NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

JK Turun Tangan

Dua huruf di layar itu belum sempat redup ketika kotak pesan lama mulai dipenuhi notifikasi.

Sebagian besar hanya sapaan dari orang-orang yang pernah bekerja dengan JK tiga tahun lalu. Ada yang menanyakan apakah akun itu diretas. Ada yang menawarkan bayaran untuk pekerjaan mencurigakan. Renata menghapus semuanya tanpa menjawab.

Lalu satu pesan dengan tanda prioritas muncul.

AWAN GROUP membutuhkan audit darurat. Sistem pertahanan terus jebol. Pembayaran melalui rekening penampung. Separuh di muka.

Renata membuka berkas penawaran. Nilainya cukup untuk melunasi tunggakan rumah perawatan Mama Yolanda dan membayar beberapa bulan berikutnya.

“Kamu serius mau ambil?”

Tania sudah berdiri di belakangnya sambil membawa dua piring nasi goreng. Tatapannya berpindah dari layar ke wajah Renata.

“Mereka hanya minta audit dan pembersihan jaringan.”

“Maksudku, kamu serius mau jadi JK lagi?”

Renata tidak langsung menjawab. Di layar, penghitung waktu penawaran terus berkurang. Awan Group telah menghubungi beberapa ahli lain. Siapa pun yang menerima lebih dulu akan mendapat akses pemeriksaan.

“Tagihan Mama jatuh tempo besok,” katanya.

Tania meletakkan piring di meja. “Aku bisa pinjamkan uang.”

“Bulan depan bagaimana?”

“Kita pikirkan bulan depan nanti.”

“Aku sudah hidup begitu selama tiga tahun, Tata.” Renata menatap tombol terima. “Aku capek menunggu masalah berikutnya datang.”

Ia menekan tombol itu.

Kontrak digital terkunci. Separuh pembayaran masuk ke rekening penampung, baru bisa dicairkan setelah sistem Awan Group dinyatakan bersih.

Sebuah permintaan verifikasi muncul di kotak pesan.

Nona Tania, apakah Anda sendiri yang akan menangani audit ini?

Tania menunjuk namanya di layar. “Mereka masih mengira aku JK?”

Tiga tahun lalu, semua pesan untuk JK memang melewati akun perantara milik Tania. Renata tidak pernah memperlihatkan wajah, suara, ataupun data pribadinya kepada klien. Tania yang mengatur jadwal dan pembayaran, sehingga orang-orang di luar lingkaran kecil mereka mengambil kesimpulan paling mudah.

“Mau aku luruskan?” tanya Tania.

Renata mengetik balasan singkat bahwa pekerjaan akan ditangani oleh tim yang sama, tanpa membenarkan atau menyangkal nama di pesan itu.

“Belum perlu.”

“Enak sekali. Kamu kerja, aku yang dapat reputasi.”

“Kalau ada yang marah, kamu juga yang dicari.”

Tania meringis. “Baiklah. Reputasinya buat kamu saja.”

Tania menarik kursi dan duduk di sebelahnya. “Baiklah. Tapi kalau lenganmu sakit, kita berhenti.”

“Kamu jadi pengawas kesehatan sekarang?”

“Aku satu-satunya orang waras di kamar ini.”

Renata akhirnya menyuapkan sesendok nasi goreng yang sudah mulai dingin. “Kalau begitu buat kopi.”

“Nah, ini baru JK yang kukenal.”

Akses pemeriksaan tiba beberapa menit kemudian. Awan Group adalah perusahaan milik Om Marcus, paman Nathan yang mengelola bisnisnya sendiri di luar inti Halim Group. Renata pernah bertemu Marcus dua kali dalam acara keluarga. Laki-laki itu berbicara sedikit, tetapi selalu mengamati lebih banyak daripada orang lain.

Malam ini, nama keluarga itu tidak berarti apa-apa.

Di layar Renata, Awan Group hanyalah jaringan yang berantakan dan seseorang yang membayar untuk membersihkannya.

Ia mulai dari catatan aktivitas paling baru. Upaya sebelumnya hanya menambal titik yang terlihat, lalu memasang lapisan pertahanan baru di atas fondasi yang sudah rapuh. Tak heran sistem itu kembali terbuka beberapa hari kemudian.

“Mereka sudah ganti penyedia keamanan tiga kali,” ujar Tania setelah membaca riwayat laporan. “Semuanya bilang masalah selesai.”

“Karena mereka mencari lubang di tembok.”

“Memangnya bukan itu masalahnya?”

“Ada orang yang menyimpan kunci.”

