NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:742
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32

Cium Papa Dulu

"Kita belajar musik saja," kata Senja, berusaha mengalihkan perang makan malam.

Bintang turun dari kursi, berjalan ke sofa, lalu duduk sambil menyilangkan tangan. "Ngomong sama orang gede capek."

Senja membawa mangkuk nasi dan duduk di sampingnya. "Kalau capek, makan dulu."

"Enggak mau. Papa sama Mama bohong."

Di meja, Damar menatap Senja. "Kamu yang mengajarinya soal suami istri harus tidur bersama?"

"Tentu enggak."

"Dia tidak mungkin memikirkan itu sendiri."

"Dia dengar dari temannya, lalu mendengar kita bicara cerai. Jangan balik menuduh saya."

Damar menyandarkan punggung. "Maling teriak maling. Mungkin kamu ingin masuk kamarku tapi memakai Bintang sebagai alasan."

Senja berdiri. "Mas terlalu percaya diri."

"Kamu yang kemarin masuk saat aku mandi."

"Saya salah kamar!"

Bintang menutup telinga. "Berantem lagi."

Senja segera merendahkan suara. Ia menyendok nasi dan menawarkan pada anak itu. Bintang memalingkan muka.

"Mama harus buktiin dulu."

"Bukti apa?"

"Cium Papa. Kalau beneran pasangan, Mama berani cium Papa."

Sendok Senja berhenti di depan mulut Bintang. Damar yang pura-pura tidak mendengar mengambil air minum, tetapi telinganya memanas.

"Orang menikah enggak harus menunjukkan ciuman ke anak-anak," kata Senja.

"Berarti bohong."

"Bukan begitu."

Damar menunggu. Ia memberi Senja beberapa detik, lalu satu menit. Perempuan itu tetap sibuk membujuk Bintang dan sama sekali tidak mendekatinya.

Kekesalan aneh muncul. Setelah semua pujian tentang dirinya tinggi dan tampan, ternyata satu ciuman demi meyakinkan anak pun terlalu berat.

Ia menoleh. Senja bahkan memunggunginya.

"Kalau nggak mau cium, berarti Mama cuma Kakak yang dibayar buat jagain Bintang," kata Bintang. "Nanti kalau uangnya habis, Mama pergi."

"Mama enggak akan pergi hanya karena marah malam ini."

"Tapi nanti pergi."

Anak itu menepis mangkuk. Nasi dan sendok jatuh ke karpet. Ia terkejut oleh tindakannya sendiri, kemudian menangis dan berlari ke lantai atas.

Senja hendak mengejar, tetapi Damar berdiri lebih dulu.

"Kalau Bintang tidak bisa kamu tenangkan, kamu juga tidak perlu berada di sini."

"Jangan ancam saya setiap kali anak itu menangis."

"Kamu yang membuatnya bergantung."

"Karena saya hadir saat dia membutuhkan. Mas juga bisa melakukan hal yang sama tanpa menyalahkan saya."

Damar menatapnya tajam, lalu naik menyusul Bintang.

Senja berjongkok membersihkan nasi yang jatuh. Tangannya gemetar antara marah dan takut. Ia tidak mau mencium Damar hanya untuk mempertahankan pekerjaan, tetapi ia juga tidak tahan melihat Bintang yakin semua orang akan pergi.

Di bawah sofa, ia menemukan krayon merah yang tadi dipakai Bintang menggambar keluarga. Krayon itu patah menjadi dua, mungkin terinjak saat anak tersebut berlari. Senja memungut kedua bagiannya dan merasa seolah sedang memegang gambaran rumah mereka sendiri: masih dapat dipakai, tetapi mudah patah jika terus ditekan.

Ia pernah mencium Reza saat masih berpacaran, singkat dan tanpa gejolak. Membayangkan bibirnya menyentuh Damar justru membuat tengkuknya panas. Lelaki itu adalah suaminya secara sah, tetapi jarak di antara mereka terasa lebih besar daripada hubungan dengan orang asing.

Jika ia menolak, Bintang mungkin semakin takut. Jika ia melakukannya, Damar bisa menuduhnya menggunakan anak untuk mendekat. Apa pun pilihannya selalu dapat dipakai lelaki itu sebagai bukti bahwa ia licik.

Bik Inah datang membawa lap. "Ibu tahu kenapa Pak Damar marah?"

"Karena beliau menganggap semua orang punya rencana."

"Karena beliau menunggu Ibu cium dari tadi, tapi Ibu nggak bergerak."

Senja menatap perempuan tua itu. "Bik, jangan bercanda."

"Bik kerja di sini bertahun-tahun. Pak Damar gengsinya tinggi. Kalau beliau nggak mau, dari awal sudah bilang ke Bintang jangan aneh-aneh. Tadi beliau diam saja, kan?"

Senja mengingat Damar yang duduk kaku, memegang gelas terlalu lama.

"Dia cuma ingin menang dalam pertengkaran."

"Pak Damar ingin Ibu suka sama beliau. Ingin kalian jadi suami istri sungguhan. Tapi mulutnya cuma bisa ngode atau menyuruh."

"Bik tahu dari mana?"

"Waktu Ibu pergi ke sekolah sendirian, beliau mondar-mandir dari ruang kerja ke gerbang. Waktu Ibu hampir pingsan, beliau hafal obat lebih cepat daripada perawat. Dan tadi, sejak Bintang bilang cium, beliau pegang gelas kosong hampir lima menit."

Senja melirik meja. Gelas Damar memang masih berada di sana, kosong dan dikelilingi bekas jari yang lembap.

"Mungkin Mas hanya khawatir saya membuat Bintang kecewa."

"Boleh Ibu percaya begitu kalau itu bikin berani. Yang penting masuk dulu dan tenangkan anaknya. Soal cium atau tidak, putuskan setelah lihat keadaan."

Nasihat terakhir terdengar lebih masuk akal. Senja tidak harus berjanji melakukan apa pun sebelum berbicara dengan Bintang. Namun kakinya tetap terasa ringan dan tidak stabil ketika ia mendekati tangga.

"Mas Damar membenci saya."

"Kalau benci, Ibu sudah benar-benar diusir kemarin. Beliau nggak akan beli ruang musik, tunggu Ibu sakit, atau pulang gara-gara bahu Ibu pegal."

Senja tidak punya jawaban. Semua tindakan Damar bertentangan dengan kata-katanya, tetapi berharap terlalu banyak jauh lebih berbahaya daripada menerima kebenciannya.

"Naiklah," desak Bik Inah. "Jangan tunggu dua orang keras kepala itu bikin rumah ini pecah."

Senja berdiri di depan tangga. Jantungnya sudah berdebar hanya karena membayangkan menyentuh wajah Damar.

Satu ciuman tidak akan mengubah perjanjian. Itu hanya sandiwara untuk menenangkan Bintang.

"Cuma sekali," bisiknya sambil menaiki anak tangga. "Demi bertahan di sini, sepuluh kali pun aku lakukan."

Namun ketika tangannya menyentuh gagang pintu kamar Bintang, keberaniannya hampir habis seluruhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!