NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Begitu Azel keluar dari ruang dosen, Sekar dan Bella yang sejak tadi menunggu di koridor langsung menghampirinya. Gadis itu berjalan sambil memeluk map proposal di dadanya.

Delia yang melihatnya dari kejauhan langsung bertanya, "Gimana, Zel? Udah ditandatangani?"

Azel mengangkat map itu sedikit. "Udah, Kak."

"Alhamdulillah." Delia langsung tersenyum lega. "Nggak ada revisi?"

"Enggak."

"Syukurlah."

Sekar yang sedari tadi memperhatikan wajah Azel mengerutkan kening. "Lho kok muka lo pucet begitu, Zel?"

Azel langsung menggeleng. "Ck, biasa."

Sekar menyipitkan mata. "Jangan bohong." Lo debat lagi sama Pak Ibra?"

Azel mendesah panjang. "Ya apalagi."

Bella spontan menepuk dahinya. "Ya ampun. Emang setiap ketemu beliau harus debat, ya?"

Azel mengangguk pasrah. "Awalnya cuma mau minta tanda tangan. Eh, ujung-ujungnya gue disuruh presentasi proposal."

"Hah?!" Sekar membelalak. "Presentasi?"

"Iya. Ditanya tujuan kegiatan, manfaat kegiatan, pembagian tugas. Pokoknya lengkap."

Bella langsung tertawa. "Kasihan banget hidup lo."

"Makanya! Gue tuh heran. Kenapa setiap ketemu beliau hidup gue selalu kayak ujian lisan."

Rafka yang sejak tadi mendengarkan sambil menyusun berkas tiba-tiba menyeringai. "Kalau dipikir-pikir kayaknya kalian cocok, deh."

Azel langsung menoleh cepat. "Hah?"

Rafka tertawa kecil. "Iya. Sama-sama keras kepala. Sama-sama kalau ngomong nggak mau kalah. Kalau debat juga seru."

Azel langsung mengangkat tangannya. "Kak, jangan bikin tangan gue melayang, ya."

Seketika semua yang ada di sana tertawa.

"Eits, santai. Gue cuma bercanda."

"Candaan Kakak nggak lucu."

"Lucu kok."

"Enggak."

"Lucu."

"Enggak."

Sekar ikut menyela sambil terkekeh. "Tapi bener juga sih, soalnya setiap ketemu Pak Ibra yang diajak debat selalu lo."

Bella mengangguk. "Iya. Mahasiswa lain mah ditanya seperlunya. Nah kalau lo? Kayak lagi lomba debat nasional."

Azel mendengus. "Itu bukan karena beliau suka debat. Tapi karena beliau demen ngetes kesabaran gue."

Rafka kembali tertawa. "Atau jangan-jangan Pak Ibra justru paling ingat sama kamu."

"Ya iyalah ingat. Gimana nggak ingat, pertama ketemu gue hadang mobilnya. Kedua ketemu gue telat masuk kelas. Ketiga ketemu gue manggil beliau Pak Kutub Utara. Keempat gue debat lagi di ruang dosen."

Azel menghitung dengan jari-jarinya sambil menghela napas. "Coba kasih tahu gue, gimana caranya beliau bisa lupa sama gue?"

Semua kembali pecah dalam tawa.

Sekar sampai memegang perutnya. "Ya Allah. Kalau dipikir-pikir riwayat hidup lo di mata Pak Ibra emang udah penuh warna."

Azel menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Tolong... Jangan diingat-ingat lagi. Nanti malah jadi bahan ketawa sampai lulus."

***

Sore harinya, ruang rapat BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis mulai dipenuhi para pengurus. Di bagian depan, Fariz sebagai Ketua BEM berdiri sambil membawa laptop.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."

"Terima kasih semuanya sudah hadir. Alhamdulillah proposal kegiatan Pengabdian Masyarakat sudah ditandatangani dosen pembina dan sudah bisa kita lanjutkan ke tahap persiapan."