Renata menelusuri pola akses, bukan sekadar alarm. Beberapa koneksi tampak seperti lalu lintas internal biasa. Waktunya teratur, datanya kecil, dan tidak pernah memicu sistem peringatan. Terlalu rapi untuk sebuah kebetulan.

Ia memisahkan catatan itu, membandingkannya dengan perubahan konfigurasi selama enam bulan terakhir, lalu menemukan satu jalur yang selalu aktif beberapa menit setelah jaringan diperbarui.

Sebuah pintu belakang.

Bukan program iseng yang ditanam peretas amatir. Jalur tersebut dibuat untuk bertahan lama, bersembunyi di antara layanan resmi, dan kembali aktif setiap kali sistem dibersihkan.

Tania berhenti mengunyah. “Itu sudah ada sejak kapan?”

“Setidaknya tujuh bulan.”

“Berarti seseorang keluar masuk selama tujuh bulan dan mereka nggak sadar?”

“Mereka sadar ada yang salah. Mereka hanya melihat ke tempat yang sengaja ditunjukkan.”

Renata membuka catatan baru dan mendokumentasikan setiap temuan. Tidak ada gerakan tergesa-gesa. Satu kesalahan bisa membuat pemilik pintu belakang menyadari keberadaan JK lalu menghapus jejaknya.

Ia membekukan jalur tersebut lebih dulu, memutus kemampuannya mengambil data tanpa membuatnya terlihat mati dari sisi luar. Setelah itu, barulah Renata membersihkan komponen yang ditanam di dalam sistem Awan Group satu per satu.

Pukul dua dini hari, layar menunjukkan jaringan sudah stabil.

“Selesai?” Tania menguap.

“Belum.”

“Apa lagi?”

Renata mengetik beberapa baris terakhir dari program pelacaknya. Pintu belakang itu pasti akan mencoba menghubungi sumbernya saat menemukan jalur lama tidak lagi bekerja. Ketika itu terjadi, pelacak tersebut akan mengikuti arah kepulangannya dan menyimpan jejak tujuan tanpa membuka akses baru ke sistem klien.

“Kamu memasang umpan?” tanya Tania.

“Aku memasang bel di pintu.”

“Dan kalau pemiliknya datang?”

“Kita lihat dia pulang ke rumah siapa.”

Mereka menunggu sampai indikator pertama berkedip. Jalur asing itu bergerak, mencoba membuka koneksi lama, lalu mundur ketika tidak mendapat respons. Pelacak Renata ikut bergerak diam-diam di belakangnya.

Belum ada alamat yang bisa dibaca. Hanya satu arah samar menuju jaringan perusahaan lain yang berhubungan dengan industri penerbangan.

Renata menyimpan hasil awal. Ia belum tahu siapa pemiliknya, dan ia tidak akan menebak tanpa bukti.

Laporan pembersihan dikirim ke pihak Awan Group beberapa menit sebelum subuh. Di bagian akhir, Renata hanya menuliskan dua huruf.

JK.

Balasan datang hampir seketika.

Siapa pun yang berada di seberang tampaknya belum tidur.

Kami sudah mencari Anda selama tiga tahun.

Renata menutup pesan itu. Ia mencairkan pembayaran dari rekening penampung, kemudian mentransfer tagihan rumah perawatan Mama Yolanda sampai lunas. Angka merah di aplikasi berubah menjadi nol.

Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, dadanya terasa sedikit lebih longgar.

Menjelang pukul enam, Tania keluar dan kembali membawa dua kopi sachet serta roti cokelat dari Alfamart. Ia meletakkan semuanya di meja, lalu menepuk punggung kursi Renata.

“Kamu belum berdiri sejak tengah malam.”

Renata mengangkat lengan kirinya. Rasa pegal menjalar dari bekas luka sampai bahu.

“Aku masih bisa bergerak.”

“Bagus. Bergerak ke kasur.”

“Pelacaknya belum selesai.”

“Dia bisa lari ke mana-mana. Kamu cuma punya satu badan.” Tania menyodorkan kopi. “Jangan sampai baru bangkit, kamu malah tumbang.”

Renata menerima gelas kertas itu. Kopinya terlalu manis, rotinya murah, dan kamar tamu tersebut jauh lebih sempit daripada ruang makannya di Puri Teratai.

Namun uang yang baru saja membayar obat ibunya adalah hasil tangannya sendiri.

Bukan pemberian Opa William. Bukan belas kasihan Nathan. Bukan pinjaman Tania.

Miliknya.

Di layar, pelacak itu berkedip sekali lagi. Arah tujuan menjadi sedikit lebih jelas, mengarah pada jaringan yang namanya belum tampil utuh.

Hanya tiga huruf terakhir yang sempat terbaca sebelum koneksi terputus.

...ima.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!