NovelToon NovelToon
Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Menikahi tentara / Antagonis Jahat
Popularitas:739
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Piagam dan Buku Catatan Ibu

“Ambil kotaknya,” perintah Hendra.

Yuli menatap suaminya seolah berharap lelaki itu berubah pikiran. Namun Arya sudah berdiri di samping Laras, dan tidak ada lagi celah untuk berpura-pura lupa.

“Masih ada urusan uangnya,” kata Laras.

Hendra mengepalkan tangan. “Jangan serakah.”

“Mengambil milik sendiri bukan serakah.”

“Papa membesarkanmu bertahun-tahun!”

“Dan Ibu Maharani meninggalkan biaya untuk itu. Kita bisa menghitung mana yang dipakai untuk kebutuhan saya, mana yang beralih menjadi renovasi rumah, kendaraan, dan biaya sekolah Vania.”

Vania berdiri. “Jangan fitnah keluargaku!”

Laras menoleh kepadanya. “Keluargamu? Bagus. Berarti kamu mengakui sejak awal aku tidak pernah dianggap bagian dari keluarga ini.”

Vania kehilangan kata-kata.

Yuli buru-buru berjalan ke tangga. Langkahnya terdengar berat sampai ke lantai atas.

Hendra menurunkan suara. “Apa maumu sebenarnya?”

“Piagam, buku catatan, seluruh dokumen atas nama Ibu, dan bagian uang yang masih tersisa.” Laras mengeluarkan ponsel. “Kalau hari ini tidak selesai, saya akan menghubungi pihak pabrik, kantor yang menerbitkan penghargaan, dan semua kerabat yang hadir saat santunan diserahkan. Kita cocokkan cerita di depan mereka.”

Wajah Hendra mengeras.

“Saya juga bisa meminta salinan transaksi lama melalui prosedur hukum,” lanjut Laras. “Mungkin memakan waktu, tapi saya akan menunggu.”

Hendra bangkit dan mengambil buku cek dari laci. “Papa beri kamu sejumlah uang sekarang. Setelah itu, kamu tanda tangan bahwa semua urusan selesai.”

Ia menulis angka, merobek lembar cek, lalu meletakkannya di meja.

Laras bahkan tidak menyentuhnya. “Saya tidak akan menukar hak atas catatan yang belum diperiksa dengan angka yang Bapak tentukan sendiri.”

“Kamu butuh uang untuk pindah.”

“Kebutuhan saya tidak mengubah kepemilikan.”

“Kalau begitu, sebutkan angka yang kamu mau.”

“Saya mau laporan yang benar.”

Arya menggeser punggung kursi Laras sedikit agar ia bisa bersandar. “Kita masih punya waktu?” tanyanya pelan.

Laras memahami pertanyaan itu bukan tentang jadwal, melainkan tubuhnya. Pinggangnya mulai pegal setelah duduk terlalu lama.

“Sepuluh menit.”

Arya melihat jam. “Lima belas. Setelah itu kamu harus berdiri dan berjalan sebentar.”

Vania memutar mata. “Baru kena masalah saja sudah sok perhatian.”

Arya tidak menanggapinya. Ia membuka botol air dan menyerahkannya kepada Laras.

Laras minum beberapa teguk, lalu meletakkan botol di samping cek yang masih tak tersentuh. Sikap tenangnya membuat Hendra jauh lebih gelisah daripada jika ia berteriak.

Arya tidak ikut mengancam. Kehadirannya saja cukup mengingatkan Hendra bahwa Laras tidak datang sebagai anak yang bisa dibentak lalu disuruh pulang.

Yuli kembali membawa kotak besi kecil yang permukaannya berkarat. Ia meletakkannya di meja dengan kasar.

“Ini barang-barangnya. Jangan bilang Tante menahan apa pun.”

Laras membuka pengait.

Di bagian paling atas terlipat kain putih yang sudah menguning. Di bawahnya terletak sebuah piagam berbingkai tipis, map dokumen, dan buku catatan berlapis kulit cokelat. Sudut buku itu aus karena pernah sering disentuh.

Napas Laras tertahan.

Tulisan pada piagam masih terbaca jelas.

Piagam Penghargaan Anumerta untuk Maharani Wicaksana, atas keberanian menyelamatkan para pekerja saat kebakaran Pabrik Tekstil Sandang Jaya.

Nama itu bukan sekadar bagian dari ingatan tubuh. Ia adalah seorang perempuan yang pernah berlari masuk ke bangunan terbakar ketika orang lain berusaha keluar. Seseorang yang meninggalkan anak kecil, buku catatan, dan keberanian yang kemudian disembunyikan bertahun-tahun di loteng.

