Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Arkan benar-benar tidak bergerak.
Itu bagus.
Masalahnya, ia berdiri di tengah pecahan cangkir dengan kaus kaki putih.
Naura memandang lantai, lalu kakinya.
"Pak, kaus kaki Bapak kemungkinan kena serpihan."
Arkan menunduk.
"Saya pakai sandal?"
"Sandalnya di sana."
Sandal rumah berada dua langkah dari kakinya.
Dua langkah yang melewati pecahan kaca.
Arkan menatap sandal, lalu menatap Naura.
Untuk pertama kalinya sejak ia mengenalnya, Naura melihat CEO Aruna Capital tampak benar-benar tidak punya solusi.
Ia hampir ingin tertawa.
Tapi jari laki-laki itu masih berdarah.
"Bapak tetap diam. Saya ambil sandal lain."
Naura turun sebentar, mengambil sandal cadangan dari rak tamu, kotak P3K, lap tebal, dan kantong sampah. Ketika ia kembali, Arkan masih berdiri di posisi yang sama.
Kaku seperti patung mahal.
"Bagus, Pak. Tidak bergerak."
Arkan menatapnya.
"Saya bukan anak kecil."
"Saya tidak bilang begitu."
"Nada kamu seperti memuji anak TK."
"Kalau anak TK bisa diam di tengah pecahan kaca, saya juga akan puji."
Arkan tampak ingin membalas, tetapi menahan diri.
Naura meletakkan sandal cadangan tepat di sisi kakinya.
"Angkat kaki kanan pelan."
Arkan mengikuti.
"Sekarang kiri."
Setelah ia memakai sandal, Naura memeriksa kaus kakinya. Ada serpihan kecil menempel di bagian bawah.
"Untung belum bergerak."
Ia menunjuk kursi dekat tempat tidur. "Duduk, Pak. Saya bersihkan luka dulu."
"Lukanya kecil."
"Darahnya tidak setuju."
Arkan duduk.
Naura membuka kotak P3K. Ia mencuci tangan, memakai sarung tangan sekali pakai, lalu membersihkan luka di telunjuk Arkan.
Jari laki-laki itu panjang dan hangat. Kulitnya bersih, kuku terawat. Luka kecil di dekat ruas telunjuk membuatnya terlihat aneh rapuh.
Arkan menatap tangannya sendiri di tangan Naura.
"Sakit?"
"Tidak."
Naura menuang antiseptik.
Rahang Arkan menegang.
"Tidak sakit, Pak?"
"Tidak."
Telinganya merah lagi.
Naura menunduk agar tidak tersenyum.
"Lukanya tepat di ruas. Kalau pakai plester biasa, nanti mudah lepas saat Bapak menekuk jari. Saya pakai yang fleksibel."
"Kamu selalu siap?"
"Kotak P3K rumah Bapak lengkap. Hanya belum pernah dipakai dengan benar."
"Saya jarang luka."
Naura menatap pecahan cangkir.
Arkan mengikuti tatapannya.
"Ini pengecualian."
"Tentu."
Ia membalut luka itu rapi. Tidak terlalu ketat, tidak terlalu longgar.
Setelah selesai, Arkan menarik tangannya pelan.
"Terima kasih."
"Sama-sama. Sekarang saya bersihkan pecahan."
Naura mulai bekerja. Ia mengambil serpihan besar dengan lap tebal, lalu memakai senter ponsel untuk mencari pecahan kecil di karpet. Arkan duduk diam di kursi, memperhatikan.
"Kamu tidak perlu membersihkan sendiri. Besok panggil jasa karpet."
"Kalau dibiarkan sampai besok, Bapak bisa lupa dan menginjak."
"Saya tidak selupa itu."
Naura berhenti dan menatapnya.
Arkan diam.
Mungkin ia mengingat dirinya lupa makan siang.
"Baik," katanya akhirnya.
Naura melanjutkan.
Setelah pecahan dibersihkan, ia menaruh handuk di bagian karpet yang basah.
"Besok saya koordinasikan pembersihan karpet."
"Ganti saja."
Naura menoleh.
"Karpetnya?"
"Ya."
"Karena kena teh?"
"Dan pecahan kaca."
Naura menatap karpet besar yang pasti harganya cukup untuk membayar biaya hidupnya berbulan-bulan.
"Pak Arkan, karpet bisa dibersihkan."
"Lebih praktis ganti."
"Praktis untuk Bapak, tidak praktis untuk akal sehat."
Arkan menatapnya.
Naura baru sadar lagi-lagi ia terlalu jujur.
"Maaf."
"Tidak. Lanjutkan."
"Maksud saya, kalau setiap benda yang kotor sedikit langsung dibuang, rumah akan sulit punya rasa. Benda yang dirawat akan terasa berbeda dari benda yang selalu diganti."
Arkan memandang karpet itu.
"Kamu bicara tentang karpet?"
