Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.
Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.
Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.
Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.
“Liam…”
“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”
“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”
“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”
Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
“Ya ampun, Nyonya!” serunya panik. “Dari mana saja, sih? Lihat pakaian Nona! Penuh tanah begitu! Hari sudah gelap begini baru pulang. Kalau sampai terjadi sesuatu bagaimana?”
Noela terus berceloteh tanpa memberi Davira kesempatan menyela. Tatapannya bahkan tak berhenti mengamati pakaian Davira yang kotor dari ujung kepala hingga kaki.
Davira hanya mengembuskan napas panjang. “Noela, siapkan air hangat untukku. Setelah itu, segera cuci pakaian ini.”
“Baik, tapi...” Noela memandangi Davira dengan ragu. “Siapa yang akan membantu Nona membersihkan diri?”
“Aku bisa melakukannya sendiri.”
“Tapi, Nona—”
“Tidak perlu khawatir.” Davira menepuk bahu Noela pelan. “Kau cukup siapkan air hangat dan urus pakaianku.”
Noela masih tampak tidak yakin, tetapi akhirnya mengangguk. “Baiklah, Nona. Tapi kalau membutuhkan sesuatu, panggil saya.”
Davira tersenyum tipis. “Tentu.”
Pintu kamar mandi pribadi tertutup rapat, menyisakan keheningan yang menenangkan setelah seharian penuh ketegangan. Noela telah keluar setelah menyiapkan bak besar dan membereskan gaun kotor yang berlumuran tanah.
Namun, Davira tidak langsung menceburkan diri ke dalam rendaman air hangat.
Ia berjalan ke sudut ruangan, mengambil selembar kain linen bersih dan mencelupkannya ke dalam baskom berisi air hangat yang baru saja disiapkan.
Dengan gerakan sabar dan teliti, ia menyeka sisa-sisa lumpur tebal yang mengering di lengan, leher, dan telapak tangannya terlebih dahulu. Ia membersihkan kotoran kasar itu perlahan dari tubuhnya, memastikan tidak ada sisa tanah ladang yang mengotori air rendaman utamanya nanti.
Cekrek.
Suara kunci berputar pelan, disusul terbukanya pintu kamar mandi tanpa aba-aba. Davira yang baru saja meletakkan kain basah sontak menoleh. Jantungnya nyaris copot saat mendapati sosok jangkung Elliot berdiri di ambang pintu.
Pria itu membeku di tempat. Manik kelam Elliot melebar sesaat, menatap Davira yang saat itu hanya mengenakan pakaian dalaman tipis berlapis kain lembut—memperlihatkan bahu jenjangnya, sementara sisa-sisa noda lumpur ladang masih menempel samar di kulit lehernya.
Wajah sang penguasa utara yang biasanya sedingin es itu seketika merona merah di balik rahang tegasnya. Elliot buru-buru membuang pandangan ke arah dinding samping, napasnya mendadak tertahan.
"Maaf—aku... aku tidak tahu kau belum selesai," ucap Elliot, suaranya terdengar jauh lebih rendah dan kaku dari biasanya, menyembunyikan kepanikan yang mati-matian ia kendalikan. "Aku tinggal gulungan perkamen ini di meja luar—"
"Tunggu, My Lord."
Suara Davira menghentikan langkah pria itu yang hendak mundur. Alih-alih berteriak panik atau menyambar jubah untuk menutupi diri, Davira menarik napas pelan, lalu memasang ekspresi datarnya. Ia melirik bahunya sendiri yang masih ternoda debu, lalu menatap punggung kaku suaminya.
"Kau sudah telanjur masuk," ujar Davira tenang, meski ada sedikit nada usil yang terselip di balik suaranya. "Mau terus memandangi dinding itu, atau berniat pura-pura buta?"
Elliot menoleh kaku, manik kelamnya kembali beradu pandang dengan Davira. Ada kilat ketegangan sekaligus rasa bersalah di mata pria itu.
Davira menyentuh helaian rambutnya yang basah, merasakan ada butiran tanah kasar yang masih tersangkut di sana. Ia mendengus pelan, lalu menunjuk bak kayu besar di hadapannya.
"Daripada berdiri kaku seperti patung es, disini," perintah Davira tanpa keraguan, berjalan masuk ke dalam rendaman air hangat dan duduk membelakangi tepi bak. "Bantu aku membersihkan sisa tanah di rambutku. Anggap saja itu denda karena kau sudah melanggar privasiku."
Elliot tertegun. Pria yang terbiasa memimpin pasukan dan memberi perintah mutlak itu mendadak tampak kehilangan akal sehatnya. Namun, alih-alih menolak, rahangnya yang keras perlahan mengendur.
Dengan langkah canggung, ia mendekati bak mandi dan duduk persis dibelakang Davira.
