Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Danang akhirnya memilih cara paling brutal yaitu merebus kepiting itu hidup hidup ke dalam panci berisi air mendidih.
Blub blub blub.
Kepiting itu meronta ronta di dalam air panas hingga capitnya terlepas satu dan airnya berubah menjadi keruh berbau amis.
Chef Arya yang sedang berjalan memantau langsung menggelengkan kepalanya melihat kebodohan Danang tersebut.
"Merebus kepiting yang sedang stres hanya akan membuat dagingnya mengeras seperti karet ban," komentar Chef Arya pelan kepada juri lainnya.
Waktu sudah berlalu selama dua puluh menit dan kini saatnya para peserta mulai memasak bumbunya.
Rina berlari ke ruang pantry dan mengambil bumbu bumbu seperti bawang bombai, saus tiram, saus tomat, merica hitam, dan jahe.
Karena dia tidak terlalu ahli memasak bumbu rempah Nusantara yang rumit, Rina memilih jalur aman.
"Aku akan membuat Kepiting Lada Hitam gaya Singapura, rasanya manis pedas dan cocok dengan teknik saus pastry," pikir Rina menyusun strategi.
Rina memotong tubuh kepiting yang sudah mati itu menjadi dua bagian dan membersihkan insang kotornya dengan air mengalir.
Dia kemudian membalut potongan kepiting itu dengan sedikit tepung maizena agar kaldu di dalam dagingnya tidak keluar saat digoreng.
Srenggg.
Suara kepiting goreng yang masuk ke dalam minyak panas terdengar sangat merdu berpadu dengan aroma gurih cangkang laut.
Rina mengangkat kepiting yang sudah berubah warna menjadi jingga kemerahan itu dan meniriskannya.
Di wajan yang lain, dia mulai menumis irisan jahe, bawang putih, dan bawang bombai hingga layu.
Aroma tajam dari lada hitam yang baru saja digerus manual langsung menyengat hidung siapapun yang lewat di dekat meja Rina.
"Wanginya sangat enak dan seimbang, Rina mulai menemukan ritme memasaknya kembali," batin Aldo yang terus memantau dari atas.
Waktu terus berputar mundur dengan sangat kejam tanpa kenal ampun.
"Sepuluh menit terakhir!" teriak Chef Bram.
Danang terlihat sangat panik karena kuah sup kepiting miliknya terlihat sangat pucat dan berbau lumpur.
Dia mencoba menambahkan banyak penyedap rasa dan garam ke dalam panci untuk menutupi bau amis tersebut.
Tindakannya itu justru membuat kuah supnya menjadi sangat keruh dan tidak menarik untuk dilihat sama sekali.
"Lima menit!"
Rina menuangkan saus tiram, kecap manis, dan sedikit kaldu ke dalam tumisan lada hitamnya.
Saus itu mendidih dan mengental dengan sangat cantik lalu Rina memasukkan kembali potongan kepiting goreng tadi ke dalamnya.
Dia mengaduknya dengan cepat agar semua permukaan cangkang kepiting terbalut saus lada hitam yang mengkilap tersebut.
"Selesai, aromanya persis seperti di restoran boga bahari langganan ayahku dulu," gumam Rina sambil tersenyum lega.
Dia menata kepiting itu di atas piring keramik putih berukuran besar dan menyiramkan sisa saus kental di atasnya.
"Tiga."
"Dua."
"Satu."
Teeet.
"Waktu habis, tinggalkan pisau kalian dan angkat tangan sekarang juga!" teriak Chef Renata.
Rina mengangkat kedua tangannya ke udara dengan nafas terengah engah namun wajahnya terlihat jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Di atas balkon, Aldo memberikan tepuk tangan tanpa suara yang ditujukan khusus untuk sahabatnya tersebut.
"Sesi memasak telah selesai, mari kita buktikan siapa yang berhak bertahan dan siapa yang harus melepas celemeknya selamanya," ucap Chef Arya.
Suasana kembali menjadi sangat tegang saat ketiga juri mulai berdiskusi pelan sambil melihat hidangan peserta dari jauh.
"Panggilan pertama, Danang, bawa mangkok supmu ke depan sekarang," panggil Chef Bram.
Danang mengangkat mangkoknya dengan tangan gemetar dan berjalan kaku menuju meja penjurian.
Dia meletakkan mangkok itu dan langsung menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah para juri.
"Ini Sup Kepiting Kuah Bening dengan jahe dan daun bawang, Chef," ucap Danang sangat pelan.
Chef Arya memajukan wajahnya ke arah mangkok tersebut dan langsung menutup hidungnya dengan tangan.
"Bening darimana? Kuahmu ini keruh seperti air selokan yang tercampur lumpur mentah," kritik Chef Arya dengan suara keras.
"Bau amisnya sangat menusuk hidung, kau pasti merebus kepiting ini hidup hidup tanpa membersihkan insangnya terlebih dahulu."
Danang menelan ludah dan tidak berani menjawab karena semua tebakan juri itu seratus persen benar.
Chef Renata mencoba mengambil sedikit kuah itu menggunakan sendok lalu mencicipinya.
Wajah Chef Renata langsung berkerut hebat dan dia segera meminum air putih untuk menetralkan mulutnya.
"Rasanya sangat asin dan hambar secara bersamaan, kau terlalu banyak menaruh penyedap rasa buatan."
