NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 008 - Kembali ke Lantai 21

Itu baru awal.

Kiara tidak bertanya lagi setelah itu.

Ia hanya mengikat rambutnya dengan karet yang sudah hampir putus, menggenggam pisau dapur, lalu mengikuti Arga keluar dari area asrama. Wajahnya masih pucat setelah Ratna, tapi langkahnya tidak lagi sama seperti pagi tadi. Masih takut, masih rapuh, namun matanya mulai mencari bahaya sebelum bahaya mendekat.

Itu cukup untuk hari pertama.

"Jangan berjalan tepat di belakangku," kata Arga. "Kiri belakang. Dua langkah. Kalau aku berhenti, kamu berhenti."

Kiara mengangguk.

"Kalau ada Zombie?"

"Tunggu arahku."

"Kalau ada manusia?"

Arga meliriknya. "Lebih berbahaya daripada Zombie."

Kiara menggenggam pisau lebih erat.

Mereka meninggalkan UNDIP lewat jalur samping. Jalan utama sudah dipenuhi Zombie yang tertarik oleh suara para penyintas kampus. Tubuh-tubuh pucat bergerak di antara motor hangus, menabrak kaca, mengendus udara, lalu mengejar setiap bunyi kecil seperti anjing lapar.

Arga tidak memilih pertempuran yang tidak perlu.

Ia melempar batu ke kanan, membuat tiga Zombie menjauh. Ia memotong lewat lorong servis gedung fakultas. Ketika satu Zombie muncul terlalu dekat, Pedang Hi-Tech bergerak pendek.

Sret.

Kepala jatuh sebelum Kiara sempat menarik napas.

"Kristal," kata Arga.

Kiara menelan ludah, lalu berlutut. Tangannya masih gemetar saat membuka bagian belakang kepala Zombie, tapi ia tidak muntah. Kristal kecil kebiruan berhasil ia ambil dan berikan kepada Arga.

Sebelas.

Jumlah itu penting.

Sepuluh untuk membuka pintu pertama Evolver.

Satu untuk Kiara.

Perjalanan pulang tidak lurus. Mereka harus memutar melewati ruko-ruko terbakar, naik ke atap rendah yang saling tersambung, lalu turun lagi lewat papan reklame yang roboh. Di satu gang sempit, Kiara hampir menginjak kaleng kosong. Arga menarik lengannya sebelum bunyi itu pecah.

Kiara membeku.

"Maaf," bisiknya.

"Jangan minta maaf. Ingat."

Ia mengangguk cepat.

Menjelang sore, hotel akhirnya terlihat di kejauhan. Gedung tinggi itu berdiri seperti pulau kotor di tengah kota tenggelam dan hangus. Lantai bawahnya gelap. Beberapa jendela pecah. Di sisi luar, bekas air meninggalkan garis kotor sampai jauh di atas lobi.

Kiara berhenti sejenak.

"Kita tinggal di sana?"

"Lantai dua puluh satu."

Matanya bergerak naik, lalu sedikit melebar. Untuk pertama kalinya sejak Ratna, wajahnya menunjukkan sesuatu selain trauma.

"Tinggi sekali."

"Karena air tidak peduli siapa yang tinggal di bawah."

Mereka masuk melalui sisi servis yang sama. Namun sekarang lobi hotel tidak kosong.

Lebih dari dua puluh Zombie berkeliaran di sana.

Sebagian memakai seragam hotel. Sebagian pakaian tamu. Ada yang masih membawa koper kecil terseret di satu tangan. Ada yang berdiri dekat meja resepsionis yang patah, terus menggaruk permukaan marmer seolah mencari sesuatu yang sudah lama hilang.

Kiara menahan napas.

Arga mengangkat tangan, menyuruhnya berhenti.

Di luar pintu pecah, beberapa Zombie lain bergerak di jalan. Jika pertarungan terlalu berisik, jumlah mereka akan bertambah.

"Tangga servis ada di kiri," bisik Arga. "Kamu masuk setelah aku buka jalan. Jangan menusuk kecuali ada yang mendekat."

"Bagaimana dengan semuanya?"

"Aku yang urus."

Ia tidak memakai Combat Suit.

Belum perlu.

