Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.
Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.
Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?
Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Pesta Pribadi
"Ini acara pribadi atau rapat pemegang saham?"
Liana memandang rumah modern di Kebayoran Baru yang dipenuhi mobil mewah. Musik terdengar dari taman belakang, tetapi tamunya hanya sekitar tiga puluh orang.
Renard keluar dari mobil lebih dulu. "Kamu terlalu banyak bertanya."
"Saya perlu tahu fungsi saya sebagai asisten."
"Pastikan aku tidak pulang setelah membunuh Vino."
Liana menahan senyum. "Baik, Pak. Target kerja yang terukur."
Renard menoleh kepadanya. Gaun biru gelap yang dipilih Liana sederhana, panjangnya melewati lutut, tanpa perhiasan selain anting kecil. Di antara para tamu dengan merek mencolok, ia justru terlihat paling tenang.
"Tetap di dekatku," katanya.
"Karena pekerjaan?"
"Karena kamu tidak mengenal mereka."
Jawabannya terdengar masuk akal. Tangan yang diletakkan singkat di punggung Liana saat membimbingnya masuk tidak terasa sepenuhnya profesional.
Vino menjadi orang pertama yang menyambut mereka. Aktor itu mengenakan kaus putih dan jaket tipis, wajahnya sama mudah dikenali seperti di papan iklan.
"Akhirnya!" Ia memeluk udara di depan Renard karena tahu sahabatnya tak suka disentuh. "Dan ini pasti Mbak Liana. Saya Vino, korban sikap buruk bos Anda sejak sekolah."
"Liana," jawab Renard sebelum ia sempat memperkenalkan diri. "Dia tahu siapa kamu. Seluruh Jakarta juga."
"Cemburu karena saya terkenal?"
"Tidak. Terganggu karena kamu berisik."
William Chandra datang membawa dua gelas air mineral. "Selamat datang, Liana. Jangan percaya separuh yang Vino katakan."
"Separuh yang mana?"
"Kami juga belum tahu."
Bram Oei tertawa dari dekat meja makanan. Tubuhnya lebar seperti pintu klub tinju. "Kalau Renard membawa orang ke sini, berarti Anda sudah lolos pemeriksaan yang tidak kami ketahui."
"Dia asistennya," kata Renard.
"Kami tidak tanya jabatannya," balas Bram.
Tiga pasang mata bertukar arti. Liana pura-pura tidak melihat.
Vino mengajak mereka ke teras tempat beberapa tamu bermain kartu pertanyaan. Renard langsung menolak, tetapi Bram sudah menarik kursi kosong untuk Liana.
"Satu putaran," kata William. "Tidak ada pertanyaan yang terlalu pribadi."
Kartu pertama jatuh kepada Liana. Vino membacanya. "Kesan pertama terhadap orang di sebelah kanan."
Orang di sebelah kanannya adalah Renard.
Semua orang menunggu.
"Dingin," jawab Liana.
Vino tertawa keras. "Akurat."
"Menakutkan," tambah Liana.
Renard menoleh pelan. "Begitu?"
"Pada minggu pertama."
"Sekarang?" tanya William.
Liana memegang ujung kartu. "Masih dingin. Tapi tidak selalu menakutkan."
Renard tak tersenyum, tetapi pandangannya menghangat.
Kartu berikutnya jatuh kepada Renard. Bram membaca, "Satu hal yang paling kamu percayai dari orang di sebelah kiri."
Semua mata berpindah kepada Liana lagi.
Renard dapat memilih jawaban aman. Kemampuan kerja. Ketepatan jadwal. Kerahasiaan.
"Instingnya," katanya.
Liana terkejut.
"Dia berdiri di depanku sebelum siapa pun sempat bergerak."
Suasana riuh mendadak tenang. Renard meletakkan kartu di meja. "Cukup bermain."
Vino tidak mengejek kali ini. William hanya mengangkat gelasnya kepada Liana, sebuah penghormatan diam-diam karena telah melindungi sahabat mereka.
Malam bergerak lebih mudah daripada yang ia khawatirkan. William mengajaknya membahas divisi parfum Tan Group. Bram bercerita tentang program bela diri untuk perempuan. Vino berkali-kali mencoba membongkar masa remaja Renard dan berkali-kali dihentikan tatapan dingin.
Ketika seorang tamu pria menawarkan wine kepada Liana, Renard mengambil gelas itu lebih dulu.
"Dia tidak minum."
Liana mengangkat alis. "Saya belum menjawab."
"Besok kamu bekerja."