"Ini adalah sebuah penghinaan terhadap kualitas bahan kepiting premium yang kami berikan," tambah Chef Renata kecewa.
Chef Bram bahkan tidak mau menyentuh kuah itu dan langsung menatap Danang dengan sorot mata menghakimi.
"Danang, di tantangan beregu tadi kau berbohong dan mencoba mengorbankan timmu demi menyelamatkan diri sendiri."
"Dan di tantangan individu ini, kau membuktikan bahwa kemampuan memasak aslimu memang berada di bawah rata rata."
"Lepaskan celemek hitammu dan tinggalkan galeri ini sekarang juga!" usir Chef Bram tanpa perlu berdiskusi lagi.
Danang langsung lemas dan air mata penyesalan mulai menetes membasahi pipinya.
Dia melepaskan celemek hitamnya dengan tangan bergetar dan meletakkannya di atas meja penjurian.
Tidak ada satupun peserta yang merasa sedih atau memberikan tepuk tangan perpisahan untuk pria sombong tersebut.
Danang berjalan keluar galeri dengan langkah gontai, menerima karma instan atas semua perbuatan buruknya hari ini.
"Panggilan selanjutnya, Rina Anatasya, bawa piringmu kemari," panggil Chef Arya memecah kesunyian.
Rina menarik nafas panjang dan mengangkat piring besarnya menuju podium.
Dia meletakkan piring berisi Kepiting Lada Hitam itu dengan sangat hati hati.
"Ini Kepiting Saus Lada Hitam gaya Singapura, Chef," ucap Rina menjelaskan hidangannya.
Chef Arya menatap piring itu dan mengangguk pelan melihat warna saus yang sangat mengkilap.
"Tampilannya sangat menggugah selera, sausmu mengikat cangkangnya dengan sempurna dan tidak terlihat encer."
Chef Arya lalu mengambil alat pemecah cangkang dan memecahkan bagian capit kepiting tersebut.
Krak.
Cangkang itu pecah dan memperlihatkan daging kepiting berwarna putih bersih yang matang sempurna di dalamnya.
Chef Arya mengambil daging itu dan mencelupkannya ke dalam saus lada hitam lalu memakannya.
Suasana galeri menjadi sangat hening menanti reaksi dari juri paling sulit ditebak tersebut.
Glek.
Chef Arya menelan makanannya dan menatap tajam ke arah Rina yang sedang menahan nafas.
"Tingkat kematangan daging kepiting ini sangat sempurna, rasanya manis alami dan teksturnya sangat lembut."
"Lalu saus lada hitammu memiliki keseimbangan rasa pedas, manis, dan gurih yang luar biasa."
"Kau menggunakan teknik dasar pembuatan saus pastry untuk mengentalkan saus gurih ini kan?" tebak Chef Arya.
Rina menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Benar Chef, saya menggunakan rasio karamelisasi gula dan maizena seperti saat membuat fla puding."
Chef Renata tersenyum sangat lebar mendengar kecerdasan adaptasi Rina tersebut.
"Itu adalah cara berpikir di luar kotak yang sangat brilian Rina."
"Kau berhasil merubah ketakutanmu menjadi sebuah hidangan boga bahari kelas satu."
Mendengar pujian tersebut Rina langsung menangis haru dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Terima kasih banyak para Chef, saya benar benar hampir menyerah tadi," isak Rina.
"Kerja bagus Rina, pertahankan mental pantang menyerahmu ini."
"Silakan naik ke atas balkon, posisimu aman minggu ini," perintah Chef Bram.
Rina membungkuk hormat berkali kali lalu berlari menaiki tangga menuju balkon dengan wajah berseri seri.
Sesampainya di atas, dia langsung memeluk Aldo dengan sangat erat meluapkan semua emosinya.
"Terima kasih Aldo, terima kasih banyak atas bantuan isyaratmu tadi," bisik Rina di telinga Aldo.
"Sama sama Rina, kau sendiri yang mengeksekusinya dengan sangat hebat di bawah sana," balas Aldo tersenyum bangga.
Malam itu eliminasi memulangkan dua orang peserta termasuk Danang, menyisakan dua belas orang petarung terbaik di galeri.
Setelah syuting selesai para peserta kembali ke asrama dengan langkah yang sangat lelah dan pikiran yang terkuras habis.
Aldo dan Rina berjalan beriringan di lorong asrama menuju kamar mereka masing masing.
"Kamu langsung istirahat ya Aldo, besok pasti akan ada tantangan yang lebih gila lagi," ucap Rina di depan pintu kamarnya.
"Iya Rina, kamu juga jangan begadang. Selamat malam."
Aldo melanjutkan langkahnya menuju kamar nomor 302 tempat Kevin dan kawan kawannya berada.
Saat Aldo membuka pintu kamarnya dia melihat Kevin dan Leo sedang berbisik bisik serius di sudut ruangan.
Melihat kedatangan Aldo mereka berdua langsung diam dan menatap Aldo dengan tatapan penuh kebencian.
Aldo mengabaikan mereka dan langsung naik ke atas ranjangnya untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Dia tidak tahu bahwa di luar sana Kevin sudah menyiapkan rencana pencurian buku resep pada tengah malam nanti untuk menghancurkannya.
Roda nasib di asrama karantina kini berputar menuju titik konflik yang paling gelap dan berbahaya.
makasi crazy up nya