"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"
"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"
"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."
"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"
"Itu hakmu untuk menyimpulkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. HILANG
Bab 12. Hilang
Pintu menutup setelah direktur terakhir meninggalkan ruangan. Suara langkah kaki di koridor perlahan menghilang, menyisakan kesunyian yang hanya ditemani dengung pendingin ruangan.
Kalandra tidak segera bangkit dari tempat duduknya. Ia menyandarkan tubuh pada sandaran kursi sambil memejamkan mata beberapa detik. Pertemuan yang semula diperkirakan selesai menjelang sore ternyata molor hingga melewati waktu makan malam. Hampir tiga jam tanpa jeda membuat tengkuknya terasa kaku, sementara pelipisnya mulai berdenyut pelan.
Di atas meja masih tersisa secangkir kopi yang telah kehilangan uap hangatnya. Ia meraihnya, meneguk sisa minuman itu dalam sekali teguk, lalu mengembuskan napas panjang.
Beberapa saat kemudian, Kalandra mulai membereskan dokumen yang berserakan di atas meja rapat. Setiap map disusunnya kembali sesuai urutan pembahasan, lalu dibawanya keluar menuju ruang kerja. Koridor lantai eksekutif telah berubah sunyi. Sebagian lampu otomatis beralih ke mode malam, membuat suasana gedung terasa jauh lebih lengang dibanding beberapa jam sebelumnya.
Begitu memasuki ruangannya, pandangan Kalandra langsung tertuju ke meja di seberang.
Kursi Hagia kosong. Laptop wanita itu masih menyala. Draf presentasi Arshaka Mall untuk rapat direksi esok pagi masih terbuka di layar. Tas kerja dan ponselnya juga masih berada di tempat semula. Kalandra hanya melirik sekilas.
"Mungkin ke pantry."
Ia tidak memikirkannya lebih jauh.
Jas yang sejak sore dikenakannya dilepas dan disampirkan ke sandaran kursi. Setelah itu ia kembali duduk, membuka beberapa berkas yang masih harus ditandatangani sebelum pulang.
Sesekali pandangannya terangkat ke arah pintu. Hagia belum kembali.
Sambil menunggu, ia mulai merapikan meja kerjanya. Pulpen-pulpen yang berserakan dikembalikan ke tempatnya. Dokumen yang sudah selesai dipisahkan dari berkas yang akan dibawa untuk rapat esok pagi. Pekerjaan kecil itu selesai dalam hitungan menit. Hagia masih belum muncul.
Tanpa sadar, Kalandra beranjak menuju meja kerja wanita itu. Sudah beberapa hari terakhir, meja itu hampir selalu menjadi lebih berantakan menjelang sore karena tumpukan revisi yang mereka kerjakan bersama. Dengan gerakan yang tenang, ia menutup map-map yang masih terbuka, menyusun ulang berkas presentasi, lalu merapikan beberapa alat tulis yang tergeletak di sisi laptop. Tangannya berhenti ketika melihat ponsel Hagia masih terhubung pada pengisi daya.
Alisnya sedikit berkerut. Kalau hanya pergi ke pantry, seharusnya ia sudah kembali. Kalandra melirik jam dinding. Pukul delapan lewat empat puluh menit. Tanpa disadari, lebih dari tiga puluh menit telah berlalu sejak rapat dibubarkan. Ruangan itu tetap sunyi. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada ketukan di pintu. Tidak ada pula sosok Hagia yang biasanya akan muncul sambil membawa buku agenda untuk mengingatkan jadwal pulang.
Untuk pertama kalinya malam itu, muncul perasaan yang sulit dijelaskan di dalam dada Kalandra. Ia berdiri. Langkahnya mengarah ke pintu, kali ini bukan lagi untuk menunggu, melainkan mencari.
Kalandra melangkah keluar dari ruang kerjanya. Koridor lantai eksekutif tampak lengang. Deretan lampu di langit-langit memancarkan cahaya putih yang lebih redup dibanding siang hari, sementara sebagian ruang kerja di sepanjang koridor telah gelap karena ditinggalkan para penghuninya. Suasana yang biasanya masih terdengar sibuk menjelang petang kini berubah sunyi.
