NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Rumah Tua Yang Terkepung

Dante mengepung rumah tua itu diam-diam. Satu per satu anak buahnya memasuki halaman tanpa menimbulkan suara. Mereka menyebar ke berbagai titik, bersembunyi di balik rerumputan tinggi, batang-batang pohon besar, dan semak yang tumbuh liar di sekitar rumah. Tak ada satu pun sudut yang dibiarkan kosong.

Dua orang mengawasi pintu belakang. Beberapa lainnya mengambil posisi di bawah jendela lantai satu. Sisanya menyebar di sekeliling rumah. Bahkan atap pun tidak luput.

Dua pria telah lebih dulu naik ke atap dan berjongkok di balik cerobong tua. Sementara seorang lainnya berhasil mencapai balkon lantai dua dan bersembunyi di balik pagar kayu yang sudah ditumbuhi tanaman merambat.

Dante tidak ingin mengambil risiko. Kali ini, ia tidak akan membiarkan Ara lolos.

Jarum jam tepat menunjukkan pukul delapan malam ketika Dante berdiri di depan pintu utama. Luca berdiri beberapa langkah di belakang tuannya.

Dante mengangkat tangan dan mulai mengetuk pintu.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan itu terdengar jelas menembus kesunyian rumah.

Di dalam rumah, Ara sedang duduk di meja makan.

Di hadapannya terdapat sepiring roti yang baru saja ia buat. Ia hendak menikmati roti itu ketika ketukan pintu mengagetkannya.

Ketukan di pintu itu membuat tangannya berhenti di udara. Jantungnya seolah melompat keluar. Masih disusul dengan suara yang paling tidak ingin didengarnya.

"Ara." Suara dingin itu kembali menyemburkan hawa dingin yang mematikan.

Mata Ara langsung membulat. Ia jelas mengenali suara itu. Itu suara Dante.

"Ara, aku ada di luar." Suara Dante terdengar datar. "Bisakah kau bukakan pintu ini?" pintanya tanpa nada memohon. Itu jelas nada memerintah yang mendominasi.

Ara spontan membekap mulutnya sendiri. Tidak mungkin. Bagaimana dia bisa menemukanku?--batinnya tak mengerti. Ia pikir rencana pelariannya sudah rapi dan tanpa cacat. Siapa sangka pada akhirnya ia tetap ditemukan.

Ara bahkan tidak berani bernapas terlalu keras. Ia menatap pintu dari kejauhan seolah pintu tua itu bisa berubah menjadi tembok yang tidak lagi sanggup menyembunyikan nya. Ia mengatakan pada dirinya untuk tidak menjawab panggilan Dante dan tidak membuat gerakan atau suara apapun. Karena merespon bukankah berarti mengakui dirinya memang ada di dalam rumah.

Dante kembali mengetuk. "Ara."

Ara memejamkan mata rapat-rapat.

"Aku tahu kau ada di dalam." Suaranya makin terdengar dingin.

Tubuh Ara langsung menegang. Sial. Sungguhkah Dante sudah tahu?? Dante bukan hanya menebak. Dante jelaskah sudah memastikan keberadaan istrinya?? Tapi... pria seperti Dante memang bukan tipe pria yang suka menggertak.

"Ara, jangan keras kepala." Nada suara Dante masih terdengar terkendali. Sekalipun terdengar makin berat.

"Aku sudah mencoba bersabar menghadapimu." Dante menarik nafas dalam-dalam. Lima belas hari ini ia terlalu menguras energi dan pikirannya untuk menemukan Ara.

Ara menelan ludah dengan susah.

"Aku hanya ingin kau membuka pintu ini. Setelah itu kita bisa bicara baik-baik." Lagi-lagi itu nada suara memerintah bukan meminta.

Ara menatap hampa ke arah pintu. Ia perlahan turun dari kursinya dan berjongkok di bawah meja. Seolah meja kayu itu mampu menyembunyikannya dari Dante.

"Ara." Suara Dante terus kembali terdengar.

"Jangan berpikir mencoba kabur lagi!"

Ara menggigit bibir. Ia menahan napas.

"Percuma. Kali ini kau tidak akan bisa." Dante seolah bisa membaca pikiran Ara yang ada di balik pintu.

Mata Ara mulai bergerak ke segala arah. Jendela. Pintu belakang. Tangga. Balkon. Ia memang sedang menghitung kesempatan untuk melarikan diri.

