NovelToon NovelToon
Batas Dimensi Takdir

Batas Dimensi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.

Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.

Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.

Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?

Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.

Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.

“Kau... masih hidup?”

Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Seseorang Datang

Alena masih duduk di tepi tempat tidur Raka ketika suara langkah kaki terdengar dari luar. Langkah itu tegas, berirama, dan semakin mendekat. Alena langsung tegang. Dia cepat-cepat mengambil tasnya, lalu mencari tempat bersembunyi. Pandangannya beredar ke seluruh ruangan—tirai tebal di sisi tempat tidur, lemari besar di sudut, atau balik tiang ukiran.

Dia memilih bersembunyi di balik tirai beludru gelap di sisi kiri tempat tidur. Tubuhnya menempel ke dinding, napas ditahan semaksimal mungkin. Dari celah kecil, dia masih bisa melihat Raka yang terbaring dan pintu ruangan yang terbuka. Seorang pria masuk. Diia tinggi, berzirah gelap dengan mantel panjang berwarna merah tua. Wajahnya tegas, berjanggut tipis, dan di dadanya terpasang lambang bulan sabit emas—tanda jenderal tinggi istana. Di pinggangnya tergantung pedang yang masih berlumuran darah kering. Dia terlihat lelah, tapi matanya tajam.

Jenderal Kael. Pria yang sempat muncul di cermin dan memberitahu Alena tentang kondisi Raka. Kael melangkah mendekati tempat tidur. Dia berdiri diam beberapa saat, menatap Raka yang tidak sadarkan diri. Ekspresinya campuran khawatir dan rasa bersalah.

“Yang Mulia…” suaranya rendah, serak. “Maafkan saya. Pertahanan di jembatan berhasil kami tahan, tapi luka Anda… terlalu parah.”

Dia berlutut di sisi tempat tidur, memeriksa balutan di lengan dan dada Raka. Alisnya berkerut. “Balutan ini… baru. Siapa yang mengobati?”

Kael menoleh, menyapu ruangan dengan pandangan waspada. Dia berdiri lagi, tangan siap di pegangan pedang. “Siapa di sini?” tanyanya tegas.

Alena menahan napas di balik tirai. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia takut terdengar. Cincin di jarinya terasa hangat, seolah bereaksi pada ketegangan.

Kael melangkah pelan mengelilingi tempat tidur. Dia memeriksa setiap sudut, membuka sedikit tirai di sisi lain, lalu menghentikan langkah tepat di depan tirai tempat Alena bersembunyi. Untuk sesaat, Alena yakin akan ketahuan.

Tapi Kael hanya berdiri diam, seolah mendengarkan sesuatu. Lalu dia menghela napas panjang dan mundur. “Mungkin hanya bayangan,” gumamnya. “Atau utusan lain yang sudah pergi.”

Dia kembali ke sisi Raka, menunduk hormat dalam. “Saya akan menjaga pintu, Yang Mulia. Istirahatlah. Kami tidak akan membiarkan pemberontak mendekat lagi.”

Kael berdiri tegak, memberi hormat terakhir, lalu keluar dari ruangan. Pintu tertutup pelan di belakangnya, disusul suara kunci diputar dari luar. Alena baru berani menghembuskan napas setelah beberapa detik. Dia keluar pelan dari balik tirai dengan kaki yang gemetar. Dia menatap pintu yang terkunci, lalu kembali ke sisi Raka. Jenderal itu datang… dan hampir menemukannya. Tapi untuk saat ini, dia masih aman.

Alena duduk kembali di tepi tempat tidur, menggenggam tangan Raka lebih erat.

“Aku harus lebih hati-hati,” bisiknya. “Tapi aku tidak akan meninggalkanmu.”

Di luar, langkah Kael menjauh di koridor batu. Sementara di dalam, hanya napas lemah Raka dan detak jantung Alena yang memenuhi keheningan.

Tengah malam. Ruangan hanya diterangi cahaya redup dari lampu kristal yang hampir padam. Alena duduk di kursi di samping tempat tidur, kepala tertunduk karena kelelahan, tapi matanya belum benar-benar terpejam. Tangannya masih memegang jari Raka.

Tiba-tiba, suara langkah lagi. Kali ini jauh lebih pelan. Hampir tidak terdengar. Bukan langkah tegas Jenderal Kael. Ini langkah seseorang yang berusaha tidak ketahuan. Alena langsung tegang. Dia cepat-cepat bersembunyi kembali di balik tirai beludru dan menahan napas. Pintu yang seharusnya terkunci… terbuka pelan tanpa suara.