"Hagia."
Suara baritonnya memecah keheningan, tetapi tidak ada jawaban. Ia melanjutkan langkah menuju pantry di ujung koridor. Pintu ruangan itu terbuka. Mesin kopi otomatis telah berhenti beroperasi, menyisakan lampu indikator berwarna biru yang berkedip pelan. Tidak ada siapa pun di dalam. Kalandra hanya mengedarkan pandangan beberapa detik sebelum kembali berbalik.
Tujuan berikutnya adalah musala yang berada tidak jauh dari sana. Ia mendorong pintunya perlahan. Ruangan itu juga kosong. Sajadah-sajadah telah tersusun rapi di rak, sementara lampu dibiarkan menyala redup sebagai penerangan malam. Tidak terdengar suara langkah maupun bisikan yang menandakan ada orang di dalam.
Kalandra kembali menyusuri koridor, kali ini menuju area lift dan lobi kecil di lantai eksekutif. Pandangannya bergerak ke segala arah, berharap menemukan sosok wanita yang sejak tadi dicarinya. Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin jelas bahwa seluruh lantai itu benar-benar telah ditinggalkan para karyawan.
"Hagia."
Untuk kedua kalinya ia memanggil nama itu, kali ini dengan suara yang sedikit lebih keras. Panggilannya memantul di dinding koridor, lalu menghilang begitu saja tanpa balasan. Langkah Kalandra perlahan terhenti. Tatapannya kembali mengarah ke ruang kerjanya yang masih terbuka. Bayangan meja Hagia dengan tas dan mponsel yang tertinggal kembali terlintas di benaknya.
Rasa heran yang semula hanya berupa firasat perlahan berubah menjadi kegelisahan. Ia segera kembali ke ruang kerja. Kali ini pandangannya menelusuri setiap sudut dengan lebih saksama. Tas kerja Hagia masih berada di kursinya. Ponsel itu pun tetap terhubung pada pengisi daya. Bahkan laptopnya masih menyala dengan draf presentasi Arshaka Mall yang belum ditutup.
Kalandra menarik napas pelan.
Hagia mungkin lupa membawa tas.
Namun, mustahil wanita itu meninggalkan kantor tanpa membawa ponselnya, terlebih tanpa memberi tahu dirinya. Ia segera mengambil ponsel dari atas meja, lalu menekan nomor kepala keamanan gedung.
"Pak, apakah seluruh karyawan sudah meninggalkan kantor?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Sebagian besar sudah, Pak Kalandra," jawab suara di seberang. "Saat ini hanya petugas keamanan dan petugas kebersihan yang masih bertugas."
"Baik."
Panggilan itu berakhir singkat.
Jawaban tersebut justru membuat kegelisahan Kalandra semakin menguat. Jika seluruh karyawan memang telah pulang, lalu ke mana Hagia pergi? Tanpa membuang waktu lebih lama, ia melangkah cepat menuju lift. Pikirannya mulai menyusun berbagai kemungkinan, tetapi tidak satu pun terasa masuk akal.
Setibanya di lantai dasar, ia langsung menuju ruang keamanan yang masih diterangi deretan monitor pengawas. Beberapa petugas yang sedang berjaga sontak berdiri ketika melihat CEO mereka datang dengan langkah tergesa.
"Selamat malam, Pak."
"Putar rekaman CCTV lantai tiga puluh mulai sekitar pukul lima lewat tiga puluh sore," perintah Kalandra tegas. "Saya ingin melihat semua aktivitas yang melibatkan Nona Hagia. Jangan ada satu menit pun yang dilewati."
Salah seorang petugas segera mengangguk dan mengoperasikan sistem pemantauan. Rekaman dari kamera koridor lantai eksekutif mulai bergerak di layar monitor, sementara Kalandra berdiri tepat di belakang mereka dengan sorot mata yang tidak pernah lepas dari tayangan tersebut.