Para pengurus mengangguk. "Rapat hari ini fokus pada pembagian tugas final dan evaluasi kesiapan setiap divisi."

Azel yang duduk bersama Sekar dan Bella membuka buku catatannya.

"Divisi Humas nanti bertanggung jawab untuk surat-menyurat ke desa, publikasi kegiatan, dokumentasi publikasi media sosial, serta koordinasi dengan pihak luar."

Azel mengangguk. "Siap, Kak."

"Divisi Konsumsi?"

Sarah menjawab singkat. "Siap."

"Divisi Acara?"

"Siap." Jawab Sekar.

Fariz baru saja ingin melanjutkan pembahasan ketika...

Tok... Tok... Tok...

Pintu ruang rapat diketuk pelan. Semua kepala spontan menoleh.

Fariz segera berjalan membukakan pintu.

Begitu pintu terbuka, suasana langsung berubah hening.

"Assalamu'alaikum." Suara datar itu langsung dikenali semua orang.

"Wa'alaikumussalam..." jawab para pengurus hampir bersamaan.

Azel yang sedang menulis perlahan mengangkat kepalanya. Matanya membulat. "Ya Allah... Kenapa beliau ada di sini lagi?"

Di depan pintu, Ibrahim Rabbani Mahendra berdiri dengan map hitam di tangannya. Kemeja biru tua yang dikenakannya tampak rapi seperti biasa. Tatapannya menyapu seluruh ruangan.

Fariz langsung menyalaminya. "Silakan masuk, Pak."

Ibra mengangguk pelan. "Saya tidak mengganggu?"

"Tidak, Pak. Malah kami menunggu Bapak."

Azel langsung melirik Sekar. Dengan suara pelan ia berbisik, "Lo nggak bilang kalau Pak Kutub Utara ikut rapat."

Sekar langsung menyenggol lengan Azel. "Ssst!.Jangan nyebut julukan itu di sini."

Bella ikut berbisik. "Mampus. Lo duduk paling depan lagi."

Azel langsung memegangi dahinya. "Ya Allah... Kenapa hidup gue begini."

Di sisi lain ruangan, Ibra duduk di kursi yang memang sudah disiapkan untuk dosen pembina. Ia membuka mapnya tanpa banyak bicara.

Fariz kembali berdiri di depan. "Baik, teman-teman. Karena Pak Ibra sudah hadir mungkin Bapak ingin memberikan sedikit arahan sebelum rapat kita lanjutkan."

Semua mata kini tertuju kepada Ibra. Laki-laki itu berdiri dengan tenang. Tatapannya menyapu satu per satu wajah para pengurus.

"Saya tidak akan berbicara panjang. Tugas kalian bukan sekadar menjalankan program agar selesai. Tetapi memastikan masyarakat benar-benar mendapatkan manfaat dari kegiatan ini."

Ruangan kembali hening.

"Saya tidak ingin kegiatan ini hanya menjadi formalitas. Datang, foto lalu pulang."

Beberapa pengurus langsung menundukkan kepala.

"Saya ingin setiap divisi memahami tugasnya. Kalau Humas..."

Tatapan Ibra berhenti tepat pada Azel. "...pastikan komunikasi dengan pihak desa berjalan baik."

Azel yang merasa ditatap refleks menjawab, "Siap, Pak."

"Kalau Konsumsi..."

Sarah dan Bella langsung menegakkan duduknya. "Pastikan logistik cukup. Jangan sampai peserta kelaparan."

"Siap, Pak." Jawab Sarah dan Bella.

"Divisi Acara. Pastikan susunan kegiatan jelas, kangan ada waktu kosong yang membuat masyarakat menunggu."

"Siap, Pak."

Ibra kembali menutup mapnya. "Saya berharap kalian bekerja sebagai tim. Bukan membawa ego masing-masing."