Arga ingin merasakan batas tubuh tiga kali lipat ini sebelum naik ke Tingkat 1. Setiap pertarungan adalah data. Setiap gerakan adalah ukuran.

Ia mengambil pecahan logam dari lantai, melemparkannya ke ujung kanan lobi.

Trang!

Zombie menoleh bersamaan.

Arga masuk dari kiri.

Pedang Hi-Tech bergerak seperti garis hitam.

Tebasan pertama memutus leher staf hotel yang sudah berubah menjadi Zombie. Tebasan kedua menusuk dari bawah rahang. Ia tidak memakai gerakan besar. Langkah pendek, bilah masuk, tubuh jatuh, pindah target.

Kiara berdiri di belakang pilar, matanya melebar.

Pagi tadi ia melihat Arga kuat.

Sekarang ia melihat perbedaannya dengan jelas.

Arga tidak bertarung seperti orang panik. Ia bertarung seperti seseorang yang sudah mengulang adegan ini ratusan kali dalam ingatan. Ketika Zombie datang dari kiri, ia sudah miring sebelum tangan itu mencapai udara. Ketika dua Zombie bertabrakan karena berebut suara, ia memanfaatkan celah itu untuk menebas keduanya.

Dalam tiga menit, sepuluh Zombie jatuh.

Tapi suara tubuh jatuh akhirnya menarik perhatian luar.

Dari pintu utama yang pecah, geraman baru masuk.

Lima.

Delapan.

Lebih banyak.

"Kiara!" Arga berseru pendek. "Pintu!"

Kiara tersentak, lalu berlari ke pintu kaca samping yang masih menggantung pada relnya. Dua Zombie dari luar sudah hampir masuk. Ia menahan napas, menendang potongan kursi ke arah mereka, lalu mendorong pintu dengan seluruh berat badan.

Kaca retak.

Salah satu Zombie menyelipkan tangan ke celah.

Kiara mengangkat pisau.

Ia ragu sepersekian detik.

Bayangan Ratna melintas.

Lalu ia menusuk telapak tangan Zombie itu sampai bilah menembus daging busuk. Zombie menggeram, tangannya tertarik mundur. Kiara menekan pintu sampai terkunci oleh puing logam di lantai.

"Selesai!" teriaknya, suara pecah tapi tidak panik.

Arga menebas Zombie terakhir di dekat meja resepsionis.

Lobi mendadak sunyi, hanya dipenuhi napas Kiara dan geraman tertahan dari luar.

"Bagus," kata Arga.

Satu kata.

Tapi bagi Kiara, itu seperti air setelah panas tiga hari. Bahunya yang tegang turun sedikit.

Mereka tidak mengambil semua Kristal. Terlalu berisiko. Arga hanya mengambil beberapa yang aman, cukup untuk memastikan cadangan, lalu membawa Kiara ke tangga servis.

Naik dua puluh satu lantai setelah seharian bertahan hidup bukan hal mudah bagi Kiara.

Di lantai sepuluh, napasnya mulai pecah.

Di lantai lima belas, kakinya gemetar.

Arga tidak menggendongnya.

"Terus."

"Aku... masih bisa."

"Kalau kamu bisa bicara, kamu bisa naik."

Kiara memelototinya sebentar, lalu menggigit bibir dan naik lagi.

Ketika akhirnya sampai di lantai dua puluh satu, ia hampir jatuh. Arga menempelkan jari ke pemindai. Sesaat kemudian, smart lock berbunyi.

Bip.

Pintu presidential suite terbuka.

Kiara masuk dan langsung berhenti.

Dus makanan. Air mineral. Lilin. Senter. Kaleng. Ruangan itu bukan kamar hotel.

Itu benteng.

Arga menutup pintu, mengunci deadbolt, lalu menggeser kursi kembali ke posisinya. Kiara berjalan beberapa langkah, menatap tumpukan Aqua dan Indomie, lalu tertawa kecil.

Tawa itu lemah, hampir tidak percaya.

"Jadi ini sebabnya semua orang di luar ingin masuk."

"Ya."

Kiara terduduk di lantai, punggung menempel ke sofa. Untuk pertama kalinya sejak Arga bertemu dengannya, senyum kecil muncul di wajahnya. Lelah, berantakan, tapi nyata.

"Aku masih hidup," katanya pelan.