Laras mengusap tepi bingkai dengan ujung jari.

Dadanya terasa penuh oleh kesedihan yang bukan sepenuhnya miliknya, tetapi juga tidak lagi terasa asing.

“Ibu...” bisiknya.

Arya berdiri lebih dekat. Ia tidak menyentuh Laras, hanya mengambil kotak besi agar beban itu tidak bertumpu di pangkuan perempuan hamil.

Laras membuka buku kulit tersebut. Halaman pertama berisi tulisan tangan rapi dan sebuah tanggal jauh sebelum kelahirannya. Ia tidak membaca lebih lanjut. Ini bukan tempat yang tepat.

Di dalam map, ada salinan surat kematian, bukti pemberian penghargaan, dan beberapa lembar penerimaan dana. Satu halaman menunjukkan rekening penampung yang dikelola Hendra setelah Maharani meninggal.

“Ini cukup untuk memulai perhitungan,” kata Laras.

Hendra menatap meja, tidak lagi membantah bahwa dana itu pernah ada.

Setelah perdebatan panjang, ia mentransfer sejumlah uang yang diakuinya masih tersisa. Laras memeriksa notifikasi bank, menyimpan bukti transaksi, lalu menuliskan bahwa pembayaran tersebut belum menghapus haknya meminta pertanggungjawaban jika dokumen lain menunjukkan selisih.

Hendra menandatangani dengan wajah kelabu.

“Sekarang puas?” tanyanya.

“Saya puas karena barang Ibu kembali. Bukan karena harus memaksa keluarga sendiri menyerahkannya.”

Vania mendecakkan lidah. Ponselnya berbunyi beberapa kali. Saat Laras berdiri, layar yang belum sempat dikunci memperlihatkan grup keluarga besar.

Vania baru saja mengirim pesan.

`Ada yang suaminya jatuh miskin, sekarang pulang menguras rumah orang tua.`

Laras mengambil ponselnya sendiri. Pesan itu sudah masuk ke grup yang sama.

Ia membalas singkat.

`Yang saya bawa pulang adalah piagam dan peninggalan ibu kandung saya. Kalau perlu, bukti penerimaan dana juga bisa saya unggah agar semua orang menilai sendiri siapa yang menguras siapa.`

Tanda mengetik bermunculan, lalu menghilang satu per satu.

Beberapa detik kemudian, seorang bibi mengirim foto lama Maharani memegang piagam yang sama. Pesan berikutnya bertanya mengapa penghargaan itu selama ini disimpan keluarga Wijaya dan bukan Laras.

Ponsel Hendra mulai berdering di ruang tamu. Yuli menatap layar suaminya dengan panik, sementara nama-nama kerabat terus muncul dalam notifikasi.

Laras tidak perlu menambahkan apa pun. Satu fakta yang diletakkan di tempat terbuka sudah cukup membalik arah gunjingan.

Vania merebut ponselnya dari meja. “Kakak mengancamku?”

“Tidak. Aku menawarkan transparansi.”

Laras memasukkan buku kulit dan map dokumen ke tas besar. Arya membawa kotak besi serta piagam. Ketika mereka sampai di teras, ia lebih dulu membuka pintu mobil, menahan bagian atasnya dengan telapak tangan agar kepala Laras tidak terbentur.

“Pelan,” katanya saat Laras naik.

Hendra, Yuli, dan Vania berdiri di ambang pintu. Tidak seorang pun mengucapkan selamat jalan.

Mobil bergerak meninggalkan rumah Wijaya.

Laras memeluk tas di pangkuan. Gedung-gedung Jakarta melintas di balik kaca, kota yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan.

Arya mengemudi beberapa menit sebelum bertanya, “Ibumu meninggal dalam kebakaran?”

“Saat menyelamatkan orang lain.”

“Kenapa kamu tidak pernah bercerita?”

Laras memandangi buku kulit yang menyembul dari tas. Ada terlalu banyak jawaban, termasuk yang belum ia pahami sendiri.

“Nanti aku ceritakan,” katanya. “Setelah aku membaca ini.”

Arya mengangguk. Ia tidak mendesak.

Laras menyentuh sudut buku itu sekali lagi. Tujuan berikutnya adalah desa terpencil yang dianggap orang sebagai dasar kejatuhan mereka.

Namun kini ia membawa salah satu kunci menuju masa lalunya sendiri.

Dan kali ini, tidak seorang pun akan menyembunyikan kunci itu darinya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!