Kalimat terakhir itu membuat Sarah tanpa sadar melirik Azel. Sementara Azel pura-pura sibuk menulis.

Fariz mengangguk hormat. "Terima kasih atas arahannya, Pak."

"Baik, teman-teman, kita lanjut ke pembahasan teknis."

Namun saat semua kembali membuka catatan masing-masing.

Azel mengembuskan napas pelan. Ia berbisik sangat lirih kepada Sekar. "Kayaknya semester ini gue nggak bakal bisa hidup tenang."

Sekar menahan tawanya. "Yang sabar, Ning Humas."

Tanpa mereka sadari, dari tempat duduknya, Ibra sempat melirik ke arah Azel. Meskipun wajahnya tetap datar, ia tau persis mahasiswi itu pasti sedang mengomelinya lagi dalam hati.

Rapat kembali dilanjutkan. Fariz berdiri di depan sambil membuka daftar pembagian tugas.

"Baik, sekarang kita bahas teknis keberangkatan. Divisi Humas."

Azel langsung mengangkat tangan. "Siap, Kak."

"Kamu nanti yang koordinasi sama perangkat desa. Surat izin, publikasi, sama komunikasi kalau ada perubahan jadwal."

"Siap."

"Nanti jangan sendirian. Sekar dan Bella ikut dampingi."

"Oke."

Fariz mengangguk pelan. "Lalu kalau nanti ada kendala, langsung hubungi aku."

"Iya, Kak."

Bella yang duduk di samping Azel langsung melirik sahabatnya sambil menyenggol pelan sikunya.

Azel hanya menghela napas kecil.

Fariz kembali berkata, "Kalau kamu bingung menyusun surat balasan dari desa, kirim draft-nya ke aku dulu. Biar aku cek sebelum dikirim."

"Baik, Kak."

"Kalau butuh kendaraan buat survei lokasi juga bilang. Nanti aku antar."

Azel menggeleng cepat. "Enggak usah, Kak. Aku bisa naik motor sendiri bareng yang lainnya."

"Gapapa kok. Aku juga bisa antar kalian."

"Serius, Kak. Aku bisa. Tapi kalau ramai-ramai ya boleh aja."

Fariz hanya tersenyum tipis. "Baiklah, nanti kita jadwalkan."

Semua percakapan itu terdengar biasa bagi anggota BEM lainnya. Namun, ada satu orang yang memperhatikannya sejak awal.

Ibra. Ia duduk diam di ujung meja sambil membuka proposal. Tatapannya memang tertuju pada lembar demi lembar berkas. Tetapi telinganya menangkap seluruh percakapan mereka.

Fariz. Laki-laki itu terlihat terlalu memperhatikan Azel.

Mulai dari menawarkan bantuan. Mengantar. Sampai memastikan segala keperluannya.

Entah mengapa ada rasa tidak nyaman yang perlahan muncul di dalam dada Ibra. Bukan karena urusan organisasi.

Fariz memang ketua BEM. Wajar jika memperhatikan anggotanya. Namun, cara Fariz memandang Azel terasa berbeda.

Terlalu lembut. Terlalu perhatian. Dan yang lebih membuatnya heran, Azel juga menjawab dengan santai, meski beberapa kali menolak bantuan itu.

Ibra segera mengalihkan pandangannya kembali ke proposal. "Bukan urusanmu." batinnya.

"Mereka mahasiswa. Ketua organisasi memang harus memperhatikan anggotanya."

Ia mencoba kembali fokus. Namun beberapa detik kemudian, Fariz kembali mendekati Azel.

"Kertas kamu habis?"

"Iya, Kak."

"Nih, pakai punyaku aja."

"Makasih."

"Pulpen kamu juga tintanya mulai habis."

"Nanti aku pinjam punya Sekar aja."

"Nggak usah."

Fariz langsung menyodorkan pulpennya. "Pakai ini."

