NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:23.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Serangan ke Markas Blood Viper

Malam telah sepenuhnya menelan gurun Darsen.

Di kejauhan, markas Blood Viper berdiri seperti benteng yang sengaja dibangun untuk menantang siapa pun yang cukup bodoh untuk mendekat.

Lampu sorot menyapu jalan utama secara bergantian. Di atas tembok beton, para penjaga sudah mengambil posisi. Senapan otomatis, senapan mesin, hingga pelontar granat telah diarahkan ke satu titik.

Seseorang sedang datang.

Dan orang itu bahkan tidak berusaha menyembunyikan keberadaannya.

Suara mesin motor tua terdengar semakin jelas.

“Brak... brak... brraaaak...”

Beberapa penjaga saling pandang.

Kemudian cahaya lampu sorot menangkap sebuah motor butut yang melaju dengan kecepatan yang bahkan tidak pantas disebut mengesankan.

Di atasnya duduk seorang pemuda dengan kaus murahan, celana pendek bermotif mencolok, sandal jepit, dan helm anak-anak berwarna merah muda.

Seorang penjaga menurunkan teropongnya.

“Serius?”

Penjaga di sebelahnya mengangkat bahu.

“Entahlah. Mungkin kurir.”

“Kurir apa datang ke markas Blood Viper sendirian?”

Belum sempat mereka melanjutkan percakapan, Adrian tiba-tiba mengangkat tangan.

Sebuah benda kecil melayang dari tangannya.

Ting!

Benda itu jatuh tepat di depan gerbang.

Para penjaga langsung menegang.

“Granat!”

Mereka berhamburan mencari perlindungan.

Namun tidak terjadi ledakan.

Yang terdengar hanya suara...

Pssshhhhh...

Asap putih tebal mendadak menyembur dari benda tersebut.

Dalam hitungan detik, bagian depan gerbang diselimuti kabut buatan.

“Bukan granat!”

“Penglihatan terhalang!”

“Jangan tembak sembarangan!”

Kekacauan kecil terjadi di atas tembok.

Adrian justru tersenyum tipis.

“Lumayan.”

Ia menarik tuas rem.

Motor berhenti beberapa meter dari gerbang.

Adrian turun dengan santai.

Ia menatap jam digital murah di pergelangan tangannya.

00:37:12

Wajahnya langsung berubah.

“Masih tiga puluh tujuh menit.”

Ia menghela napas.

“Kalau begini terus, bonus bisa hilang.”

Sienna yang masih berada jauh di belakang hanya bisa menatap dengan wajah tidak percaya.

Sejak awal ia mengira Adrian sedang mencari jalan untuk menyusup.

Ternyata...

Pemuda itu justru sedang menghitung waktu seperti seseorang yang takut terlambat masuk kerja.

Di dalam markas, alarm mulai meraung.

Lampu merah berputar di sepanjang koridor.

“Semua unit ke gerbang utama!”

“Target hanya satu orang!”

“Jangan biarkan dia melewati pagar!”

Para anggota Blood Viper berhamburan keluar dari bangunan.

Jumlah mereka puluhan.

Sebagian mengambil posisi di atas tembok, sementara yang lain bergerak menuju halaman depan.

Dari balik asap, suara Adrian terdengar.

“Permisi.”

Semua orang terdiam.

“Boleh lewat?”

Salah seorang penjaga berteriak.

“Bunuh dia!”

Rentetan tembakan langsung menyambut.

DARR! DARR! DARR!

Peluru menghantam permukaan tanah di sekitar Adrian.

Namun sebelum rentetan berikutnya datang, Adrian sudah bergerak.

Tubuhnya bergeser ke samping.

Satu langkah.

Dua langkah.

Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di balik gundukan pasir rendah.

Peluru menghantam tanah di atas kepalanya.

Adrian menghela napas.

“Banyak sekali.”

Tangannya meraih tas besar merah-putih-biru yang tadi masih terikat di motor.

Ia membuka resletingnya.

Seorang penjaga yang melihat dari atas tembok langsung berteriak.

“Dia mengambil sesuatu!”

“Senjata!”

“Habisi sebelum dia mengeluarkannya!”

Tembakan kembali menggila.

Adrian justru memasukkan tangannya lebih dalam ke dalam tas.