Naura diam.
Tidak sepenuhnya.
"Iya, Pak."
Arkan tidak mengejar.
Malam itu, Naura pulang ke rumah Pradipta utama pukul sembilan lewat. Arkan mengantarnya sendiri, meskipun ia bilang bisa memesan mobil online.
Di mobil, keduanya diam.
Naura mencatat mental bahwa jari kanan Arkan terluka. Besok sarapan harus dibuat mudah dimakan. Jangan menu yang butuh banyak potong.
Saat mobil berhenti di depan rumah kakek-neneknya, Arkan berkata, "Mbak Naura."
"Iya, Pak?"
"Kalau menurutmu ada hal di rumah saya yang tidak masuk akal, bilang saja."
Naura menoleh.
Arkan menatap lurus ke depan.
"Saya tidak selalu tahu."
Kalimat itu sederhana.
Tapi bagi laki-laki seperti Arkan, mengaku tidak tahu mungkin sama sulitnya dengan meminta maaf.
Naura melembut.
"Baik. Tapi Bapak juga harus siap mendengar."
"Saya akan coba."
"Kalau begitu, hal pertama: Bapak harus makan siang."
Arkan langsung menoleh.
"Itu masuk pembahasan rumah?"
"Bapak penghuni utama rumah itu. Kalau penghuni utamanya pingsan karena maag, rumah tetap bermasalah."
Arkan menatapnya lama.
Lalu ia mengangguk.
"Baik."
Naura turun dari mobil.
Bu Marini ternyata menunggu di foyer, memakai selendang tipis.
"Kenapa lama?"
Naura belum menjawab, Bu Marini sudah melihat tangan Arkan di setir.
"Arkan, tanganmu kenapa?"
"Kena cangkir."
"Cangkir menyerang lagi?"
Naura menutup mulut.
Arkan memejamkan mata sebentar.
Pak Aditya muncul dari belakang. "Aku sudah bilang rumahnya berbahaya bagi peralatan pecah belah."
Bu Marini mendekati mobil. "Turun. Nenek lihat."
"Sudah diobati Naura."
Bu Marini melirik Naura.
"Bagus. Kalau tidak ada Naura, mungkin cucuku membungkus luka dengan tisu."
Arkan tidak membantah.
Itu berarti benar.
Naura menahan tawa sampai bahunya sedikit bergetar.
Arkan melihatnya.
Matanya menyipit sedikit.
Naura langsung menunduk. "Selamat malam, Pak."
"Selamat malam."
Mobil Arkan pergi setelah Bu Marini memastikan lukanya tidak parah.
Bu Marini masih berdiri di depan pintu ketika lampu belakang mobil menghilang di tikungan.
"Dia jarang membiarkan orang melihat bodohnya," gumamnya.
Naura menoleh. "Bu?"
"Arkan itu dari kecil selalu ingin terlihat bisa semuanya. Kalau tidak bisa, dia diam. Kalau malu, dia marah pada diri sendiri. Jadi kalau dia membiarkan kamu mengurus lukanya, artinya dia percaya."
Naura tidak tahu harus menjawab apa.
Pak Aditya berkata dari belakang, "Marini, jangan menakuti Naura dengan analisis cucu sendiri."
"Aku tidak menakuti. Aku memberi peringatan."
"Itu sama saja."
Naura memegang kotak P3K lebih erat. Percaya. Kata itu terlalu besar untuk sebuah luka kecil di jari. Tetapi malam itu, saat ia kembali ke kamar, kata itu ikut terbawa bersamanya.
Malam itu, saat Naura hendak tidur, ponselnya berbunyi.
Pesan dari Arkan.
`Plester terasa aneh.`
Naura duduk di tempat tidur.
`Aneh bagaimana, Pak? Terlalu ketat?`
`Tidak. Saya tidak terbiasa.`
Naura menatap layar.
Ia membalas:
`Besok sudah lebih biasa. Jangan dilepas kalau belum kering.`
`Baik.`
Selesai.
Naura meletakkan ponsel.
Lima detik kemudian menyala lagi.
`Terima kasih untuk hari ini.`
Naura membaca pesan itu lama.
Lalu mengetik:
`Itu pekerjaan saya, Pak.`
Balasan datang:
`Saya tahu. Tapi tetap terima kasih.`
Naura menggenggam ponsel.
Di luar jendela, taman samping gelap. Rumah Pradipta utama sunyi. Tapi sunyi di sini tidak menyesakkan seperti rumah lamanya atau kost terakhirnya.
Ia berbaring, menarik selimut.
Sebelum tidur, ia teringat jari Arkan di tangannya.
Hangat.
Ia langsung membuka mata.
"Naura," bisiknya pada diri sendiri. "Itu klien."
Langit-langit kamar tidak menjawab.
Sayangnya, dadanya juga tidak langsung patuh.
jgn setengah 2 ya