Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Emily hanya meminta Caca mengantarkannya sampai ke perempatan saja.
“Ca, sudah, di sini saja.” ucap Emily cepat.
“Loh, ini enggak ke rumah kamu?” tanya Caca heran.
“Sini saja, soalnya aku enggak pulang ke rumah.” jawab Emily gugup.
“Kemana?!” Caca menatap curiga.
“Ada, ke tempat saudara.” elak Emily.
“Sebenarnya enggak apa-apa, gue antarin aja lo sampai ke tempat saudara,” ucap Caca masih ingin memastikan.
“Enggak usah, gue di sini saja. Enggak apa-apa, tenang aja, nanti gue telpon udah dekat kok,” kata Emily memaksa sambil tersenyum tipis.
Akhirnya Caca pun pergi, meskipun dari wajahnya jelas terlihat ia masih penasaran. Emily tahu, sahabatnya itu sebenarnya pengen banget nganterin sampai rumah.
Dan benar saja—Emily melihat Rey sudah menunggu di samping minimarket. Badan tegapnya bersandar pada motor, wajahnya datar, dingin tanpa ekspresi.
Emily menghampiri dengan langkah ragu. Tapi Rey tidak bicara, hanya menatap lurus dengan rahang mengeras. Emily pun tidak berani langsung naik ke atas motornya.
“Kenapa diam saja? Naik.” ucap Rey datar.
“Boleh enggak nih gue naik?” Emily mencoba memastikan dengan suara pelan.
“Ya naik aja. Mau pulang apa enggak? Atau mau tidur di sini?” balas Rey ketus.
“Lo gila ya!” decak Emily kesal.
“Lo yang gila.” Rey menukas singkat.
Akhirnya, mau tidak mau, Emily naik ke motor. Tapi baru beberapa detik, dia sadar Rey membawa motornya dengan kecepatan gila-gilaan. Angin malam menghantam wajahnya sampai membuat Emily menggigit bibir, berusaha menahan teriakan.
Hanya butuh waktu singkat, mereka sampai di apartemen. Emily turun dengan wajah masam, pura-pura cuek meskipun hatinya kacau. Rey masih ketus, sementara Emily berusaha bersikap bodo amat. Tapi rasa tidak nyaman itu terus menggelayutinya.
Emily cepat-cepat masuk, mengganti pakaian dengan piyama tidur. Ketika keluar, ia melihat Rey sudah merebahkan tubuh di atas kasur, santai seperti tidak ada masalah.
“Ray, awas! Gue mau tidur.” ucap Emily sambil menahan kesal.
Rey tidak membalas, hanya menutup mata seakan tak peduli.
“Ray! Gue mau tidur. Lo tidur di sofa saja.” tekan Emily.
“Enggak. Ini ranjang gue. Kalau mau tidur di ranjang, tidur di samping gue.” jawab Rey dengan nada malas tapi tajam.
“Lo gila ya, Rey?” Emily me
natapnya dengan wajah geram
“Gila apanya, Lo yang gila. Ribet banget sih ketimbang tidur doang tinggal merem,” ucap Rey datar sambil melirik Emily.
“Ya masa kita tidur seranjang, Rey.” Emily mendengus kesal.
“Emangnya kenapa? Ada masalah? Kita sudah nikah.” Rey menjawab tenang, seolah itu hal wajar.
“Yang enggak gitu juga. Kan lo yang bilang, lo nggak bakal sentuh gue.” Emily menatapnya penuh curiga.
“Lu pikir gue mau nyentuh lo?” Rey menukas sambil mengangkat alis.
“Alah, nggak bisa dipercaya lu. Udah nanti gue tidur di samping, tiba-tiba lu kokoopin gimana?” sahut Emily ketus.
“Ya nggak gimana-gimana. Paling gue perawanin…” Rey menyeringai sinis.
“Anjjj, Reyyy!! Omongan lu nggak bisa dipercaya. Kemarin lo bilang jalanin aja, lo nggak bakal nyentuh gue. Buktinya lu pengen tidur seranjang sama gue. Gue nggak yakin kalau tidur seranjang bakal aman.
Lo bisa bilang kayak gitu, lu aja nggak bisa dipegang ucapannya!” Rey mulai naik pitam.
“Ya maaf…” Emily berucap santai.
“Basiii!!” jawab Rey sengit.
“Reyy! Ihhh gue mau tidur…”
Rey tidak menjawab, tapi tiba-tiba dia langsung menarik Emily ke atas tempat tidur.
“Reyyyyyyy!!!” Emily menjerit kaget.