"Makasih, Kak."

Sekar yang melihat itu hanya tersenyum kecil.

Bella bahkan berbisik pelan, "Cie..."

Azel langsung menyenggol lengan Bella. "Apaan, sih."

Sementara itu, Ibra tanpa sadar menutup map yang sedari tadi dibacanya. Bunyi bruk pelan dari map yang ditutup membuat beberapa orang menoleh.

"Pak?" tanya Rafka.

"Tidak apa-apa." jawab Ibra singkat.

Ia kembali menyandarkan tubuhnya. Entah kenapa, pemandangan Fariz yang berkali-kali memperhatikan Azel membuatnya sulit berkonsentrasi.

"Kenapa aku memperhatikan mereka?"

"Aneh. Bukan urusanku."

Ia mengembuskan napas pelan. Namun pikirannya justru menjawab sendiri.

"Mungkin karena dia mahasiswaku. Sebagai dosen pembina, aku hanya memastikan hubungan antaranggota tetap profesional."

Alasan itu terdengar logis. Setidaknya, begitulah yang ingin ia yakini.

Di sisi lain meja, Fariz kembali tersenyum kepada Azel. "Nanti selesai rapat jangan langsung pulang. Aku mau jelasin sedikit soal survei lokasi."

Azel mengangguk tanpa curiga. "Oke, Kak."

Kalimat itu kembali terdengar jelas di telinga Ibra. Sorot matanya perlahan berpindah ke arah Fariz.

Tatapannya tetap datar. Sulit ditebak. Namun di dalam hatinya, muncul perasaan yang bahkan ia sendiri belum mampu menjelaskannya. Ia tidak menyukai melihat Azel terlalu dekat dengan laki-laki lain.

Kesadaran itu membuatnya mengernyit sendiri. "Ibraaa, sejak kapan kamu mulai memikirkan urusan pribadi mahasiswimu?"

Ia segera mengalihkan pandangan ke depan, berusaha menepis pikiran tersebut. Namun bayangan senyum Fariz kepada Azel masih terlintas di benaknya, membuatnya tanpa sadar menggenggam pulpen di tangannya sedikit lebih erat.

***

Begitu rapat selesai, para pengurus BEM mulai meninggalkan gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Azel berjalan menuju parkiran sambil mengenakan helmnya. "Alhamdulillah... akhirnya pulang juga."

Sekar dan Bella sudah lebih dulu berpamitan karena arah rumah mereka berbeda.

Baru saja Azel hendak menyalakan motornya...

"Azel, tunggu."

Suara itu membuatnya menoleh. Ibra berdiri beberapa langkah di belakangnya. Masih dengan wajah datar khasnya.

"Iya, Pak?"

Ibra berjalan mendekat. "Arjun hari ini tidak bertemu kamu."

Azel mengangguk. "Iya, Pak. Kan saya dari pagi kuliah."

"Saya tau. Tapi kalau dia tidak bertemu kamu, malam ini kemungkinan besar dia akan terus menanyai saya."

Azel tersenyum kecil membayangkan tingkah bocah itu. "Hehe... maaf ya, Pak. Kan Bapak juga tau hari ini saya kuliah, terus lanjut rapat BEM."

"Iya. Makanya..." Ibra mengeluarkan ponselnya dari saku. "...saya minta nomor ponsel kamu."

Azel langsung membulatkan mata. "Hah? Untuk apa, Pak?"

"Kalau Arjun mencarimu, saya bisa menghubungi kamu. Minimal lewat panggilan video. Dia biasanya lebih tenang setelah melihat orang yang dia cari."

Azel mengangguk pelan. "Oh... Ya sudah."

Ia mengulurkan tangan. "Mana HP-nya, Pak."

Ibra menyerahkan ponselnya. Azel langsung mengetik nomor teleponnya. Nama kontak pun muncul di layar.

Azel Daycare

Setelah selesai, ia mengembalikan ponsel itu. "Nah, udah, Pak."