Beberapa benda terdengar bergeser.

Kaleng.

Kotak.

Logam.

Kemudian...

KLIK.

Adrian mengeluarkan sebuah senapan mesin berat yang jelas tidak seharusnya muat di dalam tas tersebut.

Ia menatap senjata itu sebentar.

“Berat juga.”

Ia mengangkatnya ke atas gundukan pasir.

Lalu menarik pelatuk.

DRAAAAAAAT!

Suara tembakan berat mengguncang udara.

Barisan penjaga di atas tembok langsung berantakan.

Adrian tidak menembak secara membabi buta.

Ia mengarahkan laras secara bertahap, memutus titik-titik pertahanan satu per satu.

Pos pertama tumbang.

Kemudian pos kedua.

Sebuah senapan mesin yang baru saja diarahkan kepadanya langsung terdiam setelah terkena rentetan pendek.

“Cari perlindungan!”

“Dia membawa senapan mesin berat!” 

“Jangan berdiri di tempat terbuka!”

Teriakan panik mulai terdengar di seluruh halaman.

Adrian bergerak dari satu posisi ke posisi lain.

Setiap kali senjatanya hampir kehabisan amunisi, tangannya kembali masuk ke tas.

Dan setiap kali keluar...

Selalu ada sesuatu yang baru.

Kotak amunisi.

Magazen.

Granat asap.

Bahkan satu senapan otomatis lain.

Seorang anggota Blood Viper yang bersembunyi di balik beton sampai tidak bisa berkata-kata.

“Berapa banyak senjata yang dia bawa?”

Rekannya menelan ludah.

“Entahlah.”

“Bukankah itu cuma satu tas?”

“Ya.”

“Lalu kenapa isinya seperti gudang senjata?”

Tidak ada yang mampu menjawab.

Di sisi lain halaman, Adrian mengganti posisi.

Sebuah granat dilemparkan ke arahnya.

TING!

Granat itu menggelinding mendekat.

Adrian melirik.

“Wah.”

Ia mengambilnya.

Kemudian melemparkannya kembali.

BOOM!

Ledakan menghantam sekelompok anggota Blood Viper yang baru keluar dari bangunan.

Adrian kembali menatap jam tangannya.

00:29:48

Alisnya berkerut.

“Waktu habis terus.”

Ia memasukkan senapan mesin ke dalam tas.

Salah seorang penjaga melihat kesempatan itu.

“Dia kehabisan senjata!”

“Sekarang!”

Belasan orang keluar dari perlindungan sambil menembak.

Adrian berdiri.

Wajahnya tetap tenang.

Ia tidak mengambil senjata.

Tidak juga berlari.

Tangannya justru kembali masuk ke dalam tas.

Beberapa orang mulai melambat.

“Apa lagi?”

Adrian menarik sebuah benda panjang berwarna hitam.

Benda itu bukan senapan.

Bukan granat.

Bukan pula senjata yang mereka kenal.

Adrian menatap benda tersebut, kemudian tersenyum kecil.

“Yang ini cukup.”

Ia mengangkatnya ke bahu.

Di kejauhan, Sienna yang melihat bentuk senjata itu langsung membelalakkan mata.

“Jangan bilang...”

Adrian menekan pemicunya.

BOOM!

Ledakan mengguncang halaman.

Bukan untuk membunuh seluruh orang di sana.

Tembakan itu menghantam kendaraan lapis baja yang baru keluar dari garasi, memaksa kendaraan tersebut berhenti mendadak.

Asap hitam mengepul dari bagian depannya.

Para anggota Blood Viper yang berada di sekitarnya langsung berpencar.

Adrian berjalan melewati mereka.

Santai.

Seolah-olah sedang melewati jalan biasa.

“Maaf.”

Ia berhenti sebentar.

“Markas kalian ada di dalam, kan?”

Tak seorang pun menjawab.

Adrian menunjuk bangunan utama.

“Kalau begitu, tidak perlu menghalangi.”

Salah seorang penjaga mengangkat senjata dengan tangan gemetar.

Adrian menoleh.

Tatapannya berubah.

Dalam sekejap, senyumnya menghilang.

DARR!

Satu tembakan.

Penjaga itu jatuh.

