NovelToon NovelToon
Kontrak Naga

Kontrak Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.

Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.

Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.

Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30 Mahkota ke-6

Asap hitam keunguan menyelimuti tubuh Eliya, aura kematian menekan kedua pemuda sombong itu sampai kedua kaki mereka gemetar. Elio tak mampu lagi mengeluarkan sihir cahaya miliknya, sementara Darian membeku di atas tanah tempatnya berpijak.

"Kalian ingin melihat kegelapan? Ingin melihat monster yang sebenarnya? Maka akan aku kabulkan," ucap Eliya geram.

Awan hitam keunguan menggumpal di bawah kakinya, mengangkat tubuh Eliya terbang ke udara.

"Eliya, apa yang terjadi?" Rayn bertanya bingung sekaligus cemas.

Sementara Elio dan Darian mematung menyaksikan sosok Eliya yang diselimuti aura kegelapan.

"Dia benar-benar penyihir kegelapan. Dia menekan sihir cahaya milikku. Sial! Aku tidak bisa menggunakan sihir," gerutu Elio kesal.

Berkali-kali mencoba mengeluarkan sihir cahayanya, tapi yang keluar hanya percikan lemah yang tak dapat diandalkan.

Eliya mengangkat tangan tinggi-tinggi, bilah-bilah pisau berwarna hitam keunguan mengelilingi tubuhnya, bersiap untuk menyerang.

"Rasakanlah kegelapan ini oleh kalian!" katanya seraya mendorong kedua tangan ke depan.

Seketika itu juga, pisau-pisau hitam itu melesat dengan kecepatan yang tak dapat mereka duga. Secepat kilat menyambar.

Bash!

Bash!

Darian menghentakkan kaki ke atas tanah, menciptakan dinding besar untuk menghalau pisau-pisau itu. Sementara Elio membentuk kubah, sebuah formasi untuk melindungi dirinya.

Namun, semua itu tidak cukup. Pisau-pisau yang dikirim Eliya, begitu kuat hingga merobek dinding kubah milik Elio, dan menghancurkan dinding tanah milik Darian. Pisau-pisau itu melesat menghantam tubuh mereka.

Argh!

Brak!

Tubuh keduanya terpental menghantam dinding batu yang dingin.

Debu tebal menggantung di udara yang terasa menyesakkan. Pertarungan memecahkan separuh kuil.

Dinding-dinding batu kuno yang telah berdiri selama ribuan tahun kini hancur berkeping-keping, menyisakan pilar-pilar retak yang tampak rapuh. Langit malam yang kelam mengintip dari atap kuil yang runtuh, menjatuhkan sisa-sisa reruntuhan ke lantai dasar yang dipenuhi retakan parah.

"Cukup, Eliya! Ingat, tujuan kita datang ke sini bukan untuk meladeni mereka," ucap Rayn menyadarkan Eliya dari kegelapan yang menguasai emosinya.

Gadis itu menurunkan tangannya perlahan, seraya menarik napas panjang. Tubuhnya turun perlahan dan mendarat tanpa suara. Ia menatap kedua pemuda sombong yang mencoba bangkit meski tertatih.

"Lihat itu!" Rayn menunjukkan sesuatu yang bercahya di tengah altar.

Eliya menoleh, diam-diam melepaskan kedua rekannya dari cengkeraman sihir tanah Darian. Tubuh Rayn dan Kael pun terengkat keluar dan berdiri di belakangnya.

Di sana,di tengah reruntuhan, ada sebuah altar. Di atasnya terdapat sebuah meja batu hitam yang masih utuh secara ajaib, seolah dilindungi oleh kekuatan yang tidak kasat mata.

Di atas altar itu, melayang dua bola cahaya. Salah satunya berwarna kuning emas, dan yang satunya lagi berwarna hitam ungu.

"Itulah tujuan kita," ucap Rayn dengan tegas.

Elio dan Darian tak mau kalah, keduanya mendekat mencoba mendapatkan cahaya emas yang disinyalir milik penyihir cahaya seperti dirinya.

