NovelToon NovelToon
Gadis Mungil Kesayangan Ceo Muda

Gadis Mungil Kesayangan Ceo Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.

​Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.

​Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Cemburu Kaku dan Aroma Kopi yang Menyengat

l

​Pagi di unit penthouse apartemen milik Exel berawal dari sebuah bencana kecil. Suara alarm dari ponsel Alexa yang bernada musik dangdut koplo melengking nyaring sejak pukul enam pagi, namun sang pemilik ponsel justru makin pulas menggulung dirinya dalam selimut sutra tebal.

​Pukul 06.45 WIB.

​Mata bulat Alexa mendadak terbuka lebar. Ia mengeripkan matanya dua kali, menatap jam dinding berdesain minimalis yang tertempel di sudut kamar.

​"SEMBILAN BELAS MENIT LAGI BEL MASUK?!" jerit Alexa heboh dengan suara cemprengnya yang sanggup menggetarkan kaca jendela.

​Dengan rambut berantakan mirip sarang burung dan seragam SMA yang baru disetrika setengah, Alexa melompat turun dari kasur. Gadis mungil itu berlari serabutan keluar kamar, hampir menabrak pot bunga mahal di lorong, dan meluncur deras ke arah area dapur.

​Di sana, Exel sudah tampil sempurna dengan kemeja putih bersih, dasi charcoal, dan jas yang terlipat rapi di sandaran kursi. Sang CEO sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca dokumen bisnis di tabletnya.

​"Aaaaa! Om Es Batu! Kenapa gak bangunin aku sih?!" cerocos Alexa heboh seraya menyambar tas sekolahnya yang tergeletak di meja makan. "Aku terlambat! Gerbang sekolah ditutup jam tujuh pas!"

​Exel meletakkan tabletnya tenang, melirik jam tangan mewahnya. "Aku bukan jam weker milikmu. Kamu yang tidur seperti kerbau."

​"Hih! Ngeselin banget!" Alexa mengepalkan tangan mungilnya, bersiap berlari ke arah pintu keluar. "Aku berangkat naik bus aja!"

​"Tunggu," pangkas Exel dingin. Pria itu berdiri, meraih kunci mobil Rolls-Royce di atas meja. "Bus tidak akan sampai dalam sepuluh menit. Aku yang antar."

​Alexa tertegun sejenak. "E-eh? Kamu mau antar aku?"

​"Jangan percaya diri," potong Exel kaku seraya melangkah melewatinya. "Kantorku searah dengan sekolahmu. Aku tidak mau Papamu menelepon dan menuduhku membiarkan anaknya bolos sekolah."

​Mobil Rolls-Royce hitam itu berhenti di gang sepi sekitar lima puluh meter dari gerbang SMA Garuda—tempat aman yang disepakati Alexa agar status pernikahan mereka tidak terbongkar.

​"Makasih, Om Es Batu!" seru Alexa buru-buru membuka pintu mobil, berlari kencang bagaikan atlet lari maraton menembus gerbang sekolah yang hampir digembok oleh satpam.

​Exel memperhatikan punggung mungil itu sampai benar-benar menghilang di balik gedung sekolah. Sebuah helaan napas tipis lolos dari bibirnya sebelum ia menyuruh sopir meluncur ke kantor.

​Sore harinya, sesuai janji terselubung, mobil Exel kembali terparkir di gang sepi yang sama. Exel yang duduk di kursi belakang melirik jam tangannya—pukul 15.30 WIB, jam pulang sekolah. Pria itu menurunkan kaca mobilnya sedikit untuk mencari keberadaan istri mungilnya.

​Namun, pemandangan di dekat gerbang sekolah seketika membuat rahang Exel mengetat kaku.

​Di bawah pohon rindang, Alexa sedang berdiri dikerumuni oleh tiga orang siswa laki-laki. Salah satunya—seorang siswa bertubuh jangkung dengan jaket organisasi—tampak tersenyum manis seraya menyodorkan sebotol minuman dingin pada Alexa. Alexa tertawa cempreng, sesekali mengibaskan tangannya heboh.

​Urat di pelipis Exel bertambah tegang. Mata cokelat gelapnya berkilat tajam, memancarkan aura membunuh yang pekat.