"Besok Minggu."
Vino yang mendengar langsung tertawa. "Ketahuan. Alasan lo jelek sekali."
Renard meletakkan gelas wine jauh dari Liana dan menggantinya dengan sparkling water. "Minum ini."
Liana menerima gelasnya. "Terima kasih, Pak."
Pria yang menawarkan wine mundur sambil tersenyum canggung. Renard bergeser setengah langkah, menempatkan tubuhnya di antara Liana dan kerumunan.
Perlindungan itu terus berulang dalam bentuk kecil. Ia mengalihkan pertanyaan tentang latar belakang Liana. Ia memastikan makanan yang dipilih tidak mengandung kacang setelah mendengar Liana pernah alergi ringan. Ia menolak ajakan pindah ke klub yang lebih ramai karena Liana terlihat lelah.
William mendekati Liana saat Renard berbicara dengan Bram.
"Dia tidak pernah begini," katanya pelan.
"Begini bagaimana?"
"Memperhatikan apakah orang lain sudah makan."
Liana melirik Renard. Pria itu sedang mendengarkan Bram, tetapi matanya mengarah ke gelas Liana yang hampir kosong.
"Mungkin karena saya asistennya."
William tersenyum seolah mendengar jawaban anak kecil. "Tentu."
***
Pukul sebelas lewat, Renard memutuskan pulang. Agus mendapat izin libur malam itu, jadi ia menyetir sendiri. Liana duduk di kursi penumpang, memandangi lampu kota yang bergerak di balik kaca.
Ponsel khusus terapi di dalam tasnya bergetar.
Renard menerima pesan pada saat bersamaan.
Liana sudah menulisnya dari kamar kecil sebelum pergi.
Malam ini tidak sempat. Boleh dipindah ke Minggu tengah malam?
Renard membaca pesan itu di lampu merah. "Dia membatalkan."
"Siapa?"
"Seseorang."
"Penting?"
"Ya."
Satu kata itu menusuk lebih dalam daripada semestinya. Liana menoleh ke jendela, menyembunyikan reaksi. Ia sendiri yang membatalkan. Tetap saja, mengetahui Nona Terapis penting bagi Renard membuat identitas siangnya merasa cemburu kepada bayangannya sendiri.
"Kalau penting, kenapa Bapak datang ke acara?"
Renard menatapnya sebentar. "Karena aku ingin kamu ikut."
Lampu berubah hijau. Mobil di belakang membunyikan klakson, tetapi Renard terlambat menginjak gas satu detik.
Liana tidak tahu harus menjawab apa.
Di layar ponsel, Renard mengetik balasan untuk Nona Terapis.
Minggu. Jam yang sama.
Ia menyimpan ponsel, lalu memandang Liana yang masih menatap ke luar.
"Kamu menikmati acaranya?"
"Teman-teman Bapak baik."
"Vino terlalu banyak bicara."
"Itu sebabnya suasananya hidup."
"Kamu menyukainya?"
Ada nada tipis yang langsung dikenali Liana setelah insiden bunga dan Aldi belum benar-benar muncul.
"Sebagai aktor, iya."
"Sebagai laki-laki?"
Liana menoleh cepat. "Bapak sedang mewawancarai saya?"
Renard diam. Jemarinya mengencang di setir. "Lupakan."
Mobil kembali tenggelam dalam sunyi. Di layar ponsel, pesan dari Nona Terapis berada tepat di atas paha Renard. Di kursi sebelahnya, Liana duduk begitu dekat hingga aroma sabunnya samar tercium.
Dua perempuan, pikirnya lagi.
Satu di layar. Satu di sisinya.
Namun malam ini, untuk pertama kali, keduanya membuat ruang yang sama di dadanya terasa penuh.
Renard melirik Liana. Nama formal yang biasa dipakainya mendadak terasa terlalu jauh.
"Liana..."
Ia tidak menambahkan `Mbak`.
Satu panggilan tanpa gelar itu terdengar lebih intim daripada semua perlindungan sepanjang malam. Liana menoleh. Renard tetap memandang jalan, tetapi telinganya memerah tipis di bawah cahaya dasbor.
"Ya, Pak?"
"Tidak apa-apa."
Namun nama itu sudah terlanjur tinggal di antara mereka, tanpa jarak yang biasa disediakan kata `Mbak`.
Liana menunduk, menyembunyikan senyum yang tidak lagi dapat ia jelaskan sebagai urusan pekerjaan.
Malam itu, batas mereka bergeser hanya karena satu nama.