“Diamm! Tidurrrrrr… nggak usah banyak bacott…” Rey mendesis, lalu menindih tubuh Emily.
Tanpa aba-aba, bibir Rey langsung mencium bibir Emily. Emily awalnya memberontak, tangannya menolak dada Rey. Tapi semakin lama, tubuhnya mulai melemah, ciuman itu berubah jadi sebuah cumbuan yang dalam.
Decapan demi decapan terdengar jelas di antara mereka.
“Euugghhh… Rey… huuhh… gue nggak bisa nafas, anjirr…” lirih Emily dengan napas tersengal.
“Itu hukuman karena lo udah bohongin gue. Lo bilang lo nggak bakal turun balapan, tapi nyatanya lo malah ikutan.” Rey menatapnya tajam, lalu kembali menempelkan bibirnya.
“Dan ini…”
Cuppp…
“Awwwsshh… Reyyy… ahhh… sshhh…” Emily menggeliat ketika Rey langsung menghisap lehernya, meninggalkan jejak kismark yang membuat tubuhnya semakin panas.
“Rey… Lo gila…” desis Emily, setengah merintih.
“Itu hukuman. Lo nggak bisa dipegang ucapan, dan nggak nurut sama gue. Lihat saja… semakin lama membangkang, semakin banyak kismark di leher lo.” Rey kembali menekan bibirnya ke kulit Emily, meninggalkan bekas merah keunguan yang jelas terlihat.
Emily berusaha mendorongnya, tapi tubuh Rey terlalu kuat. Hingga akhirnya Rey berhenti, membalikkan badan ke samping, lalu menutupi kepalanya dengan bantal.
“Tidur. Jangan banyak bacot.” suaranya dingin, menutup percakapan.
“Ahhh… gila lo, Rey…” gerutu Emily sambil menyentuh lehernya yang perih.
Akhirnya, meskipun bibirnya masih nyerocos, pada akhirnya Emily pun terpaksa tidur di samping Rey. Dia tidak mau mengalah, tapi juga tidak nyaman jika harus tidur di sofa.
Sedangkan Rey, setelah bercumbu dan memberikan kismark kepada Emily, dia sengaja melepas tubuh Emily. Takutnya, dia yang tidak bisa mengendalikan diri di saat Emily belum siap. Tapi pada nyatanya, justru dia yang tersiksa. Rey menutupi kepalanya dengan bantal, berusaha tidak mendengar suara Emily yang malah membuatnya semakin panas dingin.
Anjir, sialan. Gue yang mulai gue yang, kepanasan. Ah, goblok… Joni kenapa lo bangun? gerutu Rey dalam hati, ketika sadar si “Joni” malah ikut bereaksi.
Pengen banget rasanya dia ngokopin Emily, menuruti semua keinginannya. Tapi sepertinya situasinya belum sinkron. Padahal harusnya malam ini mereka melakukan malam pertama sebagai pasangan sah, tapi nyatanya malah berakhir di kamar mandi lagi.
“Sialan emang,” ucap Rey pelan dengan wajah kesal.
Keesokan paginya
Emily terbangun karena mendengar suara dering alarm di HP-nya. Betapa terkejutnya dia ketika membuka mata dan mendapati tangan Rey memeluknya erat.
“Reyyyyyy!!!! Lo apa-apaan, goblok!” jerit Emily panik.
“Anjir, pagi-pagi berisik banget sih lo, kayak petasan bibir lo…” gerutu Rey masih setengah sadar.
“Ini lho, apa-apaan tuh? Lo bilang nggak bakal nyentuh gue, ah sialan lo emang!” Emily mendorong tangannya.
“Apa sih ribet bener lo jadi cewek. Pagi-pagi udah bikin gue kuping gue kepanasan, berisik. Eh, gue cuma peluk, bukan nusuk. Mau gue tusuk sekarang dari belakang,apa dari bawah?” Rey sengaja nyeleneh, senyum miring.
“Anjirr, mesum mulu lo!!” Emily mendengus marah.
“Awas, gue mau mandi. Ada kuliah pagi.” Emily bangkit sambil membawa handuk.
“Lo pikir gue nggak ada kuliah pagi? Kita satu kelas, Egee,” sahut Rey malas.
“Ya udah bodo amat, gue mau mandi. Awas!” Emily mendorongnya lagi.
“Bareng aja, Ilyy… biar cepet.” Rey menatapnya penuh godaan.
“Reyy!!! Mesum gila looo!” Emily
menjerit kesal, wajahnya memerah.