Jemarinya yang besar, kasar, dan terbiasa menggenggam gagang pedang dingin, terulur ragu menyentuh helaian rambut pirang Davira yang basah. Gerakannya kaku di awal, sangat berhati-hati seolah ia sedang memegang sesuatu yang bisa pecah kapan saja.
Di dalam air yang mengepulkan uap hangat, Davira menutup matanya sejenak. Ia bisa merasakan sentuhan jemari Elliot yang menyapu kulit kepalanya, menghilangkan sisa-sisa kotoran dengan penuh kehati-hatian.
"Terima kasih, Davira," ucap Elliot akhirnya. Suaranya rendah, terdengar tulus tanpa ada sisa-sisa keangkuhan seorang penguasa wilayah. "Teka-teki yang selama ini dikeluhkan para petani... kau memecahkannya hanya dalam waktu beberapa jam."
Davira, yang menyandarkan dagunya di tepi bak, membalas tatapan itu dengan senyum tipis. "Mereka tidak tahu cara kerja racun atau bahan kimia yang merusak tanah dari akarnya."
Elliot menghela napas panjang, pandangannya sedikit meredup, menyiratkan beban berat yang selama ini ia pikul sendirian di tanah utara.
"Tanahnya beku hampir sepanjang tahun, anginnya mematikan, dan tanah di sini hampir tidak bisa menanam apa pun... selain kentang." ujar Elliot, jemarinya mengetuk pelan tepi kayu bak mandi.
Davira mengerjap pelan, menyimak penjelasan suaminya dengan saksama.
"Kentang adalah satu-satunya sumber karbohidrat yang bisa bertahan di bawah lapisan es Orion," lanjut Elliot dengan rahang yang kembali mengeras. "Itu bukan sekadar tanaman pangan, jika ladang kentang itu dibiarkan mati, wilayah ini akan runtuh bukan karena kelaparan massal."
Tatapan Elliot kembali menghunjam manik kelam Davira, dipenuhi oleh rasa hormat yang kian mendalam.
"Kau tidak hanya menyelamatkan ladang, kau menyelamatkan seluruh rakyat Orion."
Davira mengangkat sebelah alisnya, sedikit mendongak menatap pria yang ada dibelakangnya. "Kalau begitu, My Lord, apakah tindakanku hari ini cukup untuk membuatmu berhenti menganggapku sebagai istri asing yang hanya bisa duduk manis di ibu kota?"
Sudut bibir Elliot terangkat membentuk seulas senyuk tipis—senyum langka yang membuat wajah tegasnya terlihat jauh lebih berbahaya sekaligus mempesona. Ia mendekatkan wajahnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka.
"Sejak hari ini, Davira," bisik Elliot tepat di depan telinganya, "tidak ada lagi kata 'asing' di antara kita. Kau adalah nyonya di kastil ini."
Keheningan yang pekat kembali merayap, tetapi kali ini udara di antara mereka terasa jauh lebih panas, dipenuhi oleh tarikan tak kasat mata yang mengabaikan akal sehat.
Untuk beberapa detik yang terasa begitu panjang, manik kelam Elliot terpaku lurus pada mata Davira. Namun, perlahan-lahan, tatapan tajam itu meluncur turun. Mengikuti garis leher jenjang yang basah oleh sisa uap air, lalu turun menelusuri lekuk bahunya yang terekspos jelas di atas permukaan air hangat.
Jantung Elliot berdegup keras. Di balik uap air yang mengepul, belahan dada Davira yang tersingkap samar di permukaan bak mandi menciptakan pemandangan yang terlalu memikat untuk diabaikan oleh seorang pria normal—terlebih seorang suami yang tengah berduaan di ruang pribadi dengan istrinya di tengah malam yang sunyi.
"Sial... apa yang sedang kulakukan? Aku hampir kehilangan akal hanya karena melihat belahan seorang wanita." batin Elliot.
Sadar bahwa tatapannya mulai melewati batas, Elliot serta-merta memalingkan wajahnya ke samping dengan gerakan kaku. Rahangnya mengetat tajam, dan ia berdeham pelan untuk menetralkan napasnya yang mendadak memburu.
Davira, yang menangkap perubahan gerak-gerik itu—terutama rona merah yang samar-samar melintas di balik rahang tegas suaminya—tidak bisa menahan seulas senyum kecil di sudut bibirnya. Ia tahu persis efek apa yang ia berikan pada pria itu.
"Ada yang salah, My Lord?" suara Davira bergesek lembut, sengaja memancing dengan nada yang sarat akan godaan.
Elliot kembali menoleh, manik kelamnya kini menyipit, menatap Davira dengan kilatan bahaya yang tertahan. Pria itu menyadari dirinya sedang ditarik masuk ke dalam perangkap yang dibuat oleh istrinya sendiri—dan yang paling mengejutkan, ia sama sekali tidak berniat untuk lari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...