dia panggung yang cukup spektakuler."
Feng Wuchen dan Gu Juechen seketika menahan tawa, sementara Po Jun yang biasanya berwajah dingin kaku bagai batu hanya bisa menyeringai lebar.
"Hamba mengerti, Yang Mulia. Hamba akan memastikan Pangeran Ke-3 mendapatkan 'sambutan hangat' dari para monster Hutan Kabut Abadi," ujar Po Jun mantap seraya membungkuk pamit, lalu lenyap kembali menembus kegelapan malam bagai bayangan.
Keesokan paginya, suasana di ibu kota Kekaisaran Tianming tampak sangat sibuk. Persiapan untuk Ujian Perburuan Musim Semi Kerajaan telah mencapai tahap akhir. Di alun-alun istana luar, ratusan prajurit zirah emas sibuk menyiapkan tenda-tenda mewah dan arena pemberangkatan.
Mu Xuanyuan sedang duduk santai di bangku taman kediamannya, memegang sebatang ranting pohon seraya berlari-lari kecil melintasi rumput.
"Terbang! Kuda ranting kayu terbang!" seru Xuanyuan dengan suara cempreng dan penuh kebahagiaan palsu.
Para kasim dan pelayan istana yang melintas hanya bisa menggelengkan kepala kasihan.
"Kasihan sekali Pangeran Ke-14," bisik seorang pelayan wanita pada rekannya.
"Wajahnya tampan tiada tandingan di seluruh kekaisaran, tetapi pikirannya tetap seperti bocah lima tahun."
"Benar. Apalagi besok Ujian Perburuan Musim Semi dimulai. Semua pangeran bertaruh nyawa mencari binatang buas untuk menyenangkan Baginda Raja, sedangkan beliau pasti hanya akan menjadi bahan perundungan lagi," balas rekannya iba.
Di balik semak-semak tak jauh dari sana, sepasang mata mengawasi tingkah Xuanyuan dengan penuh kegemasan.
Cring!
Sesosok pria berpakaian jubah sutra merah menyala melompat dari dahan pohon dengan gerakan penuh drama, mengibaskan kipas lipat keemasannya. Siapa lagi kalau bukan Leng Yan.
"Ah! Betapa anggunnya gerakan Pangeranku saat menunggangi ranting kayu!" puji Leng Yan dengan suara mendayu-dayu yang puitis.
"Bahkan dalam ketidakwarasan buatanmu, ketampananmu sanggup meluluhkan hati siapapun yang memandang!"
Xuanyuan menghentikan langkahnya, menghela napas panjang dalam hati. Pria ini... jam kunjungannya sangat tepat waktu seperti jam weker.
Namun sebelum Leng Yan sempat melangkah lebih dekat untuk menggoda Xuanyuan, sesosok bayangan melesat cepat dari balik tembok.
Brak!
"KAKAK BODOH! SUDAH KUBILANG JANGAN MENGGANGGU PANGERAN KETIKA DIA SEDANG BERMAIN RANTING!"
Sebuah tendangan lurus dari kaki mulus berbalut sepatu tempur milik Leng Shuang mendarat telak di pinggang Leng Yan, membuat pemilik rumah bordil ternama itu melayang dua meter sebelum jatuh terjerembap di atas semak bunga.
"Shuang'er... tega sekali kau pada kakakmu yang rupawan ini..." ringis Leng Yan dari balik semak-semak.
Leng Shuang memegang dahinya penuh emosi seraya menoleh pada Xuanyuan dengan membungkuk hormat.
"Pangeran Ke-14, hamba mohon maaf kembali atas kelakuan aneh kakak hamba. Hamba datang hanya untuk menyampaikan bahwa Paviliun Redup telah menyiapkan tenda peristirahatan rahasia di luar area perburuan besok jika Anda membutuhkan tempat bersantai."
Xuanyuan memiringkan kepalanya, kembali ke mode polosnya sambil tersenyum lebar.
"Wah! Orang cantik pakaian merah jatuh di bunga! Dan wanita galak datang lagi! Burung ranting kayu senang sekali!"
Leng Shuang yang melihat akting polos itu hanya bisa menghela napas pasrah.
"Ayo bangun, Kakak! Kita harus mempersiapkan jaringan informasi untuk perburuan besok!" teriaknya seraya menyeret kaki Leng Yan keluar dari taman.
Xuanyuan menatap kepergian mereka dengan senyuman tipis di bibirnya. Hari perburuan musim semi tinggal esok hari. Panggung permainan baru saja disiapkan, dan sang "Pangeran Gila" sudah tidak sabar untuk menyaksikan pertunjukan komedi sesungguhnya di dalam Hutan Kabut Abadi.