Kedua bola itu berputar pelan, memancarkan aura yang bertolak belakang. Cahaya dan Kegelapan. Bola emas memancarkan kehangatan yang suci, sementara bola ungu kehitaman membawa hawa dingin yang mencekam.

Napas Elio memburu, wajahnya yang penuh luka goresan terlihat sangat berambisi. Tanpa berpikir panjang, Elio meraih cahaya kuning emas itu.

"Ini milikku!" teriaknya dengan mata yang menyala penuh ketamakan.

Namun, bola itu menolaknya. Gelombang energi suci terpancar kuat, menghantam telapak tangan Elio hingga memercikkan suara setruman yang keras.

Elio terlempar mundur beberapa langkah, meringis kesakitan memegangi tangannya yang memerah. Bola emas itu tidak menetap di sana. Bola itu melayang tinggi, lalu dengan perlahan, terbang ke arah Eliya.

"Kenapa? Kenapa dia menolakku?" jerit Elio tak terima.

"Karena kau tidak kosong," ucap Eliya pelan, menatap Elio yang masih terengah-engah di lantai batu. "Kau penuh dengan ketamakan dan keegoisan," lanjutnya lagi masih menatap pemuda itu.

Eliya melangkah maju mendekati altar. Di hadapannya, bola emas dan bola hitam ungu itu kini melayang sejajar. Ia tidak memilih salah satu. Eliya mengulurkan kedua tangannya ke depan, menyentuh kedua bola sekaligus.

Sakit.

Rasanya seperti surga dan neraka bertarung di dalam tubuhnya. Pembuluh darah di sekujur lengan Eliya menegang, memancarkan warna emas dan ungu bergantian.

Jiwanya seperti ditarik paksa ke dua arah yang berlawanan. Setengah tubuhnya serasa terbakar api suci, sementara setengahnya lagi seperti membeku dalam kegelapan abadi yang paling pekat.

Eliya menggertakkan gigi, menahan erangan yang hampir lolos dari tenggorokannya

DING! DING!

Sebuah suara denting yang familiar dan jernih bergema langsung di dalam kepala Eliya, memutus rasa sakit yang sempat melumpuhkan akal sehatnya. Huruf-huruf cahaya transparan muncul di depan matanya.

[MAHKOTA CAHAYA: 6/7 TERISI]

[MAHKOTA KEGELAPAN: 6/7 TERISI]

"Bonus. Karena mereka adalah pasangan." Suara Zharvion menambahkan.

Tiba-tiba, rasa sakit itu mereda, berganti dengan aliran kekuatan luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Aura kuning emas ditambah hitam ungu muncul bersamaan dari dalam tubuh Eliya. Cahaya suci membubung ke langit lewat atap yang hancur, sementara kegelapan pekat menyebar di lantai kuil, menelan semua bayangan yang ada di sana. Dua kekuatan ekstrem ini melebur menjadi satu pelindung yang megah di sekelilingnya.

Lalu, merayap perlahan ke pergelangan tangan, mengisi tempatnya yang kosong. Kini, enam Mahkota sudah ia dapatkan.

Elio dan Darian terdiam. Darian yang sejak tadi bersiap menyerang dari sudut ruangan langsung menurunkan sihirnya, matanya terbelalak tidak percaya. Mereka berdua memandang Eliya seolah-olah melihat monster yang baru saja bangkit dari dalam mitos kuno.

"Aku bukan penyihir kegelapan," ucap Eliya, membiarkan aura ganda itu menari-nari di ujung jarinya yang kini berkilauan.

"Aku penyihir yang punya semuanya. Termasuk yang kalian takutkan," katanya lagi seraya mengenggam jemarinya, dan cahaya itu hilang.

"Bagaimana mungkin ...." Elio terbata-bata, langkahnya gontai saat mencoba mundur menjauh.

"Manusia tidak bisa menampung dua elemen kutub itu bersamaan. Tubuhmu seharusnya hancur!" katanya tak terima.

"Bagi penyihir biasa, itu adalah kematian," sahut Eliya tetap tenang.