Adrian kembali berjalan.

Tidak terburu-buru.

Namun setiap langkahnya membawa tekanan yang semakin berat.

Di ruang komando, pemimpin Blood Viper menatap layar pengawas dengan wajah yang mulai pucat.

Pasukannya berjumlah ratusan.

Mereka memiliki benteng, senjata berat, kendaraan lapis baja, dan posisi pertahanan yang telah dipersiapkan bertahun-tahun.

Tetapi semua itu tidak menghentikan satu orang.

Pria itu bahkan datang menggunakan motor tua.

Dan yang paling mengerikan...

Dia seperti belum benar-benar mulai serius.

Pemimpin Blood Viper mengepalkan tangan.

“Siapa sebenarnya orang itu?”

Tidak ada jawaban.

Seorang operator hanya mampu menunjuk layar.

“Bos...”

“Apa?”

“Dia sudah melewati gerbang.”

Ruangan mendadak sunyi.

Di layar pengawas, sosok dengan helm merah muda itu berjalan melewati halaman markas.

Tas besar tergantung di bahunya.

Langkahnya santai.

Jam digital murah masih menyala di pergelangan tangannya.

00:24:03

Adrian melirik angka tersebut.

“Dua puluh empat menit.”

Ia menarik napas panjang.

“Baiklah.”

Matanya menatap bangunan utama Blood Viper.

Kali ini senyum tipis muncul di wajahnya.

“Sekarang baru waktunya benar-benar bekerja.”

1
Was pray
kok turun dari balkon lagi, apa tadi setelah turun dan berkelahi Adrian naik balkon lagi kah Thor? capek deh. ... 😱
Was pray: oke Thor.... jangan lupa ngopi biar tetap fokus dan semangat up nya... 👍
total 2 replies
Was pray
banyak kalimat yg berulang, inti cerita cuma dikit banget, pengembangan kalimat penjelas perlu ditingkatkan agar alur cerita tidak jalan ditempat
Ardi
kok MC bisa bahasa luar negeri yah nggak dikasih penjelasan, orang luar negeri itu pakai bahasa Indonesia atau bahasa luar,kalau bahasa luar kok nggak dikasih penjelasan ini MC bisa bahasa luar, atau di kasih kemampuan bahasa luar tolong di kasih tau min?.
Was pray
Adrian lagi ikut audisi perekrutan pemain teater kah? dan Hendra sebagai jurinya
Was pray
dari tadi kebanyakan ngomong doang gak ada tindakan
Shiky Ganal
MC nya goblok
Was pray
kelamaan mikir
Was pray
gak pernah mandikah Adrian?
Was pray
buang uang sia sia buat game online,tapi buat makan pelit
Was pray
kok jadi miskin amat?
Was pray
ini baru keren... bat bet.. dari awal gitu udah beres.sedikit bicara tapi bukti nyata tindakan
Was pray
kapan sampai kampusnya ? kalau cuma ngobrol doang di jalan macet? han Adrian jam planet Pluto kah? perjalanan waktu di jam Adrian jalanya kayak siput lagi pacaran.
Was pray
ya emang Adrian itu gak normal.... baru nyadar kah kau elang kelabu?
Was pray
di bab ini gak ada daya tariknya... cuma seperti omongan emak emak yg lagi sibuk nawar cabai pada tukang sayur keliling. .muter2 gak ada ujungnya
Was pray
betul... banyak berdebat kayak emak nawar sayur
Was pray
sebenarnya mau aja kasih like. . tapi sayang MC nya terlalu blo'on...
Was pray
crewet kebanyakan bacot doang, keburu terlambat tapi masih diam ditempat tanpa tindakan apa apa, dasar tolol
Was pray
gantilah karung merah putih biru dengan tas ransel, sederhana tapi gak norak
Was pray
katanya uang cuma alat tapi semua sisi kehidupan yg berkaitan dengan nya selalu diukur dengan uang. Adrian mau melakukan pekerjaan jika ada uangnya, semuanya rela Adrian lakukan asal ada uangnya, berarti di ditu kedudukan uang bukan alat tapi tujuan.... paham kau adrian
Was pray
Adrian naik level bukan karena kemampuan tapi karena sogokan uang, .agak kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!