Arga mengambil satu botol air dan melemparkannya. "Minum. Setelah itu tidur satu jam."

"Kamu?"

"Aku naik tingkat."

Senyum Kiara hilang, diganti rasa ingin tahu dan tegang.

Arga duduk di ruang tengah. Sepuluh Kristal diletakkan di depannya, membentuk garis biru pucat di atas lantai. Satu Kristal terakhir ia pisahkan dan lemparkan kepada Kiara.

"Simpan. Kalau luka di lenganmu terasa panas atau tubuhmu melemah, gunakan itu. Jangan buang."

Kiara menangkapnya dengan kedua tangan. "Ini mahal, kan?"

"Sekarang, iya. Nanti, lebih mahal."

Arga mengambil sepuluh Kristal.

Di kehidupan sebelumnya, ia membutuhkan tiga bulan untuk mencapai momen ini. Ia masih ingat malam saat akhirnya menelan Kristal kesepuluh dengan tangan gemetar, tubuh penuh luka, dan rasa takut bahwa ia akan mati sebelum sempat menjadi Evolver.

Sekarang ia duduk di presidential suite, dengan Cincin Dimensi di jari, Pedang Hi-Tech di samping, dan Kiara di ruangan yang sama.

Efek Kupu-Kupu sudah mulai bergerak.

Ia memasukkan Kristal pertama ke mulut.

Dingin.

Lalu panas.

Kristal kedua, ketiga, keempat.

Energi kasar mulai mengalir dari perut ke tulang belakang. Pada Kristal ketujuh, kepala Arga seperti ditusuk dari dalam. Pada Kristal kesepuluh, seluruh tubuhnya terbakar.

Kiara bangkit panik. "Arga?"

"Duduk."

Satu kata itu keluar di antara gigi yang mengatup.

Kiara berhenti di tempat.

Arga menunduk. Urat di lehernya menonjol. Keringat jatuh ke lantai. Otot-ototnya berkontraksi, lalu mengembang seperti ada tangan tak terlihat yang meremas dan membentuk ulang setiap serat.

Rasa sakit ini lebih ringan daripada Serum Evolusi Tingkat Tinggi.

Tapi lebih dalam.

Tubuhnya sedang ditulis ulang.

Ini membuka pintu.

BOOM.

Tidak ada suara nyata.

Namun di dalam tubuh Arga, sesuatu pecah.

Panas berubah menjadi arus kuat yang mengalir ke tangan, kaki, paru-paru, mata, dan telinga. Detak jantungnya menjadi berat, stabil, bertenaga. Ruangan yang sebelumnya ia lihat jelas kini terasa lebih tajam. Ia bisa mendengar napas Kiara, gesekan kecil lilin pada meja, bahkan tetes air dari pipa kamar mandi yang bocor.

Arga membuka mata.

Tingkat 1 Evolver.

Dengan dasar tiga kali dari Serum Evolusi Tingkat Tinggi, tubuhnya kini mencapai enam kali manusia biasa.

Ia berdiri.

Lantai seolah lebih ringan di bawah kakinya.

Ia mengepalkan tangan. Udara tertekan sampai Kiara yang berdiri beberapa langkah darinya merasakan dorongan itu dan tanpa sadar mundur.

"Ini..." suaranya tertahan.

"Awal Evolver," kata Arga.

Kiara menatapnya seperti melihat sesuatu yang tidak lagi sepenuhnya manusia biasa.

Arga menutup mata, menikmati arus kekuatan yang berputar di tubuhnya selama beberapa detik.

Enam kali.

Dengan kekuatan ini, Zombie Tingkat 1 sudah berada di bawahnya. Manusia biasa? Lebih kecil lagi.

Lalu Telepati bergerak.

Di balik dinding. Di kamar sebelah. Beberapa suara rendah bercampur dengan pikiran yang berbau lapar, iri, dan kekerasan.

Anak itu sudah balik.

Masih bawa perempuan.

Besok kalau dia keluar, kita masuk. Kepala Security bilang kamarnya penuh makanan.

Bang Jago sudah siap.

Arga membuka mata.

Koridor di luar suite sangat sunyi.

Terlalu sunyi.

Sudut bibirnya terangkat tipis, tanpa hangat sedikit pun.

"Besok," katanya pelan, "ada orang yang akan mengetuk pintu neraka."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!