Rekaman bergerak dengan kecepatan normal.
Di layar monitor, Hagia tampak keluar dari ruang CEO sambil membawa cangkir kopi kosong. Langkahnya santai, mengarah ke pantry yang berada di ujung koridor. Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka dan seorang pria keluar dengan langkah tergesa-gesa. Kalandra langsung mengenalinya.
Danu.
Pria itu tampak beberapa kali melirik jam tangannya sebelum menghentikan langkah ketika melihat Hagia. Keduanya berbincang singkat di depan lift. Meski kamera tidak merekam suara, gerak bibir dan bahasa tubuh mereka memperlihatkan bahwa pembicaraan itu berlangsung cukup serius.
Sesaat kemudian, Danu mengeluarkan selembar memo dari dalam map yang dibawanya. Memo itu diserahkan kepada Hagia sambil menunjuk ke arah lift, seolah menjelaskan sesuatu. Hagia membacanya beberapa detik, lalu menganggukkan kepala.
"Zoom in," ujar Kalandra tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Petugas segera memperbesar tampilan rekaman.
Terlihat jelas Danu kembali menunjuk memo tersebut, kemudian mengangkat telapak tangannya sebelum ia berbalik dan berjalan cepat menuju ruang rapat yang sejak sore memang masih berlangsung.
Sementara Hagia kembali memasuki ruang CEO.
Beberapa menit kemudian, wanita itu keluar lagi. Kali ini ia membawa sebuah map berukuran besar yang dijepit erat di pelukannya.
"Lanjutkan."
Rekaman berpindah ke kamera yang menghadap area lift. Hagia memasuki lift seorang diri.
"Tujuan?"
Petugas keamanan membuka data log sistem lift yang terhubung dengan rekaman CCTV.
"Lantai dua puluh delapan, Pak."
Kalandra tidak mengatakan apa-apa. Rahangnya perlahan mengeras.
Tampilan monitor kembali berganti. Kamera di koridor lantai dua puluh delapan memperlihatkan Hagia keluar dari lift beberapa saat kemudian. Ia sempat menundukkan kepala membaca memo di tangannya sekali lagi sebelum berjalan menyusuri lorong menuju ruang arsip.
Di depan pintu ruang arsip, Hagia menghentikan langkah. Ia memeriksa nomor ruangan yang tertera pada memo, lalu membuka pintu menggunakan kartu akses sementara yang diberikan petugas administrasi. Sesaat kemudian, sosoknya menghilang di balik pintu besi yang perlahan menutup kembali.
Ruangan keamanan mendadak sunyi. Semua mata tertuju pada layar monitor. Rekaman terus berjalan. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Bahkan lima belas menit. Koridor di lantai dua puluh delapan tetap kosong. Tidak ada seorang pun yang keluar dari ruang arsip. Petugas keamanan mulai mempercepat tayangan.
Waktu di sudut monitor terus berubah. Pukul enam lewat lima belas. Pukul enam lewat empat puluh. Pukul tujuh malam. Koridor itu tetap tidak menunjukkan aktivitas apa pun.
Kalandra mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Putar dengan kecepatan normal mulai pukul tujuh."
Petugas segera menurunkan kecepatan rekaman.
Beberapa detik kemudian, seorang petugas kebersihan tampak melintas di ujung koridor sambil mendorong troli. Setelah itu, seorang petugas keamanan datang melakukan pemeriksaan rutin. Ia berhenti di depan ruang arsip, menarik pintu hingga terdengar menutup rapat, lalu memasang grendel pengaman dari luar sesuai prosedur penutupan gedung. Tanpa menyadari bahwa masih ada seseorang di dalam, petugas itu meninggalkan lokasi.
Tidak lama berselang, seluruh lampu koridor padam secara otomatis, menyisakan lampu darurat di beberapa titik.
Rekaman berikutnya memperlihatkan koridor yang benar-benar kosong.
Hagia tidak pernah terlihat keluar.
Next--->
semoga bukunya sukses
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