Diceraikan saat hamil dan dibiarkan mati, Clarissa bangkit dalam tubuh Elena—gadis bangsawan super kaya.
Kini Clarissa menguasai dunia, membuang status wanita tertindas, dan naik ke puncak tertinggi. Saat sang mantan suami datang merangkak memohon ampun di kakinya, Elena tersenyum sinis:
"Mantan suami, lihatlah aku sekarang! Kamu bahkan tidak pantas menyentuh ujung gaunku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sambutan Dingin di Stasiun Pusat
Derap roda besi kereta eksekutif keluarga Obsidian perlahan-lahan melambat sebelum akhirnya berhenti dengan desis uap yang halus di peron khusus Stasiun Pusat Ibu Kota. Stasiun megah dengan arsitektur klasik Eropa itu tampak sunyi senyap. Seluruh area peron satu dan dua telah dikosongkan secara total dari publik sejak subuh hari atas perintah Kementerian Transportasi, demi menjaga keamanan dan privasi rombongan Duke Xavier.
Meskipun areanya sepi dari masyarakat biasa, pemandangan di sepanjang jalur keluar peron justru dipenuhi oleh ketegangan politik yang sangat pekat. Dua barisan pengawal dengan seragam militer formal berwarna ungu tua—warna khas faksi bangsawan kuno Ibu Kota—berdiri tegak dengan senjata laras panjang di dada mereka. Di tengah-tengah barisan itu, berdiri beberapa tetua dari Dewan Keluarga Besar Obsidian, menemani kelompok sosialita muda dari faksi bangsawan kuno yang sengaja datang untuk melihat sosok "wanita janda" yang telah merebut perhatian Duke Xavier.
Pintu gerbong eksekutif berlapis krom hitam terbuka perlahan. Dua pengawal elite berjas hitam melangkah keluar terlebih dahulu, membuat barisan pelindung di kanan dan kiri pintu.
Tak lama kemudian, Elena von Obsidian melangkah keluar dari dalam kabin kereta dengan keanggunan seorang ratu mutlak. Siang itu, dia tampil sangat memukau dengan mengenakan mantel kasmir panjang berwarna hitam legam yang dipadukan dengan sepatu bot kulit setinggi lutut. Rambut peraknya yang panjang dibiarkan terurai bebas ditiup angin musim gugur Ibu Kota yang dingin, berkilau indah di bawah bias cahaya lampu stasiun. Sepasang mata safir birunya yang jernih menatap lurus ke depan dengan kekosongan yang sedingin es kutub.
Tepat di samping Elena, Duke Xavier melangkah keluar dengan setelan jas formal abu-abu gelap tiga potong yang dipadukan dengan mantel bulu tipis di pundaknya. Tangan kokoh Xavier langsung melingkar protektif di pinggang ramping Elena, memancarkan aura dominasi yang begitu pekat hingga sanggup menekan seluruh atmosfer di peron stasiun dalam sekejap mata.
"Selamat datang kembali di Ibu Kota, Duke Xavier," ucap salah satu tetua Dewan Keluarga, seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan jubah aristokrat bernama Lord Malakai. Malakai membungkuk hormat dengan sangat kaku, namun sepasang matanya menatap Elena dengan binar meremehkan yang tak disembunyikan. "Dewan Tetua telah menyiapkan akomodasi terbaik di Paviliun Utara Kediaman Utama untuk Anda. Namun... kami tidak menyangka Anda akan benar-benar membawa 'tamu' dari Secilia City ini masuk ke pusat pemerintahan."
Kata 'tamu' yang diucapkan Malakai dengan penekanan sarkasme yang kental langsung memicu senyum cibiran dari sekelompok sosialita muda di barisan belakang. Bagi faksi bangsawan kuno Ibu Kota, Elena tetaplah seorang janda buangan keluarga Secilia yang tidak memiliki hak seujung kuku pun untuk menyandang nama besar Obsidian di pusat takhta.
Xavier tidak langsung menjawab. Pria penguasa bayangan itu hanya menghentikan langkah kakinya, lalu melayangkan tatapan mata abu-abu gelapnya yang sedingin es tepat ke arah wajah Lord Malakai. Aura membunuh yang sangat pekat seketika keluar dari tubuh tegap Xavier, membuat dua pengawal militer di dekat Malakai reflex mundur satu langkah karena ketakutan.
"Malakai," suara bariton Xavier yang berat dan dalam menggema kuat di sepanjang peron stasiun yang sunyi, memotong seluruh cibiran para sosialita dalam sekejap. "Jika bibir tuamu itu sudah bosan menyemburkan kata-kata bodoh, aku tidak keberatan memerintahkan pasukanku untuk menjahitnya sekarang juga. Wanita yang berdiri di sampingku ini adalah Elena von Obsidian, istri sah dan permaisuri tunggal dari seluruh aset Obsidian Group. Jika ada satu lagi manusia di tempat ini yang berani menyebutnya sebagai 'tamu'... aku pastikan dia tidak akan pernah bisa melihat matahari terbit esok pagi."