"Percayalah! Kau tidak akan bisa. Kau pikir aku menemukan mu untuk membiarkan dirimu kabur lagi dariku?" Suara Dante mulai mengintimidasi.

Ara membeku.

"Anak buahku sudah mengepung segala sisi dan sudut rumah tua ini." Itu terdengar bukan lagi nada bersahabat seperti sebelumnya.

Wajah Ara langsung pucat. Dante berhenti sejenak bicara. Luca melirik tuannya.

Dante tetap berdiri menghadap pintu.

Sementara di dalam rumah, Ara mulai panik. Ia berjalan mondar-mandir dengan langkah kecil. Ia sudah tidak mungkin keluar dari pintu depan. Di pintu depan ada Dante dan Luca. Bahkan untuk mengalahkan Dante pun ia tak akan pernah bisa. Sekarang pria itu mengatakan rumah ini telah dikepung. Bukankah itu artinya ia sama sekali tidak menyisakan jalan keluar bagiku??--batin Ara geram.

"Dan sebelum kau mencoba sesuatu yang bodoh, pikirkanlah hukuman yang bakal kau terima setelah kau berada dalam genggaman ku!" Suara itu terdengar lebih keras dan tajam.

Mata Ara membesar. Dante benar. Ia harus memikirkan apa hukuman Dante yang bakal ia terima. Tidak mungkin Dante meluputkan nya dari hukuman. Ia memejamkan mata. Ia ingin menghempaskan diri di balik selimut dan tidur. Tapi tidak mungkin. Pertama-tama ia harus menghadapi Dante dulu. Baru kemudian, harus menghadapi hukumannya.

Ia akui kali ini ia kembali kalah dari Dante. Dante benar-benar sudah memikirkan semuanya.

Ia kembali bangkit dan pergi ke meja makan. Ia menjatuhkan diri ke kursi. Tangannya meremas ujung bajunya sendiri. Ia merasa seperti cacing kepanasan. Semakin lama mendengar suara Dante, semakin stres pikirannya.

Sementara itu, di luar pintu, Dante masih menunggu. Ia tidak mengetuk lagi.

Luca melirik ke arah Dante. "Tuan?"

Dante mengisyaratkan Luca untuk diam. Ia menatap pintu tua yang tampak lapuk di depannya. Untung saja pintu itu terbuat dari kayu jati, jadi meski kondisinya tua, tapi tetap kokoh strukturnya.

"Ara," kata Dante sekali lagi, kali ini lebih lembut. "Aku tahu kau takut."

Ara menahan napas.

"Aku juga tahu kau sedang berpikir bagaimana caranya keluar dari rumah ini."

Ara menatap pintu dengan kesal. Kenapa pria itu selalu bisa menebak pikirannya?

"Tapi kau tidak perlu takut." Dante menghela napas. "Aku datang bukan untuk menyeretmu keluar."

Ara masih tidak bergeming. Ia tetap tidak mau merespon.

"Aku datang untuk membawamu pulang," bujuk Dante lebih hangat.

Kata terakhir itu membuat dada Ara terasa sesak. Pulang?? Baginya, rumah Dante bukan rumah, itu sangkar emas.

Ara memandang roti yang sudah mulai dingin. Tadi ia ingin sekali mencicipinya. Sekarang bahkan selera makannya pun sudah lenyap.

Dante kembali mengetuk pintu. "Ara."

Hening. Tapi Dante tetap bersikeras menunggu.

Luca akhirnya bersuara, "Sepertinya Nyonya tidak berniat membuka pintu."

Dante tersenyum tipis. "Aku tahu."

"Apakah perlu kita dobrak pintunya Tuan?" tanya Luca. Itu salah satu cara kerja bosnya. Bosnya tidak pernah sesabar ini menghadapi orang lain.

Dante menatap pintu tua itu. "Kita tunggu."

Di dalam, Ara yang mendengar jawaban itu langsung memegang kepalanya. Tunggu?Berapa lama? Satu jam? Dua jam? Ataukah Dia mau menunggu sampai pagi?

Ara mengintip dari balik tirai jendela. Di luar hanya terlihat kegelapan. Namun, di balik kegelapan itu tersebar anak buah Dante di seluruh penjuru.

Ara menutup tirai kembali. Ia menatap pintu. Ia lalu menghela napas panjang.

Pelarian yang tadinya terasa begitu sempurna ternyata berakhir dengan Dante menemukannya lagi.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!