Seorang pria berpakaian hitam masuk. Wajahnya tertutup topeng setengah, di tangannya tergenggam sebilah belati pendek yang berkilau dingin di bawah cahaya redup. Gerakannya cepat dan terlatih. Dia langsung menuju tempat tidur Raka tanpa ragu. Alena membelalak di balik tirai. Niat pria itu sudah jelas ingin membunuh Raka.

Pria itu berdiri di sisi tempat tidur, mengangkat belati tinggi, siap menusuk tepat ke dada Raka yang tak berdaya. Alena tidak berpikir panjang. Dia keluar dari balik tirai dan menerjang.

“Jangan!”

Tubuhnya menabrak pria itu dari samping. Mereka berdua terjatuh ke lantai. Belati terlepas dan berguling jauh. Alena mencoba menahan tangan pria itu, tapi lawannya jauh lebih kuat. Dalam sekejap, pria itu sudah membalik posisi, menindih Alena dan mencekik lehernya. “Campur tangan, Ratu?” suara pria itu serak dan penuh kebencian. “Sempurna. Dua burung dengan satu batu.”

Alena terengah, mencoba melepaskan cengkeraman di lehernya. Penglihatannya mulai berkunang. Dia meraba-raba di sekitar, hingga jarinya menyentuh kaki meja kecil. Dengan sisa tenaga, dia meraih vas kristal di atas meja dan memukulkannya sekuat mungkin ke kepala pria itu. Vas pecah. Pria itu terhuyung, dan cengkeramannya longgar.

Alena segera mendorongnya dan merangkak menjauh, terbatuk sambil mencoba berdiri. Dia mengambil belati yang tergeletak di lantai, memegangnya dengan kedua tangan gemetar, lalu berdiri di depan tempat tidur Raka sebagai perisai.

“Jangan dekati dia,” katanya serak dan napas yang masih tersengal. “Aku tidak akan membiarkan kau menyentuhnya.”

Pria bertopeng itu bangkit perlahan, darah menetes dari pelipisnya. Dia tertawa rendah.

“Berani sekali. Padahal kau bahkan tidak tahu cara memegang senjata. Menyingkirlah, Ratu. Raja itu harus mati malam ini… agar istana jatuh ke tangan yang berhak.”

Dia melangkah maju. Alena mengayunkan belati dengan panik, mencoba mengusirnya. “Mundur!”

Pria itu berhasil menangkap pergelangan tangan Alena dan memelintirnya hingga belati jatuh lagi. Dia mendorong Alena hingga gadis itu terbentur tiang tempat tidur.

“Selesai,” gumamnya, meraih kembali belati. Tepat saat ujung senjata itu hampir menusuk Alena—Sebuah tangan lemah tapi masih kuat menangkap pergelangan pria bertopeng itu.

Raka dengan mata yang terbuka sedikit, wajahnya pucat pasi, tapi tatapannya tajam dan penuh amarah. “Jangan… sentuh… dia,” suaranya serak, hampir tidak terdengar, tapi penuh ancaman.

Pria bertopeng itu terkejut. Kesempatan itu cukup bagi Alena untuk mendorongnya menjauh. Di saat yang sama, suara langkah kaki banyak terdengar dari koridor—Jenderal Kael dan prajuritnya akhirnya datang karena mendengar keributan.

Pria bertopeng itu mengumpat, lalu melompat ke arah jendela dan menghilang ke dalam kabut malam sebelum sempat ditangkap. Kael dan beberapa prajurit menyerbu masuk dengan pedang terhunus.

“Yang Mulia!” Kael segera ke sisi Raka. Lalu matanya tertuju pada Alena yang masih terengah, lehernya kemerahan, tubuh gemetar.

Keheningan sejenak. Kael menatap Alena lama, lalu berlutut hormat dalam. “Yang Mulia Ratu… akhirnya Anda datang.”

Alena masih berdiri di depan tempat tidur, napasnya belum stabil. Dia menoleh ke Raka yang kembali menutup mata karena kehabisan tenaga, tapi jari-jarinya masih mencoba meraih ke arah Alena. Dengan tangan gemetar, Alena memegang tangan itu. “Aku di sini,” bisiknya. “Aku tidak akan pergi lagi.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!