Mendengar ancaman kematian yang begitu lugas dari mulut sang Duke, wajah Lord Malakai seketika memucat pasi bagai kehilangan seluruh pasokan darahnya. Dia menelan ludah dengan susah payah, harga diri bangsawannya runtuh seketika di depan ketegasan Xavier.
Elena sendiri hanya menatap Malakai dan para pengikut faksi bangsawan kuno dengan senyuman sinis yang teramat tipis namun mematikan di bibir merahnya. Jiwa Clarissa di dalam dirinya sama sekali tidak terusik oleh sambutan dingin tersebut; dia justru merasa sangat terhibur melihat bagaimana para penguasa tua ini mencoba mempertahankan keangkuhan mereka yang sudah keropos.
"Lord Malakai yang terhormat," Elena akhirnya bersuara, nadanya terdengar begitu merdu, berwibawa, dan memotong sisa keberanian pria tambun itu dalam sekejap. "Saya rasa Anda terlalu sibuk mengurus hukum adat adat kuno hingga lupa memeriksa bursa efek distrik pusat pagi ini. Perlu saya informasikan, satu jam yang lalu, Aethelgard Holdings milik saya telah resmi membeli sisa empat puluh lima persen hak sewa atas lahan operasional stasiun pusat ini dari kementerian keuangan."
Elena melangkah satu tahap lebih dekat, membiarkan cincin berlian hitam berbentuk mahkota di jari manisnya berkilau tajam di depan mata Malakai.
"Jadi, secara hukum komersial... saat ini Anda sedang berdiri di atas tanah milik saya, Lord Malakai," bisik Elena dengan nada suara yang sedingin es kutub namun penuh dengan kemenangan mutlak. "Jika faksi bangsawan kuno Anda masih ingin menggunakan jalur peron khusus ini untuk pengiriman logistik mewah kalian dari wilayah utara... sebaiknya Anda belajar cara membungkuk yang benar di hadapan saya mulai detik ini. Karena jika saya tidak menyukai ekspresi wajah Anda besok pagi... aku tidak keberatan membatalkan seluruh hak akses sewa lahan ini dan membuat seluruh kereta logistik Anda tertahan di luar gerbang Ibu Kota seumur hidup."
Tamparan finansial yang luar biasa dahsyat dan mendalam itu membuat Lord Malakai terduduk kaku dengan mulut ternganga karena syok yang luar biasa. Para sosialita muda di belakangnya langsung membungkam mulut mereka sendiri dengan wajah yang dipenuhi rasa ngeri. Mereka akhirnya menyadari dengan sangat terlambat: Elena bukan sekadar wanita janda yang beruntung karena kecantikan; dia adalah monster keuangan baru yang memiliki kekuatan untuk mencekik urat nadi perekonomian mereka kapan saja dia mau.
"Ayo pergi, Elena. Tempat ini terlalu berdebu untukmu," ujar Xavier lembut, mengabaikan Malakai dan seluruh pasukan militer ungu itu sepenuhnya. Pria jangkung itu menuntun Elena melangkah dengan keanggunan mutlak menuju deretan mobil limusin hitam yang sudah menunggu di lobi stasiun.
Pintu mobil dibuka oleh pengawal berjas hitam, dan sepasang penguasa sejati itu melangkah masuk, bergerak pergi membelah jalanan Ibu Kota menuju hotel bintang lima eksklusif mereka, meninggalkan faksi bangsawan kuno dalam kehancuran ego yang telah compang-camping di bawah kaki sang permaisuri perak. Langkah pertama di pusat pemerintahan telah resmi dijalankan, dan kali ini, seluruh Ibu Kota akan segera merasakan bagaimana arah sambaran petir pembalasan Elena bekerja menjungkirbalikkan dunia mereka.
Slmt buat klian brdua....ga mst nunggu lma,clon pewaris udh hdir....
xavier pst mkin posesif.....
Elena slalu luarrrrr biasa....mreka pnts jd raja dn ratu brkuasa,scra spa pun yg mau mnjtuhkn mreka pst akan kalh...
yg 1 pnya kuasa,yg 1 otaknya emng jenius....
btw...slmt jd gembel buat mreka yg awlnya songong.....😛😛😛
aku udh mmpir...slm knal....
btw,aku ngebut bcanya krna pgn cpt komen.....😁😁😁....
brskap songonglh slagi klian bsa,abs tu siap2 mmhon sm orng yg klian hina....🙄🙄🙄