Ia melangkah mendekati mereka dengan pijakan yang membuat lantai batu bergetar pelan.

"Tapi bagiku, ini adalah kesempurnaan," katanya sambil tersenyum.

Darian mencoba memulihkan kesadarannya. Dia menggenggam sihir tanahnya erat-erat hingga buku jarinya memutih.

"Jangan sombong! Kekuatan yang tidak stabil hanya akan memakan dirimu sendiri!" teriaknya, mencoba menyembunyikan rasa takut yang jelas terdengar dari getaran suaranya.

Eliya tersenyum tipis. Mahkota keenam telah menyatu dengan jiwanya. Angin malam berembus kencang melalui celah kuil yang hancur, memainkan jubah Eliya yang kini dikelilingi percikan cahaya emas dan kabut ungu.

"Kalian boleh mencobanya," bisiknya dengan tenang.

Tanpa menunggu jawaban, Ia menggerakkan tangan kanan. Tekanan udara di dalam kuil mendadak merosot tajam. Aura gabungan itu melesat maju, siap meratakan apa pun yang tersisa di tempat tersebut. Pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, ialah yang memegang kendali penuh atas takdir mereka semua.

1
Agus Tina
Baguus
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Agus Tina
Tinggal buka kedok siapa itu Sherina, apa alasan dia meracuni Eliya sehingga kekuatan sihirnya tidak muncul saat usia 17 tahun. siapa yg membantu Sherina
..
Aisy Hilyah: hehehe bener
total 2 replies
Swety
💪💪
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Elin Erliana
imajinasi yg luar biasa
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Yue Li MZy
Membayangkan betapa ngerj nya di dalam sana,Mana suhu lava dan magma ny panas nya sampai membuat tubuh manusia terbakar dan hangus 😲😲
Aisy Hilyah: Bener banget itu
total 1 replies
Yue Li MZy
keserakahan Seraphina akan menyebabkan kehancuran dirinya,dan lord Ignis menyesal pun ga ada gunanya.ayooo Aurel balaskan dendam mu 🤭🤭
Aisy Hilyah: Bener banget
total 1 replies
Agus Tina
🤍🤍🤍
Dwi Setyaningrum
masak kalah lg sih..kalau kalah tamat dong ya ga thor 😁
Aisy Hilyah: ehehehe betul
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
jd deg degan nih..
Aisy Hilyah: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
semangat eliya💪jdlah lbh kuat utk mengalahkan kegelapan
Aisy Hilyah: siap! semangat pasti bisa
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
waduh jgn mati dong msk pemeran utama mati Jadi apa nanti dunia kalau dikuasai dg kegelapan🤔
Aisy Hilyah: ehehe tidak tenang saja
total 1 replies
Agus Tina
Eliya, semoga kali berhasil
Aisy Hilyah: pasti berhasil
total 1 replies
Agus Tina
Jangan lama upnya y thor ...
Aisy Hilyah: bismillah insya Allah diusahakan
total 1 replies
Agus Tina
Bagus Eliya bongkar juga kejahatan mereka yg telah membuangmu juga kejahatan Seraphina yg telh meracunimu dulu
Dwi Setyaningrum
elemennya berarti sdh 7 kan ya🤔apa msh kurang 1🤔
Aisy Hilyah: Baru enam belum tujuh
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
ikut tegang juga..bayangin betapa panasnya lava dan magma gunung bisa melelehkan apa saja apalg ini hanya kulit manusia bisa jd bubur nih😁
Aisy Hilyah: Bener bener banget
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
eliya yg blm punya elemen api ya..🤔
Aisy Hilyah: betul
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
kalau wajahnya sdh ada dimana2 kenapa ga nyamar saja sih jdnya ga kehambat utk menuju pencarian mahkota/elemen lainnya🤔
Aisy Hilyah: iya ya. mereka cuma nutupin pake jubah
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
waow taktik yg cerdas..kerennn..👏👏
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
hadir thor...
Aisy Hilyah: terimakasih sudah hadir kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!