​Berani-beraninya budak-budak SMA itu mendekati milikku, batin Exel menjerit sengit, walau gengsi setinggi langit di dadanya menolak mengakui rasa cemburu yang mulai membakar.

​Tanpa membuang waktu, Exel menekan klakson mobilnya.

​TINNNNN!

​Suara klakson nyaring mobil mewah itu menggelegar di sepanjang gang, membuat Alexa dan ketiga siswa laki-laki itu tersentak kaget. Alexa melirik ke arah mobil, mengenali plat nomornya, dan seketika pamit terburu-buru pada teman-temannya.

​Alexa berlari kecil dan meluncur masuk ke kursi belakang mobil Exel. "Aduh, Om! Kenapa ngelakson kencang banget sih? Nanti kalau anak-anak tahu gimana—"

​"Siapa mereka?" potong Exel dengan suara yang teramat sangat dingin dan dalam, memotong ucapan Alexa sebelum selesai.

​Alexa berkedip bingung menatap wajah kaku suami rahasianya. "Hah? Ooh... Itu Kak Dimas sama anak-anak OSIS. Tadi cuma nawarin minum."

​Exel tidak membalas. Tatapannya lurus ke depan, kaku dan menusuk. "Jalan," perintah Exel kaku pada sopir.

​"Lho, Om? Ini bukan jalan ke arah apartemen kan?" tanya Alexa bingung saat mobil berbelok ke arah kawasan bisnis Sudirman. "Kita mau ke mana?"

​"Ke kantorku," jawab Exel kaku tanpa melirik Alexa sedikit pun. "Masih ada beberapa dokumen penting yang harus kuselesaikan. Kamu tunggu di ruanganku."

​"Ih! Kenapa gak anterin aku pulang dulu?!" protes Alexa heboh dengan suara cemprengnya. "Aku mau rebahan, mau ganti baju!"

​"Diam," pangkas Exel kaku. "Kamu di bawah pengawasanku sore ini."

​Gengsi tinggi Exel menolak mengakui bahwa ia sengaja membawa Alexa ke kantor hanya karena ia tidak rela menyuruh istrinya pulang sendirian saat hatinya sedang terbakar cemburu oleh siswa SMA tadi.

​Gedung Dirgantara Group berdiri megah di pusat kota. Alexa melangkah di belakang Exel dengan cemberut berat, rok abu-abu SMA dan tas punggungnya memancing beberapa lirikan penasaran dari para karyawan. Namun, keberadaan Exel yang memancarkan aura dingin membuat tidak ada satu pun yang berani bertanya.

​Di dalam ruangan kerja eksekutif yang luas di lantai teratas, Alexa langsung melemparkan tasnya ke atas sofa kulit mahal. Gadis mungil itu melipat tangan di dada, memayunkan bibirnya hingga beberapa sentimeter.

​"Aku bosan!" gerutu Alexa. "Katanya mau kerja, kok aku disuruh duduk doang!"

​Exel duduk di belakang meja mahoninya, berpura-pura fokus membaca berkas di layarnya. "Di lemari sebelah kanan ada camilan dan jus. Jangan bising."

​Beberapa menit kemudian, pintu ruangan diketuk pelan.

​Tok, tok, tok.

​"Masuk," ujar Exel kaku.

​Pintu terbuka. Seorang wanita muda mengenakan seragam Office Girl (OG) bernuansa ketat melangkah masuk membawa nampan berisi cangkir kopi panas. Wanita bernama Siska itu memiliki riasan wajah yang cukup tebal dan gaya berjalan yang sengaja dibuat meliuk-liuk. Siska adalah karyawan baru yang memang sudah lama mengincar perhatian sang CEO tampan kaya raya itu.

​"Permisi, Pak Exel..." sapa Siska dengan suara yang dibuat-buat mendayu dan sangat manja. "Ini kopi hitam panas tanpa gula pesanan Bapak."

​Siska meletakkan cangkir kopi di meja Exel, namun tubuhnya membungkuk agak terlalu rendah di dekat lengan Exel. tangannya sengaja mengusap pelan tepi meja di dekat jemari Exel.