Ibra melihat layar ponselnya sekilas. "Terima kasih."

"Sama-sama."

Baru saja Azel hendak menaiki motornya, Ibra kembali memanggil.

"Azel."

"Iya, Pak?"

Ibra tampak ingin mengatakan sesuatu. "Kamu..."

Azel menunggu dengan sabar. "Iya, Pak?"

Beberapa detik berlalu. Namun Ibra justru menggeleng pelan. "Tidak jadi."

Azel langsung mengernyit. "Lho? Kenapa nggak jadi?"

"Ya... nggak jadi saja."

Jawaban datar itu membuat Azel memasang wajah kesal.

"Ck. Aneh."

Ibra mengangkat sebelah alisnya. "Tadi kamu ngomong apa?"

Azel tersenyum canggung. "Eh... enggak."

"Saya cuma bilang... Aneh."

"Aneh?"

"Iya. Bapak manggil orang tapi nggak tau mau ngomong apa."

Ibra terdiam sesaat. Kemudian ia berkata dengan nada datar, "Saya tau mau bicara."

"Terus?"

"Saya berubah pikiran."

Azel memonyongkan bibir. "Ya kalau gitu jangan dipanggil."

Ibra menatapnya sekilas. "Kamu selalu banyak komentar."

"Lho, ya iyalah. Orang saya udah mau pulang. Tiba-tiba dipanggil. Pas saya balik mmalah dibilang 'nggak jadi'. Kan bikin penasaran."

Ibra mengangguk kecil. "Bagus."

"Hah?"

"Berarti rasa penasaran kamu masih bekerja."

Azel berkedip beberapa kali. "Pak..."

"Iya?"

"Bapak kalau bercanda kering banget ya."

"Saya tidak bercanda."

"Ya itu dia masalahnya."

Ibra menahan napas pelan. Entah kenapa, setiap berbicara dengan mahasiswi ini, percakapan mereka selalu berubah menjadi adu mulut kecil.

"Apa lagi, Pak?" tanya Azel sambil menyilangkan kedua tangannya.

"Kamu jadi pulang atau tidak?"

Azel spontan melotot. "Lho? Kan Bapak yang nahan saya. Kalau saya telat sampai rumah, nanti Abi sama Uma nyariin."

Ibra berdeham pelan. "Kalau begitu... Pulanglah."

"Nah, dari tadi kek."

Azel memasang helmnya. "Pak."

"Hm?"

"Nanti kalau Arjun video call asal jangan pas saya lagi kuliah ya."

Ibra mengangguk. "Saya tau. Saya tidak akan mengganggu jam kuliah kamu."

"Nah, gitu dong." Azel menyalakan motornya. "Kalau gitu saya benar-benar pamit. Assalamu'alaikum, Pak."

"Wa'alaikumussalam."

Motor Azel pun perlahan melaju keluar dari area parkiran.

Ibra masih berdiri di tempat. Tatapannya mengikuti motor itu hingga menghilang di balik gerbang kampus.

Ia baru sadar... Kalimat yang sebenarnya ingin ia ucapkan tadi adalah,

"Terima kasih... karena sudah membuat Arjun kembali tersenyum."

Namun entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa begitu sulit keluar dari bibirnya.

Ibra menggeleng pelan. "Lain kali saja."

Ia pun berjalan menuju mobilnya, sementara di kejauhan Azel yang sudah berada di jalan raya masih mengomel sendiri di balik helmnya.

"Dasar Pak Kutub Utara. Manggil orang, terus bilang nggak jadi. Bener-bener bikin penasaran."

Tanpa sadar, senyum tipis justru tersungging di wajahnya sepanjang perjalanan pulang.

1
Aidil Kenzie Zie
hm hm si Kutub Utara mulai mencair 🤣🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Fegajon: Besok lebih gong lagi 😋
total 1 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!