​"Kalau Pak Exel butuh pijatan di bahu atau bantuan lain... Siska siap bantu lho, Pak," bisik Siska dengan nada menggoda yang sangat jelas, matanya mengedip-kedip manis.

​Di atas sofa, mata bulat Alexa melotot sempurna!

​Dada gadis mungil itu mendadak bergemuruh hebat. Ada rasa panas yang membakar seluruh organ tubuhnya melihat wanita centil itu mencoba menyentuh suaminya—ya, suaminya! Bibit-bibit cemburu yang selama ini tersembunyi mendadak meledak drastis di dalam hati Alexa.

​Alexa melompat berdiri dari sofa, menghentakkan kaki mungilnya ke lantai kencang.

​"BATUK, EHEM! UHUK! UHUK!" jerit Alexa heboh dengan suara cemprengnya yang melengking, memecah suasana mendayu di dekat meja kerja. "Duh, ruangan gede gini kok tiba-tiba bau minyak wangi pasaran ya?! Bikin sesak napas aja!"

​Siska tersentak kaget, baru menyadari keberadaan seorang budak SMA di atas sofa. Siska memutar matanya malas, menatap Alexa dengan pandangan meremehkan.

​"Aduh, Adik manis... Kalau mau main sekolah-sekolahan jangan di ruangan Pak CEO dong. Ini tempat kerja orang dewasa," sindir Siska sinis.

​Mendengar hal itu, api cemburu Alexa makin berkobar. Gadis mungil itu maju beberapa langkah, bersedekap dada sambil menatap Siska dengan tatapan paling tajam yang bisa dikeluarkan oleh mata bulatnya.

​"Suka-suka aku dong!" semprot Alexa heboh. "Lagian Mbak OG ini tugasnya mengantar kopi apa mengantar gatal sih?! Lengannya kaku banget nyenggol-nyenggol meja suami—eh, meja Pak Exel!"

​Exel yang sejak tadi diam, mendadak membeku di kursinya. Tatapan matanya yang dingin melirik ke arah Alexa. Ada sedikit kilatan kepuasan dan keterkejutan melihat istri mungilnya sedang membara oleh rasa cemburu.

​Siska yang merasa posisinya terancam kembali menatap Exel dengan raut wajah memelas yang dibuat-buat. "Pak Exel... Lihat deh budak SMA ini, tidak ada sopan santunnya sama sekali. Masa saya dituduh yang enggak-enggak? Saya kan cuma mau melayani Pak Exel dengan maksimal..."

​Siska mencoba memegang lengan jas Exel untuk mencari simpati.

​Namun sebelum jemari Siska menyentuh kain jasnya, Exel berdiri tegak. Aura membunuh yang amat pekat dan dingin seketika memenuhi seluruh ruangan, membuat Siska membeku ketakutan.

​"Siapa yang mengizinkanmu menyentuhku?" suara Exel terdengar sangat rendah, berat, dan menusuk tulang.

​Siska gemetar hebat. "P-Pak Exel... Saya cuma—"

​"Kamu dipecat," pangkas Exel dingin tanpa keraguan sedikit pun. "Keluar dari ruanganku detik ini juga, dan ambil pesangonmu di HRD sebelum jam empat sore."

​"P-Pak! Tolong Pak! Saya tidak—"

​"Keluar," bentak Exel singkat namun penuh penekanan yang tak tertahankan.

​Dengan wajah pucat pasi dan mata berkaca-kaca karena malu, Siska merampas nampannya dan berlari keluar dari ruangan kerja Exel.

​Pintu terbanting pelan. Keheningan mendadak melanda ruangan megah tersebut.

​Alexa masih berdiri kaku di tengah ruangan dengan napas terengah pelan, pipi tembamnya mengembung dan kemerahan akibat emosi. Pria dingin di depannya melangkah pelan mendekati Alexa, memandangi wajah mungil yang sedang sangat menggemaskan itu.

​Exel melipat tangannya di dada, menunduk sedikit menatap mata bulat Alexa. "Kenapa marah?"

​Gengsi tinggi Alexa seketika bangkit membenteng. Gadis mungil itu memalingkan wajahnya kencang ke arah samping. "Siapa yang marah?! Aku gak marah kok! Cuma enek aja lihat wanita centil kaya begitu!"

​"Kamu cemburu?" goda Exel dengan suara rendah—sebuah godaan langka yang keluar dari bibir kaku sang CEO.

​"GAK! Siapa juga yang cemburu sama Om Es Batu!" jerit Alexa heboh dengan suara cemprengnya untuk menutupi rasa salah tingkah yang membakar dadanya. "Geer banget sih!"

​Brak!

​Pintu ruangan mendadak terdorong terbuka tanpa mengetuk. Achmad melangkah masuk sambil membawa map dokumen, namun langkahnya terhenti saat melihat posisi Exel dan Alexa yang berdiri sangat dekat dengan raut wajah masing-masing yang unik.

​Achmad melirik ke arah pintu luar di mana Siska baru saja berlari menangis, lalu melirik Alexa yang mukanya merah padam, dan berakhir pada Exel yang rona tipisnya muncul di ujung telinga.

​Cengiran paling jahat dan meledak seketika terbit di wajah Achmad.

​"ANJIRRR!" jerit Achmad heboh seraya menepuk dadanya sendiri. "Ada perang cemburu nih di ruangan eksekutif! Gua baru aja berpapasan sama OG centil yang menangis keanggotaan gara-gara diamuk Nyonya Muda!"

​"Achmad, keluar," desis Exel tajam.

​"Hahaha! Gak mau keluar sebelum ledekin kalian!" gelak Achmad tanpa beban. Ia beralih menatap Alexa. "Dek Alexa... Bagus! Hajar aja bibit-bibit pelakor yang coba mendekati suami dinginmu itu! Biar Pak CEO kita ini makin sadar kalau istrinya yang imut ini sudah mulai posesif!"

​"PAMAN ACHMAD DIAM!" jerit Alexa makin histeris, menyembunyikan wajah panasnya di balik kedua telapak tangan mungilnya.

​Exel mengepalkan tangannya kaku, menatap Achmad dengan pandangan membunuh yang sangat kuat, walau di dalam benak sang CEO berdarah dingin itu, sebuah rasa manis tak tertahankan sedang bermekaran melihat betapa menggemaskannya sang istri saat berusaha menutupi rasa cemburunya.

1
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Ya tuhan kirimin satu suami kaya Exel buatkuh /Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: 🤣 Gass lah om mik
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
biar tau rasa, emang enak ngrasain mualnya bumil😂😂
𝐀⃝🥀Weny
musuh menyusun strategi buat menghancurkan Exel, lain halnya dengan Exel yang sibuk mencari cara buat deketin dan mengatasi ngidam bumilnya😂
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
yang sabar ya Exel, turutin aja ngidamnya orang hamil biar anaknya gak ileran😂😂
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Kenapa ga dibikin bangkrut aja mereka 😏 tuman
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: Masih lama apa
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣 Lengkap sudah penderitaan Axel /Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: 🤣/Facepalm/
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
selamat ya Exel baru aja Alexa ketahuan hamil, eeehh.. si orok sudah ngerjain papanya😂
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣 Rame ya Akexa hamidun... Trus gimana tuh sekolah na
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: Waduh mulai ada yg rusuh dong /Slight/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
paman Achmad mesti salting kalo ada safi🤔😁
𝐀⃝🥀Weny
so sweet 🥹🫠
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 5 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Oleh oleh buat akuu manaaa /Applaud/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 5 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
/Cry//Cry/ Masih pagi udah banyak bombai bertebaran ae om mik /Cry//Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: Yg nebar bombai lah
total 4 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Bacana otomatiss pake nada alm Uje dong /Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Pepet terooss paman Ahmad 🤣🤭 /Determined//Determined/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: Dih tega bener 😅
total 4 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Belom beraksi juga mereka 🤔
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: sabar
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Waahh ini nih yg bikin syeruu /Determined//Determined/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Aaaaa jadi pengen makan basoo /Scream//Hunger/
𝐀⃝🥀Weny
dalam sebuah hubungan, komunikasi dan kepercayaan itu lebih penting... semoga kalian bisa melewati badainya...
𝐀⃝🥀Weny
semoga mereka bisa bertahan dan bisa melewati setiap rintangan yang mencoba mengusik hubungan mereka🤲
𝐀⃝🥀Weny
jangan² si Alexa hamil nih🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!